PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Tendangan maut Senja


__ADS_3

Sosok cantik menggunakan gaun warna putih itu menatap Diana dingin, sebenarnya ia begitu malas saat harus bertemu dengan mata-mata yang sudah diuji kesetiaannya walau dengan terpaksa dilakukan oleh Diana.


"Ada apa?" tanya Yona.


"Aku mau berhenti dan fokus untuk mengurus keluargaku," jawab Diana,


Yona menatap tajam wanita yang kini  juga menatapnya dan berkata."Apa kamu yakin, Diana?"


"Iya aku yakin, selama ini aku sadar kalau mereka begitu tulus kepadaku. Aku berharap kamu juga bisa menyerah dan serahkan dirimu kepada pihak yang berwajib." Diana mengingatkan kepada Yona.


Yona tersenyum tipis, wanita itu berdiri dan kini berjalan ke arah Diana, tanpa di duganya Yona menamparnya hingga wajah Diana berpaling.


"Kamu tahu apa konsekuensinya jika kalau melanggar janjimu, hem?" tanya Yona sambil mencengkram rahang Diana dengan kuat.


"Lepas sakit," kata Diana meringis.


"Sakit kamu bilang, bukankah tujuanmu datang kepadaku karena ingin membuat rumah tangga Senja dan keluarganya pecah belah dengan cara mendekati Ranga!" benta Yona menghempaskan wajah Diana.


"Iya, itu dulu dan kini aku sadar kalau aku salah karena kematian Ayahku bukan karena mereka. Namun semua itu karena perbuatanku," kata Diana sambil menangis.


Yona menatap tajam wanita yang kini bersamanya itu, wanita itu tidak sadar jika ada yang menyusup masuk ke dalam, Satya dan Arga masuk menyelinap lewat belakang walau harus melawan anak buah Yona.


Terdengar suara tembakan  membuat Senja yang masuk lewat sisi kanan bersama Ibnu saling pandang.


"Pak, Diana ada di dalam," bisik Senja kepada Ibnu.


"Kita masuk lewat sana," jawab Ibnu.


Senja berjalan lebih dulu sambil menunduk, sedangkan Ibnu mengendap-endap sambil melindungi istri dari sahabatnya itu.


Senja bisa melihat dengan jelas jika Yona memegang pistol ,sedangkan Diana terduduk di lantai dan terlihat kalau istri Ranga itu meringis sambil memegang pahanya bisa terlihat dengan jelas jika tembakan tadi diarahkan ke paha  Diana. 


"Pak, itu Diana. kita harus menyelamatkannya," ucap Senja.

__ADS_1


"Biarkan saja, sebel gue jadinya," kata Ibnu kesal menatap salah satu mahasiswanya itu.


"Hust, aku hanya kasihan sama anaknya saja, jangan sampai terjadi apa-apa anak itu tidak bersalah," kata Senja pelan.


Senja bisa melihat pergerakan dari suaminya yang sudah maju, Satya menatap ke arah  istrinya dan mengerucutkan bibirnya seakan memberikan ciuman. Senja hanya tersenyum karena suaminya itu tidak melihat kondisi.


"Dasar bucin," kata Ibnu yang melihat tingkah Satya.


Senja hanya mencibir pria yang bersamanya, kini wanita itu tahu kenapa ia tidak boleh bersama suaminya karena pria itu sudah bucin akut kepadanya.


Senja dan ibnu berjalan lebih mendekat ke arah posisi di mana Diana dan Yona sedang berargumen.


"Kamu pikir bisa lolos setelah ini!" bentak Yona kepada Diana.


Saat Yona akan mengarahkan pistol ke arah kepala Diana, bersamaan tembakan yang Senja arahkan ke tangan wanita  itu.


Pistol dari tangan Yona terlepas membuat wanita itu terkejut. Ia langsung menoleh dan Senja muncul lewat pintu samping membuat Yona menyeringai.


"Kamu terlalu pede Yona, seorang wanita yang dulu aku anggap hilang dan hanyut kini kembali dengan gaya yang berbeda," kata Senja dengan Santai.


Mendengar apa yang dikatakan Senja, Yona terlihat begitu murka wanita menghempaskan gelas yang berada di sampingnya, tidak lama wanita berhati iblis itu menekan alat dan muncul lima anak buahnya berbadan kekar melawan Senja tanpa aba-aba.


