
Pintu lift terbuka, Afkar mempersilahkan Nonanya untuk keluar terlebih dahulu. Senja hanya menatap tidak suka, kemudian ia menarik tangan Asisten suaminya itu supaya keluar bersama.
Afkar yang terkejut karena Nonanya menggenggam tangannya saat keluar dari lift, "maaf Nona tolong lepaskan tangan saya," katanya dengan lembut.
"Oh maaf, lain kali jangan seperti itu, Kak." Ucap Senja sambil berjalan menuju pintu ruangan suaminya.
Pria itu hanya berdiri terpaku saat mendengar ucapan Nonanya, Afkar segera menggelengkan kepalanya dan segera menuju ruangannya.
Senja perlahan mengetuk pintu ruangan suaminya, setelah ia mendengar kata masuk wanita itu membuka pintu. Satya tidak mengetahui kalau yang masuk ruangan adalah istrinya.
"Kenapa aku mencium aroma istriku," katanya lirih sambil menggelengkan kepalanya.
Senja yang mendengar itu tersenyum," itu tidak salah, sayang." Sahutnya sambil tersenyum.
Satya yang mendengar itu terkejut dan langsung menoleh ke asal suara, matanya seketika melotot saat melihat istrinya sangat cantik. Namun, yang membuatnya melotot saat melihat bahu istrinya yang terbuka.
Satya segera berdiri dan mengambil jasnya yang ia letakkan di kursi kerjanya, pria itu menghampiri istrinya dan membawanya ke sofa ruangannya.
"Pakai ini!" titah Satya dengan datar.
"Apa Bby tidak suka, kalau Mmy berkunjung ke kantor?" tanya Senja terlihat sedih sambil meletakan jas suaminya di pangkuannya.
"Bukanya Bby enggak suka, Sayang."
"Terus kenapa jadi seperti marah?" tanya Senja sambil cemberut.
Satya hanya bisa mengusap wajahnya kasar, tak lama terdengar ketukan pintu. Pria itu mempersilahkan masuk.
"Maaf Tuan, 10 menit lagi meeting di mulai," ujar Afkar sambil melirik Senja yang sedang memainkan handphonenya.
Satya melihat Asistennya sempat mencuri pandang ke istrinya langsung berdiri dan mengambil Jasnya kemudian memakaikan ke bahu istrinya.
"Lain kali jangan pakai baju yang mengundang lelaki lain untuk menikmatinya!" Kata Satya dengan dingin.
Afkar yang mendengar kata-kata Tuannya langsung menunduk merasa bersalah, kemudian Pria tampan itu segera pamit kepada Satya.
"Maaf, tadi hanya ini yang longgar di bagian perut, ucap Senja merasa bersalah.
"Hem," jawab Satya kemudian ia mengecup kening wanita yang menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
Satya baru menyadari kalau dia tidak memakai jas saat meeting segera melepaskan dasinya dan melipat lengannya sampai ke siku.
Senja yang menyadari gaya suaminya seakan tak rela kalau sampai ada wanita lain memperhatikannya. "Bby, sangat tampan dan lebih terlihat muda," Goda Senja sambil mengedipkan matanya.
Satya yang mendengar pujian istrinya hanya tersenyum, "Apa istriku ini baru menyadarinya," bisik Satya tepat di telinga Senja.
"Huwaaaa ... mau peluk," ucapnya
Satya terkekeh mendengar ucapan istrinya, kemudian dipeluknya tubuh wanita yang begitu dicintainya. Afkar yang dari tadi menunggu di luar ruangan Tuannya begitu geram dengan bos barunya saat ini, ingin rasanya ia menarik pria itu ke ruangan meeting.
Afkar terkejut saat pintu terbuka, Satya dengan gaya santainya berjalan mendahului Afkar. "Huff, nasib jadi bawahan," lirihnya sambil mengikuti Tuannya.
"Apa meeting kali ini hanya perkenalan saja?" tanya Satya sebelum masuk ruang meeting.
"Ada permasalahan cabang juga yang harus di bahasa, Tuan." Jawab Afkar sambil membuka pintu untuk Satya.
Saat mendengar pintu terbuka dan melihat siapa yang masuk, semua yang sudah ada di ruangan meeting langsung berdiri untuk menyambutnya.
