
Afkar yang melihat istrinya datang kini membawa buah lain itu mengerutkan keningnya.
"Itu apa?" tanya Afkar.
"Kedondong," jawab Hanum.
Afkar kembali fokus ke acara di televisinya, tak lama Bik Tika datang membawakan bumbu rujak dan potongan buah untuk Hanum.
"Yang, nanti sakit perut," ujar Afkar.
"Enggak akan, Mas. Anakmu senang dan enggak rewel kalau aku makan buah, "jawab Hanum.
Afkar hanya mendengus karena ia akan kalah jika berdebat dengan istrinya, pria itu beberapa kali menelan ludah saat melihat sang istri yang sedang makan mangga muda dicocol dengan bumbu rujak itu.
Melihat Hanum sudah berhenti makan, Afkar langsung mengambil posisi baring berbantalkan paha istrinya.
"Yang, apa ibu sudah tahu kalau kamu sedang hamil?"tanya Afkar.
"Belum, "jawabnya singkat sambil mengusap rambut suaminya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka hamil anakku?" tanya Afkar menatap tajam ke istrinya.
Hanum hanya menarik napas dalam, wanita itu mulai paham apa maksud dari suaminya itu. Setidaknya ia mulai terbiasa jika kanebo dulu sudah tidak kaku lagi.
"Kamu itu terlalu berpikir jauh, Mas. Kalau enggak hamil anakmu aku mau hamil anak siapa!"kata Hanum kesal.
Afkar tersenyum senang atas jawaban istrinya lalu ia bertanya," apa kamu sudah mencintaiku?"
Lagi-lagi Hanum menatap datar pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
"Apa aku memberikan keperawananku masih kurang cukup," kata Hanum sambil mencibir.
"Jadi pengen," kata Afkar sambil mengusap perut istrinya.
"Sabar ya Mas, masih banyak waktu untuk itu nanti, kasihan anak kita masih lemah, Sayang." Hanum mengingatkan suaminya.
Wanita itu paham ini masih suasana pengantin baru, dan kata orang lagi hangat-hangatnya.
Harum merasa begitu bersyukur karena Allah SWT memberikan amanah lebih cepat saat ini. Ia bukan tidak ingin memberitahukan kepada kedua orang tuanya, jika ia sedang hamil muda.
__ADS_1
Ia tidak bisa membayangkan , pasti kedua orang tuanya akan bahagia, tapi ia belum siap kalau disuruh menjaga jangan makan ini dan itu.
Membayangkan itu Hanum menjadi rindu kepada kedua orang tuanya. Saat sedang membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat tahu anaknya sedang hamil, wanita itu dikejutkan oleh bayi besarnya yang sudah menyusu seperti bayi.
"Mas, "Hanum mencoba mendorong bayi besarnya, tapi sayang tenaganya tidak seberapa.
Ia membiarkan saja suaminya melakukan sesukanya.
***
Di Surabaya.
Hari ini rencana Mentari akan pulang ke Jakarta, walau sebenarnya sedih meninggalkan cucu dan anaknya, tapi ia harus mengikuti suaminya.
Senja tidak ikut mengsntsr karena Jingga baru siap imunisasi, sedangkan El sengaja tidak diikuti karena akan imunisasi di Jakarta saja.
Satya mengantar Mertuanya itu ke bandara, selama dalam perjalanan hanya ada keheningan. Jujur Yoga masih ingat akan kejadian dua minggu yang lalu itu.
Setelah empat puluh menit mobil sampai di bandara Juanda Surabaya. Perjalanan begitu lancar hanya macet karena lampu merah saja.
Satya membantu Yoga mengeluarkan barang-barang-barangnya. Satya melihat El yang tidur digendongkan Mentari.
"EL cepat besar nanti kita lomba motor sport ya, "kata Satya sambil mengusap rambut adiknya itu.
Satya menggelengkan kepalanya."Gue mau langsung pulang, bini gue sudah siap nifasnya."
Yoga terkejut, ingin sekali ia membungkam mulut menantunya itu.
Satya langsung masuk mobil dan hanya membunyikan klakson saja. Yoga sedari tadi menggerutu, ia juga sudah tidak sabar untuk buka puasa.
