
Selama diperjalanan Senja hanya diam, tapi air matanya selalu menetes membasahi pipinya. Ia paling benci kalau selalu lemah di depan orang.
Satya sesekali melihat dari spion, istrinya masih terisak dan air mata itu tidak berhenti mengalir di pipi istrinya.
Mobil sampai di kediaman Ayah Nugraha, Senja turun dipapah oleh Bunda.
Ayah Nugraha hanya bisa menarik napas dalam, iba akan menantunya itu. Dari kecil sampai akhir menikah dengan putranya selalu memendamnya sendiri.
Sampai di ruang keluarga Mentari terkejut melihat bagaimana putrinya mata sudah memerah, ia memberikan El kepada suaminya.
"Sayang ada apa," kata Mentari langsung memeluk putrinya. Wanita itu tak kuasa menahan sakit hatinya karena melihat Senja yang terlihat tidak baik-baik saja.
Yoga matanya tak henti memperhatikan sang putri yang kini sedang duduk dan dipeluk oleh Mentari.
"Ada apa Sat?" tanya Yoga.
Satu menarik napas dalam, ia kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada mertuanya itu sedangkan Senja sudah berada di kamar bersama Mentari.
Mendengar itu Yoga mengatakan kedua tangannya. Ia begitu muak kalau ada yang menyakiti Senja.
Ayah Nugraha melihat itu hanya tersenyum, ia tahu Yoga tidak akan sampai mendatangi istri dari Radit itu.
Satya yang melihat mertuanya sudah keluar dari kamarnya langsung beranjak dari duduknya untuk melihat istrinya.
Perlahan dibukanya pintu kamarnya, Senja yang baru siap mandi langsung menatap siapa yang masuk.
Satya tersenyum, ia memeluk istrinya dari belakang hingga membuat handuk yang melilit tubuhnya hampir lepas.
"Mas!"seru Senja lirih takut kalau sampai Jingga terbangun dari bobo siangnya.
"Jangan macam-macam, masih satu minggu lagi," ujar Senja mengingatkan.
Satya hanya terkekeh, ia senang karena istrinya sudah tidak marah lagi, dilepasnya pelukannya setelah itu barulah Senja memakai bajunya. Satya membaringkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya.
"Mas, enggak bali ke Kantor?" tanya Senja.
"Enggak malas, yang," jawab Satya membuka matanya.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, penyakit suaminya kalau sudah pulang malas untuk kembali ke kantor lagi.
"Mas, maafkan aku udah buat malu dikantor," kata Senja sambil menunduk.
"Kenapa aku senang kamu seperti tadi, sekali-kali Merry harus dibuat begitu," kata Satya.
__ADS_1
Senja cemberut mendengar jawaban suaminya itu, pria itu suka jika istrinya menjadi bar-bar.
Ia hanya tidak ingin ada orang ketiga dalam rumah tangganya. Senja bukan karena tidak percaya sama suaminya.
Tetapi ia hanya merasa kalau tante kurang bahan itu sengaja menggoda suaminya. Senja hanya menarik napas dalam jika ingat bagaimana sikap wanita tadi dadanya masih gemuruh buka karena cemburu tepi kekesalannya belum terlampiaskan.
Satya yang melihat istrinya melamun hanya menggeleng dan berkata, "Yang, makan yuk."
Senja hanya mengangguk karena ia juga merasa lapar karena tenaganya habis buat melayani bibit pelakor tadi.
Sampai di meja makan Satya dan Senja langsung bergabung, Yoga menatap putrinya yang sudah terlihat biasa aja, ia berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi nantinya.
Mereka makan dalam diam, hanya dentingan sendok yang terdengar. Senja saat mendengar suara Jingga menangis akan beranjak dihentikan Bik Sum.
"Biar Bibik saja, Nak." Bik Sum langsung naik menuju kamar Senja.
Satya mengusap punggung tangan istrinya, kini Senja melanjutkan makannya. Bunda yang melihat anak menantunya kelaparan hanya tersenyum.
