PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Diana ganguan mental


__ADS_3

Saat pesanan datang mata Fifi membulat melihat porsi makanan yang dipesan oleh suaminya. Melihat istrinya yang begitu shock Ferdi terkekeh dan berkata."Aku tahu kamu sering melewatkan makanmu beberapa hari ini, jadi kali ini tidak ada penolakan!"


"Tapi enggak sebanyak ini juga Mas, ini sih makan besar tidak akan habis dalam satu hari ," kata Fifi kesal karena suaminya itu kelewatan.


"Nanti kalau nggak habis kita bungkus," jawab Ferdi tanpa melihat wajah istrinya.


Keduanya makan dengan begitu lahap Padahal tadi seakan tidak ada selera, Ferdi tersenyum melihat istrinya seakan belum makan selama dua hari.


"Bagaimana enak?" tanya Ferdi


"Enak.Ini restoran, tapi masakannya ala rumahan ya, Mas," ucap Fifi yang terlihat begitu kagum.


"Iya, tapi lebih enak lagi masakan istriku," puji Ferdi membuat wanita di depannya tersipu malu.


Kini keduanya sudah siap makan, tanpa menunggu lama Ferdi mengajak istrinya pulang supaya istirahat di rumah saja. Pria itu membayar makanannya, kemudian keduanya berjalan menuju mobil. 


"Kita langsung pulang ya!" kata Ferdi bukan pertanyaan melainkan pernyataan.


Setelah keduanya masuk, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tersenyum saat melihat istrinya sudah bersandar. 


"Capek."Ferdi menggenggam jemari lentik istrinya itu.


Semuanya tidak ada yang berubah dari Fifi, tetap lembut dalam bertutur sapa. Hanya satu yang membuat Ferdi heran istrinya itu sama sekali tidak tahu jika Diana bekerjasama dengan Yona wanita kejam yang bisa melakukan apa saja demi keinginannya tercapai.


Pria itu sadar tidak bisa menghakimi istrinya begitu saja, walaupun rasa kesal kepada Diana yang sampai sekarang masih ada. Ferdi yang melihat istrinya sudah tertidur hanya tersenyum. 


"Aku tahu kamu lelah, kalau sampai rumah baru makan aku tidak menjaminnya," kata Ferdi lirih.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Ferdi memasuki gerbang tinggi berwarna hitam. Penjaga segera membuka pintunya setelah melihat mobil tuannya.


Ferdi mengangkat tubuh kecil Fifi, rasanya sang istri makin hari makin kurus  dan begitu ringan. Seorang pelayan membukakan pintu.


"Bik tolong ambilkan tas istri saya!" perintah Ferdi.


"Baik Tuan," jawab pelayan itu.


Ferdi membawa istrinya ke kamar, perlahan pria itu membaringkan tubuh Fifi dan menyelimutinya. Pria itu mengecup kening wanita yang dari dulu dicintainya.


"Aku harap kamu tidak sampai sakit," ujar Ferdi.

__ADS_1


Setelah memastikan istrinya tidur nyenyak, Ferdi perlahan membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Saat ia akan menuju ruang kerjanya dikejutkan dengan Leon yang terlihat berantakan.


"Ada apa, Nak?" tanya Ferdi. 


"Ada berkas yang tertinggal, Pa," jawab Leon.


Ferdi merasa ada yang disembunyikan oleh putranya itu, tidak lama Leon keluar dengan buru-buru. Namun, langkahnya terhenti dan membalikkan tubuhnya saat melihat Papanya menatapnya.


"Pa, jaga Bunda. jangan biarkan pergi ke rumah sakit," ucap Leon dan langsung keluar.


"Leon, tunggu!"teriak Ferdi berjalan cepat untuk menghampiri putranya.


"Katakan ada apa?" tanya Ferdi.


Leon menatap Papanya dan hanya bisa menarik napas lalu berkata."Diana Pa."


"Diana kenapa lagi?" tanya Ferdi menatap putranya tajam.


"Diana melukai perawat sampai meninggal, Pa." Leon terduduk di sofa ruang tamu sambil memijit pelipisnya.


"Apa maksud kamu, Nak?" Fifi yang baru keluar dari kamar begitu terkejut.


"Sayang ayo kita istirahat," ajak Ferdi.


Fifi langsung menepis tangan suaminya dan bertanya."Apa yang kamu katakan tidak benarkan, Nak?" 


"Bun, "kata Leon lirih.


