
Air matanya terus berlinang, Satya melihat itu merasa iba. Bagaimana jika istrinya tahu kalau sahabatnya itu sudah meninggal dunia saat ia kecelakaan dulu.
"Nak, ajak istrimu tidur di kamar tamu. Bik Ida sudah membersihkannya!"perintah Bunda.
"Iya Bun," jawab Satya.
Bunda melihat itu mengambil alih cucunya dan berkata." Tenangkan dirimu dulu, biar Jingga sama Bunda."
Satya membawa sang istri untuk istirahat di kamar tamu. Melihat istrinya seperti itu membuatnya enggan untuk meninggalkan Senja.
"Sayang apa kamu yakin itu sahabat kamu?" tanya Satya.
"Aku juga kurang yakin, karena seingatku Ilham itu anaknya kuning langsat, kalau Yogi putih, "jawab Senja.
"Mas mau keluar, apa kamu tidak apa sendiri nanti aku minta tolong bik Ida untuk menemanimu," kata Satya.
"Mas mau kemana?" tanya Senja.
"Ada berkas penting yang harus mas ambil sayang," ujar Satya.
Senja mengangguk, ia tahu suaminya sebenarnya tidak tega meninggalkan dirinya. Namun, ia harus mengerti jika Satya begitu sibuk saat ini.
Senja beranjak dari duduknya, wanita itu melangkah ke arah jendela ia ingat akan sahabatnya itu. Satu sekolah dari Tk-SMA membuatnya begitu tahu sikap dan sifat masing-masing.
Senja heran kenapa semenjak kecelakaan itu tidak pernah bertemu atau komunikasi lagi. Semua hilang ibarat ditelan bumi semua tidak ada sisa.
Pintu terbuka Ayah Nugraha dan Bunda masuk membawa Jingga, Senja tersenyum melihat mertuanya selalu ada untuknya,
"Bun, Ayah dan Ibu jangan sampai tahu," ujar Senja.
Bunda dan Ayah Nugraha tersenyum, ia tahu kehidupan Senja dulu tidak baik-baik saja. Semua ada masanya.
Senja mengambil alih Jingga untuk di tidurkan, sedangkan kedua mertuanya keluar kamar membiarkan menantu dan cucunya untuk istirahat.
*****
Di kediaman Rendy. Dari dua hari lalu Rendy akhirnya membawa anak dan istrinya untuk tinggal di rumah peninggalan Papa Roby.
Rendy yang sedang duduk santai sambil menemani putranya dikejutkan dengan kedatangan Satya.
"Lo masuk rumah ucap salam napa!" kata Rendy kesal.
Satya hanya menatap malas kepada Rendy yang sedang merepet kepadanya dan berkata."Cakra nanti jangan kayak Papamu ya, Nak."
__ADS_1
Rendy hanya mencibir, tidak lama bik Sum datang membawakan kopi untuk Satya dan Rendy, Saat bik Sum akan pergi Satya memanggilnya.
"Bik di sini saja ada yang mau aku tanyakan," kata Satya.
"Bik apa sahabat Senja waktu kecelakaan itu benar-benar meninggal?" tanya Satya.
Bik Sum dan Rendy saling tatap dan Rendy bertanya."Ada apa dengan Senja?"
Satya menceritakan apa yang terjadi hari ini, hal itu membuat Rendy dan Bik Sum terkejut. Bik Sum menatap Satya lekat dan berkata."Ilham dan mempunyai adik hanya beda satu tahun, tapi mereka masuk sekolah sama."
"Apa namanya Yogi, Bik?" tanya Satya.
"Iya Den, kok Den Satya tahu?" tanya Bik Sum.
Satya memperlihatkan fotonya kepada Bik Sum, wanita itu menatap dengan terkejut. Rendy hanya mengangguk karena benar apa kata bik sum Yogi dan Ilham sama. bedanya Ilham kalem dan Yogi pria dingin dan cuek.
"Apa Senja kenal?" tanya Satya.
"Tidak, Non Senja tidak suka dengan Yogi karena pendiam," kata Bik Sum.
Satya hanya mengangguk, tidak lama Leon menghubunginya dan meminta ia datang ke apartemen yang akan di share lokasinya.
