PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Misteri mulai terungkap


__ADS_3

Pagi ini Leon dan Satya mendatangi kampus di mana Yoga hampir satu tahun ini menimba ilmu. 


"Apa kamu yakin anak itu masih ke kampus?" tanya Satya.


Leon hanya menaikan bahunya, kini keduanya  pria itu masuk keuangan Ibnu. Seperti  biasa Satya tanpa mengetuk pintu langsung membukanya.


Ibnu melihat pintu terbuka menatap tajam kedua pria yang kini duduk di depannya.


"Mana berkasnya!"pinta Satya.


Ibun hanya mendengus menatap Satya yang Leon.


"Dari data yang ada sejak kematian Sasa anak itu nggak pernah datang lagi," kata Ibnu.


"Sudah pasti," kata Satya.


Satya dan Leon langsung pamit karena keduanya akan ke rumah Randy. 


Mobil yang dikemudikan oleh Leon melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang lumayan lengan.


Setelah tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Leon sampai di kediaman  Rendy.


Keduanya langsung turun yang sudah disambut oleh Bik Sum.


Satya dan Leon duduk di ruang tamu menunggu Rendy dan Yoga. Tidak lama Yoga datang diikuti oleh Senja.


Sudah tiga puluh menit yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung datang.


"Sayang kamu panggil  Rendy!" pinta Satya..


Senja segera beranjak dari duduknya, pria itu tersenyum menatap sang istrinya yang langsung naik ke lantai dua. Diketuknya pintu kamar Popy tidak lama pintu dibuka oleh Tantenya.


"Senja ada apa?" tanya Popy mempersilahkan ponakannya itu masuk.


"Om Rendy mana, Tante?" tanya Senja.


Popy hanya bisa menarik napas dalam, suaminya itu dari semalam melarangnya tidur karena katanya Sasa selalu membayanginya.


"Ada apa?" tanya Popy ada rasa iba kepada suaminya itu.


"Di bawah ada polisi dan Kak Leon mencarinya," kata Senja usil karena ia tahu Omnya itu sedang bersembunyi.


Popy yang merasa curiga dengan Senja berjalan ke arah lemari gantung, Senja melihat tubuh kekar Rendy meringkuk langsung tergelak hingga Cakra menangis karena terkejut.

__ADS_1


"Om, di film horor itu hantu sembunyi di dalam lemari loh." Senja tidak hentinya mengusili pria yang berstatus Omnya itu.


Rendy keluar dari lemari dengan wajah masam karena Senja berhasil membuatnya takut dan berkata."Dasar ponakan laknat."


Senja langsung tergelak, sedangkan Popy hanya tersenyum sambil menimang putranya. Kini Senja menari Rendy untuk keluar kamar. Sampai ruang tamu semua menatap ke arah Rendy dan dua orang polisi juga ada di sana.


"Kenapa?" tanya Yoga menatap anak dan adik iparnya.


"Sembunyi dalam lemari, "jawab Senja.


Satya dan Leon hanya tersenyum menatap Rendy yang terlihat kesal itu. Bik Sum datang membawakan minum untuk tamu Rendy.


"Jadi kita akan ke rumah kosong itu?" tanya Yoga.


"Iya gue curiga ada yang disembunyikan di sana," kata Satya.


Rendy menggelengkan kepalanya karena rumah itu bertahun-tahun sudah kosong, banyak tetangga yang bilang mendengar suara-suara aneh.


"Sayang coba kamu ceritakan apa yang Ilham ceritakan," kata Satya.


Semua yang ada di ruang keluarga menatap Senja, merasa diperhatikan Senja menatap suaminya dan Satya menganggukan kepalanya.


Senja menarik napas dalam saat itu ia dan Ilham pulang dari balap liar, tiba-tiba Mamanya telepon meminta tolong. Namun, saat itu kami terkena macet sampai jam tiga dini hari lalu lintas baru jalan. 


"Apa sebelumnya Ilham ada cerita lain?" tanya Leon menatap Senja.


"Tidak. Ilham cuma bilang jangan lupakan aku. Padahal sekarang dia yang lupa padaku." Tangis Senja langsung pecah.


Rendy menatap sendu ponakannya itu dan berkata."Ilham tidak pernah melupakanmu." 


