
Acara makan malam masih berlangsung, kini mereka makan dengan hening. Namun, dari tadi Satya merasa ada yang memperhatikan dirinya.
Tetapi ia tidak mengambil pusing, suami Senja itu hanya cuek saja. Papa Wijaya tersenyum saat melihat Satya hanya cuek saat ia menatapnya.
Makan malam sudah usai, kini mereka hanya mengobrol santai.
"Nak Satya," panggil papa Wijaya.
"Iya Om," jawabnya.
"Bisa kita bicara sebentar, Nak," ucapnya sambil tersenyum.
Satya memandang Ayah dan Bundanya, melihat kedua orang tuanya mengangguk Satya kemudian berdiri mengikuti Om Wijaya.
Kini keduanya berdiri di taman belakang restauran milik keluarga Nugraha, Satya menatap wajah lelaki paruh baya yang kini terlihat murung.
"Maaf, ada apa ya Om?" tanya Satya.
"Om minta maaf dan terimakasih karena kamu tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi antar Mery dan Radit," ujarnya sambil menatap kosong kedepan.
Satya terdiam, ia juga begitu terkejut mendengar permintaan maaf dari Orang tua Radit. Seharusnya anaknya yang meminta maaf bukannya Om Wijaya, batin Satya.
"Itu hanya masalalu, Om," jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Iya, Om tahu," katanya sambil menatap wajah pewaris dari grup Nugraha itu.
"Sekarang yang penting Radit sudah bertanggung jawab dengan Mery," kata Satya.
Kini keduanya saling berpelukan, tanpa mereka sadari Ayah Nugraha tersenyum melihat anaknya begitu bijak saat rekan kerjanya meminta maaf atas masalalu yang membuat putranya begitu terpuruk.
Bagi Ayah Nugraha yang terpenting sekarang Satya sudah bahagia dengan istrinya, hanya itu yang ia inginkan di masa tuanya bisa menimang cucu sebentar lagi.
"Ya sudah ayo kita masuk," ajak Ayah Nugraha yang kini ada di samping putranya.
"Anakmu sudah dewasa, enggak perlu kau ikuti!" kata Papa Wijaya sambil tersenyum menatap sahabatnya itu.
Kini ketiganya segera pergi meninggalkan taman menuju tempat berkumpul tadi, satu persatu mulai meninggalkan restoran.
Begitu juga dengan Satya dan istrinya, Ranga yang melihat atasannya juga pamit ia juga ikut sambil tersenyum menatap Diana yang terlihat lelah.
"Maaf sudah membuatmu lelah," bisik Ranga.
Diana hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya itu, kini mereka sudah ada di dalam mobil.
"Bos.....tumben Papanya Radit ajak lo ngomong berdua saja?" tanya Ranga.
__ADS_1
Satya hanya tersenyum,ia malas membahas masalalunya yang membuatnya sampai harus membangun tembok yang tinggi untuk membatasi dengan namanya seorang wanita.
Hingga kini ditemukan dengan wanita pilihan dari kedua orang tuanya, mungkin itulah takdir yang membawanya berpisah dengan Mery.
Selama di perjalanan Senja hanya diam begitu juga dengan Diana sepertinya keduanya terlihat lelah, tak lama mereka sampai di depan rumah Satya.
Ranga langsung permisi untuk mengantarkan Diana pulang, sedangkan Senja dan Satya masuk rumah yang telah di bukakan pintu oleh bik Sum.
"Bik kami langsung istirahat ya," kata Senja saat melewati wanita paruh baya itu.
Bik Sum hanya tersenyum menanggapi ucapan majikannya, sesampainya keduanya di kamar Senja lebih dulu masuk kamar mandi.
Satya yang sedang duduk di sofa kamarnya memainkan ponselnya sambil menunggu istrinya membersihkan diri.
Setelah lima belas menit Senja segera keluar dari kamar mandi, kemudian Satya buru-buru masuk kamar mandi. Senja yang begitu lelah segera menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Satya setelah selesai membersihkan diri Ia melihat istrinya sudah terlelap di tempat tidur, pria tampan itu hanya tersenyum melihat istrinya udah terlelap
Setelah mengganti pakaiannya Satya segera menuju ruang kerjanya, karena ada berapa laporan yang belum dia kerjakan untuk persiapan meeting besok.
