
Sari terdiam saat tidak ada jawaban dari papanya.
"Besok papa dan mama pulang," ucapnya dari seberang sana.
Setelah itu sambungan terputus,Sari tersenyum begitu bahagia karena sudah tiga bulan dia tidak bertemu kedua orangtuanya.
Wanita itu karena terlalu bahagia sampai berdiri dari sofa dan melompat kegirangan, Ibnu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya.
"Upsss....heheheh.....maaf," ucapnya malu saat menyadari kalau dia masih di ruangan killer.
"Ada apa kenapa senang sekali?" tanya Ibnu sambil menaikkan satu alisnya.
Sari tidak menjawab, tapi langsung memeluk Killernya dengan erat.
"Papa sama Mama besok pulang," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Bagus dong....," jawab Ibnu.
"A.....ak...aku.....mau cincin ini di sematkan di jari manisku di depan mereka," katanya dengan gugup.
Deg.....Ibnu terkejut saat mendengar apa yang di katakan oleh kekasihnya, ia merasa tak percaya lalu mencubit lengannya sendiri. Namun, rasanya sakit berarti ia tidak mimpi.
"Apa kamu serius?" tanya Ibnu.
"Iya," jawab Sari singkat sambil menunduk malu.
Ibnu tidak bisa berkata apa-apa lagi, di rengkuhnya tubuh ramping kekasihnya, air mata bahagia mengalir di pipi pria tampan yang hampir saja merasakan kecewa saat cincin yang ia berikan di kembalikan di tempatnya.
"Terimakasih sayang, sini Mas pakaikan ya," ucapnya.
"Eh.....jangan sekarang, tapi nanti tunggu mama dan papa datang," katanya sambil menarik tangannya.
Ibnu terkekeh melihat tingkah kekasihnya, tapi Ibnu tetap memakaikan cincinnya di jari manis Sari.
"Boleh panggil Mas, Pak?" tanyanya sambil menatap wajah Ibnu.
"Tentu boleh sayang," jawabnya sambil kembali memeluk Sari.
"Mas..... seandainya kedua orang tuaku tak merestui kita bagaimana?" tanya Sari dengan mimik muka sedih.
Ibnu terdiam, ia juga sedang memikirkan hal itu.
"Besok setelah mereka sampai kamu katakan, dan malamnya Mas akan membawa papa dan mama untuk melamarmu," katanya.
Sari mengangguk menanggapi ucapan dosen killer itu, setelah itu ia mengambil tugas yang akan di kerjakan di kelasnya.
Setelah kepergian Sari Ibnu tersenyum, ternyata perjuangan untuk memiliki istri belum selesai.
********
Di kelasnya yang lain sudah menunggu, Sari Segera membagikan kertas ke yang lainya.
"Gila ini banyak banget tugasnya!" teriak Leo.
"Kita demo killer," kata yang lain.
Leo langsung menatap Sari, di hampirinya wanita yang seminggu yang lalu ia temui di rumah sepupunya itu.
Sari yang melihat Leo menghampirinya menatapnya jengah, kini pria itu duduk tepat di depannya.
"Jelaskan ke gue?" tanya Leo.
__ADS_1
"Apa yang harus gue jelasin?" tanyanya balik.
Pletakkkk.....Leo menyetil keningnya Sari membuat gadis itu melotot sambil mengusap kening yang terasa sakit.
"Sakit...Leo....!" teriaknya.
"Cepat jelaskan!" bentaknya.
"Kalau dia enggak mau jangan lo paksa," kata Alan yang sudah berdiri hendak ke kantin.
"Nanti gue ceritain, tapi enggak sekarang Leo!" kata Sari penuh penekanan.
"Janji Lo," katanya.
"Ayo gaes kita ke kantin, woi Alan traktir gue ya," teriak Sari sambil mengejar Alan yang sudah mau sampai kantin.
Tanpa Sari sadari, Ibnu dan Satya memperhatikannya.
"Bar-bar juga," kata Satya.
"Enggak jauh beda," jawab Ibnu.
Keduanya terkekeh, kemudikan keduanya menuju kekantin.
Seketika di kantin heboh, dengan kedatangan Dosen dan pemilik kampus tempat mereka menimba ilmu.
Bagi keduanya sudah biasa karena dulu waktu mereka kuliah juga sering diperhatikan seperti itu.
Mata Senja memicingkan matanya saat suaminya duduk jarak tepat dibelakang mejanya, Sari dari tadi menunduk saat Ibnu datang.
Tak lama datang Sasa dengan kedua gengnya, kini wanita itu duduk tepat di depan Ibnu dan Satya. Namun kedua pria itu tetep cuek seakan didepannya tidak ada orang.
