
Pagi sekitar jam 10, Satya segera meninggalkan ruang kerjanya. Ia hari ini berencana menjemput mertuanya di Bandara, tapi sebelumnya dia menjemput istrinya terlebih dahulu.
Direktur dari Grup Nugraha itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa kali ia berhenti karena lampu merah.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai depan rumah Ayah Nugraha.
Senyum mengembang, saat melihat wanita yang begitu dicintainya berjalan kearahnya.
"Maaf, agak macet tadi," kata Satya saat Istrinya sudah duduk disampingnya.
"Ia enggak apa-apa, Bby," jawab Senja dengan senyum manisnya.
Kini mobil sudah sampai di Bandara Juanda, dari jauh Senja melihat Ayah dan Ibunya berdiri menunggunya.
"Ayah....."teriak Senja saat mobil akan melintasi Ayah dan Ibunya.
Tak lama kedunya masuk mobil, Senja begitu bahagia melihat kedua orang tuanya kembali lagi ke Surabaya. Andai saja Ayah dan Ibunya mau menetap dikota kelahirannya pasti ia tidak akan kesepian.
"Ibu, apa kabar?" katanya sambil menoleh kebelakang menatap wanita yang begitu ia sayangi.
"Kabar baik sayang, bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Mentari.
"Baik, Bu," jawabnya sambil tersenyum.
Suasana kembali hening, Satya sesekali melirik dari spion ke belakang. Saat matanya beradu dengan Yoga, Yoga hanya menggelengkan kepalanya.
Satya kembali lagi fokus mengemudi, Tak berapa lama mobil sampai didepan rumah Kakek Roby.
Mereka turun, dan jalan beriringan menuju pintu yang sudah ada Rendy menunggu.
"Assalamualaikum," kata Mentari.
"Walaikumsalam," jawab Rendy kemudian ia memeluk Mentari menumpahkan apa yang selama ini mengganjal didadanya.
Tangis haru mewarnai pertemuan keduanya, kemudian Sanja mengajak Ibunya masuk terlebih dahulu.
Di ruang keluarga sudah ada Papa Roby, melihat lelaki paruh baya duduk dikursi roda mentari langsung berjongkok mencium tangan Papanya.
Mentari menangis dipangkuan Papa Roby, lelaki yang biasa tegas itu kini menangis didepan anak , menatu dan cucunya. Namun, rasa bersalahnya kepada anak sulungnya semakin terasa dihatinya, walau sudah beberapa kali meminta maaf.
"Duduklah, Nak," kata Papa Roby kepadanya.
"Apapun maslah Papa dan Mamamu, jangan pernah membenci Mama," kata Papa Roby sambil menatap wajah Rendy dan Mentari bergantian.
Keduanya menganguk, jujur Rendy sampai sekarang masih berat dengan kenyataan yang ada. Mentari memegang tangan Rendy, keduanya saling pandang. Akhirnya menganguk akan menerima dan tidak akan berubah kepada kedua orang tuanya.
"Dan, kamu Rendy Papa tidak mempermasalahkan kalau kamu bukan darah daging Papa. Bagaimana pun sekarang kamu juga harus menghormati Ronald sebagi Ayah kandungmu," ujar Papa Roby.
"Ia, Pa," jawab Rendy singkat.
__ADS_1
Papa ingin Senja dan Satya juga tidak berubah dengan Kakek dan Nenek, kita buat keluarga ini kembali utuh.
"Insyaallah, Kek," jawab Satya sambil tersenyum menatap istrinya.
"Alhamdulillah, Kakek senang dengarnya," kata lelaki paruh baya itu terlihat dari wajahnya tersenyum dengan tulus.
Yoga merasa lega, karena semuanya sudah berjalan kembali normal.
"Yoga, papa harap kamu mau mengantikan Papa disini," kata Papa Roby sambil menatap menantunya.
"Kakek, kalau Ayah disini siapa yang akan memimpin perusahaan yang ada di Jakarta," jawab Senja.
"Di sana ada Adrian, tapi semuanya kembali lagi pada Yoga, karena dia yang lebih berhak memutuskan," kata Papa Roby.
Mentari merasa lega, saat Papanya tidak memaksa kehendaknya lagi.
"Nanti Yoga pikiran dulu, Pa," jawab Yoga tersenyum.
"Ia Nak, Papa menunggu kabar baiknya," jawab Papa Roby.
"Jangan pulang dulu lo, Sat," kata Rendy.
