
Jam makan siangpun tiba, kini semua duduk mengelilingi meja makan. Mentari mengambilkan nasi untuk suami dan Papa Roby, sedangkan Senja mengambilkan untuk suaminya.
Rendy yang melihat dirinya tidak ada yang mengambilkannya nasi hanya menghela nafas panjang, ia kemudian mengambil nasi sendiri.
"Makanya cepat nikah biar ada yang melayani," kata Yoga.
"Tunggu saja tanggal mainnya,"jawab Rendy.
Kini mereka makan sama-sama, setelah selesai Kakek Roby pamit ingin istirahat dikamarnya. Mentari segera berdiri mendorong kursi roda Papanya.
Sedangkan yang lain kini duduk santai ditaman belakang, Rendy dan Satya duduk bersebelahan.
"Kapan lo nikah sama Popy," tanya Satya.
"Gue belum dapat tanggal yang bagus," jawabnya.
"Ingat jangan kelamaan," ucap Satya.
"Ia...ia..., berisik lo, " jawab Rendy ketus
Satya hanya tertawa melihat lelaki yang sekarang menjadi Omnya itu terlihat kesal kepadanya, ia pun pergi meninggalkan Rendy sendiri dibelakang.
Satya yang mencari istrinya diruang keluarga tidak ada, kemudian ia mencarinya di kamar. Sampai di depan pintu dia berlahan membukanya dengan pelan-pelan, Senja yang mendengar pintu terbuka tersenyum saat melihat suaminya.
"Sayang," panggilnya.
"Sedang apa ?" tanya Satya melihat istrinya sedang menggambar desain baju pesta.
"Bby...lihat deh..,"ucapnya sambil memperlihatkan beberapa hasil gambarnya.
"Bagus sayang, kamu berbakat juga," ujar Satya sambil mengusap rambut istrinya.
Senja tersenyum senang, saat suaminya memuji hasil desainnya. ia kemudikan memasukan peralatannya ke dalam tas kecil.
"Sejak kapan kamu suka menggambar?" tanya Satya.
"Sejak SMA," jawabnya.
"Apa kamu tidak ingin membuka butik, Bby perhatikan ini hasilnya bagus. Tidak kalah dengan model pakaian butik-butik pakaian yang sudah punya nama," kata Satya.
"Aku mau, tapi selesaikan kuliah dulu," jawabnya.
"Ok kasih tahu Bby, jika mau buka butik," kata Satya.
Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, mempunyai butik dengan desain sediiri adalah impiannya. Namun, yang tahu cita-citanya hanyalah sahabatnya.
Kemana kamu sekarang? kenapa tidak pernah menghubungiku. Bukannya kamu berjanji akan ikut ....!
Tangis Senja sudah tidak tertahankan lagi, ia terisak setiap mengingat sahabatnya yang tidak ada kabar sampai sekarang.
Satya terkejut melihat istrinya menangis, ia menghampiri wanita yang kini sedang mengandung darah dagingnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Satya khawatir.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia berbaring di ranjang sambil terdiam. Satya melihat itu hanya menghela nafas panjang.
Apa benar hormon wanita hamil seperti ini , tadi terlihat ceria dan sekarang menangis tanpa ada sebab.
__ADS_1
Satya mendekati istrinya, ia naik keranjang berbaring di samping tubuh istrinya. Senja makin terisak saat merasakan pelukankan hangat suaminya.
"Sayang, kalau Bby salah minta maaf," kata Satya semakin mempererat pelukannya.
Senja yang mendengar itu, membalikkan badannya. ditatapnya wajah tampan didepannya dengan intens, kemudikan dia menengelemkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Maafkan Mmy, ini tidak ada yang salah," katanya.
"Ceritakan apa yang membuat istriku ini sedih," ucap Satya.
"Bby, dulu Mmy punya teman satu-satunya....," ucapnya langsung berhenti saat air matanya menetes.
"Jangan dilanjutkan, Bby sudah tahu," jawab Satya.
"Benarkah?" tanyanya.
"Ia sayang, kita doakan temenmu baik-baik saja ya," ucap Satya.
Senja tak menjawab, tapi ia menatap intens mata suaminya. Satya yang diperhatikan istrinya jadi salah tingkah, kemudian ia tersenyum, dipeluknya lagi Istrinya supaya tidak menanyakan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu jawabannya.
...πππ...
Jakarta.
Cuaca siang ini begitu terik, langit terlihat mulai tertutup awan. Suara klakson bersahut-sahutan, di sini, di pinggir taman seorang lelaki sedang duduk dibawah pohon rindang.
