
Dokter itu menatap Ayah Nugraha, dan berkata."Pasien mengalami benturan di kepalanya, ia beruntung helm di kepalanya tidak lepas."
"Maksud Dokter Ranga belum sadar." Fasial yang bisa membaca maksud dokter di depannya.
"Ada apa ini, siapa yang sakit?" tanya Diana sudah menangis karena tidak melihat suaminya.
"Kamu yang sabar," kata Bunda berusaha tegar.
"Maaf, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU," kata seorang perawat.
Brankar didorong oleh dua orang perawat, Diana menutup mulutnya saat suaminya dinyatakan kritis. Tubuh wanita itu luruh ke lantai yang langsung disambut oleh Bunda Fifi.
Ayah Nugraha memeluk istrinya, ada rasa sesak di dadanya , untuk apa putranya itu harus ikut balap liar.
Satya pergi mengurus administrasi untuk perawatan Ranga, pria itu mencari dokter untuk menanyakan kondisi Ranga yang sebenarnya.
"Dok tunggu," kata Satya saat melihat Dokter yang menangani Rangga tadi.
"Ada apa?" tanya Dokter yang bernama Melati itu
"Saya mau menanyakan keadaan adik saya tadi," kata Satya.
"Di luar tidak ada luka, tapi benturan itu yang membuatnya kritis karena ada gumpalan darah di otak bagian kiri, saat saya lihat hasil CT scan kepala tadi, tapi besok kita tanya langsung ke dokter spesialis saraf, Pak," ujar Dokter wanita itu.
Satya hanya mengangguk, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Selama ini Ranga tidak pernah cerita apa-apa. Namun, saat melihat di kantor tadi kelihatan murung.
Satya menuju ke ruang ICU di mana Ranga di rawat, dilihatnya Diana masih menangis di pelukan Bunda Fifi.
"Diana apa Ranga ada masalah?" tanya Satya.
"Enggak ada, Kak. Diana hanya mau buat kejutan dibantu teman-teman buat hias rumah malam tadi setelah Kak Ranga Keluar rumah," ujar Diana.
"Kejutan apa?" tanya Satya.
"Ulang tahun, mau kasih tahu kalau aku positif," kata Diana tangisnya langsung pecah.
Tak lama datang Alan, Leo dan Deo yang baru tahu kalau Ranga kecelakaan karena Diana izin sebentar.
"Apa yang terjadi?" tanya Alan melihat semua berkumpul.
Satya menjelaskan apa yang terjadi, Alan dan yang lain terkejut, Bunda Fifi juga baru tahu kalau putrinya sedang hamil dan teman-temannya tadi membantu membuat kejutan untuk suaminya.
__ADS_1
"Sat, apa Arga sudah dikasih tahu?" tanya Ayah Nugraha.
"Sudah Yah, besok pagi langsung ke sini," ujar Satya.
Satya duduk di samping Bundanya, wanita itu masih terdengar isak tangisnya. Hatinya begitu pedih, anak itu sore masih ada di rumahnya. Namun, tanpa pamit saat akan pergi.
"Ayah dan Bunda lebih baik pulang saja," kata Satya.
"Bunda di sini saja," ucap wanita yang terlihat begitu sedih itu..
"Bun, nanti kalau Ranga sadar pasti Satya kasih tahu. Diana kamu pulang juga dan Bunda," kata Satya.
Ferdi yang berada di samping Fifi mengangguk, ia juga akan menemani anaknya itu. Setelah semuanya pergi tinggal Satya, Faisal, Radit dan Leon.
"Sebelum lomba gue tanya, katanya apa harus ada masalah kalau mau datang," kata Faisal.
"Kenapa lo nggak hubungi gue, Sal?" tanya Satya.
"Gue sudah mau hubungi lo waktu itu, tapi Ranga langsung tahu," jelas Faisal.
Satay hanya mengangguk, Radit hanya diam sedari tadi. Jika Ranga tidak melaju dan mendahuluinya pasti ini tidak akan terjadi.
"Enggak," jawab Faisal dan Radit bersamaan.
