PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Hanum Hamil


__ADS_3

Fifi mengajak Ferdinand  untuk naik ke lantai dua, ia kebetulan masak banyak tadi. Sampai di lantai dua Ferdinand  langsung  duduk di meja  makan.


"Mas, makan hanya ini enggak apa 'kan?" tanya Fifi sambil mengambilkan nasi untuk pria yang kini berstatus  sebagai  kekasihnya. 


"Ini sudah cukup, Sayang," jawab Ferdinand  sambil tersenyum  memperhatikan  cinta pertamanya  itu.


Wajah Fifi  sudah memerah, menurut panggilan itu tidak cocok untuk dirinya nanti.


Ferdinand  hanya terkekeh saat melihat  wajah Fifi yang sudah memerah  jika merasa malu.


Bagi Ferdinand  tidak ada yang berubah dari wanita yang kini sedang menyiapkan makanan untuknya itu.


Kedua duduk berhadapan sambil menikmati makan siang ala kadarnya, tidak ada rasa canggung lagi antar keduanya.


"Sayang, apa kamu mau kalau satu bulan lagi kita menikah?" tanya Ferdi sambil minum air putihnya.


"Apa enggak kecepatan, Mas?" tanya Fifi.


Ferdinand hanya menarik  napas panjang, ia dari Leon lahir sampai sebesar ini tidak pernah lagi menyentuh wanita, sebagai laki-laki normal pasti ia menginginkannya.


"Nanti aku bicarakan sama anak-anak ya, Mas," kata Fifi.


Ferdinand hanya menghela napas panjang, kemudian ia mengangguk  menyetujuinya. 


Fifi mengajak pria itu untuk turun ia tidak ingin menjadi fitnah dari beberapa karyawannya. Sampi mereka di butik, Ferdinand langsung pamit pulang untuk kembali ke kantornya.


*****


Di Jakarta.


Di apartemen mewah seorang wanita sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, yang tak lain Hanum, walau sedang hamil muda ia tetap menyiapkan untuk Afkar pria dingin yang selalu minta di manja.


Hanum selama ini tidak ada niat untuk menunda kehamilannya, tanpa diminta ia sudah telat datang bulan, walau usia pernikahannya baru satu bulan.


Afkar sekarang lebih posesif kepadanya, dilarang mencuci dilarang berberas rumah, intinya ia tidak ingin kalau sampai istrinya lelah. Terkadang pria itu rela membawa dokumen kantor untuk ia kerjakan di rumah. walau awalnya Arga melarangnya, tetapi saat alasan kalau istrinya sedang hamil muda bosnya itu memberikan izin kepadanya.


Pagi ini hari libur, tetapi tidak membuat wanita itu bermalas-malasan, ia tetap bangun pagi untuk merapikan rumah sebelum suaminya terbangun.

__ADS_1


Setelah selesai membuat sarapan nasi goreng teri kesukaan suaminya, Hanum langsung menuju ke kamarnya di mana suaminya setelah sholat subuh tidur kembali.


Hanum membuka tirai dan pintu balkon kamarnya supaya udara masuk ke dalam, Afkar yang merasa terusik mulai mengerjapkan matanya. pria itu menggeliat dan duduk bersandar di ujung ranjang.


"Pagi Mas," sapa Hanum sambil terkekeh karena suaminya hanya menatapnya datar.


Hanum tahu kalau pria itu kesal karena ia membuka pintu dan tirai membuat matanya menjadi silau karena sinar matahari yang mulai masuk ke dalam.


"Mas mau mandi lagi enggak?" tanya Hanum sambil duduk di tepi ranjang samping suaminya.


Afkar tidak menjawab, melihat itu Hanum hanya tersenyum, bayi besarnya minta dimandikan. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya.


Kalau saja ia tidak melihat langsung dan mengalaminya sendiri tidak akan percaya kalau pria datar dan dingin jika di kantor.


"Mas ayo aku mandikan," ajak Hanum.


Afkar berdiri sambil berjalan memeluk bahu istrinya, dan bertanya." Kamu sudah mandi."


"Sudah, tadi waktu mas tidur," jawab Hanum sambil tersenyum.


