
Malam hari sekitar jam 10 malam Senja terbangun karena merasa perutnya lapar, ia melihat suaminya tidur disampingnya masih memakai pakaian kerja tadi.
Wanita itu segera membersihkan diri, karena merasa tubuhnya gerah. Senja memilih berendam air hangat sebentar, setelah 20 menit ia segera keluar kamar mandi menuju lemari pakaian.
Setelah merasa segar dan rileks Senja segera keluar kamar untuk makan, sampai dibawah lampu sudah mati hanya ada satu lampu yang hidup. Namun, cahayanya hanya remang-remang, dia segera membuka kulkas untuk mencari makan.
Sampai akhirnya ia membuka laci di samping kulkas, dia tersenyum mendapatkan mie instan yang sudah lama tidak memakannya.
Saat ia merebus air, Senja memperhatikan sekeliling rumah saat malam merinding juga. Dia segera menghidupkan semua lampu, kini ia tersenyum sudah tidak seseram tadi.
Setelah mienya masak Ia segera duduk diruang keluarga sambil menonton televisi menikmati mie instan yang dibuatnya tadi.
Tanpa Senja sadari dari arah tangga suaminya memperhatikan caranya makan, Satya tersenyum pasti istrinya sangat lapar.
"Mmy... panggilnya sambil duduk disamping wanita yang tak lain istrinya sendiri.
"Bby...maaf, tadi Mmy tinggal," jawabnya.
"Kenapa tidak bangunkan Bby kalau lapar tadi," ucap Satya.
"Heheheh....maaf ya, tadi suamiku tidur nyenyak sekali," katanya.
Satya tersenyum, di usapnya bibir istrinya karena makan mienya belepotan.
"Mie apa ini kenapa hancur begini?" tanya Satya.
"Ini mie goreng cemek-cemek," jawab Senja dengan mulut penuh.
Satya hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir mie goreng yang dibuat istrinya seperti bubur hancur yang bercampur dengan telur.
"Bby mau kemana?" tanya Senja saat melihat suaminya pergi.
"Mau bikin teh," jawabnya.
Senja segera berlari mengejar suaminya, yang lebih dulu sampai dapur.
"Astagfirullah Mmy itu lagi hamil, jangan lari-lari," kata Satya saat melihat istrinya berlari barusan.
"Iya Mmy hanya hamil bukan sakit," jawabnya.
Satya hanya menatap istrinya, padahal dirinya sangat khawatir tadi.
"Sekarang lanjutan makannya, biar Bby saja yang bikin teh," kata Satya.
"Uluhhhhh....suami pengertian...makin love..love...," kata Senja.
Satya hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah istri kecilnya. Namun, ada rasa senang saat Senja mengatakan makin cinta tadi.
Setelah selesai makan, kini keduanya masuk kamar untuk istirahat karena malam masih larut.
Senja segera berbaring disamping suaminya, ia menjadikan lengan Satya untuk bantalnya. Tidak berapa lama keduanya kembali terlelap.
******
Pagi hari yang menyapa, diruang makan Satya dan Senja tengah sarapan.
__ADS_1
"Sayang, hari ini Bby yang antar ya," kata Satya.
"Iya, tapi agak cepat hari ini ada kelas Dosen killer," jawab Senja.
Satya hanya tersenyum, ia ingat dulu teman-temannya juga suka memberikan julukan itu ke salah satu Dosen yang galak.
"Siapa Dosen killernya?" tanya Satya.
"Pak Ibnu," jawab Senja.
Satya seketika tertawa dipagi hari, ia ingat Ibnu yang memberikan julukan kepada Pak Bambang Dosen killer.
"Kena karma itu anak," jawab Satya.
"Siapa Bby?" tanya istrinya.
"Dosen killermu," jawabnya
Kini keduanya sudah di dalam mobil, selama diperjalanan hanya hening. Satya yang fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan istrinya menatap keluar jendela.
Mobil mulai memasuki area kampus, Senja yang baru menyadari terkejut.
"Bby kenapa sampai sini ngantarnya," kata Senja.
"Ada yang harus Bby tanda tangani, Mmy mau ikut ke ruangan atau langsung ke kelas?" tanyanya.
"Ke kelas saja," jawab Senja sambil tersenyum.
