
Ayah Nugraha yang sedari tadi diam menggendong cucunya akhirnya keluar dan berkata."Tenangkan hatimu, Nak."
"Yah, wanita itu hampir membunuh anak Ranga, cucu Ayah," kata Ranga.
"Ayah tahu, Nak. Coba lihat Diana baik-baik saja." Ayah Nugraha mengusap bahu putranya supaya tenang.
"Maafkan putri saya, Nak." Ajeng kembali berlutut di depan kaki Ranga.
"Ajeng hentikan!" Suara yang tidak asing itu menggema begitu saja di kediaman keluarga Nugraha.
Semua begitu terkejut karena Ayah Nugraha berteriak. Pria itu menghampiri Ajeng yang sebelumnya memberikan Jingga kepada Senja.
"Mas," kata Ajeng saat Nugraha membantunya berdiri.
"Sasa kamu lihat wanita ini begitu gigih untuk meminta maaf atas apa yang kamu lakukan." Nugraha menatap Sasa yang masih terduduk di lantai karena di dorang Ranga saat mendekati Diana.
"Mas, aku mohon jangan katakan apa-apa kepadanya!"pinta Ajeng.
"Mau sampai kapan, Sasa sudah besar saatnya ia tahu, Ajeng," kata Ayah Nugraha.
"Aku belum siap," kata Ajeng dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Satya yang dari tadi diam, kini ikut bicara." Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Sasa, apa kamu tahu wanita di depanmu ini rela bercerai dengan suaminya karena ingin melindungimu, kamu membenci Papamu sekarang." Ayah Nugraha menarik napas dalam.
Sasa menatap Mamanya, gadis itu tidak mengerti apa maksudnya yang dikatakan oleh Mertuanya Senja itu.
"Sasa maafkan Mama, kamu sebenarnya bukan anak kandung Mama, Nak, tapi kamu segalanya buat Mama," kata Ajeng terisak.
Tubuh Sasa menegang, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, rasanya tidak percaya.
"Mama, bohong'kan?" tanya Sasa.
"Tidak Nak, waktu itu Mama menemukanmu di tempat pembuangan sampah tidak jauh dari kafe.
Semua yang berada di tempat itu terkejut, Sasa yang begitu sempurna cantik dan anak seorang pengusaha ternyata ia anak yang ditemukan di tempat pembuangan sampah.
"Nggak mungkin," tangis Sasa pecah yang langsung dipeluk Bunda.
"Yang Sabar sayang," kata Bunda.
"Jadi siapa orang tuaku Mam?" tanya Sasa.
"Mama sudah mencarinya, tapi tidak ada, Nak." Ajeng menatap sang putri.
"Pantesan Papa mengusir waktu itu karena aku bukan anaknya," kata Sasa dengan senyum sinisnya.
"Kamu tetap anak, Mama," kata Ajeng.
Sasa hanya diam, ia ingat bagaimana dulu suka mengganggu Senja karena Ayahnya tidak pernah ada jika ada acara sekolah.
__ADS_1
Ditatapnya Senja yang hanya diam, gadis itu kini merasakan kalau ia tidak memiliki orang tua kandung. Rasa malu akhirnya Sasa beranjak dari langsung lari keluar rumah.
"Sasa," panggil Ajeng ikut mengejar putrinya.
"Sasa, berhenti, Nak!" teriak Ajeng saat melihat anaknya akan menyebrang.
Semua ikut keluar untuk mengejar Sasa, hingga sebuah truk besar sudah beberapa kali membunyikan klakson. Sasa seakan dirinya tidak mendengar apa-apa lagi.
"Sasa, awas, Nak!" teriakan Ajeng bersamaan tubuh ramping Sasa terpental karena benturan keras dari truk besar itu yang menabraknya.
Kejadian itu begitu singkat, Ajeng lari mengejar tubuh putrinya. Tangisnya pecah saat melihat kepala putrinya mengeluarkan darah segar.
"Tidak!" teriak Ajeng histeris saat ia mengangkat kepala anaknya tangannya ada benda berwarna putih.
"Tidak, ini tidak mungkin, Sasa anak Mama," Ajeng terlihat begitu hancur.
Polisi dan ambulan datang bersamaan, tubuh Senja menegang saat tubuh Sasa di angkat ada yang jatuh dan dipastikan itu otak sasa. Wanita itu menutup mulutnya tidak percaya jika Sasa meninggal di tempat.
Satya melihat Istrinya shock langsung memeluk dan membawa pulang, kecelakaan terjadi berjarak satu kilometer dari kediaman Ayah Nugraha.
"Ayah dan Bunda harus dampingi Tante Ajeng," pamitnya kepada anak- anaknya.
Diana yang begitu bingung dengan apa yang terjadi, sedangkan Senja dibawa naik ke atas oleh suaminya.
"Mas apa yang terjadi?" tanya Diana penasaran karena semua terlihat begitu ada sesuatu yang disembunyikan.
Ranga hanya menggelengkan kepala, pria itu tersenyum tipis. Diana yang tidak mendapat info apa-apa merasa bingung, satu jam kemudian ia melihat banyak pemberitahuan pesan dari grup kampus.