Satya memijat pelipisnya yang merasa pusing, dilihatnya Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.
Satya segera mematikan laptopnya kemudian ia mengemas berkas yang ada di atas mejanya, karena sudah merasa sangat lelah suami Senja itu menuju ke kamar kemudian ia berbaring disampingnya istrinya.
******
Suara Azan subuh berkumandang, seynja terbangun kemudian ia segera membersihkan diri ia segera menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, melihat suami yang masih tidur lelap Senja buru-buru membangunkannya untuk segera sholat subuh, setelah itu ia keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Sampai di dapur Senja melihat ada bik Sum dan bik Ida, senja langsung menodongkan tangannya di leher bik Sum.
"Dorrrrrr," katanya bik Sum yang dasarnya latah merasa terkejut langsung teriak, "copot....copot... copot," teriaknya.
Senja dan bik ida langsung tertawa terbahak-bahak melihat bik sum yang tergeletak di lantai.
Satya yang mendengarkan keributan di lantai bawah segera turun melihat apa yang terjadi, tapi saat sampai bawah melihat istrinya sedang tertawa sambil terduduk di lantai dengan bik Sum mengomel di depannya.
Satya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya, ia sangat yakin kalau Senja lagi-lagi membuat bik Sum kaget hingga memancing keributan di pagi hari.
Bik Sum kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memotong sayur sedangkan Senja duduk di depannya ikut membantu memotong sayur yang akan dimasak untuk pagi ini.
Bik Sum yang sedang serius lagi-lagi berterik, saat tanpa sengaja Senja menjatuhkan Pisau.
Senja hanya mengulum senyumnya, Satya yang duduk di ruang keluarga hanya tersenyum menanggapi tingkah usil istrinya.
"Non udah," kata bik sum.
__ADS_1
"Udha apanya sih, Bik," godanya sambil terkekeh.
"Non, lebih baik buatkan suaminya teh hangat," saran bik Sum.
"A.....siap bibiku sayang," katanya langsung berdiri untuk membuat teh hijau untuk suaminya.
Saat Senja melalu bik Sum Senja berhenti sejenak, tapi kemudian ia segera berjalan menuju ruang keluarga.
"Bby....ini tehnya," kata Senja sambil meletakkan teh hijau di depan suaminya.
"Terimakasih sayang,"ucapnya.
"Janga suka usil sama bik Sum," kata Satya sambil tersenyum.
"Heheeh..maaf ya," katanya sambil tersenyum kecil.
Satya hanya mengangguk, tak lama keduanya di kejutkan dengan dua artnya yang berlari menuju pintu keluar.
"Ada apa?"tanya Satya.
"Jangan-jangan kebakaran, Bby," kata Senja.
satya langsung menuju ke dapur untuk mematikan kompor yang di tinggalkan oleh artnya.
Tak lama terdengar bik Sum dan bik Ida ribut sambil masuk rumah.
"Bik....kenapa lari-lari?" tanya Satya.
"Itu....itu...Den, tadi tiba-tiba Ida lari saya terkejut jadi ikut lari," jawabnya sambil menunduk.
Senja langsung tertawa terbahak-bahak mendengar cerita bik Sum, ia tak habis pikir melihat kedua orang paruh baya yang kini menunduk di depan suaminya sambil berdiri.
"Ya... sudah lanjutkan masaknya.
"Udah tertawanya, Mmy!" kata Satya.
Senja hanya mengangguk sambil menutup mulutnya, Satya hanya terkekeh melihat istrinya yang belum berhenti menertawakan bik Sum.
"Yang, hari ini ada kuliah pagi?" tanya Satya.
"Iya Bby," jawabnya sambil mengusap air matanya.
"Bby mau ke kampus ikut rapat," ucapnya,
Senja hanya mengangguk, tapi ia ingin sekali bertanya apa killer ada menceritakan kisah cintanya dengan Sari?
__ADS_1