
Sore ini Ibnu dan Sari akan pulang ke Surabaya, tapi sebelumnya tadi Satya menghubungi kalau ada masalah di kampus.
Ibnu yang rencana masih mau mengambil cuti mau tak mau besok akan langsung kerja.
Kini keduanya sudah sampai di bandara Juanda Surabaya, keduanya mengantri mengambil bagasi.
Leo berdiri dengan gaya sok kecapekan.
Sari terkekeh melihat gaya sahabatnya itu, kini keduanya sudah ada di dalam mobil.
"Leo, ada masalah apa di kampus?" tanya Ibnu.
"Oh, itu Dosen baru main jambak-jambakan dengan Sasa," kata Leo.
"Kenapa bisa?" tanya Ibnu.
"Gue enggak tahu, awas Lo bikin Sari kabur lagi, gue yang gantikan!" kata Leo kesal.
Ibnu langsung menoyor kepala Leo saking kesalnya, ia tidak terima posisinya akan digantikan oleh sepupunya itu.
Sari hanya tersenyum melihat tingkah kedua pria itu.
Sari berharap suaminya bener-benar berubah, dia tidak ingin terjadi pertengkaran lagi nantinya.
Sari tersenyum saat melihat wajah suaminya masih di tekuk karena kesal tak lama mobil memasuki halaman rumah Mama Tika, wanita paruh baya itu sudah dari satu jam tadi menunggu anak dan menantunya datang.
Sari dibantu Ibnu untuk turun dari mobil melihat itu senyum mengembang di bibir seseorang yang sebentar lagi akan dipanggil nenek itu.
"Mama, maafkan Sari," kata Sari merasa bersalah.
"Kamu enggak salah, Nak. Kalau Mama yang digituin juga akan melakukan hal sama, bahkan tidak akan pernah memaafkannya," ujar Mama Tika.
"Mam!" seru Ibnu tidak suka seakan sedang mengajari istrinya.
"Apa?" tanya Mama Tika.
"Au, ah!" seru Ibnu kesal.
Mama Tika terkekeh melihat putranya masuk lebih dulu, kini kedua wanita beda usia itu jalan beriringan dengan tangan Sari bergelayut manja di lengan mertuanya.
Sari duduk di ruang keluarga, badannya terasa lelah, dia belum sanggup kalau langsung naik ke lantai dua, tak lama pintu terbuka Leo menghampiri dan langsung menghempaskan tubuhnya ke samping Sari
"Deo enggak ikut pulang, Sari?" tanya Leo
"Belum, masih kangen sama Dea kayanya," jawab Sari.
Leo terdiam, pria itu ingat kenapa Dea lebih memilih kuliah di Bandung semua karenanya, persahabatan dengan gadis itu dulu akrab seperti saat dengan Sari, tapi semuanya itu hancur karena Leo tahu kalau Dea menyukainya.
Leo tidak mau persahabatan hancur hanya karena cinta monyet saat SMA. Namun, Deo begitu malu karena dirinya merasa ditolak oleh Leo.
__ADS_1
"Kenapa lo masih marah sama, Dea?" tanya Sari.
Leo terdiam dan dia bertanya," Apa Dia baik-baik saja?"
Sari tersenyum, ia tahu kalau sebenarnya pria di sampingnya itu juga menyukai Dea sekarang, tapi entah kenapa dia masih menyembunyikan dari sahabatnya.
"Dea baik-baik saja, tubuh menjadi gadis yang cantik. Wajar jika banyak pria antri ingin mendapatkan cintanya," ujar Sari sengaja untuk melihat reaksi Leo.
"What? Apa ada yang diterima?" tanya Leo terlihat pias.
Sari tergelak, sahabatnya itu masuk jebakannya, Leo mendengus karena sahabatnya itu sedang menjebaknya.
"Leo, sampai sekarang dia masih begitu mencintaimu tapi malam itu dia bilang ingin membuka hatinya untuk yang lain, karena dia tidak ingin membuatmu marah," jelas Sari ingat betul saat Dea mengatakan itu kepadanya.
Leo terdiam, entah kenapa ada rasa sesak di dadanya saat mendengar kalau wanita itu akan membuka hati untuk pria lain. Pria itu mencoba menepisnya, tapi semakin ia mengelak dadanya terasa semakin sesak.
Leo pamit kepada Sari, membuat wanita itu heran, kenapa sahabatnya menjadi murung sekarang? Ibnu yang baru turun melihat istrinya masih santai di sofa segera menghampirinya.
"Leo mana?" tanya Ibnu sambil mengusap perut istrinya.
"Sudah pergi," jawab Sari sambil memakan cemilan yang ada di atas meja.
Ibnu menarik napas panjang, diperhatikannya istrinya. Entah mengapa saat Leo bilang saat dia membuat sang istri kabur lagi pria itu siap menggantikan dirinya.
"Mas, itu ada oleh-oleh buat Senja dan keluarganya," kata Sari.
"Iya besok saja nitip sama Satya," jawab Ibnu.
Ibnu terkekeh mendengarnya, istrinya kini sering kali menggunakan teka-teki untuknya, apa salahnya bilang kalau mau bertemu dengan Senja dan sekalian mengantarkannya.