Arnold yang sedang menunggu seseorang, kini hanya bisa menghela nafas panjang. Pasalnya orang yang ditunggu-tungguny tidak muncul, tapi saat ia akan berdiri meninggalkan taman.
Seseorang mencekal lengannya, Arnold membalikkan badannya. Senyum mengembang dibibirnya, saat wanita yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dihadapannya.
"Maaf lama!" katanya.
"Maaf, jawab wanita yang tidak lain Shinta sahabat Mentari.
Kini keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan, Arnold membukakan pintu untuk wanita yang kini dekat dengannya.
"Terimakasih," kata Shinta.
"Ia, jangan difikirkan," ucapnya.
Keduanya saling pandang, dan tersenyum bersamaan. Arnold mulai mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang, entah mengapa hatinya tiba-tiba bahagia saat bersama Shinta.
Shinta gadis tomboy, yang terlihat sangat natural. wanita seperti inilah yang selama ini Arnol cari.
dia begitu apa adanya, beda dengan wanita yang selama ini ditemuinya.
Jika ia berharap, wanita yang kini duduk disamping akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Kita mau kemana?" tanya Shinta.
"Kamu maunya kemana, nonton, atau yang lain," tanya balik Arnold.
"Udah seperti abg aja..." jawab Shinta sambil terkekeh.
Arnold tersenyum melihat kedua lesung pipi yang begitu manis, tapi apa mungkin Shinta mau dengannya. Ia mulai galau, apalagi ia sekarang pengangguran.
"Shin," panggilnya.
__ADS_1
"Ia...ada apa," Jawabnya sambil tersenyum menatap Arnold.
"Menurutmu apa sebaiknya tawaran Yoga aku terima!" katanya sambil tersenyum menatap wajah cantik disampingnya.
"Kalau memang sesuai dengan skil yang kamu miliki apa salahnya mencoba," jawab Shinta sambil menaikkan bahunya.
"Apa kamu tidak keberatan, jika kita satu kantor?" tanyanya.
Shinta terdiam, kemudian senyum mengembang dibibirnya. Dipandangnya wajah tampan di sampingnya.
"Aku rasa tidak masalah, karena kita beda device," jawabnya.
Arnold menganguk menangapi ucapan wanita disampingnya, kini mobil berhenti didepan taman yang begitu indah. Jika yang lain datang ketaman dengan pasangannya, beda denganya dan Shinta.
"Kamu tunggu sebentar," kata Arnold segera meninggalkan Shinta sendirian di taman.
Saat Arnold pergi, datang seorang lelaki mantan pacar Shinta.
"Sayang," katanya.
Shinta terkejut karena suara itu tidak asing lagi, ia menoleh kesamping. Namun Pria itu lebih dulu memeluknya, Shinta perusaha meronta sekuat tenaga.
Dari jauh Arnold yang melihat kejadian itu terkejut, ia segera berlari menghampirinya Shinta. Melihat Shinta yang ingin lepas dari pelukan itu, Arnol langsung memberikan bogeman ke wajah lelaki itu.
Sekali pukul, Pria itu langsung tersungkur. Shinta segera berlari dan bersembunyi dibelakang Arnold, Pria itu menatap tajam ke arah Arnold.
"Siapa kau, hah!" bentaknya.
"Itu tidak penting, tapi jangan pernah memaksa memeluk wanita, jika ia tidak mau," jawab Arnold.
"Dia kekasihku...," ucapnya .
Deg... Arnold diam mematung mendengar ucapan Pria didepannya kini.
"Wily kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" teriak Shinta yang berdiri dibelakang Arnold.
"Gue tidak mau putus, Shin," teriaknya , "gue khilaf, tolong maafin, kita mulai lagi dari awal," kata Wily.
Shinta menari nafas panjang, dadanya begitu sesak mendengarnya.
"Gue sudah mau menikah dengannya," kata Shinta kemudian ia mengemgam tangan Arnold erat.
"Lo bohong..., hanya gue yang boleh menjadi suami Lo Shin!" teriaknya sambil menangis.
"Gue tidak bohong," kata Shinta kemudian ia segera melingkarkan kedua tangannya dileher Arnold.
Shinta memejamkan matanya, didepan Wily ia mencium bibir tipis Arnold. Arnold terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shinta padanya, bagaimana pun ia lelaki normal dengan lembut ia membalasnya.
Wily hanya bisa diam mematung melihat apa yang terjadi didepannya, dadanya begitu sesak. Namun, kini ia percaya Shinta bukan miliknya lagi.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like π
Vote
Jika suka berikan hadiahnya π
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
__ADS_1
πΎTakdir Cinta Khansa
πΎ Menikah Muda