"Ada apa?" tanya Rendy,
Rendy menatap Satya dan tidak lama Popy datang ikut bergabung. Wanita itu melihat Satya mau pergi mengernyitkan keningnya.
"Sayang aku antar Satya dulu, ada urusan kerjasama," pamit Rendy membuat Satya menatapnya tajam.
"Iya Mas hati-hati," kata Popy sambil meraih putrinya.
Satya berjalan beriringan bersama Rendy dan berkata."Gue ikut mobil lo."
Satya hanya mengangguk, keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Hanya ada kesunyian karena sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Setelah empat puluh menit mobil sampai di arena parkir apartemen. Satya dan Rendy langsung masuk lift sesuai apa arahan Leon. Pintu lift terbuka saat sampai di lantai sembilan.
DIlihatnya sudah ada polisi dan anak buah Leon, Satya masuk langsung disambut Leon dan mereka masuk di salah satu kamar.
"Lo lihat, ada foto bini lo sedangkan pria ini namanya Ilham diberi tanda centang karena sudah meninggal. sekarang targetnya Senja." ujar Leon.
Satya menatap foto istrinya dan membalikkannya matanya melotot saat membaca tulisan "Senja gue kembali, tidak akan membiarkanmu selamat sendiri'.
Satya mengepalkan tangannya, Rendy menatap tiga orang yang sudah dicentang. Rendy begitu ingat kalau itu tetangganya yang tidak lain orang tua ilham.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Satya.
"Kayaknya ada yang janggal, ini orang tua mereka. Saat kecelakaan itu terjadi setelah Ilham dimakamkan. Malamnya mereka pindah tapi tidak ada yang bercerita pindah kemana." Rendy mencoba mengingat kejadian itu.
"Rumah itu apa sekarang kosong?" tanya Leon.
"Iya karena sudah lama tidak ditempati," jawab Rendy.
Leon dan Satya keluar dari kamar. Pria itu menceritakan kepada polisi jika tidak ada yang mencurigakan.
Setelah ketiga polisi itu pergi, Leon mengajak Rendy dan Satya untuk ke apartemen Sasa di lantai lima belas.
"Kenapa kita harus ke sini?" tanya Satya.
"Di kamar Yogi gue dapat foto Sasa, siapa tahu ada petunjuk," jawab Leon.
"Yogi nya kemana?" tanya Rendy.
"Bisa jadi di samping rumah Satya," jawab Leon sambil tersenyum melihat raut wajah Satya panik," ada anak buah gue yang mantau."
Satya hanya bisa menarik napas, pria itu meminta Arga untuk menjaga rumah karena Yogi tidak ada di apartemen dan meminta balkon kamar atas untuk dikunci.
Mereka kini sudah masuk apartemen Sasa, melihat Leon yang dengan mudah membuka kuncinya Satya menggelengkan kepalanya dan berkata."Lo kayak rampok."
"Itu kerjaan gue di luar negeri," jawab Leon tanpa ada rasa berdosa.
Merek masuk dan menghidupkan lampu, ketiganya memperhatikan dengan seksama ruang tamu dn keluarga. Leon menuju salah satu kamar yang berwarna pink. Saat akan membuka pintunya terkunci dan terdengar suara jika ada orang di dalam.
Leon mengeluarkan pistolnya, melihat itu Satya langsung menghampiri Leon, sedangkan pria itu menatap memberikan kode kepada Rendy dan Satya agar menjauh dan sembunyi. Namun, keduanya tidak mengindahkan apa kata-kata Leon.
"Pintu terkunci." Leon menatap pintu.
"Kita dobrak," jawab Rendy,
"Jangan gegabah," ucap Satya kesal kepada Rendy.
"Sat, lo lindungi gue," kata Leon memberikan pistol kepada Satya, lalu Leon membuka pintu dengan alat kecil yang dibawanya.
Satya yang sudah bersiap sedangkan Rendy mundur satu langkah," gue takut ada Sasa di dalam."
Satya melotot, Leon menatap tajam ke arah dua pria itu dalam kondisi tenggang masih bisa bercanda.
Leon memberikan kode untuk Satya saat pintu terbuka ketiga pria itu terkejut melihat apa yang berada di dalam kamar Sasa.
__ADS_1
Bersambung ya….