Tubuh Diana bergetar karena menahan tangis, air matanya menganaksungai. Dulu ia pernah dekat. Namun, kini kebersamaannya dengan Sasa meninggalkan luka yang mendalam bagi Diana.
Ranga menghampiri istrinya diambilnya ponsel dan membaca pesan di grup
"Mas, Sasa," tangis Diana pecah.
"Kita hanya bisa mendoakan," kata Ranga berharap istrinya baik-baik saja.
Sore ini juga jenazah Sasa dimakamkan. Walaupun Sasa tipe anak yang sombong, tapi banyak teman-teman kampus ikut mengantarkan Sasa ke peristirahatan yang terakhir.
Diah dan Yeni satu geng dengan Sasa menangis saat menaburkan bunga di pusara sahabatnya itu.
Kini semua pulang begitu juga dengan Satya dan Senja. Sari dan Ibnu singgah ke rumah Satya untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Senja yang tahu bagaimana cerita awalnya menceritakan hingga baru tahu jika Sasa anak yang ditemukan di pembuangan sampah.
"Kenapa ada orang tua yang meninggalkan anaknya di pembuangan sampah," kata Sari sambil menghela napas dalam.
Ibnu mengusap tangan istrinya. Ia juga tidak menyangka jika salah satu mahasiswa yang begitu dikenal oleh kalangan dosen dan mahasiswa lainnya harus berakhir dengan menyedihkan.
Ibnu ingat betul, saat ia bertemu pertama kalinya dengan Sasa. Namun, saat itu ia begitu dingin kepada wanita.
"Sasa itu seperti itu karena kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya," sahut Bunda yang baru bergabung.
"Kok bisa Bun?" tanya Senja.
__ADS_1
"Dulu awalnya Bunda yang mau asuh, tapi karena sudah ada Rania jadinya Sasa di asuh oleh Ajeng," ujar Bunda.
"Dulu Bunda senang waktu memberikan nama Sasa kepadanya," kata Bunda lirih.
Ayah Nugraha tersenyum, ia juga ingat Sasa adalah nama yang akan diberikan untuk adik Satya. Namun, sayang Belum sampai hari lahirnya sudah lebih dulu harus kehilangan. Hingga sang istri harus diangkat rahimnya.
"Sekarang kita sudah ada Jingga," ujar Ayah Nugraha,
"Sebentar lagi akan ada adiknya Jingga juga, Yah." Satya mengedipkan matanya kepada sang istri.
Senja hanya menggelengkan kepalanya saja, suaminya itu kalau sudah kambuh mesumnya amit-amit.
"Ingat anak lo masih kecil." kata Arga.
"Biar sekalian capek," sahut Ranga.
Bunda dan Ayah Nugraha hanya tertawa, karena anak bungsunya itu sudah pandai dan lebih tidaknya akan tahu proses merawat anak.
"Arga, Suci, Semoga segera menyusul," kata Ayah Nugraha.
"Amin, "jawab semua kompak.
Senja hanya diam sedari tadi, ia masih tidak percaya jika Sasa akan pergi secepat itu. Selama ini ia tidak ada rasa marah dan dendam kepada Sasa. Namun, ini masih rasa bagai mimpi.
Dari awal Sasa yang suka mengatakan dirinya tidak ada Ayah, dari dulu Bik Sum jika ada apa-apa di sekolah. Sampai ikut kemping atau kegiatan lainnya wanita itu yang menjaganya.
Senja merasakan dadanya sesak, ia berharap anak-anaknya kelak tidak mengalami apa yang dulu ia rasakan.
Satya yang melihat istrinya hanya bengong akhirnya menghampirinya dan berkata."Mikirin apa?"
"Mas, ini seperti mimpi," kata Senja.
"Kita doakan saja," ujar Satya.
Senja hanya mengangguk, ia ingat Diah dan Yeni juga begitu kehilangan Sasa, Satya mengusap kepala istrinya dan berkata."Yang, Pengen."
"Astagfirullah, Mas!" seru Senja langsung memukul suaminya pakai bantal sofa.
"Kalian ini kenapa?" tanya Arga yang sedang fokus melihat laporan dari Afkar.
"Mesum!" umpat Senja kepada suaminya.
Suci mendengar umpatan Senja matanya membola, ia tidak menyangka Satya dan istrinya saling ledek dan umpat. Namun, dilihatnya pria dingin itu tidak marah dan hanya tersenyum melihat sang istri kesal.
Arga yang melihat istrinya menatap Senja dan Satya yang seperti anak kecil saling usil itu hanya tersenyum. Pria itu tidak bisa membayangkan jika Merry masih menjadi istri Satya akan seperti apa rumah tangganya. selama menikah dengan Senja pewaris Nugraha itu sudah tidak sedingin dulu.
"Mas, apa setiap hari mereka seperti itu?" tanya Suci.
"Iya, mereka saling usil jika tidak Satya ya Senja duluan," ujar Arga.
Suci tersenyum, ia kini mengerti setiap rumah tangga itu memiliki hal unik untuk membuat rumah tangganya seakan terus berwarna.
__ADS_1
Bersambung ya...