PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 88


__ADS_3

Setelah selesai memberikan materi, Satya segera keluar dari kelas sedangkan Senja begitu kesal karena ditegur oleh suaminya sendiri.


Kini semua sedang berkumpul membentuk kelompok Karena 1 kelompok berjumlah 6 orang jadi mereka langsung membentuknya.


Alan sebagai ketua kelompok, sedangkan Senja sebagi wakilnya jika ada halangan bisa saling koordinasi kepada Alan atau Senja.


Kini mau tidak mau Senja memberikan nomor ponselnya kepada yang lainnya, untuk membuat grup kelompok.


Setelah selesai kini mereka pulang, Alan yang hendak mengantar Senja. Namun, sayang dia menolak diantar oleh ketua kelompoknya.


Diana hanya tersenyum menanggapi ucapan Alan yang terlihat kesal, Sari dan yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Senja segera keluar dari lorong kampus kemudian ia memanggil Diana, keduanya tengah mengobrol masalah pembukaan bukti milik bunday Fifi.


Senja begitu tertarik dengan butik yang akan dibuka oleh Bundanya Diana kemudian ia menawarkan diri untuk ikut membantu.


Diana menyetujui Senja ikut membantu dengan syarat ia tidak boleh terlalu capek, karena dia tahu sekarang Senja sedang mengandung.


Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Satya datang bersama dosen killer dan Ranga, Diana yang melihat dosen Ibnu langsung menundukan kepalanya ia begitu takut dengan wajah dingin dosen Ibnu.


Ranga begitu terpesona melihat penampilan Diana yang sekarang, terlihat begitu natural dan sederhana.


Tanpa Ranga sadari senyumnya mengembang disudut bibirnya, diam-diam Ranga memperhatikan Diana yang sedang menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa nunduk?" bisik Senja.


"Gue takut lihat dosen killer di samping laki lo," kata Diana.


Senja terkekeh mendengar jawaban Diana, tapi hal itu menarik perhatian ketiga pria yang sedang mengobrol.


"Apa ada barangmu yang jatuh," kata Pak Ibnu kepada Diana.


"Eh...anu.. pak," ucap Diana gugup


Ibnu dengan cuek tidak menjawab, tapi ia memilih masuk ke mobilnya. Melihat itu Diana dibuat ambigu melihat mobil warna hitam itu pergi meninggalkan area kampus.


"Sudah jangan dilihatin terus, entar jatuh cinta lo, goda Senja.


Diana langsung mencibirkan bibirnya saat mendengar ucapan Senja, tapi melihat wanita berhijab itu kesal Ranga tersenyum menatapnya.


Tanpa Ranga sadari Satya memperhatikan tingkah asistennya itu, setelah itu Senja mengajak Diana sekalian pulang.


"Di..pulang bareng yuk" kata Senja.


"Eh... enggak usah, biar gue naik ojol saja," ucapnya.


"Sudah bareng saja," kata Satya.


Satya dan Senja segera masuk mobil keduanya duduk di jog belakang, Diana hanya menghela nafas saat harus duduk disampingnya Ranga.


Diana begitu risi saat Ranga dari tadi diam-diam memperhatikan dirinya, dulu ia akan suka kalau menjadi perhatian laki-laki. Namun, tidak sekarang entah mengapa ia meras risi dengan tatapan pria.


Kini mobil yang dikemudikan Ranga meluncur dengan kecepatan sedang, selama diperjalanan Senja cerita akan membantu Diana dan Bundanya.


"Boleh ya Bby," rayunya.

__ADS_1


"Tapi janji jangan sampai kecapekan," ujar Satya.


"Siap Bos," ucapnya sambil tersenyum.


Mobil kini menuju kebutik milik Bunda Fifi, tak menunggu lama mereka sampai.


Diana mengajak semunya masuk, Bunda Fifi melihat anaknya datang dengan teman-temannya tersenyum.


Wanita itu merasa lega karena anaknya tidak datang dengan Sasa dan lainnya.


"Assalamualaikum," kata Diana sambil tersenyum melihat Bundanya datang dari lantai dua.


"Waalaikumsalam, ayo ajak teman-temannya masuk," kata Bunda lembut.


"Bunda lupa ya, itu Anak Om Nugraha," bisik Diana.


Mata Bunda terbelalak saat Satya dan Senja memasuki butiknya.


"MasyaAllah ini kamu, Nak," kata Bunda saat melihat Satay dan Senja jalan beriringan menghampirinya.