"Kenapa kamu tinggalkan Diana sendirian, Leon!"teriak Fifi menatap putra itu.


"Maaf Bun, Leon dipanggil dokter menyarankan kalau Diana harus mengalami gangguan mental," ujar Leon.


Fifi terdiam, satu tangannya langsung menampar pipi Leon dan berkata."Jaga Mulutmu, anakku tidak gila!"


Ferdi melihat sang istri sudah di luar batas langsung beranjak berdiri, tapi dihentikan oleh Leon, Pria itu menatap Bundanya begitu sendu. 


"Ayo kita ke rumah sakit jiwa, Bun. Sekarang Diana sudah di sana bersama Ranga dan keluarga besar Nugraha," ajak Leon.


Fifi hanya diam, tatapan wanita itu kosong. Hanya Diana yang ia miliki. Takdir begitu kejam menurutnya dari kehilangan suaminya dan perusahaan. Kini ia kehilangan cucu dan anaknya dinyatakan terkena gangguan mental.

__ADS_1


Ferdi ikut masuk dalam mobil putranya, ia duduk di belakang bersama istrinya yang terus menangis itu. Setelah menempuh perjalan selama satu jam mobil yang dikemudiankan Leon sampai di mana tempat adiknya akan dirawat.


Ferdi memapah istrinya di bantu Leon, di sebuah ruangan sudah ada Keluarga besar Nugraha dan Yoga, Fifi menatap Diana yang kini  terbaring.


"Maafkan Bunda," tangis Fifi langsung pecah membuat Senja dan mertuanya itu menangis.


"Kamu harus kuat, Diana pasti sembuh," ujar Bunda mengusap bahu besannya itu.


Ranga sedari tadi diam, di samping brankar istrinya, wanita itu menatap menantunya dan bertanya."Bagaimana bisa terjadi, Nak?"


Ranga menatap wajah sendu mertuanya itu dan berkata," Ranga datang sudah ribut Bun, seorang perawat berusaha mengambil gunting yang diambil Diana dari alat yang dibawa perawat karena infus Diana lepas dan darah keluar, perawat mau mengganti dengan yang baru. Saat perawat akan memotong kain kasa tiba-tiba Diana merampas guntingnya dan mengancam mau bunuh diri."


Ranga terdiam sejenak pria itu mengusap air matanya dan kembali melanjutkan ceritanya."Perawat satu lagi hendak meminta baik-baik, begitu juga Ranga membujuk Diana, Tapi entah kenapa Diana melawan seorang perawat yang sedang mencoba mengambil guntingnya. Kejadian itu begitu cepat." 


Bunda mengusap bahu putranya, Fifi hanya diam. saat mata Diana mulai bergerak, Ranga meminta yang lain untuk mundur. Diana menatap wajah Ranga, tangannya terulur menyentuh pipi suaminya yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Mas, kenapa menangis."  Diana memegang kepalanya dan begitu terkejut karena tidak ada jilbabnya.


"Mas Jilbabku mana, Mas harus selamatkan anak kita dibawa Yona," kata Diana sambil menangis.


Ranga memeluk istrinya, jujur ia masih begitu mencintai wanita yang begitu jahat akan membuat keluarganya celaka dan hancur.


"Kamu tenang saja anak kita ada," ujar Ranga.


Leon maju memberikan boneka yang menyerupai bayi itu kepada Adiknya, Mata Diana langsung berbinar dan mengambil Alih boneka dari tangan Leon.


Ranga tubuhnya semakin bergetar, menahan tangisnya, Bunda Fifi di peluk Ferdi sambil menahan tangisnya. Senja walau kecewa melihat Diana yang sekarang rasanya tidak tega.


"Mas Ranga lihat anak kita, Mas." Diana memiringkan boneka itu ke arah suaminya.


"Iya," jawab Ranga.


"Sayang kamu istirahat ya kasihan anaknya juga udah ngantuk," ujar Rang.


Diana mengangguk, wanita itu begitu menurut apa kata suaminya sekarang. Setelah Diana tertidur semua diharapkan keluar begitu juga Ranga supaya pasien bisa istirahat dengan tenang.


Senja mengusap bahu Ranga yang kini terlihat begitu sedih akan apa yang terjadi kepada istrinya itu. Satya menghampiri istri dan adiknya dan berkata." kita sebaiknya pulang karena Diana Baru."


Semua menatap ke arah Satya dan mengangguk, sedangkan Ranga masih ingin tinggal. Ayah Nugraha mengusap bahu putranya.

__ADS_1


__ADS_2