PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 146


__ADS_3

Satya melangkah menuju kamarnya, perlahan dibukanya handle pintu. Pria itu begitu terkejut saat melihat tas kecilnya sudah di atas kasur, sedangkan istrinya tidak ada. Namun, saat ia akan ke arah balkon terdengar gemericik air dari kamar mandi.


Satya merasa lega, kemudian diambilnya benda pipih dari saku celananya. Satya menghubungi Ranga, tapi sayang asistennya itu tidak mengangkatnya.


"Kenapa enggak diangkat sih!" kesalnya.


"Siapa yang diangkat, By." katanya sambil mengerutkan dahinya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa'kan?" tanyanya merasa khawatir.


"Tidak. Hanya bik Sum, dari semalam aneh dan terlihat sedih," ujarnya.


Satya hanya tersenyum tipis, sepertinya wanita paruh baya itu tidak memberitahu istrinya. Satya menghampiri Senja sambil memeluk dari belakang.


"By, aku mau ganti baju," katanya sambil menatap wajah suaminya lewat bayanganya di cermin.


"Biarkan seperti ini saja dulu, yang," katanya.


"Bby kenapa? apa ada masalah."


Satya hanya menggelengkan kepalanya, walau ia mengatakan tidak kepada istrinya sejujurnya dia begitu khawatir tentang keadaan Ayahnya saat ini.


Ayah Nugraha itu jarang sakit sampai dirawat, Satya merasa pilihan yang sulit, istrinya tengah hamil tua, sedangkan Ayahnya masuk rumah sakit mana yang harus didahulukan terlebih dahulu.


Senja merasa suaminya menyembunyikan sesuatu, "By," panggilnya dengan lembut sambil mengusap bahu suaminya.


"iya," jawabnya singkat sambil tersenyum.


"Katakan ada apa, sayang!" bujuknya.


Satya menarik napas panjang, apa dia akan memberitahu istrinya. Jika tidak ke istrinya terus sama siapa dia berbagi, dipeluknya istrinya dari samping, sambil mengusap perut senja.


"Yang, Ayah masuk rumah sakit," katanya sambil memperhatikan istrinya.


"Astagfirullah kapan? terus sekarang bagaimana?" tanyanya beruntun.


Satya hanya menggelengkan kepalanya, karena dia juga belum bisa menghubungi bunda dan Ranga.


"Yang sabar ya, By. kita bantu doa semoga Ayah enggak apa-apa." katanya dengan bersedih.


"Amin, terimakasih yang," ucapnya sambil tersenyum lega.


Satya merasa lega saat menceritakan kepada istrinya, sedangkan Senja menghubungi Bik Ida. namun, tidak diangkat juga.


"By, sebaiknya kamu ke Surabaya. Kita tidak bisa diam saja seperti ini," ujarnya.


"Aku hubungi Ayah dulu," katanya sambil mengambil handphonenya.


"Enggak usah, sebentar lagi Ayah pulang untuk makan siang," sahutnya sambil mengajak suaminya keluar kamar untuk menunggu Yoga. Satya hanya menurut saja.

__ADS_1


Mentari yang melihat Satya sudah pulang merasa heran, apalagi menantunya itu terlihat tidak sedang baik-baik saja.


"Sat, tumben sudah pulang?" tanyanya sambil ikut bergabung di ruang keluarga.


Satya tak menjawab hanya tersenyum, tak lama Yoga datang sambil mengerutkan keningnya melihat menantunya.


"Ayah, ada yang mau gue bicarakan!" katanya dengan sedih.


Yoga menatap Satya, pria itu yakin ada sesuatu yang membuat menantunya itu terlihat tidak baik-baik saja.


"Ada apa?" tanyanya sambil duduk di samping istrinya.


"Ayah masuk rumah sakit," jawabnya sambil menunduk.


"Lo serius! sekarang bagaimana?" tanyanya sambil menatap Satya.


"Gue belum tahu, Ranga dan bunda tidak mengangkat telpon dari gue," katanya lirih.


"Siapa yang kasih tahu lo?" tanyanya geram kenapa saat seperti ini tidak ada yang memberinya kabar.


"Bik Sum." Jawabnya.


"Bik. bik Sum!" teriak Yoga.


Wanita paruh baya itu datang dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, dia menatap semua yang ada di ruang keluarga. Satya yang melihat itu terkejut begitu juga dengan yang lainya.


"Bibik kenapa?" tanya Senja segera menghampiri wanita yang sudah mengasuhnya dari bayi itu.


"Bik katakan ada apa?' tanya Satya.


