
Ranga yang baru pulang kerja melihat Satya dan istrinya duduk di ruang keluarga merasa kesal karena ia harus mengurus semuanya sendirian.
"Sorry bro tadi urgent," kata Satya yang tahu kalau sahabatnya itu kesal kepadanya.
"Emangnya ada apaan sih ...?" tanya Ranga kepada Satya.
Satya menceritakan kepada sahabatnya itu kalau ada temannya Senja yang berniat untuk memfitnahnya.
Ranga hanya menggelengkan kepalanya saja, zaman seperti ini masih ada orang yang mau mencelakakan orang lain.
"Jadi sudah beres!" kata Ranga.
"Alhamdulillah, anak itu sudah minta maaf," jawab Satya sambil tersenyum.
Tak lama datang Ayah Nugraha ikut bergabung, lelaki paruh baya itu menatap anaknya dengan tatapan yang berbeda.
"Ayah kenapa?" tanya Satya merasa ada yang aneh melihat tatapan Ayahnya.
"Kamu terlihat semakin muda semejak menikah," puji ayah Nugraha.
Ranga yang mendengar itu langsung pecah tawanya, baginya begitu lucu seorang direktur yang biasa dingin saat di kantor sekarang dipuji semakin muda.
Satya langsung melempar bantal sofa kepada Ranga yang masih menertawakan dirinya.
Ayah Nugraha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya itu.
"Ranga, kapan kamu nikah biar tetap awet muda seperti Satya. karena lelaki dewasa itu perlu pelepasan," goda ayah Nugraha.
Ranga langsung terdiam saat mendengar ucapan ayahnya, sekarang giliran Satya yang tertawa lepas melihat Ranga tak berkutik.
Melihat Ranga hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal membuatnya semakin suka menertawakan saudaranya itu.
Bunda yang baru bergabung langsung duduk di samping Satya, wanita itu begitu senang melihat anaknya sekarang bisa tertawa lepas tanpa beban.
"Cerita apa sih ... seru sekali?" tanya bunda sambil menatap ketiga pria itu bergantian.
Ayah Nugraha tersenyum melihat istrinya, kemudian ia menceritakan bahan obrolan tadi, mendengar itu Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya.Nggak anak enggak ayahnya sama saja.
"Senja belum bangun, Nak?" tanya bunda .
"Belum Bun, mungkin sebentar lagi," jawabnya.
"Jadi besok ziarah ke makam Kakek?" tanya bunda kepada anaknya
"Insyaallah jadi, Bun. apa Bunda mau ikut?" tanya Satya.
"Enggak sayang, bunda besok ada janji sama teman," jawabnya sambil tersenyum.
Satya hanya mengangguk, sedangkan ayah Nugraha hanya mendengarkan saja cerita anak dan istrinya itu.
__ADS_1
"Kalian menginap, kan?" tanya Bunda menatap Satya.
"Belum tahu, nanti tanya Senja aja dulu, Bun," jawab Satya.
"Semoga kalia bisa menginap ya," kata Bunda sambil tersenyum.
Satya hanya mengangguk, tapi ia tidak ingin mengambil keputusannya sendiri, bagaimanapun juga istri adalah orang yang pertama wajib mengetahuinya.
Ranga yang merasa gerah segera pergi meninggalkan ruang keluarga, ia menuju kamarnya yang yang ada di samping kamar Satya.
Saat Ranga akan menutup pintu, bersamaan Senja keluar dari kamar.
"Om, Bby mana?" tanyanya.
"Di ruang keluarga," jawab Ranga singkat.
Senja segera menuju lantai bawah sambil berlari-lari kecil. Melihat itu bunda jadi gemes dengan menantunya.
"Sayang pelan-pelan!" kata Bunda.
"Iya ... Bun, maaf," ucapnya lirih.
"Jangan di ulangi lagi itu berbahaya," pesan bunda sambil mengusap bahu Senja dengan lembut.
Isterinya Satya itu terpaku saat Bunda mengusapnya, ia semakin rindu dengan Ibunya Mentari.
"Terimakasih, Bun," ucapnya lirih.
"Sama-sama sayang, jangan ragu untuk berbagi dengan Bunda."
Senja langsung mengangguk menanggapi ucapan mertuanya itu, Satya yang akan pergi ke dapur merasa heran melihat Bunda dan istrinya saling berpelukan.
