PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
kebenaran mulai terungkap


__ADS_3

Senja menatap tajam pria itu dan membentak."Turun atau tembak alat vital Anda."


Pria itu turun, sedangkan Senja langsung berpindah di belakang kemudi dan mematikan ponselnya karena ia kana menyelesaikannya sendiri dan berkata."Ilham aku kembali."


Senja melajukan kecepatan mobilnya. Wanita itu bisa melihat jika motor yang dikemudikan oleh Yogi.


Senja ingat ini arah bukit di mana ia dan Ilham sering berlatih. Melihat Yogi turun dari motor, Senja keluar dari mobilnya dengan santai. Namun, selalu waspada akan kemungkinan yang terjadi.


Keduanya berdiri dengan jarak tidak terlalu dekat. Yogi membalikan badannya kini ia menghadap ke arah Senja. 


"Kamu tahu aku sekarang sudah buronan," kata Yogi.


"Apa itu karena perbuatanmu?"tanya  Senja balik.


Yogi hanya tersenyum tipis, pria itu duduk menatap pohon-pohon yang rindang dan berkata."Duduklah Senja."


Senja duduk, tapi agak jauh dari Yogi. Keduanya hanya diam, tidak lama Yogi bertanya."Apa kabar?" 


Senja menatap pria itu datar, tapi suara itu begitu tidak asing, air mata Senja sudah membasahi kedua pipinya tatapan keduanya beradu kedua netra pekat itu seakan mengatakan rasa Rindu yang sudah berapa tahun ia tidak bertemu.


"Tidak mungkin." kata Senja lirih sambil berlutut di atas rumput.


"Apa kode itu masih tidak membuatmu percaya?" tanya Pria yang tidak lain Ilham itu.


"Kamu sudah meninggal," kata Senja.


Ilham berjalan mendekati sahabat kecilnya itu dan berkata."Aku tidak meninggal tapi Yogi yang saat itu sedang sakit."


"Kenapa orang bilang itu kamu?" tanya Senja.


"Itu Kakekmu yang minta Mama untuk dan membawaku keluar dari kota ini," jawab Ilham.


Senja menutup mulutnya tidak percaya jika Kakek Roby melakukan itu dan berkata."Kamu jangan bohong," 


Ilham membuka topinya dan kini duduk di samping Senja dan menjawab. "untuk apa aku berbohong," 


Setelah kecelakaan yang menimpa Senja  dan harus di rawat di ruang ICU karena kritis, sedangkan Ilham yang lukanya hanya lecet sedang menunggui sahabatnya. 


"Kamu! malam ini pergilah dari kota ini dan jangan pernah kembali!"bentak Roby begitu emosi karena cucunya harus dirawat secara insentif.


Kedua orang tuan Ilham pergi dari rumah sakit, Walau putranya tidak ingin meninggalkan Senja. Sesampai di rumah masih gelap padahal ada Yogi.


"Yogi kamu di mana, Nak!"teriak Sarah karena merasa khawatir dengan keponakannya itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bagas yang melihat istrinya teriak-teriak padahal hari sudah mau subuh.


Ayah dari Ilham itu hanya menatap istrinya dan anaknya, kemudian ia menghidupkan lampu. Alangkah terkejutnya saat melihat Yogi sudah tergeletak di undakan yang paling bawah.


"Yogi ... maafkan Bunda, Nak!"teriak Sarah sambil memeluk ponakannya itu.


Bagas sebagai dokter langsung mengecek denyut nadi Yogi dan berkata," sudah tidak ada."


Tangis haru mewarnai kediaman Bangas  Dokter yang begitu baik itu harus kehilangan ponakannya.


*****


Pagi harinya di kediaman Bagas sudah dipenuhi tetangga dan rekan kerjanya dari rumah sakit untuk bertakziah.


Tepat pukul sepuluh Roby datang dan langsung menemui Bagas dan istrinya jika untuk mengatakan jika yang meninggal adalah Ilham karena wajah keduanya begitu mirip. Awalnya  Bagas tidak terima, tapi karena ancaman Ronald saat itu akan mencelakai keluarganya akhirnya sepasang suaminya istri itu menyetujuinya.


Ilham yang mendengar itu begitu kecewa kepada Kakek Senja karena sudah membuat keluarganya harus berbohong hingga sampai sekarang ia harus memakai identitas Yogi.


