PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 14


__ADS_3

Pagi ini Senja, Satya dan Ranga akan berangkat ke Jakarta, bik Sum sangat senang melihat Nonanya sangat bersemangat.


"Bibik, Senja pergi ya," pamit Senja ke bik Ida dan bik Sum.


Setelah Senja dan Satya masuk mobil, Senja melambaikan tangannya ke arah bik Sum dan bik Ida, Ranga hanya tersenyum melihat tingkah Senja.


"Bby, kenapa senyum-senyum, apa ada yang salah?" tanya Senja menatap Satya dengan mengerutkan keningnya.


"Enggak sayang, Bby senang bisa pergi dengan istriku yang paling cantik ini," jawab Satya.


Ranga yang mendengar gombalan Satya hanya mengulum senyumnya, Satya yang dulu tidak banyak bicara, semenjak menikah dengan Senja perubahannya sungguh luar biasa.


Cuaca pagi ini sungguh cerah, udara pagi masih terasa segar, tanpa terasa mobil yang di kendarai Pak Yanto sampai di Bandara Juanda.


Satya yang memakai kacamata hitam bertengger di hidungnya menambah nilai plus untuk ketampanannya, begitu juga dengan Ranga Memakai baju santai kemeja warna biru langit.


Senja melihat banyak wanita menatap suaminya kagum merasa tidak suka, Senja yang tertinggal di belakang segera berlari-lari kecil, seperti biasa Senja langsung menghambur memeluk tubuh Satya yang sedang menerima telepon dari Ayahnya.


"Bby, kenapa mereka menatapmu seperti itu!" ucap Senja merasa kesal sambil cemberut.


"Biarkan saja, yang penting di hati Bby hanya ada Mmy," jawab Satya.


Senja yang mendengar kata-kata Mmy menjadi bingung, apa itu panggilan sayang untuknya.


"Bby, kenapa memanggil Mmy?" tanya Senja.


"Harusnya panggil Umi, tapi Bby lebih suka manggil Mmy," jawab Satya.


"Uluhhhh...uluhhhhh...jadi makin sayang Mmynya," kata Senja.


Ranga merasa dirinya sebagai obat nyamuk, setiap saat mereka akan saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.


"Om Ranga kenapa?" tanya Senja yang melihat Ranga beberapa kali menarik nafas dan langsung menghembuskan nafasnya kasar.


"Tidak ada," jawab Ranga.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ada informasi kalau penumpang tujuan Jakarta di persilahkan memasuki pesawat lewat gate 1.


Ketiganya berjalan beriringan menuju ke pesawat.


Senja duduk di pinggir sedangkan Satya di tengah, di samping kanannya Satya ada Ranga yang langsung menyandarkan kepalanya di kursi.


Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, Sanja sampai di Bandara Sukarno Hatta, Ranga segera menghubungi hotel milik keluarga Nugraha.


"Om, tunggu," kata Senja langsung menarik tangan Ranga.


Ranga yang melihat Senja lebih memilih memeluk lengannya langsung melirik ke Satya.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Ranga saat melihat rahang Senja mengeras.

__ADS_1


"Menurut Om?" tanya balik Senja.


Ranga Melihat Satya tidak berkutik dengan sikap adik sepupunya, Rania adik sepupunya Satya, begitu senang saat tahu Satya akan datang ke Jakarta, Rania ingin menjemput Satya sendiri.


Sampai di luar Ranga bertemu dengan orang kepercayaan keluarga Nugraha, Arga yang tak lain saudara kembar Ranga.


"Apa kabar bro?" sapa Ranga kepada Abangnya.


"Alhamdulillah, seperti yang lo lihat," jawab Arga.


"Om kembar ya?" tanya Senja.


Arga tersenyum melihat gadis kecil yang terlihat imut, dari jauh Arga melihat Satya sedang berbicara dengan wanita yang tidak asing bagi Arga.


"Bukankah itu Rania?" tanya Arga.


Ranga mengikuti arah pandangan Arga, Ranga menghela nafas panjang, Ranga melihat Senja dari tadi hanya menatap ke arah orang yang lalu lalang di depannya.


"Kenapa?" tanya Arga yang melihat Ranga resah.


