
Setelah berpamitan dengan Ibnu dan Sari, keduanya langsung keluar. "Mau langsung pulang atau mau kemana dulu sayang," kata Satya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Pulang aja ya," kata Senja yang sudah terlihat begitu lelah.
Satya hanya menganggukkan kepalanya, setelah menempuh perjalan selama satu jam lebih mobil yang dikemudikan Satya kini sampai di depan gerbang rumah mertuanya. Saat gerbang dibuka Senja yang biasa ramah kepada penjaga gerbang tampak lesu, entah apa yang dipikirkan.
Saat keduanya masuk langsung di hadang oleh Yoga, mertuanya itu menatapnya tajam. "Lo lupa kalau hari ini Senja ada janji dengan Tante Mela!" kata Yoga yang melihat geram karena handphone keduanya enggak ada yang aktif.
Satya menatap istrinya, sedangkan Senja hanya tersenyum merasa bersalah karena ia juga lupa. "Ayah, maaf Senja lupa kasih tahu Mas Satya," katanya dengan menundukan kepalanya.
Yoga mengusap wajahnya dengan kasar, sedangkan Satya yang tidak tahu kalau hari ini istrinya akan ada janji dengan tante Mela.
"Besok kalau suamimu ada waktu pergilah, kalau tidak biar diantarkan Ibu!" titah Yoga yang membuat Satya menatap wajah sahabat sekaligus mertuanya itu dengan datar.
Senja menatap suaminya, wanita itu merasa bersalah karena begitu senangnya akan bertemu dengan sahabatnya. Wanita itu sampai melupakan, kalau kemarin meminta ibunya mendaftarkan di klinik Tante Mela.
"Maaf," katanya lirih saat keduanya kini duduk di ranjang.
Satya sebenarnya kecewa kepada istrinya, kenapa ia bisa melupakan masalah penting seperti ini. Namun, semuanya sudah terjadi. "Kita istirahat saja, besok saya cek ada meeting pagi enggak kalau tidak ada kita pagi ke tempat Tante Mela." Katanya dengan suara beratnya.
Senja tahu kalau suaminya kecewa kepadanya, tapi apa harus sedingin itu malam ini. Senja berbaring memunggungi suaminya, bulir-bulir bening yang dari tadi ditahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Wanita itu menangis tertahan agar suaminya tak mendengarnya.
Satya bukan tidak tahu kalau istrinya sedang menangis, ia merasakan kasurnya bergetar. Pria itu membalikan badanya dilihatnya bahu senja bergetar. Semarah-marahnya dirinya tidak akan membiarkan istrinya menangis dalam diam seperti ini.
Satya mendekat ke tubuh istrinya di peluknya dari belakang tubuh istrinya, sedangkan Senja yang merasakan pelukan suaminya seketika tangisnya pecah, wanita itu membalikan tubuhnya kini ia berhadapan dengan suaminya.
Cup, Satya mengecup mata sembab istrinya, "maaf sayang, seharusnya aku lebih peka," katanya sambil mendekap Senja.
"Besok setelah makan siang Afkar bilang jadwalku kosong, kita pergi ke klinik Tante Mela," ucapnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
Saat Satya akan mengatakan sesuatu ia mendengar dengkuran halus dari istrinya, ia terkekeh saat dirinya sudah hilang kantuknya wanita yang berada di dekapannya sekarang sudah terlelap.
Satya membetulkan posisi istrinya supaya lebih nyaman, tidak lupa ia mengganjal kaki Senja dengan bantal guling. Semenjak hamil lima bulan istrinya memiliki kebiasaan yang aneh, setiap tidur memeluk guling dan satu lagi untuk menopang kakinya.
Setelah istrinya sudah nyaman, pria itu segera keluar kamarnya. Saat hendak mau masuk ke ruang kerja mertuanya, ia berhenti di depan pintu karena melihat lampu masih menyala. Satya mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
__ADS_1
Satya membuka pintu perlahan, dan kini ia tertegun saat melihat mertua sekaligus sahabatnya tidur di sofa ruang kerjanya.
"Ayah, bangun pindah kamar sana," kata Satya sambil menggoyangkan bahu Yoga.
Yoga yang baru saja terlelap menatap menantunya itu dengan kesal," lo kenapa bangunin gue," katanya sambil duduk menyandarkan kepalanya di sofa.
"Lagian bukan tidur di kamar temani istri malah tidur di ruang kerja," kata Satya yang kini duduk di samping Yoga sambil menyalakan laptopnya.
"Ah... akhirnya ketahuan juga," katanya sambil menguap.
"Maksudnya?" tanya Satya merasa bingung.
