PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
panggil om


__ADS_3

Selama diperjalanan Senja hanya diam, tapi air matanya selalu menetes membasahi pipinya. Ia paling benci kalau selalu lemah di depan orang.


Satya sesekali melihat dari spion, istrinya  masih terisak  dan air mata itu tidak berhenti mengalir di pipi istrinya.


Mobil sampai di kediaman  Ayah Nugraha, Senja  turun dipapah oleh Bunda.


Ayah Nugraha  hanya bisa menarik  napas  dalam, iba akan menantunya itu. Dari kecil sampai akhir menikah dengan putranya  selalu memendamnya sendiri.


Sampai di ruang keluarga Mentari terkejut melihat bagaimana putrinya mata sudah memerah, ia memberikan  El kepada suaminya.


"Sayang ada apa," kata Mentari langsung memeluk  putrinya. Wanita itu tak kuasa  menahan sakit hatinya karena melihat Senja yang terlihat tidak baik-baik  saja.


Yoga matanya tak henti memperhatikan  sang putri  yang kini sedang duduk dan dipeluk oleh Mentari.


"Ada apa Sat?" tanya Yoga.


Satu menarik napas dalam, ia kemudian  menceritakan  apa yang terjadi kepada mertuanya  itu sedangkan Senja sudah berada di kamar bersama Mentari.


Mendengar  itu Yoga mengatakan kedua tangannya. Ia begitu muak kalau ada yang menyakiti  Senja.


Ayah Nugraha  melihat itu hanya tersenyum, ia tahu Yoga tidak akan sampai mendatangi istri dari Radit itu.


Satya yang melihat mertuanya  sudah keluar dari kamarnya langsung  beranjak  dari duduknya untuk melihat istrinya.


Perlahan dibukanya  pintu kamarnya, Senja yang baru siap mandi langsung menatap siapa yang masuk.


Satya tersenyum, ia memeluk  istrinya  dari belakang  hingga membuat handuk  yang melilit tubuhnya hampir  lepas.


"Mas!"seru Senja lirih takut kalau sampai Jingga terbangun  dari bobo siangnya.


"Jangan macam-macam, masih satu minggu lagi," ujar  Senja mengingatkan.


Satya hanya terkekeh, ia senang karena istrinya sudah tidak marah lagi, dilepasnya pelukannya setelah itu barulah Senja memakai bajunya. Satya membaringkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya.


"Mas, enggak bali ke Kantor?" tanya Senja.


"Enggak malas, yang," jawab Satya membuka matanya.


Senja hanya menggelengkan kepalanya, penyakit suaminya kalau sudah pulang malas untuk kembali ke kantor lagi.


"Mas, maafkan aku udah buat malu dikantor," kata Senja sambil menunduk.


"Kenapa aku senang kamu seperti tadi, sekali-kali Merry harus dibuat begitu," kata Satya.

__ADS_1


Senja cemberut mendengar jawaban suaminya itu, pria itu suka jika istrinya menjadi bar-bar.


Ia hanya tidak ingin ada orang ketiga dalam rumah tangganya. Senja bukan karena tidak percaya sama suaminya.


Tetapi ia hanya merasa kalau tante kurang bahan itu sengaja menggoda suaminya. Senja hanya menarik napas dalam jika ingat bagaimana sikap wanita tadi dadanya masih gemuruh buka karena cemburu tepi kekesalannya belum terlampiaskan.


Satya yang melihat istrinya melamun hanya menggeleng dan berkata, "Yang, makan yuk."


Senja hanya mengangguk karena ia juga merasa lapar karena tenaganya habis buat melayani bibit pelakor tadi.


Sampai di meja makan Satya dan Senja langsung bergabung, Yoga menatap putrinya yang sudah terlihat biasa aja, ia berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi nantinya.


Mereka makan dalam diam, hanya dentingan sendok yang terdengar. Senja saat mendengar suara Jingga menangis akan beranjak dihentikan  Bik Sum.


"Biar Bibik saja, Nak." Bik Sum langsung naik  menuju kamar Senja.


Satya mengusap punggung tangan istrinya, kini Senja melanjutkan makannya. Bunda yang melihat anak menantunya kelaparan hanya tersenyum.


