
Satya hanya menarik nafas panjang, ia geram saat ada yang mau mencelakakan istrinya. Namun, siapa yang mencari masalah dengan Senja.
"Apa perlu Bby cari tahu?" tanya Satya.
"Enggak usah Bby," jawab istrinya sambil tersenyum menatap wajah suaminya.
Satya segera menarik tubuh kecil istrinya, ia begitu merindukan walau baru dua jam tidak bertemu.
"Apa masih ada kelas sayang?"tanyanya lagi.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, kini dia duduk di sofa ruangan suaminya.
Satya hanya tersenyum menanggapi tatapan mata istrinya, sepertinya dia masih shock. Ia kini menghampirnya kemudian mengusap pipi putihnya, Dia berharap supaya wanita yang kini duduk disampingnya agak tenang.
"Kita pulang ya....biar Mmy bisa istirahat tenang," kata Satya lembut.
"Kerjaan Bby sudah selesai," ucapnya sambil tersenyum.
"Sudah...hanya membaca email aja, nanti bisa dirumah," jawab Satya
Setelah selesai membereskan meja Satya dan Senja segera keluar dari ruangannya, tapi saat Senja sampai parkiran ia melihat seseorang yang tidak asing baru keluar dari ruang Dekan.
"Lihat apa?" tanya Satya.
"Seperti lihat Diana? jika benar apa dia sudah pakai hijab sekarang," katanya yang merasa ragu.
Satya melihat arah pandangan istrinya, dia tidak bisa melihat wajahnya karena wanita itu kini membelakanginya.
Satya segera mengajak istrinya masuk mobil, kini mobil mulai meninggalkan area kampus.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi," kata Satya
"Dia sudah lama tidak masuk kuliah, tapi kenapa kini ia ada," ucapnya.
"Mungkin dia kuliah lagi."
"Iya juga."
Kini keduanya sama-sama diam, jujur Senja merasa tidak salah lihat tadi. Namun, apa seorang Diana yang biasa pakai baju seksi dan dandanan menor bisa berubah secepat itu.
Senja hanya menghela nafas berat, ia sampai kini juga tidak mengerti mengapa Diana dan gengnya tidak menyukainya.
Jika karena ia dibilang anak yang tidak jelas, bukannya mereka sudah lama tahu. Namun, sampai sekarang rasa benci mereka terhadapnya masih ada.
"Yang..., jangan melamun," katanya saat melihat istrinya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
Senja hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dengan begitu suaminya tidak akan menanyakan apa yang tengah ia pikirkan.
"Bby..kita makan bakso yuk, di gang depan ada yang jual rasanya enak," katanya sambil menelan ludahnya.
"Wah...anak Abi kepengen bakso," godanya.
__ADS_1
"Bukan anak Abi tapi uminya yang mau," sahutnya sambil mengusap perutnya sendiri.
Satya tersenyum melihat Senja sudah ceria lagi, kini mobil yang dikemudikan Satya berbelok sesuai arah yang ditunjukkan istrinya.
Mobil berhenti didepan ruko yang terlihat sudah kusam, ada tulisan Bakso Mang Dadang.
"Yakin disini?" tanyanya ragu.
"Iya... ayo..nanti enggak dapat tempat duduk," ucapnya.
"Sebelum turun Satya melepaskan jasnya, kemudian ia menggulung lengan bajunya sampai ke siku.
Senja takjub melihat penampilan suaminya, terlihat lebih santai dengan kemeja yang digulung sesiku.
"Bby....makin hari semakin tampan," pujinya lirih.
"Benarkah..., ayo pulang Bby merasa kenyang jadinya," selorohnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya.
"Ye...mana ada di puji jadi kenyang," sahut Senja segera masuk ke warung bakso.
"MasyaAllah...Nak Senja sudah lama tidak datang," kata Mang Dadang sambil tersenyum menatap Senja dan Satya.
"Hahaha...Mang Dadang masih ingat aja," ucapnya.
"Masihlah Neng, pesan seperti biasa?" tanyanya.
"Iya Mang dua ya, jangan pakai mangkok," candanya sambil tertawa.
Satya menggerutkan keningnya, melihat istrinya sepertinya sering kemari. Senyum mengembang dibibirnya saat mendengar Baksonya jangan pakai mangkok.
Tak lama pesan keduanya datang, Satya menelan ludahnya saat melihat putih-putih mengapung di kuah Baksonya.
