PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Ranga hancur


__ADS_3

Satya dan yang lainnya saling pandang karena baru kali ini melihat sisi menyeramkan dari sosok istri kecilnya.


"Apa kalau di ranjang juga seperti itu?" tanya Ibnu.


Satya hanya tersenyum, ia saja begitu terkejut bagaimana istrinya yang begitu lihai melawan musuhnya.


Yona langsung dibawa oleh anak buah Leon untuk diserahkan ke pihak yang berwajib, Satya melihat pelipis istrinya yang masih berdarah.


"Kita ke rumah sakit ya yang," kata Satya.


"Mas, Diana bagaimana?" tanya Senja karena ia tadi melihat wanita itu tertembak.


"Sudah dilarikan ke rumah sakit, ia juga sudah dikawal polisi," ujar Satya.


Senja hanya diam, wanita itu berharap Ranga mau memaafkan istrinya walau ia sendiri juga ragu akan percaya lagi sama Sahabatnya itu,


"Kita pulang saja, aku rindu Jingga Mas," ujar Senja.


Satya tersenyum, ia tidak mungkin membawa istrinya pulang dalam luka di wajah dan pelipisnya itu,


Mobil yang dikemudikan Ibnu masuk ke area UGD, Satya membantu istrinya untuk berjalan menuju ruang itu.


Sampai di UGD keduanya disambut perawat karena kondisi Senja tidak mengkhawatirkan, setelah lukanya diobati ia diperbolehkan pulang.


Satya mengemudikan mobil Ibnu sendiri karena pria itu dijemput oleh Leo sepupunya, Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit  Satya sampai  di kediaman Ayahnya,


Mobil perlahan memasuki  pagar di luar Mentari sudah menunggu putrinya itu didampingi oleh Yoga dan Ilham.


Senja perlahan turun dan wanita tersenyum walau bibirnya begitu sakit karena luka akibat pukulan Yona tadi.


"Astagfirullah, kenapa sampai kayak gini, Nak." Mentari begitu panik karena baru kali ini ia melihat putrinya babak belur.


"Kamu kelahi lagi?" tanya Yoga.


Senja hanya mengangguk, mata Senja langsung berbinar karena melihat bik Jum sedang menggendong Jingga.


"Bibik kapan datang?" tanya Senja yang langsung mengambil alih Jingga.


"Siang tadi,Nak. Waduh ini kenapa pipinya. Bukan KDRT kan cah Bagus?" tanya Bik Jum ke Satya.

__ADS_1


"Enggaklah Bik, KDRT nya Nanti  saat malam, Bibik jagain Jingga ya," kata Satya.


Bik Jum menatap Satya sambil menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Kamar mandi di sini banyak."


Mata Senja melebar dan langsung memukul suaminya karena malu berarti waktu di rumah itu saat di kamar mandi Bik Sum dan Bik Jum mendengarnya.


Senja beranjak dari duduknya dan membawa anaknya ke kamar tamu yang sekarang dipakainya. Satya hanya mengusap wajahnya kasar karena ia akan puasa malam ini.


Yoga melihat itu hanya bisa menarik napas dalam, walau kini putrinya sudah aman, tetapi menjadi istri dari Satya Nugraha bisa jadi tidak aman karena biasa saja pesaing bisnis menantunya itu nekad.


"Pusa!" ledak Yoga.


Satya hanya menatap malas mertuanya itu, di saat seperti ini pasti akan mengajaknya ribut. Tidak lama datang Ayah Nugraha yang baru saja keluar dari kamar.


"Bagaimana Bunda Yah?" tanya Satya.


"Sedang bersama Ranga, Adikmu itu tidak mau lepas dari Bundamu," ujar Ayah Nugraha.


"Apa akan kita katakan kepada Ranga kalau istrinya tertembak?" tanya Satya.


"Tidak perlu, anggap saja wanita itu hilang begitu saja," kata Arga.


"Kamu lihat kondisinya sekarang , jika ia tahu kalau istrinya hanya memanfaatkannya apa yang akan terjadi kepadanya." Arga tidak sampai hati.


