
Siang ini semua disibukkan dengan persiapan pernikahan Rendy dan Popy, kedua orang tua Popy akan sampai Surabaya sekitar jam 2 siang.
Satya juga sudah minta izin dari pihak rumah sakit atas bantuannya Ayah Nugraha, kini semua sudah berkumpul diruang ICU.
Ranga yang baru sampai dengan Diana langsung bergabung dengan yang lain, kini semua tinggal menunggu kedua orang tua dari mempelai wanita.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3:30 sedangkan ijab kabul akan di laksanakan pukul 4:00, Popy terlihat sangat gugup. Namun, Bunda Satya selalu memenangkannya.
"Kenapa pak Yanto lama sekali!" kata Rendy yang merasa gugup.
Yoga tersenyum melihat adik iparnya yang berdiri setelah itu duduk lagi, Ayah Nugraha hanya tersenyum menanggapi tingkah Rendy untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Tak lama pak Yanto dan kedua orang tuanya Popy datang, mereka saling sapa dan salam, kini tinggal menunggu pak penghulu yang tidak lain masih sahabatnya ayah Nugraha.
"Lo...duduklah, bikin kepala gue pusing," ucap Ranga yang pusing melihat Rendy hanya mondar-mandir sedari tadi.
Semua yang ada hanya tersenyum melihat calon mempelai pria yang gugup, Popy lebih banyak menunduk yang kini sedang di beri nasehat oleh ibunya.
"Ayo kita masuk, penghulunya sudah datang," kata ayah Nugraha.
Kini semuanya masuk mendekati tempat Papa Roby dirawat, air mata Rendy mengalir saat ia menatap pria paruh baya yang kini berbaring lemah tidak berdaya.
Mentari mengusap bahu adiknya untuk tenang, suasana haru sangat terasa di ruang rawat Papa Roby.
"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu kepada Rendy yang terlihat menari nafas beberapa kali.
"Insyaallah saya siap," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Ijab kabul telah selesai dilakukan oleh Rendy sekali tarikkan nafas, kata-kata sah dari para saksi telah selesai. Sebagai tanda bawah Rendy dan Popy sudah sah sebagai suami dan istri, doapun dipanjatkan yang dibawakan oleh Pak ustadz yang tinggal dekat rumah papa Roby. Beliau kusus datang atas undangan Yoga.
Senja tanpa sengaja melihat air mata kakeknya mengalir di sudut matanya, ia segera memberitahu Ibunya.
Melihat itu mentari segera memanggil Dokter yang menangani Papa Roby, tak berapa lama saat Dokter datang ada suara tut...tut...tut...dari samping ranjang Kakek Roby, tak lama monitor menampilkan garis lurus.
"Tolong yang lain silahkan tunggu di luar," ucap Suster.
Tak lama semuanya keluar ruangan, Mentari sudah menangis dipelukan suaminya tak jauh beda dengan Senja.
Rendy duduk sambil menundukkan kepalanya, melihat itu Ayah Popy menghampirnya.
"Doakan yang terbaik," ucapanya sambil menepuk bahu anak mantunya.
__ADS_1
Popy yang baru siap ganti baju segera menghampiri suaminya, Rendy langsung memeluk wanita yang baru beberapa menit dinikahinya.
Tak lama Dokter Intan keluar sambil menatap sendu ke semuanya, ia menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf saya sudah berusaha sebisa mungkin, tapi Allah SWT lebih sayang beliau," ucapanya.
Ruang tunggu yang tadinya sunyi, kini terdengar tangisan dari Mentari dan Senja. Ayah Nugraha segera masuk ruang ICU, ia terdiam menatap jenazah Roby Sanjaya.
"Semoga tenang di sana," ucapanya lirih.
Mentari masuk keruangan, alat-alat medis sudah terlepas dari tubuh Papa Roby. Ia berlahan melangkah mendekati tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi, air matanya terus mengalir.
"Papa.... kenapa pergi secepat ini," ucapnya sambil memeluk jenazah papa Roby.
Rendy yang berdiri disampingnya tak kuasa menahan tangisnya, iapun memeluk tubuh kakaknya.
