PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
rumah tangga bahagia


__ADS_3

"Mas nggak mau, tahu gitu kemari di jahit  sampai tidak ada lobang lagi!" kata Senja kesal dan langsung membalikan tubuhnya untuk menuju lemari.


"Aku mau," kata Satya sambil memeluk tubuh istrinya.


Senja hanya tersenyum, sebesar apa pun jika suaminya marah, pasti ia bisa membuatnya takluk kalau sudah masalah olahraga.


Satya langsung mengambil haknya, selama puasa  empat puluh hari. Pria itu begitu lembut melakukan kepada istrinya.


Tanpa terasa keduanya sudah sampai puncak, keringat membasahi tubuh polos keduanya, Senja yang merasa lelah hanya bisa pasrah saat suaminya akan memulainya lagi. Namun, hal itu terhenti saat Jingga sudah menangis.


Satya hanya bisa mendengus, karena masih menginginkannya. Senja terkekeh melihat suaminya yang tidak mau kalah dengan anaknya itu.


Senja dengan cepat masuk kamar mandi, wanita itu dengan cepat  menyelesaikan ritualnya, Sedangkan  tangis Jingga kian kencang, Satya yang merasa tubuhnya berkeringat hanya memakai bokser bingung karena ia belum mandi.


Bunda tanpa mengetuk pintu langsung masuk kamar dengan suaminya, Mata wanita itu melebar saat melihat Satya yang panik.


Bunda dengan cepat mengambil cucunya yang sudah menangis kejer, dan berkata."Kamu itu kalau anak nangis bukan panik, tapi didiamkan."


Satya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ayah Nugraha melihat ranjang yang begitu berantakan dan baju yang berserakan di lantai  kini mengerti, ia tersenyum menatap putranya dan memeluk bahu istrinya untuk keluar kamar.


Bunda yang masih kesal kepada Satya masih ingin memarahi anaknya itu, Tapi Ayah Nugraha langsung menariknya untuk keluar dan berkata ke arah Satya."Lanjutkan."


Bunda menatap datar karana suami dan putranya, melihat itu Satya langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.


Pria itu mengetuk kamar mandi, pintu terbuka dan langsung didorong istrinya, Senja yang bingung hanya menatap suaminya itu.


"Mas, Jingga nangis!" Senja mencoba menahan suaminya uang kini sudah membuka handuk yang melilit di tubuhnya.


"Sudah diambil Bunda," kata Satya dengan suara paruhnya.


Senja hanya bisa pasrah, suaminya itu sudah tidak bisa dicegah lagi, setelah satu jam lebih keduanya keluar dari kamar mandi.


Senja tidak menyangka , kalau akan merasakan sakit, hampir sama saat malam pertama itu, wanita itu merasakan intinya masih berdenyut dan perih.


"Yang, makasih ya," kata Satya.

__ADS_1


Senja hanya menatap suaminya dengan tatapan kesal karena sudah membuatnya malu, ia malu karena anaknya kini sama mertuanya.


"Mas, aku malu sama Bunda," kata Senja sambil cemberut.


"Malu kenapa?" tanya Satya merasa heran sama istrinya.


Senja semakin kesal dibuat oleh suaminya itu, tak lama terdengar suara tangisan Jingga yang kian dekat ke kamarnya.


Senja membuka pintu, dilihatnya wajah Bunda tersenyum dan memberikan cucunya kepada menantunya itu untuk disusui. Namun, saat melihat Satya wanita itu menatap tajam.


Satya hanya terkekeh ia menatap sang istri yang wajahnya sudah memerah karena ulahnya tadi. Senja hanya diam dan langsung menyusui anaknya.


"Jingga jangan habiskan, malam nanti Papa masih mau." kata Satya sambil mengganggu anaknya yang sedang menyusu itu.


"Mas!" kata Senja kesal karena merasa kasihan karena anaknya diganggu saat sedang lapar.


Satya akhirnya mengalah dan keluar dari kamarnya, saat sampai ruang keluarga ia menatap Diah yang sedang menyapu dan bertanya." Bik sum, Bund mana?"


