
Ayah Nugraha sudah menahan tawanya karena ada Dokter , Ceo Wijaya, Asisten dari grup Nugraha sedang dinasehati oleh istrinya.
"Kamu Ranga, Diana sedang hamil bukannya ditemani malah keluar dan ikut yang nggak jelas begitu.
Semua terdiam hingga pintu terbuka membuat Ranga terkejut." Kamu?"
"Apa?" tanya Merry sambil berjalan berlenggok walau perutnya membuncit.
Radit memutar bola matanya jengah, ini yang membuatnya malas untuk memberitahu Merry kemana ia pergi.
Bunda dan Ayah Nugraha hanya diam, mereka senang karena Satya sudah pulang jadi tidak akan bertemu dengan mantan istrinya itu.
"Ngapain lo ke sini ?"tanya Ranga ketus.
"Cari laki gua, lagian enggak mungkin jenguk lo,!"seru Merry.
Radit yang tidak ingin ada keributan, segera mengajak istrinya untuk pulang.
Setelah pamit keduanya keluar dari ruang rawat Ranga. Bunda hanya menarik napas dalam, menegurnya pun tidak. Ada rasa bersyukur saat Satya sekarang sudah mendapatkan istri Senja.
Faisal masih diam, ia berharap nanti tidak mendapatkan istri seperti Merry. Pria itu bergidik ngeri.
Brakk, suara pintu dibuka kasar membuat semua yang di dalam terkejut.
"Mas!" seru Diana langsung memeluk Ranga sambil menangis tersedu-sedu.
Ranga tersenyum, diusapnya kepala istrinya yang kini tertutup hijab itu."Apa kabar anak kita?"
Melihat itu Bunda dan Ayah Nugraha keluar diikuti oleh Faisal untuk memberikan ruang untuk sepasang suami-istri itu.
Mata Diana membulat , saat suaminya bertanya tentang anaknya, wanita itu mendengus kesal pasti Satya yang sudah memberitahu suaminya.
"Kenapa kamu kesal, apa tidak suka hamil anakku, hem?" tanya Ranga sambil menatap Diana intens.
"Masa nggak suka, rencana mau buat kejutan. eh, malah aku yang terkejut, "ujar Diana.
"Maaf," kata Ranga sambil berusaha untuk duduk bersandar.
Diana membantu suaminya, wanita itu tidak masalah kejutannya gagal. Baginya yang penting sekarang suaminya selamat dan tidak terluka parah. "Mas, "panggil Diana sambil menatap wajah tampan Ranga.
"Apa?" tanya Ranga sambil menaikan satu alisnya.
"Aku mohon jangan seperti ini lagi!" pinta Diana.
"Iya, Mas janji." Ranga tersenyum sambil menarik hidung mancung istrinya.
Keduanya asik mengobrol, hingga pintu dibuka oleh Bunda Fifi dan Ferdinand. Ranga tersenyum mantap mertuanya itu.
"Hampir saja pernikahan Papa dan Bunda mundur!" kata Ferdi menatap menantunya itu dingin.
"Mas!" seru Bunda Fifi mencubit tangan calon suaminya.
Diana dan Ranga hanya menggeleng melihat pasangan yang sedang puber itu. Wajah Bunda memerah karena malu bisa-bisanya Ferdi berkata seperti itu.
"Cepat sehat bantu Leon menyiapkan pernikahan kami," kata Ferdi sambil mengusap bahu Ranga.
"Mas!" Lagi-lagi Bunda Fifi menatap Ferdi kesal.
__ADS_1
Ayah Nugraha yang baru masuk melihat pasangan yang akan menikah itu hanya tersenyum tipis, Ferdi yang ketahuan oleh rekan bisnisnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat Ayah Nugraha yang duduk di sofa pria itu menghampirinya.
"Nggak akan batal nikahnya," kata Ayah Nugraha sambil tersenyum.
Ferdi hanya mendengus karena ia tahu rekan bisnisnya itu sedang meledeknya, Diana melihat Bundanya hanya diam mencoba untuk menghampirinya.
"Apa ada masalah?" tanya Diana.
"Leon memindahkan pernikahannya di hotel milik keluarga Nugraha," ujar Fifi kepada putrinya itu.
"Iya, kemarin Kak Leon cerita. Selama ini tidak bisa memberikan apa-apa ke Papa Ferdi. Jadi mau memberikan yang terbaik buat cinta pertamanya," goda Diana sambil mengedipkan matanya ke arah Bundanya.
Mata Fifi langsung melotot karena ia sedang serius, tetapi anaknya mengajak bercanda. Ayah Nugraha terlihat begitu santai mengobrol bersama Ferdi.
*****
Di kediaman Nugraha.
Senja yang sedang menonton televisi di ruang keluarga, sedang asik mengobrol bersama Bik Ida.
"Senja, Bunda mana?" tanya Rendy membuat ponakannya itu terkejut.
"Om, Assalamualaikum napa!" gerutu Senja karena terkejut.
Senja menatap Rendy yang kini terlihat pucat dan keringat membasahi wajahnya, kemudian ia bertanya."Om, Ada apa?"
"Bunda," kata Rendy menatap Senja dengan memohon.
Senja menarik napas panjang dan berkata."Bunda ke rumah sakit."
Rendy mengusap wajahnya kasar, kini ditatapnya Bik Sum Dan Senja bergantian dan berkata."Popy mau melahirkan."
