
Pagi ini Senja sudah bangun karena mertuanya menyuruhnya menjemur putrinya, ia dan Ibunya sedang duduk di taman belakang dengan anaknya masing-masing.
"Apa sudah ada namanya buat cucu ibu, Nak?" tanya Mentari
"Sudah, namanya Jingga Khairunnisa Nugraha," kata Senja.
Mentari tersenyum," Khairunnisa apa artinya?"
"Wanita yang baik Nenek," jawab Senja menirukan suara anak kecil.
"Apa Ayah juga sudah kasih nama?" tanya Senja
"Namanya Elvano Gaffi Irwan," jawab Mentari sambil tersenyum menatap Yoga yang menghampirinya .
Yoga ikut duduk sambil menatap anak dan cucunya, entah mengapa ia merasa kalau seperti melihat Senja waktu baru lahir. "Sayang, coba deh lihat Jingga wajahnya mirip Mamanya waktu bayi."
"Iya Mas, tapi kenapa El mirip Satya," kata Mentari.
Senja terkekeh mendengarnya karena selama Ibunya hamil ayahnya berantem terus dengan suaminya. Menurutnya jadi wajar kalau adiknya mirip Satya.
"Wah lagi ngobrol apa?" tanya Bunda yang datang sambil membawa dua gelas susu untuk ibu menyusui.
"Terimakasih Oma," kata Senja.
Bunda merasa senang melihat cucunya tubuh sehat, ingin rasanya dia meminta Senja dan Satya menetap di rumahnya saja, Karena dia rasanya tidak bisa pisah dari cucu-cucunya. Bahkan kalau bisa Yoga dan istrinya pindah ke Surabaya saja.
"Ayo nak, kita masuk, cucu-cucuku biar Oma yang mandikan untuk Ibu dan mamanya silahkan sarapan," kata Bunda sambil menggendong Jingga dan El.
Satya yang baru keluar dari ruang kerjanya menatap Bundanya yang begitu bahagia menggendong kedua cucunya.
"Mau bawa kemana, Bun?" tanya Satya.
"Bawa ke kamar Oma," jawab Bunda sambil tersenyum.
Satya hanya mengangguk, dilihatnya istri dan mertuanya sedang sarapan nasi goreng, sedangkan Yoga meminum kopi bersama Ayahnya.
__ADS_1
"Bagaimana apa sudah siap?" tanya Ayah Nugraha.
"Sudah Yah," jawab Satya.
Satya menatap kedua pria yang kini sedang sibuk menonton, ia juga sebenarnya mengantuk karena malam hari anaknya rewel, apa lagi Senja tidak ingin anaknya memakai dry pampers, jadi sebentar-bentar bangun putrinya.
Satya juga yakin, kalau Senja juga kurang istirahat. Di perhatiannya istrinya yang makan lebih dari biasanya, melihat menantunya menatap ke arah meja makan Yoga hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Itu kenapa makannya jadi sebanyak itu?" tanya Satya heran.
Ayah Nugraha ikut melihat ke arah meja makan, pria itu menarik napas panjang." Karena mereka makan tidak hanya buat diri sendiri, tapi buat Jingga juga dan El.
"Benar juga, apa lo enggak tahu itu anak kedua?" tanya Satya kepada Yoga.
Yoga terdiam, tidak terbayang olehnya saat istrinya harus begadang tengah malam waktu Senja kecil dulu, hatinya begitu merasa bersalah seandainya dia dulu nekat membawa istri dan anaknya pergi jauh mungkin Mentari tidak akan merasakan hal itu sendirian.
Yoga juga merasa bersalah kepada Senja, karena dirinya dia sering kena buli teman-temannya tidak memiliki Ayah. Andai waktu bisa diulang, dia tidak akan meninggalkan keluarga kecilnya dulu, tapi kalau saja ia membawa Mentari kabur pasti mertuanya tidak akan tinggal diam.