"Itu ... Den," katanya bingung bagaimana cara mengatakannya.


"Bik!" panggil Yoga.


"Bibik barusan nonton sinetron judulnya suamiku selingkuh," jawabnya sambil terisak,


"Astagfirullah Bik! Tari kirain ada apa."


"Maaf."


"Bik, apa sudah ada kabar dari bik ida tentang Ayah Nugraha?" tanya Yoga.


"Belum Den," jawabnya.


"Sekarang Bibik telepon Bik Ida, dan louse speaker!" titahnya.


"Baik Den," jawabnya.


Mentari yang melihat suaminya suaranya naik satu oktaf mengusap bahunya untuk menenangkan Yoga. Tak lama telpon tersambung.

__ADS_1


'Halo Sum,' kata bik Ida,


'Ida bagaimana kabar Tuan?" tanyanya.


'Ahmadullah, Sum. sudah baikan, kata Nyonya karena asam lambungnya kambuh.'


'Apa ,masih di rumah sakit?" tanyanya sambil melihat Satya sedangkan Senja membisikan sesuatu ke telinga wanita paruh baya itu.


'Masih, tapi kata Den Ranga sore besok sudah pulang,' jawabnya.


'Ida kalau ada apa-apa, kamu kasih tahu aku ya!' katanya sambil menatap Senja yang terkekeh.


Mendengar kabar itu semua bisa bernapas lega, begitu juga dengan Satya yang sekarang sudah tidak begitu khawatir.


"Ayo kita makan dulu," ajak Mentari.


Kini semua sedang makan sedangkan bik Sum melanjutkan nontonya. Selama makan Senja memperhatikan wajah suaminya yang ekspresinya berubah-ubah seperti bunglon.


Yoga yang akan meeting setelah makan siang langsung pamit kepada istri dan anaknya, Sedangkan Satya mengajak istrinya ke kamar untuk istirahat. Namun, sebelumnya ia menghubungi Afkar untuk menghandle urusan kantor.


Senja hanya bisa menarik napas panjang, suaminya kalau pulang waktu istirahat siang pasti tidak akan balik lagi ke kantor, terkadang wanita itu iba kepada asistennya baik Afkar maupun Ranga.


"By, kenapa enggak balik lagi ke kantor?" tanya Senja sambil mengusap perutnya karena gerakan anaknya membuat nyeri perut bagian bawahnya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama istriku ini," sahutnya sambil menuju kamar mandi.


Senja hanya bisa menggerutu, bukanya dia tidak suka. Namun, kalau sering-sering meninggalkan kantor apa kata karyawan nanti. Seingatnya dulu baru awal menikah suaminya akan pergi pagi dan pulang tengah malam.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka Satya tersenyum menatap istrinya yang sedang membaca buku, Pria itu mengganti pakaianya dengan baju santai. Dihampirinya istrinya yang sedang serius membaca buku persiapan menyambut buah hati.


"Serius kali, Yang. Kayaknya lebih menarik buku itu daripada aku suamimu!" katanya sambil cemberut.


Senja melirik suaminya hanya bisa menarik napas, pria tua di sampingnya itu bisa juga cemburu dengan buku, karena merasa tanggung membacanya wanita itu tak menghiraukan ucapan suaminya.


Satya yang merasa diacuhkan hanya mendengus, sambil menyadarkan kepalanya di bahu sofa. Dia merasa heran, kenapa ia sangat ingin selalu dekat dengan istrinya akhir-akhir ini. Namun, ia sangat kecewa karena Senja begitu cuek denganya.


"Yang," katanya dengan manja.


"Apa By?"tanyanya tanpa melihat ke arah suaminya.


"Kamu enggak lagi sayang sama aku!" katanya ketus.


Senja menarik napas panjang, ia baru menyadari kalau bayi besarnya ini sedang ingin di manja. "Bby mau apa?" tanyanya lembut sambil menarik hidup mancung Satya.


"Mau peluk," ucapnya dengan merentangkan kedua tanganya.


Senja hanya terkekeh, tanpa menunggu lama ia memeluk bayi besarnya itu dari samping.


"Terimakasih, apa dia baik-baik saja di dalam sana?" tanyanya sambil mengusap perut buncit istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik-baik saja, Sayang," jawabnya sambil meringis karena usapan tangan suaminya langsung direspon oleh anaknya dengan gerakan yang agak keras.


Satya yang melihat istrinya meringis menahan sakit langsung panik, "Yang, kenapa? apa dia mau keluar sekarang!" katanya panik.


__ADS_2