"Kenapa sih, bête gitu?" tanya Mentari saat keduanya sampai di dalam pesawat .
Yoga hanya tersenyum, ia mencium putranya dengan lembut, berharap anaknya tidak bangun.
***
Di kediaman Ayah Nugraha Satya yang baru sampai tidak ,melihat istrinya berada di ruang keluarga dengan semangat pria itu berjalan menuju ke lantai dua.
Perlahan ia membuka pintu, dilihatnya kamar kosong, tapi putrinya berada dalam boks bayi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Senja yang tidak menyadari suaminya berada di samping boks anaknya dengan santai ia keluar hanya mengenakan kimono pendek hanya sebatas paha saja.
__ADS_1
Wanita itu saat akan membuka kimononya melihat dari pantulan kaca suaminya tersenyum mesum ke arahnya.
Senja langsung membalikan badan sambil mulutnya komat -kamit, entah mengapa ia begitu kesal karena hampir saja ia membuka kimononya langsung begitu saja.
"Mas, bukannya mau langsung ke kantor?" tanya Senja karena suaminya malah kembali pulang.
"Mas ingat sekarang sudah empat puluh satu hari," kata Satya langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Mas, nanti Jingga bangun, ia sedang rewel," ujar Senja karena ia ingat pesan ibunya kalau sebulum Satya buka puasa minum obat pencegah kehamilan dulu.
Senja menggigit bibir bawahnya, hal itu membuat Satya semakin menggila, Senja mencoba meronta dan Satya hanya menatap datar istrinya.
"Aku mau tanya, apa kita siap menambah anak dikala Jingga masih kecil, aku takut kalau nanti kurang perhatian." Senja menjelaskan kepada suaminya.
Apa pun itu Senja akan komunikasikan kepada suaminya , walaupun hasilnya nanti akan tetap Satya memenangkannya
"Apa kamu mau menundanya sayang?" tanya Satya dengan tangan sudah mau membatalkan puasanya itu.
"Kalau menunggu Jingga dua tahun dulu bagaimana, aku sudah merasakan kurang perhatian dari kecil, Mas." Senja menatap mata suaminya penuh sayang.
"Baiklah, besok kita konsultasi ya," kata Satya sambil memeluk istrinya.
Satya masih ingat bagaimana istrinya menahan sakit yang begitu luar biasa saat melahirkan putrinya itu, Ia menjadi tidak tega kepada Senja. Bagi Satya menahan sedikit tidak masalah karena nanti juga ia akan mendapatkannya.
Satya melepaskan tubuh istrinya dan membetulkan Kimononya. Hal itu membuat Senja memicingkan matanya. Bukankah tadi suaminya ingin buka puasa.
Senja masih duduk di tepi ranjang, apa suaminya marah hingga tidak ingin menyentuhnya lagi. Senja menjadi serba salah, Ia turun dari ranjang dan menghampiri suaminya.
Senja tersenyum saat Jingga mulutnya seakan sedang menyusu, Satya masih tidak bergeming dengan kedatangan istrinya. Ia sudah menunggu begitu lama. Namun, sekarang harus ditunda lagi untuk berbuka puasa.
Senja menarik Satya untuk duduk di sofa, Satya hanya menurut saja. Ia tahu kalau istrinya akan mengatakan untuk menundanya dulu.
"Mas, jangan marah. tadi bukan maksudku untuk menolak, tapi aku ingin kita komunikasi dulu, mau di tunda dulu atau langsung," ujar Senja.
Satya hanya menarik napas dalam, pria itu beranjak dari sofa akan keluar kamar. Namun, langkahnya terhenti saat istrinya berkata."Yakin enggak mau buka puasa."
Satya menatap istrinya dengan menautkan kedua alisnya, Senja melihat suaminya merasa bingung hanya tersenyum.
"Mas enggak mau, tahu gitu kemarin di jahit sampai tidak ada lobang lagi!" kata Senja kesal dan langsung membalikan tubuhnya untuk menuju lemari.
__ADS_1
"Aku mau," kata Satya sambil memeluk tubuh istrinya.
Bersambung ya,,