"Iya Tante, Tante apa kabar?" tanyanya


"Alhamdulilah baik, seperti yang kamu lihat," ucapnya sambil tersenyum.


Kini mereka duduk disofa yang baru datang kiriman dari Bundnya Satya, Diana segera naik keatas untuk membuatkan minum.


Bunda tersenyum melihat Ranga keliling disekitar butik yang masih kosong, hanya ada tiga karung pakaian. Namun, sepertinya belum disusun.


Bunda menghampiri Ranga yang duduk melihat karung yang berjejer didepannya.


"Ini baju dari desain Tante yang sudah siap dijahit, insyaallah nanti akan di pajang," jawabnya sambil tersenyum menatap wajah tampan didepannya.


Ranga hanya mengangguk menanggapi ucapan wanita yang kini kembali duduk di sofa, tapi ia tidak melihat adanya orang lain di sekitarnya.


"Kariawan Tante mana?" tanya Ranga


"Kariawanya saya Kak," sahut Diana sambil tersenyum membawa minuman dingin.


Ranga terkejut, ia yakin kalau Diana hanya bercanda.


"Gue serius," kata Ranga kesal


"Lah...yang bercanda siapa!" ucap Diana.


Bunda tersenyum melihat perdebatan anaknya dan Ranga.


"Kata Diana benar, tadinya saya akan buka lowongan. Namun, kata Diana sementara handle sendiri dulu," kata Bunda.


Ranga hanya terpaku mendengar cerita wanita yang kini duduk disampingnya, ia tak percaya Diana yang terlihat manja kini berubah menjadi anak yang mandiri.


Setelah selesai mengobrol kini Satya dan Senja segera pamit, tapi besok ia janji akan datang membantu.


"Jangan dipikirkan, kalian berkunjung saja sudah membuat Bunda bahagia,"ucapnya tersenyum hangat.


Kini mereka sudah pergi tinggalah Bunda dan Diana, "Bunda kapan barang-barangnya datang?" tanyanya.

__ADS_1


"Tadi sore sekitar jam 3," kata Bunda sambil tersenyum.


Diana segera mengambil tas dan handphonenya, melihat itu Bunda hanya tersenyum.


"Nak...kamu istirahatlah dulu," kata bunda sambil tersenyum.


"Biar cepat selesai," jawab Diana sambil tersenyum.


Gadis berhijab itu mulai membuka paket manaken satu persatu, ia tersenyum saat melihat salah satu dari manaken yang baru dibukanya.


"Apa dia lebih tampan dari yang aslinya," kata Ranga yang baru datang masih pakai jas yang tadi pagi.


"Astagfirullah, bikin kaget saja," ucap Diana sambil mengusap dadanya.


Ranga hanya tersenyum, kemudian ia membuka jasnya dan meletakkan diatas sofa.


Diana hanya menghela nafas panjang, melihat Ranga melepaskan jasnya. Namun, kini ia dibikin terpana melihat gaya Ranga dengan lengan kemeja digulung sampai siku.


"Kanapa?" tanya Ranga yang melihat wanita itu menatapnya tanpa berkedip.


Diana segera mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah karena malu.


Bunda Fifi terkejut melihat ada Ranga, kemudian ia menghampirinya.


"Apa ada yang tertinggal, Nak?" tanya Bunda sambil tersenyum hangat.


"Enggak kok, Bun. Hanya mau bantuin anak manja ini," ucapnya .


Diana yang mendengar dia dibilang anak manja langsung melotot tidak suka, Bunda hanya tersenyum.


"Bunda tinggal dulu ya ada beberapa desain yang belum selesai," katanya.


"Iya Bun, santai saja," jawab Ranga.


Ranga segera menghampiri Diana yang tengah kesusahan membuka manaken, ia menghela nafas panjang. Kemudian segera mengambil alih Kater yang dipegang oleh Diana.


"Jangan sampai tergores ya kak," kata Diana.


"Kalau hati Kakak yang tergores bagaimana!" kata Ranga sambil tersenyum menatap intens mata wanita didepanya.


"Apaan sih...," ucap Diana salah tingkah.


Ranga hanya tersenyum, ia kemudian membuka satu persatu manaken yang ada.


Diana membantu melepaskan plastiknya, kini keduanya terlihat kompak.


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain


🌾 Takdir Cinta Khansa

__ADS_1


🌾 Menikah Muda


__ADS_2