
Dalam hidup ini terkadang kita diberikan dua pilihan yang harus kita putuskan. Keputusan yang mungkin akan mempengaruhi tindakan dan juga keadaan kita di masa depan.
Namun, tak peduli apapun keputusan kita, ada sebuah pertanyaan tentang apakah keputusan kita itu adalah keputusan yang tepat atau keputusan yang salah.
Jika memang tepat dan baik, mungkin itu memang takdir kita. Namun, bagaimana jika salah? Mungkin penyesalan yang akan kita rasakan.
“Penyesalan selalu datangnya belakangan” Kata kata itu menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan yang kita ucapkan, memiliki peluang untuk kita menyesal.
Begitu juga yang Radit rasakan saat ini, sepulangnya ia mengantarkan Mery yang terlihat kacau di kantornya tadi.
Radit ingin rasanya mempertangung jawabkan dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Mery waktu itu, tapi sayang Mery bilang sudah tidak perlu.
Namun, Radit tidak akan pernah mau menyerah. Ia akan mencoba sekali lagi untuk mempertanggung jawabkan dengan melamar Mery. Harapannya ia akan diterima olah kedua orang tua Mery, tapi kalau tidak ia berharap Mery tidak lagi menggangu rumah tangga Satya dan Senja.
Sesampainya Radit dirumah sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya, Papa Wijaya dan Mama Mira.
"Assalamualaikum," katanya saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi Wabarakatuh, akhirnya datang juga."
Radit tersenyum kemudian memeluk kedua orang tuanya bergantian, sudah sebulan ia tidak berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Tumben kamu ingat masih ada kita disini," kata mama Mira dengan lembut.
"Mam... Radit sibuk," jawabnya.
"Ada apa tumben kamu mampir," ucap Papa Wijaya.
"Pa... Radit minta tolong untuk melamar Mery kepada orang tuanya," ucapnya.
Mama Mira hanya menghela nafas panjang, ia begitu heran kepada anaknya. Kenapa harus janda itu, ia khwatir kalau nanti anaknya akan ditinggal selingkuh oleh wanita itu.
Waktu itu berita yang beredar Satya bercerai dengan Mery karena perselingkuhan sang istri yang membuat Satya memilih perpisahan.
Namun, banyak yang mengatakan Mery yang meninggalkan Satya. Sampai sekarang tidak ada penjelasan dari keduanya, wartawanpun tidak ada lagi yang memberitakan.
Kekuasaan Nugraha yang waktu itu dipimpin oleh Ayah Nugraha, begitu susah digoyahkan. Walaupun berita perceraian dari Ahli waris Nugraha, sama sekali tidak mempengaruhi saham Nugraha anjlok.
"Apa kamu enggak takut, kalau nanti wanita itu melakukan selingkuh lagi," kata Mama Mira.
Radit hanya menghela nafas panjang, Satya memang tidak menyebutkan namanya. Saat banyak wartawan menayakan siapa lelaki yang sudah berselingkuh dengan istrinya.
Tetapi saat ini ia harus jujur kepada kedua orangtuanya. Ia yakin keduanya akan marah, tapi Radit harus melakukan sekarang juga.
"Papa Radit mau jujur, kalau selingkuhan Mery dulu Radit," katanya dengan menundukkan kepalanya.
Papa Wijaya dan Mama Mira begitu terkejut mendengarnya, ia tak menyangka anaknya satu-satunya sebejat itu.
Tiba-tiba Mama Mira pingsan, Papa dan Radit terkejut.
__ADS_1
"Mama....maafkan Radit," ucapnya
"Kamu telepon Dokter cepat," teriak Papa sambil membawa istrinya ke kamar.
Radit segera menghubungi Faisal, setelah itu ia menuju kamar kedua orang tuanya.
"Papa," panggil Radit.
Papa Wijaya hanya menarik nafas panjang,
"Papa tidak pernah mengajarkan hal kurang ajar padamu, tapi apa yang membuatmu bisa jadi bajingan seperti itu."
"Pa... Radit kilaf, tolong maafkan anakmu ini."
Raditya mulai menceritakan kepada Papa Wijaya, hal yang terjadi yang sebenarnya.
Papa Wijaya mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar apa yang terjadi, ingin rasanya ia menghajar anaknya. Namun, semuanya sudah terjadi.