"Semenjak Mentari hamil, gue enggak boleh tidur di kamar bahkan pakaian gue di pindahkan di kamar tamu," jawabnya sambil mengusap wajahnya kasar.
"What? kok bisa!" kata Satya yang terkejut.
Yoga akhirnya menceritakan kalau hamil anak kedua ini istrinya tidak suka dengan dirinya katanya baulah, dan masih banyak alasan istrinya.
"Gue kira lo dan Senja datang, gue akan di suruh tidur di kamar. Ternyata saat lo pada istirahat gue diusirnya kalau tidak pergi dia akan memuntahkan isi perutnya." ujarnya.
"Sialan lo kayak lo enggak aja!" ledek balik Yoga.
Keduanya sama-sama tertawa membahas istrinya masing-masing, tapi setidaknya Satya tidak harus puasa berbulan-bulan seperti mertuanya.
"Kadang gue mikir, kenapa berat ingin tambah momongan lagi!" ucap Yoga yang kini menyadarkan kepalanya kembali.
"Apa setelah ini lo mau nambah lagi, ingat umur Ibu sudah berapa, Bos!" kata Satya mengingatkan sahabatnya.
Satya dan Yoga saat berdua menggobrol layaknya sahabat, kadang baik Satya maupun Yoga agak risi saat harus memanggil Ayah begitu juga Yoga kalau mendengar menantunya itu memanggil dirinya Ayah.
Satya yang tadinya ke ruang kerja ingin mengerjakan proposal untuk meeting besok akhirnya menjadi asyik berbincang dengan Yoga. Banyak yang keduanya obrolkan, walau kali ini merupakan kehamilan yang kedua. Namun, bagi Yoga ini pengalaman pertamanya seperti Satya.
Perbedaan umur kehamilan Senja dan Ibunya bisa jadi keduanya akan melahirkan bersamaan, tapi semuanya itu tidak bisa diprediksi karena kadang bayi lahir tidak sesuai dengan jadwal yang diberikan dokter kadang maju atau bisa jadi mundur.
Satya dan Yoga merasa harus menjadi seorang suami siaga nantinya, karena waktu Mentari melahirkan Senja Almarhum papa Roby tidak memberitahunya.
__ADS_1
"Jadi waktu itu siapa yang mengadzani bayi lo?" tanya Satya.
"Papa," jawab Yoga singkat.
Satya yang paham bagaimana dulu hubungan Yoga dan mertuanya tidak banyak bertanya, kini keduanya asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tanpa keduanya sadari terdengar suara Adzan subuh berkumandang, keduanya saling tatap dan melihat jam yang tergantung di dinding.
Yoga hanya mendesah! "gara-gara lo gue begadang lagi," kata Yoga sambil beranjak menuju ruang tamu di mana sekarang dirinya didepak oleh istrinya karena setiap saat mencium bau yoga Mentari akan mual dan muntah.
"Kok gue yang salah, harusnya lo senang kalau gue ini mantu yang baik mau menemani mertuanya begadang!" kata Satya yang tidak terima saat Yoga menyalahkan dirinya.
Satya juga segera beranjak ke kamarnya, saat ia masuk melihat istrinya masih tertidur lelap. Satya membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah lima belas menit pria itu keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkapnya.
"Sayang, bangun waktunya shalat," kata Satya pelan sambil mengusap lengan istrinya.
Senja menggeliat, ia membuka matanya perlahan. "Mas sudah mandi?" tanyanya sambil menguap.
"Sudah, Mmy bangun sana terus shalat ya," kata Satya sambil mengambil pecinya.
"Hem, apa mau shalat di masjid lagi?" tanyanya sebelum masuk kamar mandi.
"Iya sayang, Ayah sudah menunggu di bawah." Jawab Satya segera keluar karena ia yakin mertuanya sudah menunggunya di ruang keluarga..
Saat Satya sampai ruang keluarga ia melihat Yoga sudah bersiap, kini keduanya berjalan beriringan." Kita pakai motor ya," tawar Satya.
"Jalan kaki saja," jawab Yoga.
Satya hanya menarik napas dalam dan menghembuskannya lagi dengan kasar.
"Lo kenapa?" tanya Yoga sambil tersenyum saat bertemu warga yang juga mau ke masjid.
"Gue kasihan sama mertua gue udah tua, nanti kalau jalan kaki bisa encok pinggangnya!" kata Satya sambil menjauh dari Yoga dengan terkekeh.
Yoga langsung melotot menatap Satya," dasar menantu tak ada akhlak," kata Yoga lirih saat sudah jalan beriringan dengan Satya.
Satya dan Yoga segera mengambil air wudhu, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat berjamaah, seperti biasa selesai shalat ada ustadz yang memberikan tausiyahnya.
__ADS_1