"Siapa juga mau pulang," jawab Satya yang lain hanya tersenyum menanggapi ucapan keduanya.
"Sekarang istirahatlah dulu, nanti saat makan siang baru kebawah," kata Papa Roby kepada yang lainnya.
Satya segera pergi kekamarnya Senja, kini keduanya sedang berbaring di ranjang.
"Boleh yang, ambil kaos aja," ucap Satya.
Satya yang melihat istrinya mengambil pakaian untuknya tersenyum, dulu ia begitu cuek dengan Senja. Namun, kini ia merasakan jatuh cinta yang sebenarnya.
"Sayang, jadi bagaimana apa kamu tetap kuliah atau cuti," kata Satya.
"Menurut Bby bagaimana?" tanyanya ganti.
"Kamu ini bikin Bby gemes, kalau ditanya pasti ganti tanya," ucap Satya sambil memeluk tubuh istrinya.
"Bagaimana kalau Mmy tetap kuliah, lagian Mmy baru masuk," jawab Senja.
"Yakin tidak lelah nanti untuk mengerjakan tugas," katanya sambil mengusap rambut Istrinya.
"Mmy takut kalau beasiswanya dicabut," jawabnya polos.
"Astagfirullah sayang, Bby masih sangup membiayai kuliahmu," kata Satya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mmy tidak mau merepotkan," jawabnya.
"Senja Irawan kamu itu tanggung jawab Bby sekarang," kata Satya tegas tak terbantahkan.
__ADS_1
"Mulai deh...jadi kanebo lagi," gerutu Senja lirih.
"Kanebo, maksudnya?" tanya Satya .
"Bby itu dingin, selain itu juga kaku kayak kanebo kering itu," jelas Senja.
"Apa lagi selain dingin, kanebo, hah!" kata Satya dengan kesal sambil mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Cie...merajuk dia...," goda Senja sambil menoel pipi Satya.
Satya hanya diam, ia baru tahu kalau Istrinya mempunyai nama julukan untuknya. ia menjadi berfikir apa sekaku itu dirinya dulu, tapi itu bukan kaku dia hanya tidak ingin mereka mendekati dirinya hanya karena melihat dari sisi harta dan jabatan saja.
"Mmy, panggil Satya.
"Eh...udah ngambeknya," kata Senja sambil tertawa.
Satya cemberut menatap istrinya, tapi ia juga gemes melihat tingkah Senja.
"Kamu ya...suami marah bukannya dirayu, malah diledekin," jawab Satya sambil mencibirkan bibirnya.
"Hahaha...jadi CEO dari Grup Nugraha ini minta dirayu sama cucu dari Roby Sanjaya," gelak Senja.
"Kan..ledek lagi," gerutu Satya.
"Uluh...uluh...cayang...sini Mmy rayu," kata Senja sambil mengulum senyumnya.
"Hah,....apa sejak kapan Bby jadi cenayang!" kata Satya terkejut.
"Ih..Bby bukan cenayang, tapi cayang!" gerutu Senja.
"Astagfirullah istriku, cayang itu jajanan kacang pakai gula , yang satu keping dulu dijual 1000,"kata Satya sambil tertawa.
Sekarang ganti Senja yang kesal, suaminya itu tidak tau bahasa anak muda. Tiba-tiba ia terkekeh, karena baru ingat kalau menikah dengan lelaki yang berumur.
"Maaf ya....Mmy lupa kalau suamiku ini enggak gaul bahasa anak muda," kata Senja sambil cengengesan.
Satya terdiam, ia mencerna ucapan Istrinya. Namun, ia baru sadar kalau maksud Senja dirinya tua.
"Oh...jadi mau bilang, kalau Bby tua gitu," kata Satya sambil tersenyum getir.
"Eits...bukan Mmy ya...yang bilang," kata Senja.
"Ingat ya laki-laki tua ini bisa bikin seorang Cucu dari Roby Sanjaya mendesah sepanjang malam" kata Satya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Istrinya.
"Bby...ih.., ingat ya...Mmy lagi hamil," kata Senja agak panik.
Satya mencoba menahan senyumnya, ia ingin lihat istri kecilnya ini sebesar apa pertahanannya untuk menggoda dirinya.
Senja terlihat begitu panik, takut kalau suaminya benar-benar membuatnya mendesah sepanjang malam, membayangkan saja ia sudah merinding.
__ADS_1
Bersambung ya jangan lupa tinggalkan jejak