Dulu dirinya bukan siapa-siapa, hanya sebatang kara saat Ayahnya sudah meninggal. Namun, karena Ayah Nugraha dirinya bisa bangkit dan seperti ini, untuk menemui Mentari saja dulu Yoga malu hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Kehidupan di ibu kota bukannya mudah, dia hanya menumpang tidur di kost Adrian, tapi kalau adiknya pulang Yoga akan tidur di depan ruko. Kedinginan, dan kehujanan sudah biasa saat itu ia rasakan. Namun, semua itu lebih perih apa yang dirasakan Mentari karena dia pergi dengan tiba-tiba.
Bik Sum yang selalu menghubunginya menanyakan kabar, hingga setelah dua bulan ia dan wanita itu los kontak. Yoga sudah berusaha menghubungi bik Sum, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.
Ia bersama Adrian mulai membuka usaha dengan modal seadanya menjual motor Adrian dan jika kurang keduanya harus bekerja terlebih dahulu di pasar sebagai tukang panggul. Yoga ingin membuktikan kepada mertuanya jika dia bisa sukses tanpa bantuan Papa Robby.
Hidup susah, bukan untuk dia jadikan tolak ukur untuk tidak berubah menjadi sukses, karena Yoga tahu untuk berubah itu perlu proses tidak hanya sehari, sebulan, bahkan bertahun-tahun untuk menjadi sukses. Dengan dukungan dari Adrian Yoga bisa membuka usaha itu.
Berada titik terbawah karena harus gulung tikar, Yoga bertemu Ayah Nugraha. Dan beliau sampai menyuruhnya untuk ke Surabaya dan melanjutkan s1nya, tapi dia harus mau belajar di kantor. Hingga kini karena kerja kerasnya perusahaannya mampu menjadi besar dan termasuk pengusaha sukses di ibu kota.
"Ayah sebaiknya istirahat," kata Satya karena dia melihat pria paruh baya itu terlihat letih.
Bunda datang dengan membawa kedua cucunya yang sudah harum karena sudah selesai mandi, Ayah Nugraha menatap Satya dan Senja bergantian. Hal itu membuat yang lain merasa heran.
__ADS_1
"Bunda, lihat anak Yoga mirip Satya bayi," kata Ayah Nugraha.
"Iya .... ya, Bunda baru perhatikan. Tunggu sebentar," kata Bunda langsung masuk kamar.
"Masak mirip Satya, Yah?" tanya Satya ikut memperhatikan EL.
"Ini dia foto Satya waktu baru lahir," tunjuk Bunda.
Semua ikut memperhatikan, Yoga mencibirkan bibirnya ke arah menantunya itu. Apa sebenci itu dengan Satya waktu Mentari hamil sampai anaknya begitu mirip dengan suami putrinya.
"Ibu apa waktu hamil enggak suka lihat suami Senja?" tanya Senja penasaran.
"Enggak biasa saja," jawab Mentari.
Kini semua mata mengarah ke arah Yoga, pria itu menatap jengah. Pasti dirinya yang akan menjadi tersangka utamanya.
"Ayah," kata Senja.
"Apa?" jawab Yoga singkat.
Satya melihat wajah Yoga yang kesal langsung tertawa lepas membuat Jingga dan El, menangis. Cubitan madarat di pahanya karena Bunda begitu gemes dengan putranya itu. Sudah tahu ada anak tidur tertawa seperti di pasar.
Satya masih menahan tawanya, Ayah Nugraha melihat itu hanya tersenyum. Baginya cucunya mau mirip Satya atau Yoga tidak masalah.
"Jangan khawatir, Nak Yoga. Biasa anak bayi wajahnya berubah-ubah," sahut bik Sum sambil membawa popok untuk Jingga.
"Enggak pakai Dry pampers saja," kata Yoga.
"kasihan, Yah. Masih kecil," jawab Senja.
Yoga hanya mengangguk saja, dilihatnya El yang memakai Dry pampers. Yoga yang baru tahu kalau kulit bayi itu begitu sensitif. Diam-diam ia memperhatikan bagaimana Bik Sum menggantikan popok untuk cucunya.
"Kenapa?" tanya Satya.
"Lo bisa ganti gitu?" tanya Yoga balik.
__ADS_1
"Tugas gue hanya bikin adiknya Jingga nanti setelah empat puluh hari," jawab Satya.
Bersambung ya ….