
Senja hanya tersenyum getir melihat ulah suaminya itu, sedangkan Ayah Nugraha hanya diam dan merasa lega karena anak dan menantunya mau tinggal bersamanya.
"Ranga, Kenapa Diana enggak diajak?" tanya Bunda.
"Ranga dari kantor langsung ke sini, Bun," jawab Ranga.
Bunda hanya mengangguk, wanita itu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Ayah Nung masih duduk di ruang keluarga bersama Senja.
"Kapan kamu mulai masuk kuliah, Nak?" tanya Ayah Nugraha.
"Belum tahu, Yah." Senja terkekeh karena ia juga lupa.
Pria paruh baya yang masih terlihat tegak itu hanya tersenyum. Ia tahu menantunya itu selama melahirkan tidak peduli dunia lain, karena baginya anaknya itu segalanya.
Masa sulit ya dirasakan Senja, tidak ingin dirasakan oleh putrinya. Ayah Nugraha menatap wajah menantunya itu dengan rasa iba.
Tak lama Ranga dan Satya keluar dari ruang kerjanya.
"Ayah, Ranga langsung pamit ya," kata Ranga.
"Iya Nak, hati-hati," balas Ayah Nugraha.
Ranga langsung keluar, sedangkan Satya duduk disamping istrinya. Bunda yang baru keluar dari kamar, tidak melihat Ranga lalu bertanya."Mana Ranga?"
"Sudah pulang, Bun," jawab Satya.
"Huff, itu anak nggak pamit sama orang tua!"gerutu Bunda.
Ayah Nugraha terkekeh, melihat istrinya yang kesal. Senja yang aku beranjak dari duduknya ditahan oleh Suaminya.
"Mau kemana, Yang?" tanya Satya.
"Mandikan Jingga, Mas," jawab Senja.
"Biar Bunda saja ya!"pinta Bunda langsung berjalan ke arah tangga.
Senja dan Satya saling pandang, sedangkan Ayah Nugraha tersenyum melihat istrinya begitu bahagia.
"Terimakasih ya, Nak." Ayah Nugraha begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya itu.
"Ayah, itu sudah menjadi ke harusnya dari kami, jangan merasa sungkan,' ujar Senja.
__ADS_1
Pria paruh baya itu hanya mengangguk, ia mengerti kalau Satya begitu ikhlas untuk tinggal di rumahnya, saat mereka sedang asik mengobrol . Bik Sum mengatakan ada tamu berada di ruang tamu ingin bertemu.
Satay dan Ayah Nugraha saling pandang, keduanya tidak tahu siapa yang baru datang itu. Karena merasa tidak ada janji dengan orang lain.
Ayah Nugraha dan Satya berjalan beriringan menuju ruang tamu, Keduanya tersenyum saat melihat Ferdi dan Fifi ada di rumahnya.
"Aku kira tamu siapa," kata Ayah Nugraha tersenyum hangat melihat siapa yang baru berkunjung itu.
"Apa kabar?" tanya Ferdi.
"Baik, seperti yang kalian lihat, Ada apa gerangan datang tidak kasih tahu dulu?" tanya Ayah Nugraha.
"Wah ada tamu," sahut Bunda yang baru datang sambil menggendong Jingga yang baru siap mandi.
"Jingga, sini sama Nenek, Nak," kata Fifi membuat Ferdi menaikan kedua alisnya.
Ayah Nugraha terkekeh melihat pria yang baisa sombong dan acuh itu kini terlihat lebih manusiawi semenjak dekat dengan Fifi. Walau ia tidak tahu secepat itu keduanya dekat.
"Kamu juga nanti dipanggil Kakek," goda Ayah Nugraha sambil tersenyum menatap Ferdi yang hanya mengangguk.
"Kedatangan saya ke sini mau minta tolong dua hari lagi kami mau menikah, dan saya harap kamu mau menjadi saksinya!" pinta Ferdi sambil tersenyum. Sedangkan Bunda Fifi menunduk malu. Umur sudah tua tapi masih mau menikah lagi.
"Saya dengan senang hati pasti akan datang" jawab Ayah Nugraha,
"Dimana rencananya?" tanya Ayah Nugraha.
"Di rumah saja, saya maunya di hotel, Fifi nggak mau," ujar Ferdi sambil menatap Bunda Fifi dengan hangat.