Mentari hanya menahan senyum, Senja itu tidak bisa jaga image di depan mertuanya itu, Mentari menyenggol kaki senja membuat wanita itu menatap ke depan dimana Ibunya duduk.
Senja menaikan kedua alis ya dengan mulut penuh makanan, tak lama wanita itu hanya tersenyum kaku melihat Ayah dan Bunda menertawakan dirinya.
Satya hanya cuek, bagiannya istrinya makan enak sudah, dan anaknya tidak rewel, Setelah selesai mereka duduk di ruang keluarga,
"Enggak sudah ada Ranga," jawab Satya sambil menggendong El yang kini berada di pangkuannya.
"Awas jatuh anak gue!" kata Yoga.
Satya hanya menatap mertuanya itu, Bunda hanya tersenyum saja. Sedangkan Senja kini duduk di dekat kaki suaminya beralaskan karpet.
"El, sini sama kakak," kata Senja mengambil alih adiknya dari tangan suaminya.
"Yang, jadi El panggil aku apa?" tanya Satya.
Yoga langsung tergelak, ia tidak habis pikir kepada suaminya anaknya itu, Ayah Nugraha ikut tertawa juga karena pertanyaan putranya.
"Ya panggil Abang Satya," jawab Senja sabil tidak berhenti mencium adiknya itu.
Satya hanya memutar bola matanya saat istrinya mengatakan panggil abang saja.
"Panggil om saja," usul Yoga.
Senja langsung menoleh menatap ayahnya, ia tidak terima kalau adiknya memanggil suaminya om.
__ADS_1
"Jangan dong ayah, kalau panggil om nanti El panggil Senja tante dong, enggak lucu!" tolak senja.
"Panggil Papa saja," kata Bunda.
"Boleh juga, biar panggil Mama juga ke Senja." senja tersenyum menaikan alisnya menggoda Ayahnya.
"Nanti kalau El tanya, punya kakak enggak gue jawab apa?" tanya Yoga.
"Ada ini masih hidup kakaknya," lata Senja.
Yoga hanya menatap putrinya itu, maksudnya bukan begitu. Namun berdebat dengan putranya ia tidak akan memang karena Senja pasti tidak mau kalah.
Satya tertawa melihat Yoga tidak berkutik saat berdebat dengan istrinya, Ayah Nugraha beranjak dari duduknya ya menuju ruang kerjanya ia akan mengecek saham perusahaannya dan beberapa laporan yang harus dikerjakan putranya itu.
Satya yang melihat Ayahnya masuk ruang kerja segera menyusulnya halo itu membuat yoga hanya tersenyum karena ingin tertawa sungkan kepada Bunda yang sedang membaca majalah.
Yoga beranjak dari duduknya, pria itu hampir lupa kalau istri ya minta di bantuin untuk memeriksa baju El. Saat masuk kamar ia tersenyum, dikira istrinya sedang paking ternyata ikut ketiduran.
Yoga naik keranjang, pria itu tidak lama ikut tidur disamping istrinya, tak lama ia pun terlelap.
****
Di kediaman Bunda Fifi, Diana yang sudah berangkat kuliah dari dua jam tadi membuat buktinya menjadi sepi. Bunda yang sedang duduk di meja kasih dikejutkan dengan kedatangan Ferdinand.
"Mas, kok enggak telepon dulu kalau mau datang?" tanya Fifi.
"Aku tahu kamu pasti ada," jawab Ferdinand.
"Fi, kamu sudah makan belum?" tanya Ferdi.
"Belum, nantilah mas masih kenyang," jawab Fifi sambil mengajak pria itu untuk duduk di samping butiknya ada kursi dan meja untuk bersantai karyawan jika istirahat.
"MAs belum makanan?" tanya Fifi.
"Belum rencana mau ajak makan bersama," kata Ferdi sambil tersenyum.
Fifi hanya diam, ia ingat tadi masak banyak dan berkata," Makannya disini aja ya."
"Dimana?" tanya Ferdi karena melihat tidak ada rumah makan di samping butik.
Fifi terkekeh melihat sikap Ferdinand yang bingung itu.
"Makan di atas, Mas!" kata Fifi.
__ADS_1
Bersambung ya