PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 151


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa Afkar menjemput Satya di kediaman Yoga, pria itu hanya duduk di teras rumah. Bik Sum menyuguhkan kopi dan roti bakar untuk asisten Satya itu.


"Kenapa enggak ikut sarapan di dalam saja, Nak?" tanya Bik Sum sambil duduk menemani Afkar yang sibuk dengan ponselnya.


"Enggak apa-apa, Bik."Jawabnya sambil tersenyum menatap wanita paruh baya yang duduk di depannya.


Bik Sum hanya membalasnya dengan senyuman, ia juga merasa heran pada hal Satya sarapannya sudah siap dari tadi, tetapi belum keluar juga padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh. Afkar yang melihat benda kecil yang melingkar di tangannya hanya bisa mendengus karena Satya belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


Bik Sum yang melihat kegundahan Afkar segera masuk rumah untuk melihat apa Satya sudah bersiap, sampai ruang keluarga wanita itu hanya bisa menarik napas panjang saat melihat orang yang di tunggu-tunggu malah asik mencium perut istrinya.


Senja yang melihat bik Sum menatapnya hanya tersenyum, wanita hamil tua itu dengan santai membiarkan suaminya mengusap perutnya.


"Den, Nak Afkar sudah menunggu dari tadi." Katanya sambil berjalan ke arah dapur.


"Iya Bik, sayang aku jalan dulu ya. Ingat jaga baik-baik anak kita!"pesannya.


Senja hanya memutar bola matanya jengah, tapi ia juga begitu geli saat suaminya rela telat hari ini. Wanita itu mengantarkan suaminya sampai di teras. Senyum mengembang di bibir ranumnya saat melihat wajah Afkar yang masam.


"Sorry bro, gue tadi lagi main sama anak." Katanya tanpa merasa bersalah.


Afkar hanya menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya masuk ke mobil, Senja melambaikan tangannya saat mobil mulai menjauh dan tak terlihat lagi. Barulah wanita itu masuk ke rumah.


Mentari yang melihat putrinya datang hanya tersenyum, sedangkan Yoga yang hari ini tak pergi ke kantor karena tidak ada meeting lebih menyelesaikan pekerjaannya di rumah, Sedangkan urusan kantor ia serahkan kepada Adrian asistennya.


"Ayah enggak ke kantor?" tanya Senja yang melihat sang Ayah mengganti pakaian dengan kaos rumahan.


"Enggak. Ayah mau temani istri dan anak Ayah hari ini," ujarnya sambil menghidupkan laptopnya.


Senja hanya menganggukkan kepalanya, dia hanya duduk bersandar sesekali memejamkan matanya saat anaknya menendang perut bagian bawahnya.


Tari yang melihat itu mengusap punggung putrinya, Senja hanya tersenyum menatap Ibunya yang juga sedang mengusap perutnya yang semakin membesar.

__ADS_1


"Kenapa lebih besar perut Ibu, dari pada punyaku?" tanyanya penasaran.


"Karena Ayah rajin meniupnya," sahut Yoga yang langsung di pukul lengannya oleh sang istri.


Senja hanya mencibirkan bibirnya, saat tahu arah pembicaraan Ayahnya. Sedangkan Yoga hanya santai tak sedikitpun menatap anak dan istrinya.


"Mas, kalau ngomong itu di filter kenapa!" geram Tari.


"Senja juga sudah dewasa, yang. Dia tahu." Balasnya.


"Menyebalkan!" jawab kedua wanita hamil tua itu sambil beranjak meninggalkan Yoga.


Yoga hanya menaikan bahunya saja saat anak dan istrinya memilih pergi dari ruang keluarga. Namun, sedetik kemudian pria itu bergegas beranjak menuju ruang kerjanya. Bik Sum yang melihat itu hanya tersenyum bahagia saat melihat tari dan Senja terlihat bahagia sekarang.


Semoga kebahagiaan ini selalu membuat Senja tersenyum, dan akan melupakan masa-masa sulitnya.