"Di apartemen," jawab Rendy.
"Bik Ida, Senja titip Jingga, asinya masih ada stok," ucap Senja langsung berjalan keluar dan mengambil alih kemudi.
"Nja," kata Rendy menatap keponakannya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita harus cepat, bukannya tadi telepon!" kata Senja kesal.
Rendy dan Bik Sum saling pandang. Namun, keduanya juga langsung masuk mobil yang dikemudikan Senja.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setelah tiga puluh menit Senja langsung keluar dan meminta Omnya menunggu di mobil.
Sesampai depan apartemen Senja langsung menekan bel, tidak lama Popy membuka pintu sambil meringis memegang perutnya.
"Senja," kata Popy terlihat begitu kecewa.
"Tante ayo kita ke rumah sakit," ajak Senja sambil memapah Popy, tapi kemudian istri dari Rendy itu menghentikan langkahnya dan berkata." Senja, baju bayinya."
Senja tersenyum, tipis. Ia melihat Popy mampu berjalan sendiri saja sudah begitu kagum ini akan balik lagi ke apartemenya.
"Tante itu nanti saja, sekarang yang penting kita ke rumah sakit lebih dulu," ujar Senja mencoba tenang.
Popy hanya mengganggu, sampai di mobil Bik sum turun dan membuka pintu untuk Popy. Wanita hamil tua itu tersenyum menatap suaminya yang begitu tenggang sekarang.
"Mas, enggak apa-apa?" tanya Popy yang hanya di anggukan kepala oleh Rendy.
__ADS_1
Senja langsung mengemudikan mobil Rendy menuju rumah sakit terdekat dari apartemen karena ia takut jika bayinya lahir di jalan,
"Pelan-pelan, Non." Bik Sum mengingatkan Nonanya itu.
Mobil kini sudah sampai UGD, dua orang perawat membantu Popy turun dan meminta untuk segera naik kursi roda.
Rendy bukanya turun, pria itu terlihat menatap kosong ke depan. Senja hanya menarik napas panjang.
"Om, ayo turun," ajak Senja membuat Rendy menatap sekeliling.
"Popy mana?" tanya Rendy panik.
Senja hanya tersenyum sambil menatap Omnya itu gemas, kini keduanya berjalan menuju ruang bersalin. Seorang perawat menghampiri keduanya.
"Suami Ibu Popy?" tanya Perawat itu tersenyum ramah.
"Iya Sus," jawab Rendy menatap horor saat mendengar wanita berteriak histeris dari dalam ruang bersalin.
"Silahkan temani istrinya," kata perawat itu berlalu pergi.
Bik Sum membuka pintu, wanita itu menatap Senja dan Rendy bergantian dan berkata."Ayo masuk."
Rendy menatap Senja. Namun, ibu satu anak itu tersenyum hangat dan berkata." Ada Senja sama Om."
Senja mengantar Rendy untuk mendaftarkan pasien, kemudian keduanya masuk ruang bersalin atas izin dokter.
Popy terkejut melihat suaminya datang walau tidak berani menatapnya dan berkata."Mas tunggu di luar saja."
Rendy menggelengkan kepalanya dengan tangan mencengkeram lengan Senja, sampai ibu satu anak itu meringis menahan sakit.
Dokter memeriksa Popy untuk melihat sudah bukaan berapa, wanita itu tersenyum dan berkata."Bukaan sudah lengkap."
Bik Sum meminta Rendy untuk berdiri samping kanan Popy, sedangkan ia dan Senja berdiri di sebelah kiri.
"Ibu saat hitungan tiga ikuti aba-aba saya," ujar Dokter itu.
Popy sudah tidak sanggup untuk menjawab, wanita itu hanya mengangguk, tanganya menggenggam tangan Rendy dan Bik Sum.
"Satu, dua, tiga. Ngejan Bu!" perintah Dokter wanita itu.
Dokter mengulum senyum saat mendengar Bik Sum dan Rendy mengejan dari suaranya, Senja memijat pelipisnya karena ia lupa harusnya bik Ida yang di bawanya bukan bik Sum yang latah.
"Yang mengejan yang mau melahirkan ya, Ayo konsentrasi." Dokter mulai memberi aba-aba.
"Mas, sakit," kata Popy lemah karena tenaganya benar-benar habis.
"Pak cium kening istrinya biar semangat," ujar Dokter.
Rendy saat mau mencium kening istrinya, bersamaan Bik Sum juga akan mencium kening Popy. Al hasil kening keduanya berbenturan.
"Aduh," kata Rendy dan Bik Sum bersamaan
"Bik!" seru Rendy dan Senja bersamaan.
Dokter dan empat perawat dalam ruangan itu terkekeh melihat keluarga yang lucu menurut mereka.
"Ayo bu sedikit lagi!" seru Dokter saat melihat kepala bayi yang akan keluar, Popy mengejan dan bersamaan Dokter menggunting inti Popy membuat mata Rendy melotot tidak lama terdengar suara bayi yang menangis.
__ADS_1
Dokter memperlihatkan anak Rendy yang berjenis kelamin laki-laki. Bukan senang atau tersenyum wajah Rendy pucat saat melihat anaknya masih berlumuran darah itu. Semua terkejut karena Rendy tiba-tiba pingsan.
bersambung ya