
Matahari sudah mulai tenggelam, tandanya hari sebentar lagi gelap. Senja berlahan mendekat ke jendela menatap langit berwarna orange bercampur abu-abu.
"Mmy," panggil Satya saat melihat istrinya sedang menatap langit yang mulai berwarna gelap pertanda senja akan pergi.
"Kenapa Bby tidak membangunkan Mmy!" kata Senja sambil memeluk Satya.
"Maaf, Bby tahu istriku ini sangat lelah dan butuh istirahat untuk olahraga malam nanti," goda Satya sambil mendaratkan kecupan di benda kenyal berwarna merah muda Istrinya.
Senja tersipu malu atas perlakuan suaminya, merasa bersyukur dijodohkan dengan lelaki yang lebih dewasa dari dirinya. Satya Nugraha lelaki cinta pertama dan Insyaallah akan menjadi cinta terakhirnya.
"Apa yang kamu fikirkan sayang," ucap Satya membawa istrinya untuk duduk disofa.
"Mmy lupa belum telepon Ibu dan Ayah," elak Senja.
"Kamu ini, selalu lupa," ujar Satya sambil menoel hidung Istrinya.
"Bagaimana mau ingat, sampai rumah langsung di angkat kekamar mandi!" kata Senja sambil memeluk suaminya gemes.
Satya membalas pelukan Istrinya, dia merasa sangat bahagia. walau kadang ada rasa takut untuk kehilangan Senja, karena perbedaan umur yang sangat jauh.
"Bby besok Mmy kuliah pagi," ujar Senja
"Ia, besok sebelum kekantor Bby antar Mmy dulu," jawab Satya.
"Apa boleh Mmy pulangnya tidak usah di jemput!" kata Senja sambil menoleh ke Suaminya.
Satya terdiam menghentikan aktivitasnya yang sedang mengetik dilektop, Satya menatap mata Senja dengan intens.
"Apa Mmy besok ada keperluan lain?" tanya Satya.
"Tidak, Mmy hanya ingin naik bus," jawab Senja
Satya menarik nafas panjang, haruskah dirinya melarang Istrinya untuk bebas seperti gadis lain yang masih lajang. Senja masih menatap suaminya untuk minta persetujuan, tapi Satya tidak menjawab hanya melihat wajahnya saja.
"Apa kamu malu, kalau yang menjemput lelaki tua sepertiku!" kata Satya.
"Bby...., bukan itu maksud Mmy," ucap Senja
"Lalu apa?" tanya Satya tanpa melihat istrinya.
"Mmy hanya ingin bebas seperti teman kuliah yang lain," kata Senja pelan.
Deg...
Deg...
Satya merasa dadanya sesak saat mendengar ucapan Istrinya, yang menginginkan kebebasan darinya.
"Lakukan apa yang kau mau!" kata Satya dingin kemudian melangkah pergi dari kamar.
__ADS_1
Senja bingung, apa yang salah dari ucapan. Senja segera kekamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu menjalankan sholat Maghrib.
Senja melihat sekeliling suaminya belum juga masuk kamar, apa dia tidak sholat, batin Senja.
Karna waktu magrib sudah mau habis, senja segera mengambil sajadah dan mukenah untuk sholat Maghrib. Setelah selesai sholat gadis kecil itu segera keluar kamar untuk mencari Suaminya.
"Bik Ida," panggil Senja.
"Ia Non, apa Non butuh sesuatu," ucap bik Ida.
"Ah....tidak Bik, Bby kemana ya Bik?" tanya Senja yang melihat ruang keluarga sepi.
Bik Ida mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nonanya, apa majikannya tadi pergi tidak bilang ke Istrinya, batin bik Ida.
"Ada apa?" kata bik sum yang baru datang dari luar.
"Bik Sum lihat Bby enggak?" tanya Senja yang begitu Khawatir karena di ruang kerja suaminya juga tidak ada.
Bik sum hanya bisa menarik nafas panjang, melihat Nonanya yang sepertinya tidak menyadari kepergian suaminya. bik Sum membelai rambut panjang Nonanya dengan lembut.
"Apa tadi kalian bertengkar?" tanya bik Sum.
"Tidak," jawab Senja.
"Apa yang terakhir kalian bicarakan?" cecar bik Sum kepada anak Majikannya.
Bik Sum memijat keningnya, wajar Satya pergi dari rumah tadi dengan membawa barang-barangnya sebagian.
"Apa dengan Nona mendapatkan kebebasan itu, Nona akan bahagia?" tanya bik Sum.