Mentari hanya menahan senyum, Senja itu tidak bisa jaga image di depan mertuanya itu, Mentari menyenggol kaki senja membuat wanita itu menatap  ke depan dimana Ibunya duduk.


Senja menaikan kedua alis ya dengan mulut penuh makanan, tak lama wanita itu hanya tersenyum kaku melihat Ayah dan Bunda menertawakan dirinya.


Satya hanya cuek, bagiannya istrinya makan enak sudah, dan anaknya tidak rewel, Setelah selesai mereka duduk di ruang keluarga,


"Enggak sudah ada Ranga," jawab Satya sambil menggendong El yang kini berada di pangkuannya.


"Awas jatuh anak gue!" kata Yoga.


Satya hanya menatap mertuanya itu, Bunda hanya tersenyum saja. Sedangkan Senja kini duduk di dekat kaki suaminya beralaskan karpet.


"El, sini sama kakak," kata Senja mengambil alih adiknya dari tangan suaminya.


"Yang, jadi El panggil aku apa?" tanya Satya.


Yoga langsung tergelak, ia tidak habis pikir kepada suaminya anaknya itu, Ayah Nugraha ikut tertawa juga karena pertanyaan putranya.


"Ya panggil Abang Satya," jawab Senja sabil tidak berhenti mencium adiknya itu.


Satya hanya memutar bola matanya saat istrinya mengatakan panggil abang saja.


"Panggil om saja," usul Yoga.


Senja langsung menoleh menatap ayahnya, ia tidak terima kalau adiknya memanggil suaminya om.

__ADS_1


"Jangan dong ayah, kalau panggil om nanti El panggil Senja tante dong, enggak lucu!" tolak senja.


"Panggil Papa saja," kata Bunda.


"Boleh juga, biar panggil Mama juga ke Senja." senja tersenyum menaikan alisnya menggoda Ayahnya.


"Nanti kalau El tanya, punya kakak enggak gue jawab apa?" tanya Yoga.


"Ada ini masih hidup kakaknya," lata Senja.


Yoga hanya menatap putrinya itu, maksudnya bukan begitu. Namun berdebat dengan putranya ia tidak akan memang karena Senja pasti tidak mau kalah.


Satya tertawa melihat Yoga tidak berkutik saat berdebat dengan istrinya, Ayah  Nugraha beranjak  dari duduknya ya menuju ruang kerjanya ia akan mengecek saham perusahaannya dan beberapa laporan yang harus dikerjakan putranya itu.


Satya yang melihat Ayahnya masuk ruang kerja segera menyusulnya halo itu membuat yoga hanya tersenyum karena ingin tertawa sungkan kepada Bunda yang sedang membaca majalah.


Yoga beranjak dari duduknya, pria itu hampir lupa kalau istri ya minta di bantuin untuk memeriksa baju El. Saat masuk kamar ia tersenyum, dikira istrinya sedang paking ternyata ikut ketiduran.


Yoga naik keranjang, pria itu tidak lama ikut tidur disamping istrinya, tak lama ia pun terlelap.


****


Di kediaman Bunda Fifi, Diana yang sudah berangkat kuliah dari dua jam tadi membuat buktinya menjadi sepi. Bunda yang sedang duduk di meja kasih dikejutkan dengan kedatangan Ferdinand.


"Mas, kok enggak telepon dulu kalau mau datang?" tanya Fifi.


"Aku tahu kamu pasti ada," jawab Ferdinand.


"Fi, kamu sudah makan belum?" tanya Ferdi.


"Belum, nantilah mas masih kenyang," jawab Fifi sambil mengajak pria itu untuk duduk di samping butiknya ada kursi dan meja untuk bersantai karyawan jika istirahat.


"MAs belum makanan?" tanya Fifi.


"Belum rencana mau ajak makan bersama," kata Ferdi sambil tersenyum.


Fifi hanya diam, ia ingat tadi masak banyak dan berkata," Makannya disini aja ya."


"Dimana?" tanya Ferdi karena melihat tidak ada rumah makan di samping butik.


Fifi terkekeh melihat sikap Ferdinand  yang bingung itu.


"Makan di atas, Mas!" kata Fifi.

__ADS_1


Bersambung ya


__ADS_2