"Apa kamu masih tidak percaya?" tanya Ilham.


Senja kini mengangguk ia percaya kepada sahabatnya itu, jujur Senja begitu malu karena kakeknya keluarga Ayah Bagas menjadi pindah.


"Selama ini tinggal di mana, kenapa mayat Yoga dan Ayah dan Bunda ada di rumah itu?" tanya Senja.


Ilham mengusap wajahnya  kasar dan berkata."Apa kamu juga berpikir aku yang melakukan itu?' tanya Ilham.


"Aku tidak tahu, Ham. Ini begitu mengejutkanku," ujar Senja.


Ilham yang paham jika sahabatnya itu akan sakit kepala jika berpikir berat akhirnya terdiam.


*****


Satya yang kini sedang melajukan mobilnya untuk karena dua orang pengendara motor itu masih mengikutinya. Tidak lama ada pesan kalau Senja keluar naik mobil dan sopir Leon ditodongkan pistol.


"Dasar istri nakal , apa anak itu tidak takut bahaya sedang mengancamnya." Satya begitu kesal karena istrinya itu tidak mau mendengar apa katanya.


Leon memberikan share lokasi dari anak buahnya menemukan mobil yang dikemudikan Senja berada tidak jauh dari bukit.


Satya langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh melewati jalanan sepi untuk sampai ke lokasi yang  diberikan Leon kepadanya.


Satya tersenyum saat ia tidak sudah tidak melihat lagi motor yang berada di belakangnya tadi, pria itu ingin cepat sampai. Hanya butuh waktu tiga puluh menit Satya sampai di tempat itu.


Sudah ada Yoga dan Rendy, Tatapan Yoga yang diarahkan ke menantunya itu begitu sulit diartikan oleh Satya.

__ADS_1


"Di mana Senja?" tanya Satya.


"Di atas," kata Leon.


Satya langsung menaiki bukit dari jauh ia bisa melihat istrinya duduk tidak jauh dari pria yang dikatakan Leon kalau itu Yogi.


"Biarkan saja dulu, kamu harus percaya sama istrimu," kata Rendy.


Satya melihat pria itu mengusap rambut Senja emosinya langsung memuncak, ia tidak rela istrinya disentuh pria lain.


"Petugas sudah bisa menintidinvikasi  jika jenazah itu Yogi dan kedua orang tua Ilham," kata Leon.


"Jadi itu," kata Satya menunjuk ke arah istri dan pria di sampingnya.


"Iya, itu sahabat Senja," jawab Yoga.


Yoga yang melihat Satya hendak pergi ke arah istrinya langsung ditarik oleh Yoga, dan berkata." Biarkan saja dulu."


Satya hanya bisa mendengus, dadanya begitu bergemuruh. Itu Artinya Ilham akan bebas dan bisa kuliah lagi.


Rendy yang melihati Satya frustasi karena istrinya bersama pria lain yang tidak lain sahabat yang begitu dirindukan oleh Senja.


"Dasar bucin akut," cibir Yoga.


Satya langsung menatap tajam mertuanya itu dan berkata. "Untung lo mertua gue." 


"Gue juga terima lo karena terpaksa," balas Yoga.


"Satya mengepalkan kedua tangannya, hatinya sedang panas. Namun, mertuanya  kini membuatnya semakin kesal.


"Lo jangan tunjukan emosi, kalau sampai Ilham lihat emosi lo dengan mudah ia akan mengambil Senja," kata Leon.


Satya yang sudah tidak tahan berjalan menghampiri istrinya dan berkata."Sayang kamu membuatku khawatir."


"Mas, kamu sama siapa?" tanya Senja.


Satya melihat ke arah belakang. Namun semuanya sudah tidak ada. Ingin sekali Satya mengumpat kepada mertuanya itu.


"Mas, kenalkan i-ini Yogi," kata Senja.


Satya mengulurkan tangannya ke arah Yogi. dan berkata."Besok kamu sudah bisa menjadi Ilham."


Deg, Senja terkejut karena Satya bisa tahu jika pria itu adalah Sahabatnya. dan kini wanita itu menatap suami dan Ilham bergantian dan bertanya." Apa kalian bekerja sama?"

__ADS_1


Bersambung ya


__ADS_2