Tak lama Faisal dan Radit pulang, karena keduanya besok harus bekerja. Leon duduk tanpa ada menyapa Satya. kedua pria itu diam. Hingga suara ponsel Leon menggema, ia dan Satya saling tatap.
"Siapa?" tanya Satya.
"Diana," jawab Leon langsung mengangkat teleponnya.
Setelah selesai menerima telepon dari Diana Leon menarik napas panjang, ada rasa sesak di dadanya saat mendengar tangis pilu dari adiknya itu. Dua hari lagi Bunda dan Papanya akan menikah, tapi sekarang musibah menimpa Ranga.
"Sat, gue jemput Diana ya," Leon langsung beranjak dari tempat duduknya.
Satya hanya menatap punggung rekan bisnisnya itu, Arga selalu mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan kabar Ranga. Pria itu mengirim pesan kepada istrinya untuk tidur dulu tidak usah menunggunya.
Satya beranjak dari duduknya, pria menatap dari kaca tubuh lemah Ranga yang terpasang alat-alat medis.
Satya membuka pintu, dan mengambil baju yang sudah disiapkan untuk keluarga pasien yang ingin masuk.
Satya kini berdiri di samping Ranga, dan berkata." Kenapa lo nggak cerita kalau ada masalah."
__ADS_1
"Ranga, Diana sudah menyiapkan kejutan buat lo, bangunlah," ujar Satya.
Satya meneteskan air matanya, tumbuh bersama dengan Ranga dan Arga merasa ada ikatan. Tubuh kekar itu bergetar menahan tangis.
"Ranga, lo tahu nggak tadi bini lo cerita sudah mendekorasi rumah minta bantuan Deo, Alan dan Leo. Dan lo tahu kalau sebentar lagi lo akan menjadi Ayah." Satya semakin bergetar suaranya.
"Ga, gue mohon bangun, kasihan Diana," kata Satya mengusap air matanya.
Satya menguap bahu Ranga, setelah itu ia keluar dan menghempaskan tubuhnya di bangku depan Ruang ICU di mana Ranga di rawat.
Satya hanya diam, air matanya mengalir lagi, tapi secepatnya ia usap karena melihat Leon dan Diana datang. Leon menatap Satya. pria itu tahu CEO dari Grup Nugraha baru saja siap menangis.
"Ada apa?" bisik Leon.
Satya hanya menggelengkan kepalanya saja, Leon melihat Diana menangis hanya bisa menarik napas dalam.
"Kak, apa boleh lau masuk," kata Diana menatap Satya dan Leon bergantian.
"Boleh masuklah," ucap Satya,
Leon berdiri, ia mengajak adiknya untuk masuk, pria itu tidak tega membiarkan Diana masuk sendiri.
Sampai di samping suaminya Diana dipapah sang Kakak, dan berkata." kamu harus kuat."
"Mas, aku mohon bangun, selamat ulang tahun. Ini kado terindah yang Allah berikan kepada kita." Diana mengambil tangan Ranga dan menempelkan ke perutnya yang masih rata.
"Mas, disini ada buah hati kita, bukankah kamu sudah tidak sabar dipanggil Ayah," kata Diana dengan tangisnya yang langsung pecah.
"Kak, Mas Ranga nangis," kata Diana.
Leon langsung menekan tombol tak lama dokter dan dua orang perawat masuk dan meminta Diana dan Leon untuk keluar.
Satya di luar sudah berdiri dan bertanya." Ada apa?"
"Mas Ranga menangis," jelas Diana dengan air mata yang tidak berhenti menetes di pipinya.
Satya hanya mengangguk, tak lama dokter keluar dan berkata." Pasien sudah melewati masa kritisnya dari lima belas menit yang lalu."
Deg, Satya terlihat terkejut itu artinya saat ia keluar tadi. Diana dan Leon terlihat lega. Apa lagi saat Dokter mengatakan semoga besok sudah sadar. Ranga langsung akan dipindahkan Ruang Rawat.
Bersambung..
__ADS_1