
Pagi ini rencana Sari akan memberitahu teman-temannya kalau dia minggu ini akan menikah dengan dosennya Killernya.
Entah apa kata teman-temannya nanti Sari merasa belum siap, tapi pasti mereka lebih marah jika dia tidak memberitahunya sekarang.
Pagi ini selesai dia mandi dan merapikan diri, Sari langsung sarapan, di meja makan sudah ada papa Erlangga dan mama Seruni.
Pagi Ma...Pa... ," sapa Sari.
"Pagi sayang ayo segera sarapan, ada kuliah pagi hari ini, Nak?" tanya Mama Seruni sambil tersenyum mengambilkan piring untuk anaknya
"Iya Ma, ada kuliah pagi rencana juga Sari akan memberitahu teman-teman kalau Sari akan menikah minggu ini," ujarnya
"Teman satu kampus!" goda Papa Erlangga sambil tersenyum menatap putri satu-satunya itu.
"Apaan sih...masa undang satu kampus! enggak mungkin juga Sari mengundang semua anak kampus, hanya beberapa teman dekat saja kok Pa enggak lebih," katanya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Mama Setuju, Sayang. Yang penting sah dimata Agama dan Negara," kata Mama sambil tersenyum menatap anaknya.
Setelah selesai sarapan Sari segera berangkat ke kampus membawa mobilnya sendiri, selama perjalanan ia sambil mendengarkan lagu di mobilnya.
Sesampai di Kampus, Sari segera memarkirkan mobilnya di samping mobil Alan. Matanya menatap sekitar mencari sahabat-sahabatnya mungkin mereka sudah masuk ke dalam kelas, batinnya
Sari segera menuju kelas dengan langkah cepat, ia takut terlambat dan tidak ingin ditegur oleh dosen killernya Itu di depan teman-temannya.
Di kelas Sari tertegun, ia melihat Senja dan Diana sedang mengobrol sedangkan Alan, Deo dan leo berdiri menatap kedua sahabatnya itu.
"Hai gaes.....Ada apa sih kok tegang banget?" tanya Sari sambil duduk di samping Diana.
Sedangkan ketiga temannya itu menatap Sari horor, dia merasa ditatap seperti itu merasa salah tingkah. Lalu ia menatap Alan dan kedua sahabatnya bergantian.
"Ada apa sih bro?" tanya Sari sambil menepuk bahu Leo.
"Lo hutang penjelasan sama gue! sejak kapan lo jadian sama si Killer? tanya Leo sambil melipat tangannya didada.
__ADS_1
Sari langsung melotot ke arah Leo, sahabatnya itu kenapa mulutnya tidak bisa direm, sedangkan di kelas banyak teman-temannya menatapnya horor.
"Nanti gue ceritain, tapi enggak sekarang bentar lagi dosennya datang," kata Sari langsung duduk mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
Bener apa kata Sari tak lama dosennya datang, Leo hanya menatapnya tajam.
Ia begitu jengah dengan sepupunya itu, padahal Ibnu dekat dengannya.
Kenapa dia tidak menceritakan kepadanya kalau ada hubungan dengan Sari, yang membuatnya shock tahu-tahu Ibnu mengatakan kepadanya kalau minggu ini ia akan menikah dengan Sari.
Tanpa terasa dua jam berlalu dosen itu segera keluar dari ruangannya, Sari baru bisa bernapas lega, karena sedari tadi diam-diam killernya mencuri pandang membuatnya jadi salah tingkah.
"Kita duduk saja di cafe depan kampus, nanti gue cerita disitu," kata Sari sambil merapikan buku-bukunya. Yang lain hanya mengacungkan jempolnya tanda Oke. Sedangkan Senja menggelengkan kepala, karena ia sudah dijemput oleh suaminya.
Kini mereka keluar sama-sama menuju parkiran, Senja melihat mobil suaminya sudah ada di sana. Wanita itu buru-buru menghampiri mobil suaminya, sedangkan Sari dan Diana melambaikan tangan kepada Senja.