***


Pagi ini sesampai di depan lobby kantor Satya menatap wanita yang terlihat napasnya tersengal entah karena lelah bekerja atau yang lain, Hanum yang tak menyadari kehadiran Satya dan Afkar di belakangnya karena sedang mengatur napasnya seakan mau putus.


Satya menatap Afkar yang juga menegang saat mendengar apa yang dikatakan wanita di depannya.


"Kamu nanti tidur di kostku saja, Han." kata Fitri rekan kerjanya yang tidak tega melihat sahabatnya dihukum karena terlambat pergi kerja.


"Aku enggak mau merepotkan kamu, Fit. Walaupun bulan depan bakal pergi dan pulang jalan kaki lagi, karena Ibuku membawa Bapak berobat sedangkan uangnya kurang jadi pinjam tempat juragan," ujarnya.


Satya dan Afkar yang akan berlalu seketika berhenti, saat ucapan Hanum tadi.


"Han, berapa kamu bayar makanan itu sampai uangmu habis dan harus jalan kaki?" tanyanya tanpa mengetahui dua pria yang masih mendengar percakapannya.


"Empat ratus ribu," jawabnya santai.

__ADS_1


"What? gila makanan apa itu! yang sabar ya anggap saja kamu membeli baju," goda fitri yang melihat wajah Hanum hanya cemberut.


Satya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar semua alasan kenapa gadis itu terlambat masuk kerja. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Afkar yang menatap punggung Hanum dengan tatapan yang berbeda.


Ia tak menyangka hidup gadis itu begitu miris, masih muda harus menjadi tulang punggung keluarganya.


"Hanum, tolong bersihkan ruangan saya!" titahnya lalu pergi begitu saja.


Wajah Hanum dan Fitri seketika memucat saat menyadari kalau Afkar ada di belakangnya, tapi sejak kapan pria itu ada situ.


"Cepat sana, nanti kamu dipecat," kata Fitri sambil mendorong tubuh Hanum.


Hanum mulai masuk lift di mana Afkar sedang menunggunya sambil menahan supaya pintu lift tak tertutup. Kini di dalam lift khusus itu hanya berdua membuat Hanum begitu gugup sedangkan Afkar masih sama dengan gaya dingin dan datar.


Keringat dingin mulai membasahi bajunya, seakan lift ini begitu lama berjalan sampai ke lantai atas, membuat dadanya terasa sesak saat diam-diam ia menatap bayangan pria yang berdiri tak jauh darinya.


Kedua mata itu beradu, jantung Hanum rasanya mau lepas kalau buatan manusia pasti sudah lompat dari sarangnya, ia beruntung jantungnya buatan sang pencipta. Afkar diam-diam menyunggingkan bibirnya saat melihat gadis di sampingnya gugup.


Bunyi ting, tak lama pintu lift terbuka. Afkar segera menuju ruangannya yang diikuti oleh Hanum sambil membawa peralatannya untuk membersihkan ruangan asisten gila itu.


"Duduklah dulu!" perintahnya sambil menunjuk ke sofa ruangannya.


"Enggak apa-apa, Pak. Saya langsung bekerja saja," ucapnya sambil menyiapkan sapu terlebih dahulu.


"Letakan barang-barang itu di pojok sana, dan kamu duduk saja dulu, ada yang saya bicarakan nanti!" titahnya.


Hanum hanya diam, ia berdiri di pojok sambil memegang tangkai sapu. Afkar yang sudah menyelesaikan tugasnya segera beranjak dari kursinya, seketika ia menautkan kedua alisnya saat melihat gadis itu hanya berdiri selama hampir dua jam.


"Dasar bodoh!" umpatnya sambil menghampiri gadis yang sudah berkeringat itu walau dalam ruangan dingin oleh penyejuk.


Hanum yang belum makan apa-apa dari pagi merasakan pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa berdenyut. Belum sempat mengatakan apa-apa tubuhnya limbung dengan reflek tangan kekar Afkar menyambut tubuh mungil wanita yang kini pingsan didekapannya.

__ADS_1


Ya ampun pingsan lagi, Afkar …..


Jangan lupa dukung dengan kasih like dan votenya ya ….


__ADS_2