Afkar tetap berdiri tak bergeming dari tadi, Hanum mendekatinya dan melepaskan piyama milik suaminya ia juga menahan napas dalam saat membuka celana suaminya.


Saat ia ingin mengerjai suaminya selalu ingat apa kata ibunya itu untuk melayani suaminya setulus hati dan ikhlas. Seperti saat ini bayi besarnya hanya diam, akhirnya ia yang memakaikan sabun dan Shampoo.


Setelah agak lama Hanum mengajak Afkar untuk keluar dari kamar mandi, wanita mengulum senyum saat melihat sesuatu dibawah sana sudah berdiri. Afkar hanya mendengus, ia bukan tidak mau menyentuh istrinya, tapi ia ingat akan pesan Bundanya Suci kalau ia harus bersabar tidak berhubungan dulu dengan istrinya karena kehamilan masih dua minggu sangat rawan.


Namun, Pagi ini istrinya membuat yang di bawah sana harus menahan, karena saat memandikannya sengaja menyentuhnya.


"Puas!"seru Afkar mengambil alih pakaian santai yang sudah di ambilkan sang istri.


"Jangan marah, nanti apartemennya suhunya jadi turun," kata Hanum sambil membereskan sprai dan selimutnya.


"Dua minggu yang lalu sudah kita service," ucap Afkar sambil melihat ace  di kamarnya.


"Bukan karena itu, Mas!" seru Hanum yang gemes akan tingkah suaminya itu.


"Jadi apa?" tanya Afkar.

__ADS_1


"Mas suka marah-marah terus wajahnya datar dan dingin," ucap Hanum langsung keluar kamar lebih dulu.


Sampai meja makan wanita hamil muda itu masih senyum-senyum membayangkan wajah suaminya yang kesal.


Afkar ikut keluar dan duduk di depan meja makan, snag istri sudah membuatkan kopi tapi diletakkannya di ujung meja.


"Mas, jangan sentuh kopinya dulu!"seru Hanum


Afkar yang sudah mau mengambil cangkir langsung menghentikan tangannya di udara dan bertanya."Kenapa?"


"Makan nasi dulu, aku takut kamu kena asam lambung kalau langsung minum kopi saat perut kosong," ujar Hanum.


Afkar tersenyum tipis, ia begitu beruntung memiliki istri yang begitu pengertian kepadanya, selama ini tidak ada yang memperlakukan selembut dan melayaninya dengan sabar seperti istrinya.


Hanum juga tidak komplain saat ia minta dimandikan seperti tadi, Afkar menatap sang istri yang sedang menatap telur ceplok dan ayam goreng.


"Mas, mau pakai apa?" tanya Hanum karena merasa bingung suaminya mau apa.


"Ayan saja," jawab Afkar.


Hanum mengambilkan ayam untuk suaminya dan ia ikut duduk sambil memasukan garam halus ke mulutnya karena ia ingin meludah terus kalau tidak ada permen atau garam.


"Yang, jangan banyak-banyak!" seru Afkar saat istrinya memakan gram.


"Ini sedikit," kata Hanum membuat suaminya hanya mendengus.


Tak lama Bik Tika datang sambil menunduk hormat melihat majikannya sedang sarapan, Hanum langsung berdiri mengambil plastik yang ditentang oleh wanita paruh baya itu.


Afkar hanya sesekali melihat sekilas istrinya membongkar barang milik bik Tika. Merasa penasaran setelah menghabiskan makanannya Afkar mengikuti istrinya ke dapur.


Mata pria itu melotot saat melihat istrinya sedang makan mangga muda dicocol garam halus, Afkar beberapa kali menelan ludahnya  saat membayangkan rasa asam dan asin menyatu di mulut istrinya.


"Yang, jangan banyak-banyak, nanti sakit perut!" pesan Afkar sambil berjalan menuju ke ruang keluarga.


"Non, mau pakai bumbu rujak saja enggak?" tanya Bik Tika yang sudah membawa bermacam-macam buah tadi.


"Boleh Bik, nanti antar ke ruang keluarga ya," kata Hanum yang langsung dianggukkan Bik Tika.

__ADS_1


Afkar yang melihat istrinya datang kini membawa buah lain itu mengerutkan keningnya.


bersambung ya...


__ADS_2