"Bby sudah lama menunggu?" tanya Senja sambil duduk di samping suaminya.
"Alhamdulillah lancar pagi ini, kelas dosen killer,"katanya sambil terkekeh.
Satya hanya tersenyum, mendengar istrinya mengatakan Ibnu si dosen killer, baginya sudah biasa dia mendengar itu.
"Yang, kita langsung ke kantor ya, Bby banyak kerjaan nanti sore kita pulang sama-sama," kata Satya kepada istrinya.
"Iya Bby, ini juga Mmy lagi ingin ke kantor," jawabnya sambil tersenyum menatap suaminya.
Satya segera melajukan mobilnya menuju kantornya, selama di perjalanan hanya ada keheningan Senja sibuk dengan pemikiran sendiri, sedangkan Satya fokus mengemudikan mobilnya.
Setelah tiga puluh menit mobil memasuki basement kantor, Senja dan Satya segera turun dari mobil. Keduanya menuju lift khusus untuk peninggi kantor, tiba-tiba Satya menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, Senja melotot menatap suaminya karena terkejut.
"Bby, kangen sayang," kata Satya dengan suara beratnya.
"Bby usil sekali ini di kantor, Sayang," kata Senja sambil cemberut.
__ADS_1
Tak lama terdengar bunyi suara tanda lift akan terbuka, Satya segera melepaskan pelukannya pada tubuh istrinya. Lift terbuka, terlihat wajah Ranga menatap keduanya dengan tatapan susah diartikan.
Ranga kini menatap datar sepasang suami istri depannya, kemudian ia mengikuti Satya keruangannya.
"Kenapa sih bisa telat? gue tunda meeting tiga puluh menit lagi," kata Ranga sambil mengambil beberapa dokumen di atas meja Satya setelah itu ia segera keluar ruangan.
Senja hanya menarik nafas dalam rupanya suami sebenarnya tidak bisa menjemputnya, tapi entah kenapa dia tetap menjemputnya, sekarang Ranga yang harus menunda jadwal meeting hari ini.
"Cepatlah ke ruang meeting, kasihan Om Ranga sudah menunggu," kata Senja sambil menatap suaminya.
"Maaf ya sayang, Bby tinggal dulu. Meeting tidak bisa diwakili oleh Rangga, Bby harus hadir karena ini investor dari luar negeri yang akan bergabung dengan perusahaan kita," ujar Satya sambil mengecup kening istrinya setelah itu ya keluar ruangan.
Senja duduk di sofa sambil menatap sekeliling tau begini tadi akan ikut Sari saja ke Cafe," batin senja. Kini ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Tak Berapa lama Senja tertidur karena terlalu capek, dia juga bosan akhirnya dia mengantuk dan terlelap.
Sementara di cafe depan kampus, Sari dan Diana berkumpul dengan yang lainnya.
"Jadi benar apa yang gue dengar dari dosen killer itu, kalau lo mau nikah sama dia?" tanya Leo sambil duduk di depan Sari dengan tatapan tajam.
"Iya benar, gue menikah dengan dosen Ibnu, gue baru kasih elo karena semua ini mendadak," kata Sari sambil menunduk karena Leo langsung menatapnya dengan tajam.
"Sudah berapa lama lo menjalin hubungan sama dia?" tanya Alan sambil menatap Sari.
"Belum lama kok, cuma sebulan," jawab Sari sambil menunduk.
Brakkkk....Deo menggebrak meja di depannya, membuat pengunjung kafe melihat ke arah meja mereka.
"Ah....gila lo ya! tunggu jangan bilang lo dipaksa sama si killer itu?" tanya Deo sambil menggebrak mejanya karena kesal mendengar sari baru sebulan pacaran langsung diajak menikah oleh dosen killernya itu.
"Awalnya Ia, tapi sekarang kami saling mencintai," jawab Sari sambil tersenyum.
Yang lain hanya menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya, Ia tidak menyangka kalau Sari sebelumnya dipaksa oleh dosen killernya itu untuk menjadi kekasihnya.
__ADS_1