Afkar segera mengambil alih dan mempersilakan yang lain untuk duduk kembali. Setelah dua jam selesai Satya yang ingat istrinya menunggunya segera keluar dan menyerahkan semuanya kepada Afkar.
Afkar hanya menarik nafas saat melihat Satya langsung keluar ruangan setelah menyerahkan semua kepadanya.
"Pasti tadi kamu bosan menungguku," ucapnya sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah ayu istrinya.
Senja yang merasa terganggu, perlahan membuka matanya. "Sayang apa sudah siap meetingnya?" tanyanya sambil duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Maaf telah membangunkan mu," kata Satu sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.
"Kenapa harus minta maaf? Mmy sudah dari tadi tidurnya, Sayang." Ujarnya sambil tersenyum.
Tak lama terdengar suara perut Senja, hal itu membuatnya malu. "Anak Papa lapar, atau Mamamu yang lapar, Nak." Goda Satya sambil mengusap perut Senja dengan pelan.
"Kita makan ya, By." Ajaknya sambil menggeser tubuhnya yang hendak turun ranjang.
"Di sini saja, Bby ambil bekalnya," kata Satya dengan senyum bahagia dari bibirnya.
Senja akhirnya hanya duduk di ranjang menunggu suaminya menyiapkan semuanya, Satya datang dengan satu piring berisi nasi dan lauk. Melihat apa yang dibawa suaminya membuat mata wanita itu melotot sempurna.
"Bby banyak sekali!" katanya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kita makan sepiring berdua," jawab Satya.
Senja hanya menganggukkan kepalanya, benar adanya Satya sekarang duduk di hadapan istrinya dengan memegang piring dan sendok siap untuk menyuapi wanita yang begitu berharga dalam hidupnya.
Tanpa terasa nasi yang tadinya penuh kini tinggal sesuap lagi untuk wanitanya, Satya mengambil air minum untuk sang istri.
"By, tadi Sari chat Mmy. Katanya killer mau ada seminar di Jakarta," kata Senja sambil membenarkan bajunya yang terlihat kusut.
Satya yang mendengar itu menautkan kedua alisnya, karena sahabatnya itu sama sekali tidak ada memberitahu dirinya kalau hendak ke Jakarta.
"Benarkah! kapan mereka akan datang?" tanya Satya.
"Katanya sore ini, kita nanti pergi ke hotel-nya ya, Sayang." Ajak Senja sambil tersenyum.
Satya hanya menganggukkan kepalanya, saat melihat jam sudah menunjukan pukul lima sore. Dia segera membereskan mejanya dan menuju ke hotel di mana sahabatnya itu menginap.
Senja yang melihat suaminya sudah siap, segera memberikan jas suaminya.
"Bby ini jasnya," katanya sambil mengulurkan jas kepada suaminya.
Satya yang melihat itu hanya menggelengkan sambil mengambil jas dari tangan Senja dan memakaikannya kembali ke bahu istrinya.
"Eh, kenapa?" tanyanya merasa bingung.
"Bby enggak mau lagan putihmu dilihat pria lain," jawabnya sambil berjalan keluar ruangan.
Senja yang mendengar itu tersipu malu, "Bby, Mmy makin cinta!" teriaknya saat sampai di depan ruangan Afkar dan bersamaan dengan pria itu muncul dari pintu.
Satya hanya tersenyum mendengar teriakan istrinya, sedangkan Afkar hanya berdiri terpaku melihat tingkah sepasang suami istri di depannya.
"Kak Afkar cepat nikah, biar tahu bagaimana rasanya diperhatiin," kata Senja sambil bergelayut di lengan suaminya sebelum pintu lift tertutup.
Afkar mengusap wajahnya dengan kasar, dulu Arga suka membawa Suci kekasihnya. Namun, keduanya masih normal seperti pasangan yang lain. Pria itu menggelengkan kepalanya dan segera menuju ke lift.
Selama di dalam lift pria yang biasa terkenal dingin dan tegas itu menatap pantulan dirinya dari dinding lift.
Aku tampan dan menarik untuk kaum hawa, tapi kenapa mereka hanya karena kagum saja. Ah ... pusing mikirnya biarlah jomblo, tapi kalau kayak gini terus bagaimana aku punya istrinya. Batin Afkar.
Babang Afkar galau nanti Author carikan jodoh ya .... siapa tahu reader ada yang jomblo 🤣
__ADS_1