"Senja istinya Satya," ucap Ranga pelan.


Arga yang terkejut langsung menatap Senja, rasa tak percaya.


"Lo serius!" ucap Arga dengan nada kesal, karena saat pertama melihat Senja Arga merasa tertarik dengan gadis kecil di depannya.


"Ngapain gue bohong," jawab Ranga.


Ranga geli melihat Satya duduk tidak tenang, akhirnya Satya minta agar mobilnya menepi.


"Ada apa?" kata Arga yang tiba-tiba Satya minta berhenti.


Setelah mobil berhenti, Satya segera turun langsung menghampiri Arga.


"Gue yang bawa," ucap Satya


Arga segera turun, dan duduk di kursi penumpang.


Senja yang melihat itu segera membuka pintu, tapi saat Senja akan keluar Satya menarik tangan Senja.


"Tetap duduk di situ!" ucap Satya dingin


Ranga yang menyadari suasana sudah tidak normal lagi hanya diam dan saling pandang ke Arga.


"Ga kita tidur di apartemen Arga saja," ucap Satya.


Arga yang terkejut hanya bisa pasrah, sebenarnya Arga tidak suka tempat istirahatnya menjadi tempat persinggahan.


Ranga yang tau, hanya tersenyum menanggapi ucapan Satya.

__ADS_1


"Tapi apartemen gue hanya ada dua kamar, Sat."


"Cukup itu, Lo tidur sama Ranga, apa lo enggak kangen," sahut Satya sambil tersenyum tipis.


Hanya hening selama perjalanan, tak lama mobil sampai di apartemen Arga.


Ranga dan Arga segera turun di ikuti oleh Satya dan Senja,tapi istrinya tetap diam melihat Satya pun tidak.


"Mmy, Bby bisa jelasin, Rania itu adik sepupunya Bby," kata Satya sambil mengusap rambut Senja.


Senja menatap wajah Satya dengan intens, sebenarnya tidak tega tapi cemburu mengalahkan akal sehatnya.


"Apa Bby menyukainya?" tanya Senja.


"Mmy sayang, di hati Bby hanya ada Mmy," jawab Satya sambil mengecup kening Senja.


"Apa dia akan menemui Bby lagi" kata Senja langsung.


"Sayang, Rania juga salah satu tamu undangan di acara nanti malam," jawab Satya.


"Oke, untuk tadi Mmy mengalah dia dekati Bby, tapi nanti malam no..no...no...,"ucap Senja sambil menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri.


Satya terkekeh melihat tingkah istri kecilnya, Satya langsung memeluk tubuh Senja di dekat mobil Arga.


Banyak mata yang menatap tidak suka melihat ke romantisan Senja dan Satya.


"Ya sudah ayo kita naik," ucap Satya meraih tangan istrinya.


"Cium dulu baru naik," ucap Senja sambil memanyunkan bibirnya ke Satya.


Satya hanya bisa mengaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana mungkin di siang bolong mencium bibir Senja di depan umum, apa lagi dari tadi banyak mata yang memperhatikan keduanya.


"Sayang, ciumannya nanti saja ya di kamar, sekarang banyak yang perhatikan kita," ucap Satya memberi pengertian kepada Senja.


Senja membalikkan badannya, langsung menutup mulutnya, terkejut kalau banyak suara yang mengatakan kalau dirinya adalah sugar Daddy.


Senja Melihat Satya tersenyum lalu mengangguk, setelah itu keduanya sama-sama menuju lift.


Sampai apartemen Arga, Satya duduk di ruang keluarga. Senja langsung baring di sofa berbantalkan paha Satya.


Arga rasanya tidak percaya kalau tidak melihatnya sediri, sikap Satya yang tidak tersentuh oleh namanya perempuan kecuali keluarganya, bisa mencair oleh istri kecilnya.


"Kenapa?" kata Ranga yang akan mengambil minum di kulkas.


"Apa gue mimpi?" tanya balik Arga ke adiknya.


"Ingin tau!" goda Ranga ke Abangnya.


Arga mengangguk, dengan cepat Ranga langsung meninju lengan Arga.

__ADS_1


"Ranga...," teriak Arga.


Bersambung...ya


__ADS_2