"Mau ikut peluk juga," kata Satya yang langsung memeluk kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Udah ... sesak Bby," kata Senja yang merasa terhimpit.
"Maaf .... sayang mana yang sakit," kata Satya sambil mengusap perut istrinya.
Senja hanya terkekeh saat melihat suaminya panik, Satya yang merasa sedang di kerjain istrinya langsung menarik hidung Senja.
"Jangan ganggu mantu, Bunda!" kata Bunda sambil mencubit lengan Satya yang membuat pria itu meringis menahan sakit.
"Bunda ... sakit!" kata Satya sambil mengusap bekas cubitan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Senja segera meniup bekas cubitan Bundanya di tangan suaminya, Satya melihat itu membuat hatinya terasa nyaman.
"Terimakasih sayang," ucap Satya.
"Sama-sama, Bby."
__ADS_1
Satya memapah istrinya untuk duduk di ruang keluarga, melihat itu Ayah Nugraha langsung khawatir dan menatap menantunya itu dengan iba.
"Apa lagi nggak enak badan sayang," kata Ayah Nugraha memperhatikan anaknya.
Senja menatap Ayah Nugraha dan beralih ke suaminya, ia bingung kenapa mertuanya itu mengkhawatirkan dirinya yang sehat walafiat.
"Ayah, Senja baik-baik saja," katanya sambil tersenyum.
"Tapi tadi kenapa?" tanyanya merasa bingung kepada anak dan menantunya.
"Oh ini, Bby terlalu posesif," jawab Senja sambil mencibir bibirnya ke suaminya.
"Itu karena Bby cinta,Yang," jawab Satya yang tak ingin disalahkan.
Ayah Nugraha baru bisa bernafas lega mendengarnya, apalagi saat anaknya karena terlalu over posesif kepada istrinya.
"Jangan terlalu over posesif," kata Ayah sambil tersenyum menatap putranya yang baru merasakan rumah tangga yang sebenarnya.
Ayah Nugraha merasa anaknya yang over posesif itu takutnya membuat beban untuk Senja, tapi lelaki paruh baya itu paham karena ini kehamilan anak pertamanya.
Senja yang sedang menonton televisi kini tiba-tiba berebut remot dengan Ranga, melihat itu Ayah Nugraha merasa keluarganya lebih hangat.
"Aduh ... kenapa ribut?" tanya Bunda yang baru dari lantai dua.
"Ini ... Bun, Om Ranga main ganti aja, jelas Senja lagi nonton," adunya kepada mertuanya.
Mendengar itu Bunda menatap suaminya, akhirnya keduanya tertawa bersama. Ini yang diinginkan dari dulu mempunyai anak perempuan dan nanti ada yang berebut remot seperti ini.
Satya hanya tersenyum menanggapinya pertengkaran istrinya dan Ranga, ia begitu merindukan suasana dulu sering bertengkar dengan Ranga atau pun Arga. hanya Yoga yang suka menengahi.
"Bunda kenapa?" tanya Senja.
"Bunda kangen suasana seperti ini,Nak," jawabnya.
Senja yang pernah mendengar cerita dari suaminya kalau bunda sangat menginginkan anak perempuan, tapi takdir mengatakan lain, saat keguguran harus rela rahimnya diangkat.
Saat itu Bunda begitu kecewa dan selalu mengurung diri di kamar, tapi saat ada Ranga dan Arga, wanita itu mulai menata hidupnya kembali.
Bunda begitu menyayangi Ranga dan Arga seperti ia menyayangi Satya, tidak pernah membedakan antara ketiganya.
Senja segera berdiri dan menghampiri Bundanya, ia begitu kagum dengan wanita yang kini menjadi mertuanya. Tetap bangkit walau dalam keadaan terpuruk sebagai wanita yang harus rela diangkat rahimnya.
"Bunda selalu akan menjadi panutan, Senja," katanya sambil menangis di pelukan mertuanya.
"Iya, terima kasih sayang Bunda juga bangga memiliki menantu sepertimu. Anaknya kuat, dan cantik," kata bunda sambil mengusap rambut Senja dengan lembut.
Ranga terdiam, ia juga kini menghampiri Bundanya, tapi saat mau memeluk Bunda dan Senja, Satya langsung pasang badan.
Bersambung ya... jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan like ,vote dan komentarnya 🙏
__ADS_1