"Buktinya Om, sudah berapa tahu ia tidak pernah datang dan memberikan kabar," ucap Senja.


"Ilham sudah tenang di sana, Nak."Yoga ikut menimpali.


Deg, Senja mencerna apa yang dikatakan Ayahnya, wanita itu menggelengkan kepalanya tidak percaya karena Kakeknya mengatakan jika sahabatnya itu keluar negeri.


"Benar apa kata Ayahmu, waktu itu sudah dibawa ke rumah sakit. Namun, sudah tidak bisa ditolong lagi."  Rendy menjelaskan kepada Senja.


Senja menundukan kepalanya, selama ini ia berharap akan menjumpai pria itu bahkan dulu ia ingin jika menikah dengan Ilham. Namun, fakta yang ia dapat semua orang menutupi kematiannya.


Satya yang mendengar istrinya sesenggukan, langsung memeluknya. Seketika tangis Senja pecah. 


"Kenapa hanya aku yang tidak tahu kalau sahabatku meninggal, Mas?" tanya Senja.

__ADS_1


"Pasti Kakek ada alasan kenapa melakukan itu sayang," jawab Satya.


Leon mengusap punggung Satya, pria itu hanya mengangguk karena Senja yang hafal  tata letak setiap kamar karena dari kecil ia main di rumah Ilham.


Kini mereka datang di damping Rt setempat, rumah Ilham yang terletak di ujung jalan membuat suasana semakin membuat Rendy menelan ludah beberapa kali.


Satya menatap istrinya dan bertanya."Kamu enggak apa-apa?"


Senja hanya mengangguk jika ia baik -baik saja, Rendy saat orang mau masuk gerbang, perlahan mundur. Namun, Yoga melihat itu langsung menarik kerah bajunya.


"Mas!"seru Rendy.


"Dasar penakut, ini bukan rumah Sasa," kata Yoga.


"Ini rumah kosong seram tahu Mas," ucap Rendy sambil berjalan memeluk lengan Yoga. Yang lain melihat itu ada yang menggelengkan kepalanya dan ada juga yang tersenyum.


Perlahan mereka masuk ada tiga orang warga yang diajak masuk ke dalam, Senja hanya bisa menarik napas rumah dua lantai itu kini terlihat begitu kotor. Wanita itu meluangkan mendekati kamar milik sahabatnya. Namun, sayang terkunci. 


Leon dengan cepat memasukan pisau kecilnya dan terdengar bunyi pintu terbuka, aroma debu dan pengap begitu menusuk hidung. Senja mengeluarkan ponselnya lalu ia menghidupkan senter di ponselnya.


Banyak jaring laba-laba, sedangkan di sampingnya ada Rendy yang menutup hidung karena kalau tidak akan bersin karena alergi debu.


Senja menatap ranjang yang terlihat tertutup kain selembut itu, ia ingat sahabatnya itu suka tidur pakai kain selembut karena bagi Ilham merasa ada yang melindungi.


Kain itu biasa warna putih, di mana itu warna kesukaan sahabatnya. Senja berjalan memakai ranjang sedangkan yang lain mengecek yang lainya.


Senja memejamkan matanya, di genggaman erat kain yang berdebu itu perlahan ia membuka tirai dan bersama membuka matanya. Tubuh Senja mundur dua langkah sambil meneteskan air matanya.


"Ada apa? Tanya Satya yang langsung memegang bahu istrinya.


"I-itu," tunjuk Senja.


Leon dan Yoga langsung mendekat dan mengarahkan lampu senternya ke arah ranjang, kedua pria itu terkejut karena ada mayat di dalamnya tidak lama petugas datang.


"Itu siapa?" tanya Rendy yang sudah gemetar memeluk Satya.


"Senja itu siapa?" tanya Rendy lagi.


"Ilham," kata Senja lirih air matanya sudah menetes membasahi kedua pipinya.


Leon langsung berkoordinasi dengan RT  dan anak buahnya untuk mengecek setiap kamar. Semua tetangga tidak menyangka karena Ilham sudah dimakamkan dan lebih mengejutkan di kamar orang tua Ilham ditemukan mayat kedua orang tuanya.


Bersambung ya….

__ADS_1


__ADS_2