
Satya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan istrinya yang sudah berapa kali menguap hanya diam.
"Sayang, kamu ngantuk?" tanyanya sambil membelai rambut Senja dengan lembut.
"Iya By," jawabnya sambil tersenyum lembut menatap suaminya.
"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai hotel Bby bangunin," kata Satya sambil fokus mengemudikan mobilnya.
Saat Satya melihat ke samping ia terkekeh karena istrinya sudah tertidur dengan mulut terbuka. "Sayang, kamu begitu mengemaskan." Lirih Satya.
Tanpa terasa sudah selama empat puluh menit Satya mengemudikan mobilnya, kini mobilnya sampai di parkiran khusus di hotelnya.
Saat mobil berhenti Senja meregangkan tubuhnya, "Sayang, sudah sampai?" tanyanya sambil memperhatikan sekeliling.
"Iya, kita baru sampai. Ayo kita turun, apa kamu mau istirahat dulu?" tanya Satya sambil merapikan rambut istrinya.
"Enggak! kita langsung ke kamar Sari saja ya," jawab Senja sambil mengedipkan matanya.
Satya hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui kemauan istrinya, pria itu tahu kalau baru sekarang Senja bisa merasakan mempunyai sahabat yang bisa untuk di ajak berbagi tanpa melihat latar belakangnya.
Kini keduanya menuju ke kamar Ibnu," Yakin ini, By?" tanya Senja sambil melihat sekelilingnya.
"Cih, istriku meragukan suaminya sendiri!" kata Satya sinis.
"Uluh-uluh ... gitu saja merajuk, lagi pms, Bang," goda Senja terkekeh.
"Au ah gelap!" jawab Satya kesal.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya seketika tawa Senja pecah, Wanita itu sampai mengeluarkan air matanya. Ia tak menyangka kalau suaminya yang terkenal dingin dan tak tersentuh bisa mengatakan hal kata-kata seperti anak alay.
Satya segera menghubungi sahabatnya kalau dia sekarang sudah di depan pintu kamarnya. Tak lama pintu kamar terbuka, Ibnu menatap Satya dan Senja sambil mengerutkan dahinya.
"Bukannya besok?" tanya Ibnu sambil menaikkan alisnya satu menatap Satya.
Satya hanya menatap sahabatnya jengah, ia memberikan kode kalau hanya menuruti istrinya. Senja yang dari tadi tidak di perbolehkan masuk langsung menerobos Ibnu.
Satya dan Ibnu mengikuti Senja, wanita itu mencari keberadaan Sari."Pak Sari mana?" tanyanya.
Ibnu langsung menepuk keningnya, ia segera mengambil pakaian istrinya dalam koper. Pria itu masuk kamar mandi, tak lama ia keluar sambil mengendong istrinya yang terlelap di kamar mandi.
"Astagfirullah apa yang terjadi?" tanya Senja yang terlihat panik.
"Eh, jangan panik," kata Ibnu.
__ADS_1
"Bini lo pingsan?" tanya Satya yang melihat sahabatnya menyelimuti tubuh Sari.
"Gue 7 hari puasa, bro. Sampai hotel gue lihat dia sholat, ya udah lepas dahaga gue selama tujuh hari itu," bisik Ibnu lirih.
"Gila lo, tapi enggak sampai pingsan juga kali, Babang!" sahut Satya.
Ibnu terkekeh melihat Satya, "dia enggak pingsan, tadi katanya mau mandi. Ya begitu kalau kelelahan bisa dia ketiduran di sambil duduk di closet apalagi hotel lo kamar mandinya mewah." Ujar Ibnu.
"Unik juga bini lo." Ucap Satya tertawa.
Senja mengambil minyak kayu putih, kemudian di oleskan di hidung Sari. Melihat itu Ibnu terkejut.
"Senja enggak usah satu jam lagi dia bangun," kata Ibnu sambil tersenyum.
"Pak, Sari sakit apa?" tanya Senja sambil menatap sendu ke arah dosennya itu.
Ibnu merasa bingung enggak mungkin ia menjelaskan kepada istri sahabatnya itu.
Satya yang melihat Ibnu kebingungan mau jawab apa hanya tertawa kecil."
Sayang Sari kelelahan, karena habis di gempur." Sahut Satya.