Satya terdiam, ia juga sudah yakin apa yang dialami Ranga saat orang tuanya meninggal begitu shock hingga dua tahun tidak ingin berbicara. Namun, saat melihat Bunda terjatuh dari tangga Ranga baru berteriak dan adiknya itu berbicara.


Satya berpikir apa Ranga dibawa ke Jakarta saja. Namun, ia akan keteter untuk mencari asisten nantinya.


"Ayah setuju, dulu sampai kita bawa berobat kemana-mana, "ucap Ayah Nugraha..


Mereka Akhirnya menyetujui jika Ranga akan dibawa ke Jakarta, sedangkan  Bunda Fifi nanti akan menjadi urusannya.


Pria paruh baya itu tidak menyangka jika Diana ada tujuan lain untuk masuk ke keluarga  Nugraha hanya karena dendam. Pria itu menatap Ranga yang baru keluar dari kamar Bundanya.


"Kak, apa Diana sudah pulang?" tanya Ranga karena ia akan masuk kamar.


"Belum masuklah, kalau tidak tidur di kamar Satya di lantai atas," kata Arga.


Ranga hanya mengangguk pria itu naik lantai dua menuju kamar Satya. Ayah Nugraha merasa Iba kepada putranya itu.

__ADS_1


Luka di hatinya begitu berat, merasa dibohongi selama ini oleh wanita yang begitu tulus ia cintai. Ranga berjalan gontai duduk di kursi balkon kamar Satya,


Pria yang biasanya tidak pernah merokok itu, kini mulai menyalakannya. Dihisapnya rokok itu dan menghembuskan asapnya  udara.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu, Diana?" Ranga memejamkan matanya entah rasa dadanya sesak karena ia akan bertanya kepada Senja apa tujuan Diana sebenarnya walaupun ia tahu Senja itu kecewa akan sikap istrinya.


Ranga menatap pintu yang terbuka Ayah Nugraha masuk dan hanya tersenyum saat melihat putranya merokok.


"Kamu harus kuat Nak, ada kabar dari Leon kalau Diana keguguran karena kondisi janin yang terlalu lemah," kata Ayah Nugraha.


Ranga  hanya Diam, Pria itu merasakan usapan lembut di kepalanya dan seketika membuka matanya.


"Bunda, kenapa tidak istirahat saja," kata Ranga.


"Menangislah Nak, Bunda tahu ini berat karena harus kehilangan anak," kata Bunda yang sudah hafal bagaimana putranya itu.


Tangis Ranga pecah di pelukan wanita yang merawatnya dari kecil itu, Satya dan Yoga melihat itu mengusap air matanya. Walau Ayah dari Senja itu tidak tahu bagaimana Ranga dulu. Namun, dari cerita Bunda jika Ranga mengalami trauma atas kematian kedua orang tuanya.


"Bunda apa salah Ranga," ucapnya dengan suara seraknya.


"Anak Bunda tidak salah, Nak. Ini takdir yang Allah berikan kepada kita, Sayang." Bunda memeluk tubuh Ranga yang kian melemah.


"Sat,  adikmu pingsan, panggil Faisal." Bunda menatap sendu putranya saat tubuh Ranga diangkat dan di baringkan di atas kasur.


Bunda begitu sabar memberikan pertolongan pertama kepada putranya memakai minyak kayu putih. Ayah Nugraha duduk di sofa bersama Yoga dan Satya.


"Bunda istirahat saja, biar kami yang menjaga Ranga," ujar Arga.


"Bunda akan istirahat di sini, samping anak Buda," jawab wanita paruh baya itu.


Satya hanya bisa mengangguk karena ia yakin jika Bundanya itu kalau sudah membuat keputusan tidak bisa dibantah.


Senja membuka pintu di belakangnya wanita itu ada Faisal, Satya memicingkan matanya menatap  dokter keluarganya itu yang datang bersama istrinya.


"Yang, kok bisa bareng Faisal?" tanya Satya dengan raut wajah datar.


"Lo kalau mau cemburu lihat sikon!" kata Yoga kesal langsung beranjak melihat Ranga yang sedang diperiksa.


Satya menatap mertuanya itu tidak suka karena ia tidak rela ada pria lain yang dekat dengan istrinya.

__ADS_1


bersambung ya....


__ADS_2