"Udah tua, Mas," jawab Fifi membuat yang lain tertawa mendengarnya.
Satay menatap Bunda Fifi dan Pak Ferdi. Kalau Bunda Fifi saja masih mau menikah lagi bagaimana dengan Senja yang masih muda. Satya menarik napas panjang. Ia tidak ingin membayangkan pikiran buruk itu mengganggu pikiranya.
Satya membayangkan saja, tidak sanggup kalau dirinya nanti pergi lebih dulu, setelah itu istrinya menikah lagi rasanya ia tidak kuat. Ayah Nugraha yang melihat anaknya menarik napas beberapa kali itu hanya merasa heran saja.
Setelah selesai Ferdi dan Bunda Fifi pamit, Satya masih duduk di sofa, sedangkan Ayah Nugraha dan istrinya membawa cucunya masuk ke kamar.
Senja yang baru siap mandi, merasa heran karena ruang keluarga kosong. Wanita itu berjalan menuju ke ruang tamu menatap suaminya yang sedang melamun.
"Mas, lagi mikir apa?" tanya Senja.
Satya yang terkejut tersenyum canggung, pria itu menepuk tempat kosong di sampingnya. Senja yang mengerti ikut duduk dan menatap suaminya heran.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Senja.
"Yang, kalau aku meninggal dulu apa kamu akan menikah lagi?" tanya Satya.
"Mas!" seru Senja tidak sukan suaminya mengatakan itu.
Satya terkekeh, ia hanya bertanya istrinya sudah seperti takut akan kehilangan dirinya. Satya memeluk tubuh istrinya. Kalau bisa ia dan Senja akan bersama sampai tua dan anaknya mandiri.
Senja memeluk erat pinggang suaminya, wanita itu tidak tahu apa yang akan terjadi jika itu benar. Sekarang ia begitu bahagia akan hadirnya Jingga di tengah rumah tangga keduanya. Mungkin kalau untuk menyingkirkan pelakor itu mudah untuk Senja. Namun, menolak dari takdir yang diberikan oleh Allah SWT ia tidak bisa menolak bahkan untuk menghindarinya.
Satay mengusap rambut sang istri, pria itu mendaratkan kecupan beberapa kali kepada istrinya. Wanita yang pertama dilihatnya masih mengenakan seragam SMA waktu itu sedang mencari kerja paruh waktu.
Andai ia tahu kalau gadis kecil itu akan menjadi istrinya pasti akan membantunya, Tapi saat dikasih kartu nama, Senja pakai buat mengaduk minumannya.
Satya tersenyum, ia mengingat begitu ceroboh istrinya saat itu. Cinta itu hadir karena sering terbiasa , atau karena lelah untuk mencarinya. Kejadian Saat melihat Merry melakukan hubungan suami istri waktu itu begitu membuatnya trauma akan menjalin hubungan dengan wanita lain.
Lagi-lagi Allah SWT, memberikan jodoh yang baik walau dari awal suka membuat masalah istri kecilnya itu. Namun, Satya tahu kalau Senja tidak suak dikekang. istrinya akan berontak jika ia selalu mengekangnya.
"Sayang, apa kamu mau secepatnya lanjut kuliah?" tanya Satya.
"Kasihan Jingga, rasanya aku enggak tega ninggalin dia dengan perawat," kata senja.
"kok perawat sih, yang?" tanya Satya.
"Eh salah, apa itu namanya yang jagain anak?" tanya Senja sambil tertawa.
"Baby sister," jawab Satya.
"Nah, itu mungkin," kata Senja membetulkan apa kata suaminya.
Satya hanya menarik napas dalam, dan berkata." Aku enggak rela kalau anak kita dijaga orang lain yang baru kita kenal."
"kalau Bunda yang jaga kasihan," ujar Senja.
"Kenapa?" tanya Bunda yang baru gabung.
Satya menceritakan kepada Bundanya kalau Senja akan mempercayakan Jingga kepada pengasuh.
"Bunda tidak setuju, ada bunda , Bik sum dan Ida yang bantu, Nak." Bunda mencoba biar Senja mengerti.
"Senja takut Bunda lelah," ujar Senja.
__ADS_1
bersambung ya….