
Setelah dirawat selama empat hari Ranga sudah diperbolehkan pulang, begitu juga dengan Popy dan Rendy.
Bunda awalnya minta Rendy dan Popy untuk tinggal di rumahnya sementara. Namun, Popy menolak karena sudah ada bik Sum yang membantunya.
Senja yang ikut ke rumah sakit untuk menjemput Popy bersama Satya ikut mengantar Rendy ke apartemen.
Sesampai di apartemen sudah ada Bik Ida yang sebelumnya di antar terlebih dulu sebelum keduanya menuju ke rumah sakit.
Popy masuk sedangkan putranya di gendong oleh Senja, Popy masuk kamar diikuti oleh ponakannya itu.
"Wah sudah ada persiapan, Tante?" tanya Senja melihat sekeliling kamar yang sekarang lebih luas karena seingatnya dulu kamarnya standar.
"Om kamu yang renovasi tiga bulan lalu," jawab Popy yang merebahkan tubuhnya.
"Kapan Nenek datang?" tanya Senja karena selama di rumah sakit tidak melihat kedua orang tua Popy.
"Mama lagi sakit, jadi belum bisa lihat cucunya." Popy tersenyum menatap Senja.
"Enggak apa, Bik Sum akan siap bantu Tante," ucap Senja.
Keduanya tersenyum, Senja yang tahu jika Popy lelah pamit mau keluar dan meminta Tantenya untuk istirahat.
Senja keluar kamar dan bergabung bersama Suami dan Rendy. Satya mengusap kepala istrinya saat wanita itu duduk di sebelahnya.
"Om siapa nama adikku?" tanya Senja.
"Cakra," jawab Rendy sambil tersenyum.
"Cakra Sanjaya," sahut Senja.
"Bukan, Cakrawala Sanjaya," kata Rendy merasa bangga.
"Kenapa Cakrawala?" tanya Popy yang baru keluar dari kamar karena haus.
"Nama, Ibumu Mentari, namamu Senja dan cucuku Jingga jadi anakku Cakrawala," jawab Rendy.
Satya hanya diam menyimak karena itu hak Rendy dan Popy untuk memberikan nama kepada putra mereka.
"Bagus juga bintang yang bertaburan di langit," ucap Senja.
Popy hanya diam, wanita itu kembali lagi masuk dalam kamarnya, hal itu membuat Senja memberi kode ke Rendy untuk menyusul Tantenya ke kamar.
"Om," kata Senja.
"Nggak Papa," jawab Rendy karena ingin istrinya beristirahat.
"Bik Ida dan bik Sum sedang masak di dapur, sedangkan Jingga tidur lelap di kereta dorongnya.
"Om sebaiknya tinggal di rumah Kakek saja," kata Senja.
Rendy menatap Senja, pria itu hanya tersenyum. Jika ia mengingat tinggal di rumah itu bayangan Papa Roby yang begitu menyayanginya. Namun, walau sudah tahu jika dirinya bukan anak kandungnya kasih sayang tidak berubah bahkan tetap menganggap dirinya adalah anaknya.
"Jangan sekarang, "jawab Rendy.
__ADS_1
"Kenapa Om?" tanya Senja.
"Tunggu Mama keluar, "ujar Rendy sambil menatap ke arah televisi.
Senja hanya mengangguk, bagaimanapun Marni adalah neneknya, dulu begitu menyayangi dirinya. Rasanya sebagai cucu tidak baik untuk menghakiminya. Neneknya juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Senja menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, wanita itu begitu rindu dengan Kakek Roby. Namun, kini hanya tinggal kenangan.
"Lagi mikirin apa, Yang?" tanya Satya.
"Apa Mas?" tanya Senja karena tidak mendengar apa yang ditanyakan Satya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Satya lagi.
Senja hanya tersenyum, sedangkan Satya semakin heran karena ia tahu kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Apa?" tanya Satya lagi.
"Kangen sama Kakek," jawab Senja.
Satya tersenyum sambil mengusap kepala istrinya, pria itu rasanya sudah lama juga tidak mengantarkan istrinya ziarah ke makam Kakek Roby.
"Kapan kita ziarah?" tanya Satya.
"Ziarah?" tanya Rendy.