Tak berapa lama datang Faisal, yang diantarkan oleh art keluarga Wijaya.
"Kenapa Tante sampai pingsan?" tanyanya sambil memeriksa Mama Mira.
"Lo... periksa saja," jawab Radit dingin.
Faisal menatap malas ke arah Radit, setelah selesai Faisal hanya menghela nafas berat.
"Bagaimana?" tanya Papa Wijaya.
"Karena gue mau nikah, Mama jadi pingsan," jawab Radit sambil keluar kamar diikuti oleh Faisal.
Faisal hanya terkekeh, ia yakin Radit akan menikah dengan Mery. Karena hanya dia wanita yang dekat dengan sahabatnya saat ini.
Radit yang melihat Faisal hanya cengengesan, menatapnya jengah. Karena rasa bersalahnya dengan Satya dan keluarganya, ia berusaha untuk bertanggung jawab. Namun, ada alasan lain ia tidak ingin Mery mengganggu rumah tangga Satya saat ini.
"Bagaimana dengan Tante dan Om? apa mereka sudah tahu kalau anaknya bajingan," kata Faisal.
"Setan lo..., gue kagak terima dibilang bajingan," jawab Radit.
"Jadi apa namanya!" kata Faisal tersenyum sinis.
Akhirnya lagi-lagi Radit menceritakan kejadian malam itu kepada Faisal, tanggapan Faisal hanya mengangguk.
"Kalau gue yang jadi Satya, lo udah almarhum sekarang," ucap Faisal kemudian pergi meninggalkan rumah Papa Wijaya.
Setelah kepergian Dokter Faisal, Radit segera kekamar orang tuanya.
"Papa...," katanya saat melihat Mamanya sudah sadar, tapi kini menangis dipelukan papa Wijaya.
Radit jongkok di kaki mamanya, ia mencium punggung tangan mama Mira kemudian meminta maaf.
__ADS_1
Air mata Radit menetes mengenai tangan wanita yang sudah melahirkannya itu, Mama Mira begitu sedih melihat anaknya harus menikah dengan Mery.
"Kapan rencananya?" tanya Mama.
"Lusa Mam, karena Mery sampai sekarang masih menolak Radit," jawabnya.
Papa Radit menepuk bahu anaknya, walau terlambat setidaknya Radit mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Kamu kabari kami, bila ada perubahan," kata Papa.
"Insyaallah, Pa."
"Apa kamu mau menginap Nak?" tanya mama Mira.
Radit hanya mengangguk, ia sebenarnya ingin langsung pulang. Namun, melihat kedua orang tuanya terlihat berharap dia untuk menginap.
Kini Radit sedang duduk di balkon kamarnya, ia merindukan suasana di kamarnya yang sudah lama tidak ia pakai.
Radit ingin belajar mencintai Mery, setidaknya kini ia mengantongi restu dari kedua orang tuanya.
******
Di kamar Papa Wijaya, kini ia tengah mengobrolkan rencana untuk melamar Mery.
"Papa, sebenarnya Mama kurang setuju, tapi setelah mendengar ceritanya anak kita harus bertanggung jawab."
"Iya Mam, tapi kenapa baru sekarang Radit mengatakannya! apa ada lagi yang ia sembunyikan dari kita," kata Papa Wijaya.
"Nanti kita tanyakan lagi, semoga dia mau jujur," ucapnya dengan tersenyum.
Mama Mira menatap foto keluarganya, entah apa yang akan ia katakan kepada sahabatnya nanti saat mereka tahu kalau anaknya akan menikah dengan mantan istrinya Satya.
Papa Wijaya melihat istrinya melamun segera memeluknya, ia tidak ingin wanita yang sudah menemaninya selama ini menjadi sakit lagi.
"Jangan banyak memikirkan yang belum tentu terjadi," kata papa Wijaya.
Mama Mira tersenyum, ia tahu betul suaminya sangat mengkhawatirkannya kesehatannya sekarang. Namun, ia juga harus menyiapkan lamaran anaknya dengan matang.
"Papa, bagaimana kalau besok kita undang Mery kerumah," katanya
"Ia sayang, nanti kita suruh Radit mengajak Mery kerumah," jawabnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
__ADS_1
🌾 Takdir Cinta Khansa
🌾 Menikah Muda