Senja tidak menjawab, tapi menganggukkan kepalanya, tandanya dia menginginkan kebebasan itu. Tanpa Senja sadari secara tidak langsung menginginkan perpisahannya dengan Satya.
Bik Sum berdiri meninggalkan Nonanya sendirian di ruang tengah, Senja melihat jam sudah mau jam 8 malam. Namun, sampai sekarang suaminya belum pulang.
"Nona, apa Nona mau makan sekarang," tawar bik Ida.
"Senja tunggu Bby, Bik." jawab Senja yang terlihat resah.
Bik Sum datang menghampiri Senja sambil menyerahkan piring berisi makanan.
"Makanlah Non, jangan sampai sakit setelah mendapatkan kebebasan yang Non inginkan," ucap bik Sum.
"Maksudnya Bibik apa?" tanya Senja sambil berdiri.
"Bukankah Non ingin seperti anak kuliah lainnya, yang bebas kemanapun Non mau!" kata bik Sum sambil menangis.
Bik Ida yang melihat bik Sum menangis langsung memeluknya, untuk tidak menceritakan kemana Satya pergi.
Senja mencerna apa yang di ucapkan bik Sum padanya, dia juga mengingat jawaban suaminya sebelum pergi meninggalkan kamar tadi. Tubuh Senja terkulai di lantai sambil menangis, meretuki kata-katanya tadi yang meminta kebebasan pada suaminya.
__ADS_1
"Bik kemana Bby pergi? katakan Bik?" ucap Senja.
"Ke Bandara," jawab bik Ida sambil terisak.
Senja segera berlari keluar, yang ada di garasi hanya mobil dan montor sport Satya. Senja segera memakai jakat hoodie dan helem langsung menyetater motor sport yang berwarna hitam.
Dengan kecepatan tinggi Senja mengendarai motor sportnya, bik Sum dan bik Ida segera menghubungi Satya, tapi sayang nomer Satya sudah tidak aktif. Kedua wanita paruh baya itu hanya bisa berdoa untuk keselamatan Senja, apalagi melihat cara Nonanya mengendarai motor tadi rasanya jantungnya seperti mau copot.
...💗💗💗💗...
Pak Yanto hanya diam sambil mengemudikan mobilnya, tidak berani bertanya kemajikannya. Entah kenapa tiba-tiba Satya ingin ke Amerika tempat sepupunya Jimy. Mobil yang di kendarai pak Yanto berhenti karena lampu merah.
Satya masih setia dengan memejamkan matanya sambil bersandar di jog mobil belakang, Satya membuka matanya melihat sekeliling dadanya masih terasa sesak bila ingat ucapan Istrinya tadi.
"Pak buka jendelanya," kata Satya sambil mengeluarkan uang saat melihat anak kecil yang mengelep kaca mobilnya.
"Baik Den," ucap Pak Yanto.
"Dek ini untukmu, pulanglah," kata Satya.
"Om... banyak sekali," kata anak kecil itu kegirangan sambil mengucapkan terimakasih beberapa kali ke Satya.
Saat Satya akan menutup kaca jendela mobilnya, terdengar suara motor sporty yang melaju menerobos lampu merah, membuat pengendara lain mengumpat.
"Astagfirullah," kata pak Yanto saat mnegenali motor yang melaju tadi.
"Ada apa Pak?" tanya Satya, tapi pak Yanto tidak menjawab pertanyaan majikannya melainkan mengakat telpon dari bik Ida.
"Den motor yang melaju tadi itu....," ucap pak Yanto terpotong karena lampu sudah hijau.
"Motor apa Pak?" tanya Satya.
"Itu tadi Nona Senja yang mengendarai Den," jawab pak Yanto.
"Apa? pinggirin mobilnya pak!" ucap Satya dingin
Setelah pak Yanto turun, Satya segera duduk di belakang kemudi.
"Pak masuk," ucap Satya.
Setelah pak Yanto duduk disampingnya, Satya segera menghidupkan hubungan GPS yang ada di mobilnya untuk melacak posisi Istrinya. Satya tersenyum tipis saat sudah mengetahui posisi istri kecilnya.
"Kita lihat sampai mana kebebasan yang kamu inginkan Mmy," ucap Satya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh melewati jalan pintas yang sepi.
Pak Yanto baru pertama kali naik mobil seperti terbang, ternyata majikannya memacu adrenalin dengan begitu mulus, dari jauh sudah terlihat motor yang di kendarai Senja.
Bersambung besok lagi ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏🙏🙏
__ADS_1