Setelah itu Senja segera keluar dari mobil, Satya memperhatikan istrinya sampai masuk ruangan.
"Tumben bro pagi sudah sampai," kata Ibnu saat melihat sahabatnya datang.
"Tapi lo...bilang urgent kemarin, makanya gue datang sekalian antar bini kuliah," jawab Satya sambil masuk ruanganya yang di ikuti oleh Ibnu.
"Iya maaf, gue lupa," jawabnya
"Lo enggak ada jadwal kelas?" tanya Satya.
"Ada satu jam lagi, ini juga masih lama," Jawabnya.
Ibnu segera memberikan dokumen yang harus Satya tanda tangani, sesekali terdengar tawa keduanya.
"Lo...ingat dosen kita dulu pak Bambang," kata Satya.
"Ingatlah, kayaknya seumur hidup gue enggak akan terlupakan, karena hanya dia yang ngasih nilai gue D saat itu," ujarnya.
"Lo panggil dia apa mulai saat itu," kata Satya.
"Masih ingat aja lo... sampai yang lain ikutan panggil dia Dosen killer," jawabnya.
Satya tertawa mendengarnya, Ibnu menatap Pria didepannya dengan rasa curiga.
"Lo... kenapa?" tanya Ibnu.
"Tadi pagi bini gue cerita, pagi ini ada kelas Dosen killer," jawab Satya.
__ADS_1
Ibnu hanya mengangguk, tapi kemudian ia segera tertawa sampai keluar air matanya.
"Jadi mereka bilang gue killer," ucap Ibnu.
Satya ikut tertawa juga, bagi keduanya sangat lucu.Ibnu tidak habis pikir ia hanya ingin disiplin saja untuk mahasiswanya, walau dijuluki dosen killer. Namun, masih banyak mahasiswi yang suka mengirimkan hadiah untuknya.
"Gue baru tahu kalau karma itu berlaku buat lo," kata Satya.
"Beda bro, kalau pak Bambang dulu udah tua dan gue masih muda," sahutnya.
Satya hanya tersenyum, setelah Ibnu segera pamit karena kelasnya sebentar lagi akan di mulai.
Satya hanya mengangguk, kemudian ia mulai mengecek berkas yang diberikan oleh Ibnu tadi.
***
Suasana kelas yang tadi riuh langsung sepi saat Dosen killer masuk ruangan.
Ibnu duduk sambil mengeluarkan bukunya
"Untuk tugas resumnya tolong dikumpulkan sekarang, Sari tolong kumpulkan tugas-tugas temanmu yang tidak membuat silahkan keluar dari kelas saya," ucapnya tegas.
Senja segera memberikan kepada Sari tugasnya, karena Sarilah yang ditunjuk tadi.
Akhirnya kelas selesai, Senja segera memasukan bukunya. Hari ini hanya ada satu jadwal kuliah saja, ia yang akan menuju ruangan suaminya tiba-tiba ada yang mendorongnya.
Senja yang terkejut tidak biasa mengimbangi tubuhnya, tapi saat bersamaan Alan yang melihat tubuh Wanita yang dia kagumi akan jatuh kelantai segera menangkapnya.
Keduanya jatuh kelantai, tapi posisi Senja menimpa tubuh Alan. Mata keduanya beradu, dada Alan berdetak kencang saat pupil matanya bertemu dengan mata wanita yang membuatnya jatuh cinta dipandangan pertama.
Senja segera bangun, ia begitu malu karena saat kejadian itu banyak mahasiswa yang melihatnya. Sasa terlihat begitu geram, karena Alan pria incarannya saat ini.
Satya yang melihat keramaian hanya memperhatikan dari jauh, ia tidak tahu apa yang terjadi. Senja segera pergi meninggalkan kerumunan itu, dia jalan tergesa-gesa menuju ruangan suaminya.
Satya melihat istrinya terlihat kacau mengerutkan keningnya, ia menghampiri istrinya yang duduk disofa sampul mulutnya komat-kamit tak jelas.
"Baca mantra apa?" kata Suaminya.
"Tadi ada yang mendorong Mmy, hampir saja Mmy jatuh telungkup," adunya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Satya geram.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
🌾 Takdir Cinta Khansa
🌾 Menikah Muda
__ADS_1