 


Senja dengan mudah menghindar dan menendang tidak jarang ia mengenai dada lawannya saat kakinya memutar.


Senja lompat dari sofa untuk mencari tempat yang luas untuk bisa dengan cepat melumpuhkan lawannya. Ibnu, Arga dan Satya menatap tidak percaya jika gerakan Senja terlihat begitu ringan dan kadang saat ia membalas memberikan serangan hampir tidak terbaca dari musuh.


Senja mundur ke belakang saat Yona ikut menyerangnya, melihat itu Satya dan yang lain langsung menyerang sedangkan  Arga membawa Diana dan langsung memberikan kepada anak buahnya.


Arga langsung kembali untuk melawan anak buah Yona yang mulai muncul begitu juga dengan anak buah Leon yang baru saja datang.


Leon begitu terkejut karena sudah ada Satya dan yang lainya sedang berkelahi melawan anak buah Yona. 

__ADS_1


Senja yang melawan Yona seorang diri merasa tidak terdesak karena dengan mudah dirinya menghindar dan membalasnya dengan tendangan mautnya.


Satya sesekali melawan musuhnya dan melirik ke arah istrinya, anak buah Yona kian banyak yang membantu melawan anak buah Leon yang tidak sebanding akan jumlahnya itu


Senja dengan gerakan cepat menendang dada Yona, hingga wanita itu mundur dua langkah sambil memegang dadanya. 


Wanita itu kembali  menyerang Senja karena ia yakin anak buahnya akan bisa mengalahkan anak buah lawan yang lebih sedikit.


Senja yang sudah memperhitungkan, ia memutar tubuhnya dan melompat bertumpu pada meja di sampingnya hingga kini lagi dan lagi kakinya mendarat tepat di wajah Yona hingga wanita itu terjungkal ke belakang. Darah segar keluar dari mulut dan hidung Yona.


Yona mencoba untuk berdiri, ia mengusap mulutnya dengan lengan bajunya. Saat Yona yang akan menyerangnya. Senja yang sudah hampir kehilangan tenaganya masih bisa menangkis walau ia beberapa kali terkena bogeman mentah dari Yona hingga pelipisnya berdarah.


Satya yang melihat istrinya sudah lemah itu, langsung melompat dan menyerang Yona tepat kakinya mengenai  paha gadis itu.


Senja melihat itu tersenyum, tipis. Sepasang suami istri itu melawan Yona. Terlihat keduanya begitu kompak hingga membuat Yona mundur beberapa langkah karena gerakan Senja begitu susah ia baca hingga beberapa kali tendangan yang Senja arahkan tepat mengenai dada dan perutnya.


Senja yang ingin cepat memberikan pelajaran kepada Yona, wanita berhijab itu memegang bahu suaminya dan kakinya  memutar. Gerakan yang begitu cepat itu hampir tidak terlihat oleh Yona karena gerakannya begitu cepat.


Satu putaran mengenai paha Yona hingga wanita itu kini berlutut ke lantai. Senja dengan mudah berputar arah mata angin, hingga tendangannya tepat mengenai punggung Yona wanita itu tersungkur ke lantai hingga wajahnya mudarat bebas membentur kaki meja. Senja menarik tangan Yona dan menekukkan lututnya di punggung wanita itu. Sedangkan tangan satunya melintir tangan Yona ke belakang.


"Brengsek!" kata Yona yang masih bisa mengumpat walau ia berhasil dilumpuhkan  oleh Senja.


Begitu juga Leon dan Arga, beserta anak buahnya mampu melumpuhkan anak buah Yona. Senja masih menekan tubuh itu.


"ini sudah akhir Yona, dan aku pastikan kamu tidak akan keluar dengan mudah karena kejahatanmu sudah tidak bisa dimaafkan," kata Senja dengan suara amarahnya.


Satya dan yang lainnya saling pandang karena baru kali ini melihat sisi menyeramkan dari sosok istri kecilnya.


"Apa kalau di ranjang juga seperti itu?" tanya Ibnu.


Satya hanya tersenyum, ia saja begitu terkejut bagaimana istrinya yang begitu lihai melawan musuhnya.


Bersambung ya....

__ADS_1


__ADS_2