Karena merasa di acuhkan Sasa begtu geram, tapi ia tersenyum saat melihat ada Senja dan Diana dimeja belakangnya.
Mata Satya menatap tajam kepada wanita yang duduk didepannya ini, Sari dan Diana yang tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Sasa segera membalasnya.
Dua gelas jus jeruk kini dituang di kepala Sasa, melihat itu Ibnu melebarkan matanya ia tak menyangka kalau wanitanya melakukan itu di depannya.
Satya segera berdiri dan langsung melepaskan jasnya untuk menutup tubuh istrinya, tak lama di gendongnya Senja ala bridal style.
Melihat itu banyak yang iri dengan Senja, tanpa mereka ketahui siapa Senja yang sebenarnya.
Senja di bawa langsung ke ruang Satya, di ambilnya baju ganti dilemari yang sudah Satya sediakan untuk istrinya.
"Bby ngapain nolongin tadi?" tanya Senja.
"Ya ampun yang, masak punya bini di buly Bby diam saja," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu, tapi enggak usah di gendong juga," jawab Senja.
"Jadi nunggu di sialan gendong!" kata Satya kesal.
"Bukan begitu juga, lagian sejak kapan nama Alan jadi sialan?" tanya Senja sambil tersenyum.
Satya tak menjawab ia kembali menatap lektop didepannya, Senja yang mengerti kalau suaminya sedang ngambek hanya dengan satu cara untuk membujuknya.
"Yang jangan ngambek gitu," katanya sambil duduk di pangkuan suaminya.
Satya berusaha setenang mungkin, untuk menahan agar yang di bawah sana tidak on.
Senja tidak tinggal diam saat suaminya nafasnya mulai tidak teratur, senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Satya memejamkan matanya, sekuat apapun ia tahan kalau istrinya tidak duduk diam. Pertahanannya jebol juga, tapi ia masih berusha tenang.
"Kamu tahu apa resikonya?" tanya Satya dengan wajah yang memerah karena menahan sesuatu di bawah sana.
"Masuk setengahnya saja," bisik Senja.
Satya langsung melotot mendengarnya, ia tak habis pikir dengan apa yang ada didalam otak istrinya.
"Kenapa?" tanya istrinya polos.
"Masuk full," kata Satya.
"Jangan!" katanya panik.
Tak lama pintu diketuk, belum sampai Satya menyuruhnya masuk Ranga sudah membuka pintu.
Ditatapnya Senja yang duduk dipangkuan Satya, Ranga hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ini kampus woi!" teriknya sambil duduk di sofa ruangan Satya yang di kampus.
"Om.....Ranga gangguin aja, lagian hanya mau masuk setengah aja," kata Senja santai.
Satya langsung memeluk istrinya itu gemes, sedangkan Ranga hanya diam ia mencerna apa yang dikatakan oleh Senja.
"Enggak ngerti gue!" katanya.
Tak lama Satya menghampiri asistennya untuk mendatangani berkas yang urgent di bawa oleh Ranga.
"Maksudnya apa?" tanya Ranga sambil berbisik di telinga Satya.
"Lupakan," jawab Satya.
Sedangkan Ranga yang penasaran akhirnya mendatangi Senja yang sedang duduk di kursi kerja suaminya sambil memutar-mutarkan kursinya.
"Yang setengah tadi apa?" tanya Ranga langsung sambil mengambil tisu.
Senja yang terkejut langsung membeo mendengar pertanyaan Ranga.
Senja memperhatikan suaminya yang sedang serius nmengecek berkas-berkas yang di bawa Ranga tadi.
"Bikin dedeknya," jawab Senja sambil berbisik ditelinga Ranga.
Deg....kini giliran Ranga yang merasa suhu ruangan begitu gerah.
"Ini udah," kata Satya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Ranga segera mengambil berkas tanpa mengatakan apa-apa, Satya tertegun melihat asistennya itu dengan wajah yang memerah dan berkeringat.
"Lo kenapa?" tanya Satya.
"Gue.... enggak apa-apa," jawabnya lalu keluar dari ruangan Satya.
Satya hanya menarik nafas panjang, di lihatnya istrinya masih asik mutar-mutar di kursinya.
"Bby.....jadi enggak masuk setengahnya saja?" tanya Senja sambil berdiri menghampiri suaminya.
"Tadi ngomong apa sama Ranga?" tanya Satya.
"Oh .... itu, Om Ranga tanya maksud Senja tadi apa!" katanya.
"Terus," katanya.
__ADS_1
"Ya udah Mmy jawab bikin anak," ucapnya.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, pantas tadi Ranga wajahnya merah ternyata karena istri kecilnya.