
Sepulangnya Mentari dan Rendy dari menjenguk mama Marni kini kedua pasang suami istri itu langsung menuju rumah Ayah Nugraha, Mentari selama di perjalan merasakan tubuhnya lemah. Hal itu membuat Yoga begitu
khawatir, tapi mentari bilang kalau dirinya tidak apa-apa.
Rendy yang duduk di depan tersenyum melihat Yoga begitu perhatian kepada kakaknya, ia melihat Popy yang sedari tadi diam. Rendy merasa aneh kenapa istrinya hanya diam, kini mobil sudah memasuki rumah ayah Nugraha.
Senja melihat ada mobil yang berhenti kini ia segera melihat ke depan, wajahnya langsung terlihat ceria saat melihat Ibu dan Ayahnya datang. Namun, wajahnya langsung cemberut melihat Rendy datang yang langsung menarik kedua pipinya.
“Om….Senja sudah mau punya anak, masih juga ditarik-tarik pipinya!” kata Senja kesal.
Rendy dan Yoga tertawa saat melihat pipi Senja mengembung, entah mengapa bagi Rendy Senja tetap keponakan kecilnya.
Mereka masuk dan ikut bergabung di ruang keluarga, mentari segera menghampiri besannya, kemudian keduanya berpelukan.
“Bagaimana kabar Mamamu, Nak?” tanya Bunda sambil tersenyum walau wajahnya masih terlihat pucat.
“Alhamdulillah baik, Bun.” Jawabnya sambil mendesah.
“Kita doakan semoga beliau bisa belajar dari kejadian ini.” Kata bunda sambil mengusap bahu Mentari.
“Bunda Satya mana?” tanya Yoga yang tidak melihat anak mantunya.
“Ada di ruang kerja Ayah, Nak.” Jawabnya sambil tersenyum menatap yoga dan Rendy.
Kemudian Yoga dan Rendy bergegas masuk ruang kerja Satya, Satya yang mendengar pintu terbuka hanya mendengus, karena Ayah mertua dan Omnya datang saat ia sedang meeting dengan clean luar kota.
Jika Rendy yang mengerti, yoga malah sengaja duduk disamping mantunya. Satya segera menggeser tempat duduknya. Setelah selesai ia kini menatap mertuanya.
“Ayah Yoga tolong dong…”Kata Satya yang terlihat kesal.
Rendy dan yoga tertawa lepas melihat Satya begitu kesal karena meetingnya langsung berhenti karena ulah keduanya. Namun, Satya masih ada Ranga yang bisa ia andalkan di sana.
Bagaimanapun juga Yoga adalah Ayah mertuanya, walau sering terjadi pertengkaran kecil antara keduanya.
“Tadi pengacara papa hubungi gue, setelah 7 hari papa menyuruh gue dan kak Mentari untuk datang ke kantornya. Sebenarnya beliau mau ke rumah, tapi karena kondisinya tidak begitu fit jadi gue nanti yang ke rumahnya.” Ujar Rendy sambil menarik nafas panjang.
“Sat….bagaimana dengan kuliah Senja?” tanya Yoga yang memperhatikan foto pernikahan Senja dan Satya ada di ruang kerja Ayah Nugraha.
__ADS_1
“Alhamdulillah, selama ini lancar,” jawabnya.
Yoga hanya mengganggu menanggapinya, bagaimanapun juga ia kawatir dengan usianya yang masih muda. Tak jauh beda dengan Mentari dulu hamil di usianya yang muda, tapi ia percaya baik istri dan anaknya wanita yang kuat pasti bisa melaluinya sampai hari lahirnya.
“Rend…gue ada pesan tiket bulan madu untuk dua orang, untuk tanggalnya lo bisa konfirmasi langsung ke Adrian.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Kenapa Gue enggak dikasih?” tanya Satya.
“Lo…gue yakin enggak perlu bulan madu,” jawab Yoga sambil tersenyum.
Satya hanya diam menatap Ayah mertuanya, saat ia menikah Yoga tidak hadir karena yoga ada perjalanan bisnis keluar kota. Satya hanya menarik nafas saat mengingat momen pernikahannya dengan Senja, wanita yang beda 10 tahun dengannya.
Satya berharap ia dan istrinya selalu bisa bersama dan saling mendukung, ia merasa cemburu saat mengetahui kalau sahabat dari istrinya ada yang menaruh hati kepada senja. Dari situ Satya mulai aktif di kampus dari memberikan materi kepada mahasiswa.