"Mas, kenapa senyum-senyum?" tanya Sari.
"Kamu semakin cantik," puji ibnu sambil memeluk istrinya.
Sari hanya mencibir dia tidak tahu apa yang sekarang dipikirkan pria, tak lama terdengar suara bel berbunyi, Mama Tika yang sedang telepon di ruang tamu segera berdiri untuk membukakan pintu dan sosok wanita yang membuatnya shock.
Deg, wanita itu diamnya mematung. apa dia salah lihat atau ini mimpi. Desti yang berdiri di tengah pintu hanya tersenyum melihat wanita yang dulu begitu menyayanginya.
Ibnu dan Sari saling pandang, karena melihat Mama Tika yang masih berdiri di pintu, pria itu beranjak untuk melihat siapa yang datang diikuti Sari dari belakang.
"Siapa Mam?" tanya Ibnu sambil melihat ke arah pintu.
Deg, pria itu terkejut karena wanita itu datang ke rumahnya, Sari yang tidak tahu siapa yang bertamu hanya diam sambil mengusap perutnya.
"Mas," kata Desti langsung berhambur ke pelukan Ibnu membuat dua wanita beda usia itu terkejut.
"Lepaskan suami saya, Nona!" Suara Sari menggelegar sambil mendorong Desti hingga pelukannya ke tubuh Ibnu terlepas.
Tubuh Desti terbentur pintu, membuat gadis itu langsung terduduk di lantai. Dia tidak menyangka wanita yang sedang hamil besar itu tenaganya kuat.
__ADS_1
Ibnu bingung menolong Desti, tapi takut istrinya marah. Akhirnya dia minta memberi kode ke mamanya. Mama Tika membantu Desti untuk berdiri.
Sari melipat tangannya di dada, tatapannya tajam seakan alarm akan hadirnya pelakor dalam rumah tangganya berdering memberikan sinyal kuat.
"Mas, selama enggak ada kamu mahasiswa pada kurang ajar padaku!" adu Desti sambil menangis sesedih mungkin.
Ibnu hanya diam, diliriknya Sari sekarang begitu mengerikan, Mama Tika mengajak menantunya untuk duduk. Ia tak ingin putra dan istrinya ribut lagi karena itu dia harus mengambil sikap.
"Desti apa kabar, Nak?" tanya Mama Tika.
"Buruk Ma, aku kemarin habis di pukul dan di jambak serat wajahku dicakar oleh mahasiswa bar-bar," jelas Desti.
Ibnu dan Sari hanya diam, perlahan ia mengusap punggung sang istri supaya tenang. Desti melihat pria yang akan diincarnya itu tidak senang karena lebih memperhatikan istrinya.
Mama Tika hanya menarik napas, gadis kecil itu kini sudah berubah dewasa dan cantik. Namun, sayangnya dia memilih mengganggu pria yang sudah bersuami.
"Sejak kapan kamu di Surabaya, Nak?" tanya Mama Tika.
"Sudah hampir dua bulan, tapi barus sebulan lebih gabung jadi dosen, Mam," jawab Desti sambil menatap Ibnu yang kini sedang mengusap perut Sari.
"Apa tujuanmu ke sini?" tanya Sari menatap sinis.
"Ingin bertemu kak Ibnu," jawab Desti.
"Desti, kamu cantik dan terlihat anggun, tapi sayang kamu salah langkah!" kata Sari.
"Yang!" kata Ibnu tidak ingin terjadi keributan di antara kedua wanita itu
Sari berdiri menatap suaminya tajam, hal itu membuat Ibnu menelan salivanya. Mama Tika melihat itu akhirnya menghampiri Sari.
"Nak, jaga emosimu!" seru Mama Tika lirih di telinga Sari.
Deg, Sari yang merasa kalau kedua orang yang disayanginya ini membela wanita yang sekarang tersenyum mengejek ke arahnya.
Air mata Sari sudah membanjiri kedua pipinya, mungkin tak sebaiknya dia pulang bersama suaminya.
"Terima kasih, Mas, Ma. Maaf selama ini aku Sari tidak menjadi istri dan menantu yang baik," ujar Sari sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Yang," kata Ibnu.
"Cukup, cukup selama ini aku bertahan atas impian untuk memiliki keluarga yang utuh!" tegas Sari.
Mama Tika ikut menangis dan berkata," Bukan itu maksud Mama, Sayang."
Desti tersenyum, ia begitu senang kalau istri ibnu itu akan pergi dari suaminya, Dia pun berkata, "Kalau mau pergi biarkan saja, Mas!"
"Diam!" murka Ibnu menatap Wanita yang sudah mengganggu kebahagiaannya dengan istrinya.
"Mas, aku hanya membelamu!" sentak Desti memegang tangan Ibnu, Tapi langsung dihempaskan tangan itu hingga wanita itu tersentak.
__ADS_1
"Ingat Desti Wulandari, ini peringatan terakhir untukmu! Jangan ganggu aku dan keluargaku lagi. Pergi!" usir Ibnu lantang.
bersambung….