"Kenapa?" bisik Senja.
"Ini bakso danging kenapa kuahnya banyak lemak terapung," jawabnya lirih.
Senja tersenyum, kemudian ia mengambil lemak yang terapung di mangkuk suaminya.
"Sudah ayo makan, Mmy jamin enggak akan mati siap ini," ucapnya sambil tersenyum.
Satya melotot mendengar ucapan istrinya, sedangkan Senja terkekeh melihat tingkah suaminya yang takut makan kuah Baksonya.
Satya mulai memasukkan potongan bakso kemulutnya berlahan ia mengunyah, merasakan benda kenyal yang kini ada dalam mulutnya.
"Bagaimana, enak enggak?" tanya Senja.
"Lumayan rasanya," ucapnya sambil kembali memakannya.
Senja tersenyum, ia yakin suaminya akan ketagihan bakso buatannya mang Dadang. Dulu saat SMA Senja suka mampir makan bakso selepas pulang sekolah.
Terkadang ia datang dengan Ibunya atau sama bik Sum, masih ingat waktu pertama datang sama bik Sum. Bik Sum minta tambah bakso kosongnya, setelah itu masih dibungkus dibawak pulang untuk Art yang lainnya.
__ADS_1
Senja melihat suaminya sudah siap makan tersenyum, "mau bungkus ya tiga, buat pak Yanto, bik Sum dan bik Ida," ucapnya.
Satya langsung mengangguk, ia akui bakso dan kuahnya enak. Dia sampai berkeringat karena hanya ada kipas angin satu untuk semua, kemudian setelah pesanan siap Satya segera membayarnya.
"Berapa Mang?" tanya Satya.
"Bakso 5 dan minum dua, kasih 105 rbu aja Den,"jawab Mang Dadang.
Satya segera mengeluarkan uang dua lembar warna merah kepada mang Dadang.
"Kembaliannya ambil saja Mang," kata Satya sambil berlalu pergi meninggalkan mang Dadang yang bengong melihat kepergian Satya dan Senja.
Kini keduanya sudah di dalam mobil, Satya segera mengemudikan mobilnya menuju rumah. Senja yang sudah merasa kenyang sudah mulai menguap, Satya terkekeh melihat istrinya selama hamil siap makan pasti teler.
Tak lama wanita yang bersetatus istrinya itu sudah terlelap, Satya menepikan mobilnya sebentar untuk membetulkan posisi Senja biar nyaman.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai didepan gerbang. Saat pak Yanto membuka gerbang dia hanya tersenyum.
Satya segera memparkirkan mobilnya di samping mobil yang biasa di pakai Senja dengan pak Yanto.
Diangkatnya pelan-pelan tubuh istrinya, kemudian ia segera membawa masuk, bik Ida yang melihat majikannya pulang sambil mengendong istrinya segera membantu membukakan pintu kamarnya.
Satya segera membaringkan istrinya pelan-pelan, setelah itu menyelimuti tubuh Senja.
"Bik...di mobil ada bakso, untuk bik Ida, bik sum dan Pak Yanto ya," katanya sambil tersenyum.
Setelah bik Ida pergi Satya segera menghampiri istrinya, kemudian membaringkan tubuhnya disamping Senja.
****
Didapur terjadi kehebohan, Karena bik Sum yang latah dikerjain pak Yanto, Bik Sum yang sedang menuang sambal ke mangkok Baksonya dikagetkan oleh pak Yanto alhasil cabenya masuk ke mangkuk semua.
"Makanya hati-hati Sum," kata bik Ida sambil tersenyum.
"Orang aku yang dikagetkan oleh Yanto," ucapnya kesal.
Pak Yanto hanya senyum-senyum yang tengah mengambil mangkuk, padahal ia tidak sengaja tadinya.
Bik Sum akhirnya makan bakso yang super pedas entah level berapa jadinya, bik Ida merasa kasihan melihat temannya kepedasan mengambilkan air hangat.
Saat bik Sum meminum, langsung keluar air matanya, kebayangkan bagaimana rasanya kita kepedasan level tinggi, habis itu minum air hangat.
"Ida kamu mau bunuh aku ya... kenapa enggak air panas sekalian tadi," ucapnya sambil mengusap air mata dan keringatnya yang sudah menjadi satu.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
__ADS_1
🌾 Takdir Cinta Khansa
🌾 Menikah Muda