Yoga dan Ayah Nugraha segera mengurus kepulangan jenazah papa Roby, Mentari tiba-tiba tubuhnya merosot kelantai dengan sigap Rendy menangkapnya.
Mentari segera di angkat dan di baringkan di ruang rawat lain untuk mendapatkan pertolongan, Senja begitu terpukul atas meninggalnya kakek Roby ia dulu begitu dekat dengan beliau.
Setelah satu jam jenazah Papa Roby menuju kerumah duka, iringi-iringan mobil mengikuti mobil jenazah yang membawa papa Roby.
*******
Satya dan Rendy ikut mengangkat jenazah papa Roby dari mobil untuk dimasukkan kedalam rumah duka, berita meninggalnya papa Roby langsung didengar oleh rekan bisnisnya.
Arga dan Arnold yang tahu Papa Roby meninggal langsung ikut penerbangan sore, untuk memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum.
Setelah musawarah keluarga, jenazah akan dimakamkan soren ini juga, semua Rendy pasrahkan ke Ayah Nugraha.
Setelah jenazah disholatkan, kini dimasukkan kembali kemobil jenazah. mobil beriring-iringan untuk mengantarkan jenazah Papa Roby di peristirahatannya yang terakhir.
Saat di pemakaman, Rendy melihat mama Marni hadir sambil menagis. Namun, ia enggan untuk mendekatinya.
Satya, Rendy dan Yoga ketiganya ikut masuk ke liang lahat untuk menerima jenazah Papa Roby, saat akan meletakkan jenazah Ustadz membacakan doa.
Setelah selesai kini mentari dan Senja menabur bunga di atas pemakaman, diikuti kerabat yang lainnya.
Satu persatu mereka mulai meninggalkan area pemakaman, tapi mama Marni masih duduk bersama-sama anak dan cucunya.
Ayah Nugraha segera mengajak yang lainnya untuk pulang, karena hari akan berganti malam. Senja dan Satya pulang kerumah keluarga Sanjaya, sedangkan yang lain pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Sampai di rumah mentari kini duduk diruang keluarga, ia menatap kursi yang bisa diduduki oleh papanya. Air matanya kembali berlinang, Yoga melihat itu segera menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Mas....kenapa ini begitu berat," ucapnya sambil terisak dipelukan suaminya.
"Kita doakan papa ya...jangan ditangisi lagi, papa pasti juga tidak akan suka kalau lihat kamu seperti ini," ujarnya pelan.
Bik Sum masih tinggal di rumah keluarga Sanjaya, menghidangkan teh hangat untuk sepasang suami yang duduk diruang keluarga.
Melihat mentari menangis, wanita paruh baya itu ikut menangis. Melihat itu Yoga menarik nafas panjang, ia juga sedari tadi tidak melihat Rendy dan Satya.
"Bik yang lainnya kemana?" tanya Yoga.
"Di taman belakang Mas," jawab Bik Sum.
"Di belakang itu tempat favorit papa dan Senja ," ujarnya.
Yoga menganguk, kemudian Rendy dan Satya masuk ikut duduk di ruang keluarga. Yoga melihat hanya berdua merasa heran, kemana istri-istrinya.
"Senja mana?" tanya Yoga ke Satya.
"Di taman belakang sama Tantenya," jawab Satya.
Yoga menganguk, tandanya ia mengerti. Namun, ia baru ingat kenapa Mantari dan adiknya tidak menyapa Mama Marni.
"kenapa tadi enggak ada yang menyapa Mama Marni?" tanyanya.
Rendy hanya diam saat Abang iparnya menanyakan Mama Marni, Rendy bukannya tidak mau menegur. Namun , entah mengapa ia masih belum ikhlas menerima kenyataan bahwa ia bukanlah anak papa Roby.
"Besok kita jenguk Mama," ucap Mentari.
Rendy tak menjawab, tapi dia mengangguk mengiyakannya. Mentari tahu adiknya masih kesal dengan mama Marni, tapi bagaimanapun juga beliau orang yang sudah melahirkannya.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
🌾 Takdir Cinta Khansa
__ADS_1
🌾 Menikah Muda
✍️ cerpen