Namun Satya begitu lega sekarang saat, tidak ada lagi yang ia risaukan. Kebahagiaan tanpa adanya gangguan dari yang lain untuk memisahkan antara dia dan istrinya.
Di ruang keluarga.
Mentari merasakan tubuhnya semakin lemas, dan keringat dingin mulai mengalir dari dahinya. Popy yang menyadari itu segera menghampiri kakak iparnya.
“Kakak kenapa?” tanya Popy yang begitu panik saat Mentari tak merespon dirinya.
“Astagfirullah…Kak….Tolong….tolong siapa saja …Kak…bangun…kak…” Ucapnya sambil menangis ia mengguncang-guncang tubuh mentari yang bersandar di sofa.
Senja yang baru keluar dari kamar bunda begitu terkejut saat mendengar suara tangis tantenya, ia segera buru-buru menghampiri Popy.
“Ada apa ini?” tanyanya yang melihat Popy menangis…
“Ibumu pingsan senja..tolong panggil Ayahmu..”Jawab Popy sambil terus menangis.
Senja tanpa menjawab segera, menuju ruang kerja suaminya. Dia langsung mendorong pintu semua yang ada di dalam ruangan terkejut karena melihat senja yang panik sambil menangis.
“Ayah…Ibu pingsan…,” katanya sambil terus terisak.
Yoga dan lainnya terkejut langsung keluar menuju ruang keluarga, Popy yang masih panik hanya bisa menangis,
“Astagfirullah, kenapa bisa begini?” tanya Yoga
__ADS_1
Satya segera memanggil dokter keluarga yang tak lain sahabatnya sendiri Faisal, Mantari kini dipindahkan ke kamar tamu dilantai bawah. Yoga dengan sabar menunggu istrinya, di dalam ada juga sepasang pengantin baru dan Senja.
Tak lama Satya dan Faisal datang, Faizal hanya menarik nafas dalam kemudian ia segera memeriksa Mentari.
“Bagaimana Ibu..Om?” tanya Senja padahal Faisal belum siap memeriksa ibunya.
Satya segera memeluk istrinya supaya tenang. Kini semua menunggu hasil kenapa tiba–tiba mentari pingsan.
“Darahnya terlalu rendah, tapi sepertinya ia sedang hamil.” Jawab Faisal.
Deg….Yoga terdiam, kemudian ia menatap dokter dengan seksama, apa kah secepat ini apa yang ia inginkan.
“Jadi istri saya sekarang sedang hamil?” tanyanya sambil mendekati Mentari yang masih belum sadar.
“Iya…tapi kondisinya begitu lemah sebaiknya bawak ke dokter ahlinya.” Ucapnya.
Yoga sudah tak memperdulikan ucapan Faisal, ia menghampiri istrinya yang sedang berbaring. Tak lama Mentari membuka matanya ia memperhatikan sekeliling semua menatapnya begitu juga suaminya.
“Ada apa ini?”tanyanya sambil memijit kepalanya yang masih agak pusing.
“Sayang kamu tadi pingsan, kenapa enggak mau ngomong kalau sakit?” tanya Yoga.
Mentari hanya tersenyum, kemudian yang lain segera keluar untuk memberikan waktu ke Yoga dan istrinya.
“Jangan khawatir aku enggak apa-apa, Mas.” Ucapnya lirih
“Sayang sekarang kita ke rumah sakit ya, kata Dokter tadi kemungkinan ada anak kita
disini,” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
Mentari terkejut mendengar apa kata suaminya, apa benar kini ia hamil? Kenapa secepatitu bukankah kata Dokter sekitar bulan depan, air mata itu kembali mengalir di pipinya. Rasa haru dan bahagia menjadi satu, kini wanita itu menatap suaminya penuh cinta keduanya saling pandang seakan mencurahkan rasa bahagia dan rasa yang tak bisa untuk dikatakan.
“Terimakasih….ini kabar yang begitu kita tunggu-tunggu,” ucapnya penuh haru.
“Sama-sama, Mas.” Jawabnya sambil tersenyum.
Yoga tersenyum saat Senja hamil, kini istrinya juga hamil nanti ia akan mendapatkan
__ADS_1
cucu dan anak. Ini hasil dari kesabarannya selama ini