Mata Senja melotot mendengarnya, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
Ibnu hanya tersenyum menanggapi ucapan mahasiswanya itu, karena mendengar keributan dan orang yang tengah mengobrol Sari belahan membuka matanya.
"Senja!" teriaknya sambil berlari hendak memeluk sahabatnya yang begitu ia rindukan itu, tapi na'asnya selimut yang di pakainya tadi terlilit di kakinya membuatnya tidak bisa menjaga ke seimbangan.
Brukk, Sari jatuh tersungkur di dekat ranjang. Ibnu yang melihat itu segera mungkin menghampiri sang istri." Kenapa kamu selalu ceroboh, sayang!" kata Ibnu sambil mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di sofa.
"Maaf," katanya sambil tersenyum merasa malu karena di saat ada Senja dan suaminya ia melakukan hal yang bodoh.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu Sari mengajak sahabatnya untuk mengobrol di balkon biar lebih bebas.
"Sayang, aku ajak Senja ke balkon ya," katanya sambil menatap Ibnu dan Satya.
Kini keduanya duduk di sofa yang ada di sudut balkon, "Bagaimana kabar ponakan gue?" tanyanya sambil mengusap perut Senja yang terlihat membesar.
"Alhamdulillah baik, Mama Sari." Jawab Senja. Kini keduanya tertawa bersama.
"Apa lo masih sering kumpul sama yang lainnya?" tanya Senja sambil menatap pemandangan di depannya yang terlihat awan mendung menandakan hari akan hujan.
Sari mendesah, ia menatap gedung-gedung di depannya. "Gue jarang kumpul lagi sama mereka." Jawabnya terlihat sedih di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa apa ada masalah sebelumnya hingga mereka tidak menganjakmu, gue lihat di grup Alan sering share lokasi untuk berkumpul?" tanya Senja.
"Gemana gue pergi dan berkumpul sama mereka, si killer enggak pernah lepas gue. Si tua itu minta di keloni terus," jawab Sari.
Senja terkekeh mendengarnya, Sari tidak berubah walaupun sudah menikah kalau ngomong suka seenaknya saja tanpa di filter.
"Gue kangen dengan Diana!" kata Senja sambil menatap sahabatnya.
"Lo tahu, minggu lalu Diana di sekap oleh parang nenek lampir itu," kata Sari masih terlihat kesal jika mengingat kejadian itu.
"Hah, lo serius! terus bagaimana keadaan Diana sekarang?" tanya Senja yang terlihat khawatir.
"Alhamdulillah dia kagak apa-apa, Bumil." Jawab Sari sambi tersenyum.
"Syukurlah," jawabnya singkat.
Senja tahu Diana itu sekarang menghindari keributan, dia tidak ingin Bundanya sedih dan khawatir.
"Lo lagi mikirin apa sih?" tanya Sari.
"Eh, enggak ada."Jawabnya.
Sari segera mengajak Sahabatnya masuk, kini kedua wanita itu gabung dengan suaminya masing-masing.
"Lagi ngomongin apa kok serius kali?" tanya Senja yang melihat suami dan dosennya yang terlihat serius.
"Biasa masalah kerjaan," Jawab Ibnu sambil tersenyum.
Satya melihat istrinya terlihat bahagia setelah berjumpa dengan sahabatnya, begitu juga dengan Sari. " Besok lo seminar biar Sari di rumah sama bini gue," tawar Satya.
"Enggak bisa gitu dong, bro." Jawab Ibnu tidak suka.
"Dari pada Sari suntuk di kamar hotel, maksud gue," jelas Satya tidak ingin sahabatnya tersinggung atas ucapannya.
"Iya, gue tahu bro! lo enggak ada maksud apa-apa, tapi gue mau ditemani bini gue." Jawab Ibnu berharap sahabatnya mengerti.
"Sudah, lain kali saja," kata Senja melerai kedua pria yang terlihat semakin cekcok.
Satya tersenyum, ia tahu kalau istrinya merasa terganggu akibat perdebatan dirinya dengan Ibnu. Padahal itu sudah baisa terjadi.
Sari menarik nafas dalam, suaminya kalau sudah bilang enggak tetap enggak.
"Bro gue pamit ya, ingat besok kalau berubah biar di jemput Afkar asisten Arga," kata Satya.
__ADS_1
Satya terkekeh melihat sahabatnya sepertinya terlihat panik, karena ia tahu siapa Afkar. "Enggak!" jawab Ibnu singkat.