
Sudah jam dua dini hari, Sari terbangun karena ia bermimpi buruk. Wanita itu menatap sekeliling kamarnya, seakan mimpi itu begitu nyata kalau suaminya meminta tolong kepadanya.
Sari mengintip dari gorden ia takut suaminya akan kembali lagi, tapi di halaman rumah kosong tidak ada siapa-siapa.
Perasaannya kian tidak enak, akhirnya Sari keluar dari kamarnya menuju ke dapur diambilnya air hangat untuk membuat susu hamil, dulu ingin sekali dia dibuatkan susu oleh suaminya. Namun, hanya kecewa yang ia dapat Ibnu akan minta tolong mamanya.
Sejak ia hamil Ibnu sudah mulai berubah, apalagi semenjak kedatangan dosen baru itu suaminya semakin menjauh darinya.
Jika mengingat itu, rasanya Sari ingin membawa anaknya jauh untuk tidak bertemu dengan suaminya. Namun, ia merasa egois karena memikirkan perasaan sampai akan memisahkan ayah dan anaknya. Tanpa terasa ia duduk di meja makan sampai suara adzan subuh berkumandang, saat akan masuk kamar terdengar pintu diketuk dari luar.
Sari merasa ragu, tadi terdengar suara berisi. Ia melangkah ke arah pintu, saat mengintip dari gorden dia melihat sudah banyak bapak-bapak yang hendak pergi sholat.
Perlahan Sari membuka pintu, bersamaan pintu terbuka tubuh seseorang terjatuh tempat di kakinya.
Mata Sari membulat saat melihat siapa pria itu dan berteriak, "Mas Ibnu! Pak tolong suami saya."
Bapak-bapak itu segera mengangkat tubuh Ibnu untuk membaringkan di kamarnya Sari, air mata Sari sudah mengalir sedari tadi saat menyadari kalau suaminya tidak meninggalkan rumahnya.
"Sebaiknya panggil dokter, Nak," kata salah satu warga.
"Baik Pak, terimakasih banyak atas bantuannya," kata Sari dengan terisak.
Setelah para warga pergi, Sari menghubungi dokter yang disarankan oleh Dea jika ada apa-apa nanti. Sambil menunggu dokter datang, wanita itu mengganti pakaian suaminya.
"Astagfirullah, kamu demam Mas," kata Sari langsung keluar kamar untuk mengambil kompres untuk suaminya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit akhir dokter Dini datang.
Dokter itu langsung memeriksa Ibnu, setelah selesai hanya menarik napas dalam, hal itu membuat Sari khawatir.
"Bagaimana, Dok?" tanya Sari.
"Suami Anda terlalu lelah, dan kurang istirahat. Apalagi dia sekarang demam tinggi," jelas dokter Dini.
"Suami saya enggak apa-apa, kan, Dok?" tanya Sari.
Dokter Dini tersenyum, ini akan saya infus untuk memasukkan obat demam dan vitamin supaya besok pagi tidak lemas," ujar dokter Dini.
Sari hanya mengangguk, mungkin ini arti mimpi tadi. Setelah dokter pulang Sari begitu sabar dan telaten untuk mengurus suaminya itu.
"Mas, apa kamu mencariku sampai seperti ini. Kenapa setelah aku pergi kamu baru sadar dan mencariku," kata Sari lirih.
__ADS_1
Tubuh Ibnu yang tadi panas setelah satu jam sudah mulai turun demamnya, Melihat itu Sari merasa lega. Karena kurang tidur akhirnya Sari tertidur disamping suaminya.
Tepat pukul 10 pagi, Ibnu perlahan membuka matanya. Namun, tak lama ia memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Sari merasa ada pergerakan, ia terbangun melihat suaminya sudah sadar membuatnya sekarang agak canggung, hendak bergerak saja ia rasanya begitu salah tingkah.
"Eh, sudah bangun Mas," kata Sari lembut.
Ibnu diam mematung, mendengar suara wanita yang begitu ia rindukan. Pria itu merasa halusinasinya karena terlalu memikirkan istrinya.
Sari yang melihat suaminya tidak bergerak sedikitpun, akhirnya menyentuh kening suaminya untuk mengecek suhu tubuh Ibnu.
Deg, jantung Ibnu berdetak lebih kencang. Wanita di sampingnya kini benar-benar istrinya yang kini dirindukanya.