"Di taman belakang, Mas." Bik Sum menjawab sambil mengusap dadanya karena kaget.


Bunda yang melihat anaknya datang hanya mendengus saja, ia masih kesal karena Jingga menangis bukannya di gendong.


"Sudah siap?" tanya Ayah sambil menggoda putranya.


Satya hanya tersenyum,, pria itu menatap wanita yang  terlihat kesal keadaanya, Dipeluknya Bundanya dan meminta maaf. Ada rasa bersalah dalam hati Satya saat melihat Jingga menangis tadi.


Namun, saat seperti tadi ia tidak ingin menggendong anaknya karena merasa tubuhnya kotor. Sedangkan istrinya saja memilih mandi dulu.


"Sudahlah Bun, doakan cucuk kita tambah lagi," ujar Ayah Nugraha.


"Amin," jawab Satya cepat.


"Huff, kalian pikir melahirkan  itu mudah!" kata Bunda kesal menatap pria yang berbeda usia itu bergantian.


Ayah Nugraha hanya tersenyum, ia ingat bagaimana istrinya saat melahirkan Satya dulu. Mau nangis ditahan karena malu ada Mamanya, tapi enggak nangis rasanya sakit, itu dulu yang dikatakan istrinya.

__ADS_1


"Tunggu dua tahun dulu baru tambah adik, apalagi Senja masih mau kuliah lagi," ujar Bunda.


"Kalau hamil masih bisa kuliah, Bun," kata Satya.


"Iya ujungnya cuti lagi, apa enggak kasihan dengan Senja," ujar Bunda.


Satya hanya mengangguk, ia ingat paling tidak menunggu Jingga umur lima tahun baru memiliki adik lagi, dan sang istri lulus kuliah.


Benar kata istrinya, karena menikah dengan Satya, Senja menjadi kehilangan masa depan dan cita-citanya. semua itu tidak akan terjadi jika Mentari tidak kabur, Tapi semua yang terjadi membuat Sang putra menjadi pribadi yang hangat sekarang.


Setiap kejadian itu menurut Saya ada hikmahnya, saat ia harus perpisahan dengan Merry karena akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Walau awalnya ia kurang menyetujui pernikahan dengan Senja. Namun, seiringnya berjalannya waktu ia mampu menerima dan Senja juga tidak mempermasalahkan perbedaan umur keduanya yang terpaut jauh itu.


Rasa itu kini kian menjadi saling mencintai dan membutuhkan, Ia membutuhkan istrinya dan sebaliknya  Senja membutuhkan dirinya. Apalagi sekarang ada Jingga yang semakin membuatnya dan keluarga besarnya bahagia.


Satya beranjak dari duduknya dan pamit  kepada kedua orang tuanya untuk masuk lebih dulu karena ia baru ingat belum makan siang. Namun, saat sampai dapur dilihatnya istrinya sedang membuat susu untuk ibu menyusui.


"Mas, sudah makan?" tanya Senja.


"Belum, lapar yang." Satya langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Kalian ini, kalau mau mesra-mesraan di kamar sana!" kata Bunda sambil menatap tajam Satya dan istrinya.


Senja wajahnya sudah memerah, wanita itu begitu malu hari ini, Bunda langsung masuk dalam kamarnya lama-alam ia bisa darah tinggi melihat Satya yang makin hari semakin posesif dan main peluk di mana saja.


Ayah Nugraha saat membuka kamarnya tersenyum melihat istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu itu.


"Pikirkan apa lagi, Hem?" tanya Ayah Nugraha.


"Tidak ada, kapan Ranga akan pindah rumah barunya?" tanya Bunda.


Ayah Nugraha tau kalau istrinya itu merasa sedih karena rumahnya akan kembali sepi saat Satya dan rangga akan kembali ke rumahnya masing-masing nanti.


Ia juga berharap Satya mau tinggal bersamanya saja, tepi apa anak itu mau itu yang sekarang menjadi masalahnya.


"Bunda, kalau kita Bujuk Satya untuk tinggal di sini saja bagaimana?" tanya Ayah Nugraha.

__ADS_1


bersambung ya.


__ADS_2