"Iya, lo kapan terakhir ziarah ke Makam Kakek?" tanya Satya.
"Om, kapan kita sama-sama kesana?" tanya Senja.
"Minggu depan," jawab Rendy.
Senja yang ingat minggu depan pernikahan Bunda Fifi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia tidak bisa.
"Nggak bisa, Om." Senja menolaknya.
"Kenapa?" tanya Rendy karena tadi ponakannya itu tadi yang mengajaknya.
"Minggu Bunda Fifi yang menikah," jawab Senja.
Rendy hanya mengangguk, ia juga lupa karena sudah lama tidak bertemu mertua Ranga. Namun, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata." Cinta yang bertahan."
"Itu tidak bertahan, tapi pernikahan yang tertunda," jawab Senja.
"Sama saja Senja!" seru Rendy.
"Serah Om sajalah." Senja beranjak berdiri karena melihat bik sum dan Bik ida menyiapkan makanan di atas meja.
Setelah selesai Senja memanggil Satya dan Rendy untuk makan, wanita itu juga memanggil Popy. Makan bersama begitu santai karena Rendy tidak berhenti mengganggu Satya.
Setelah makan selesai Senja dan Popy ikut membantu membereskan meja, sedangkan bik Ida dan Sum mencuci piring.
"Tante kapan akan pindah rumah Kakek?" tanya Senja.
__ADS_1
"Tante ikut Om kamu saja," jawab Popy.
"Pas kikahan saja," usul Senja sambil berjalan ke arah ruang keluarga untuk bergabung.
Rendy yang mendengar obrolan ponakan dan istrinya hanya mengangguk, karena kalau tinggal di apartemen kasihan anaknya nanti karena ruang terbatas.
"Nanti Om tanya Ibumu dulu," ucap Rendy.
"Pasti Ibu kasih izin, Om." Senja menatap Rendy.
Rendy hanya diam, sebenarnya ia ingin membeli rumah, tetapi ia ingat jika rumah itu akan kosong terus jika ia tidak tinggal; di sana. Hanya ada pelayan saja.
"Yang, apa kamu tidak masalah jika tinggal di rumah Papa? tanya Rendy.
"Aku ikut saja Mas," jawab Popy.
Rendy hanya mengangguk, jujur ia begitu berharap istrinya akan setuju. Namun, ia sadar masih ada kakaknya yang berhak akan rumah itu. Karena Mentari yang anak kandung dari Papa Roby.
Karena hari sudah sore Satya dan Senja pamit, bik Ida ikut sedangkan bik Sum masih ditahan oleh Rendy.
Kini Senja dan Satya sudah berada di dalam mobil, dan Satya bertanya."Mau langsung pulang, Yang."
"Iya Mas," jawab Senja.
Dilihatnya putrinya masih begitu nyenyak tidur, setelah menempuh empat puluh menit mobil yang dikemudikan Satya memasuki kediaman Ayah Nugraha.
Satya membantu bik Ida untuk membawa masuk perlengkapan Jingga, sedangkan Senja masuk lebih dulu sambil menggendong Jingga.
Bunda dan Ayah Nugraha yang masih berada di ruang keluarga langsung beranjak untuk menggila alih Jingga dari tangan Senja.
"Cucu Nenek dari rumah Kakek Rendy ya," kata Bunda sambil mencium pipi gembul Senja.
"Jingga panggil apa ya Bun ke anak Om Rendy?" tanya Senja.
"Lah iya panggil apa ya?" tanya Bunda balik.
"Panggil adik," sahut Satya yang baru bergabung.
"Kok adik sih, Mas. itu adik sepupu aku," ucap Senja.
"Panggil om terlalu muda, Yang," ucap Satya.
Senja diam, ia juga pusing panggil apa Jingga ke Cakra, Ayah Nugraha tidak terusik atas obrolan anak dan istrinya itu.
"Arga mana, Bun?" tanya Satya.
"Bawa istrinya jalan," jawab Bunda.
Satya hanya mengangguk, ia berharap Ranga tidak bersikap konyol lagi. Namun, ada yang mengganjal hatinya. Apa sampai sekarang Deo masih mencintai Diana.
Ditatapnya istrinya dan bertanya."Yang, apa Deo masih menyukai Diana?"
bersambung ya...
__ADS_1