"Sayang," kata Ibnu lirih.
"Alhamdulillah, demamnya sudah turun," kata Sari sambil tersenyum lega.
Saat Sari mau beranjak dari ranjang, Ibnu langsung memegang tangan istrinya.
Sari menghentikan kakinya yang hendak ke kamar mandi sambil berkata, "Ada apa, Mas?"
Sari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu berjalan hendak keluar kamar, tapi dikejutkan tiba-tiba tangan kekar itu memeluknya dari belakang.
Pelukan yang begitu ia rindukan selama ini, kini kembali ia rasakan.
"Maaf," bisik Ibnu di telinga Sari.
"Tak pernah kuminta kau bangunkan candi untukku, tak juga kuminta kau petikan bintang yang sedang menari bersama rembulan di langit sana. Hanya sekedar menyimak tangisku, tak bisakah kau luangkan waktumu untuk itu, Mas?" tanya Sari sambil terisak.
Ibnu membalikkan tubuh istrinya, dikecupnya mata yang yang sudah basah oleh deraian air mata itu.
"Jangan menangisi pria sepertiku, Sayang," kata Ibnu.
"Aku kangen, Mas," ucap Sari degan tangis pecahnya.
Ibnu langsung memeluk tubuh yang kini kian berisi itu
"Mas, juga kangen sayang," kata Ibnu Sabil membelai rambut hitam pekat itu dengan lembut.
"Mas, aku buatkan sarapan dulu, pasti kamu sudah lapar," kata Sari.
__ADS_1
Saat Sari melepaskan pelukannya matanya membulat melihat darah menetes dari infus yang terlepas. Ibnu yang melihat istrinya bengong menatap tangannya.
Ibnu pun terkejut, dia tidak merasakan apa-apa tadi, dengan cepat pria itu mencabut jarum infus dari tangannya sambil menahan sakit, dengan cepat ia menekan bekas tusukan jarum itu.
"Mas, nggak apa-apa?" tanya Sari.
Ibnu hanya tersenyum sambil berkata, "Ada P3K?"
Sari langsung berjalan cepat menuju ke arah dapur karena dia meletakan obat kotak P3K di lemari dapur. Sampai di kamar perlahan Sari langsung membantu suaminya untuk menghentikan darah dari tangan suaminya.
"Selesai," kata Sari.
"Mas bikin aku takut," ucap sari dengan manja.
Ibnu tersenyum, walau wajahnya masih terlihat pucat, tapi pria itu enggan dipanggilkan dokter. Ia sudah merasakan kalau tubuhnya sudah tidak lemas, pusing di kepalanya karena dari kemarin dia belum makan nasi.
"Yang, lapar," kata Ibnu membuat sang istri terkekeh.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke dapur, Sari membuka kulkasnya ia mengambil ayam, rencananya akan membuat bubur ayam untuk suaminya. Ibnu hanya duduk di kursi tak jauh dari istrinya.
"Yang, aku bantu ya," kata Ibnu beranjak berdiri dari kursi.
"Enggak usah Mas, biar aku saja kamu masih sakit," tolak Sari.
Ibnu memeluk tubuh istrinya dari belakang, membuat Sari tersenyum seakan-akan rasa kesalnya kepada suaminya menguap begitu saja, entah ini bawakan dari anaknya yang ingin dekat dengan Ayahnya atau memang rasa rindu yang selama ini ia pendam.
"Mas, aku mau masak!" seru Sari.
Ibnu terkekeh mendengarnya, entah kenapa dia sekarang suka kalau istrinya kesal dan bermanja kepadanya, pria itu kembali lagi duduk di kursi yang tadi.
Sari kembali lagi melanjutkan masaknya, wajahnya terlihat begitu bahagia pagi ini. Apalagi hari ini suaminya kembali menemaninya untuk masak. Setelah satu jam Sari menyiapkan bubur ayam dan sop daging untuk suaminya.
"Sudah siap, maaf ya Mas agak lama," kata Sari sambil tersenyum meletakan bubur di depan suaminya.
"Kamu enggak makan, yang?" tanya Ibnu.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sari tidak menghiraukan pertanyaan suaminya.
"Enak," jawab Ibnu, membuat istrinya tersenyum malu atas pujian suaminya.
Bersambung ya.
__ADS_1