
Seperti yang telah direncanakan pagi ini seusai sarapan, Mentari dan Rendy akan menjenguk mama Marni. Namun, yang disayangkan Satya dan Senja tidak ikut serta keduanya akan pergi untuk melihat Bunda yang tengah sakit di rumah.
Pagi tadi saat siap Sholat Bunda tiba-tiba pingsan, hal itu yang membuat Satya harus segera melihat Bundanya. Namun, ia tidak langsung pergi karena merasa tidak enak dengan kedua mertuanya.
Semuanyasudah berkumpul di meja makan, mentari memperhatikan mata Senja sembab. Ia tahu anaknya pasti masih ingat dan belum ikhlas dengan kepergian kakeknya, Yoga mengikut arah pandang istrinya. Namun, saat melihat anaknya Satya menatapnya juga.
Sarapan hanya diam, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, saat Senja melihat kursi kosong yang biasa kakeknya yang duduk di kursi itu. Air matanya kembali berlinang, Satya yang melihat itu memegang tangan istrinya, kemudian Satya mengajak wanitanya untuk istirahat di kamar.
“Sayang….jangan seperti ini, kasihan Kakek disana tidak akan senang kalau melihat cucunya terus-terusan bersedih,” ucap Satya sambil memeluk istrinya.
“Mmy hanya ingat, saat sarapan kakek selalu duduk di kursi itu,” jawabnya sambil terisak.
Satya hanya diam, ia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini. Tak lama pintu terbuka, Mentari masuk bersama Yoga, ia membawa roti dan the buat anaknya.
“Senja,Ibu tahu kamu terpukul atas kepergian almarhum. Namun, kamu juga harus ingat sayang ada janin di perutmu yang membutuhkan makan dan nutrisi.” Katanya sambil mengusap rambut anaknya.
Senja menatap Ibu dan Ayahnya bergantian, tangisnya semakin pecah saat ia mengingat anak yang dalam perutnya. Ibu seperti apa dirinya sampai melupakan anaknya sendiri, Senja segera mengambil roti dan teh. Dengan duduk istri dari Satya itu memakan sarapannya.
Setelah selesai Mentari segera membawa piring dan gelas bekas makan Anaknya, kemudian ia segera keluar diikuti oleh suaminya.
“Bby, maafkan Mmy ya…” katanya sambil menatap suaminya merasa bersalah.
“Iya….sayang, yang penting Mmy sekarang sudah tenang,” jawabnya sambil mengecup kening istrinya.
Terdengar pintu diketuk dari luar, Satya segera membuka pintu. Bik sum tersenyum saat pintu terbuka.
“Ada apa Bik?” tanyanya.
“Itu Den, di ruang tamu ada teman kuliah Non Senja,” jawabnya.
Satya hanya menarik nafas dalam, kini ia melihat istrinya sedang di kamar mandi. Tak lama Senja keluar sambil tersenyum menatap suaminya.
__ADS_1
“Siapa Bby?” tanyanya.
“Kata bibik, dibawah ada teman-teman kuliah mu,” jawabnya sambil duduk di sofa kamarnya.
Senja tersenyum melihat suaminya cemberut, ia tahu kalau Satya ingin hanya berdua saja saat ini. Wanita itu segera menarik tangan suaminya untuk ikut menemui teman-temannya.
Saat sampai di ruang tamu, Senja tersenyum melihat sudah ada Alan dan geng nya. Sari segera memeluk Senja, ia minta maaf karena tidak datang saat pemakaman kakeknya.
Satya sedari tadi memperhatikan istrinya yang asik bercerita dengan teman-temannya, Leo yang melihat suami Senja hanya diam ingin sekali ia menjahili nya. Namun, ia ingat Satya Nugraha pemilik kampus tempat dia menimba ilmu.
“Assalamualaikum,” kata ibnu yang baru pulang dari Bandung.
“Waalaikumsalam,” jawab semuanya.
Sari menarik nafas panjang, saat melihat pria yang dua hari yang lalu sudah mengambil ciuman pertamanya. Ibnu yang merasa diperhatikan hanya melihat sekilas kemudian ia menatap Satya lagi. Keduanya terlihat serius, melihat hal itu Sari merasa seperti wanita murahan, lelaki itu siap mengambil ciumannya dan mengatakan kalau dirinya adalah kekasihnya langsung menghilang tidak ada kabar.
Hatinya begitu sakit, ia kemudian memainkan handponenya. Deo melihat Sari yang hanya diam saja saat kedatangan dosen kilernya merasa aneh melihat sahabatnya itu.
Pria dingin dan cuek itu sama sekali tak melihatnya ,merasa hatinya sakit ia akhirnya menatap Senja.
“Senja gue pamit ya…ini ada janji mau nonton bareng,” kata Sari.
“Eh…lo mau kemana?” tanya Leo yang melihat sari sudah berdiri.
“Gue janji sama anak kebangsaan,” jawabnya cuek.
Alan yang mendengar itu terkejut, ia tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Alan segera menarik Sari untuk duduk, matanya menatap sari begitu tajam.
“Lo…jangan gila….Ya!” bentaknya kepada sahabatnya itu.
Sari hanya diam saat Alan membentak dirinya, ia merasa dadanya begitu sesak saat Ibnu hanya meliriknya saja tanpa membela atau marah kepada Alan. Sari memejamkan matanya, kali ini ia akan mengambil langkah sendiri, baginya lelaki semua sama hanya mau enaknya saja.
__ADS_1
Gadis itu mengambil handponenya sambil berlalu, saat ia sampai tengah pintu. Teriakan dari Leo memperhentikannya.
“Sari berhenti! Lo ingat dia hampir melecehkan lo…waktu itu!” teriak Leo yang merasa begitu kesal kepada sahabatnya itu.
Semua yang ada di ruang tamu terkejut mendengarnya, Ibnu mengepalkan kedua tangannya saat mendengar apa yang Leo ucapkan. Saat pria itu hendak melangkah meghampiri Sari, Tiba-tiba langsung berhenti saat wanita itu mengatakan hal yang mengejutkan baginya.
“Roni memang hampir lecehin gue, asal lo…tahu dia datang meminta maaf dan untuk bertanggung jawab, itu lebih baik dari pada siap mengatakan akan menjadi kekasihnya tapi setelah itu pergi tidak ada kabar!” teriaknya kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai…kemudian Sari lari menuju ke mobilnya.
Deg…Ibnu terkejut mendengarnya ia segera keluar mengejar sari, tapi sayang ia terlambat Wanita itu telah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ibnu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia segera masuk mobil untuk mengejar mobil Sari dan menjelaskan semuanya.
Senja dan yang lainnya saling pandang, setelah kepergian Sari dan Ibnu. Senja menatap suaminya intens, melihat itu Satya hanya menaikkan bahunya tanda tidak tahu apa-apa. Leo menatap Deo sepupu dari Sari, tapi lelaki tampan yang cool itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Apa Dosen killer dan Sari ada hubungan?” tanya Alan kepada yang lainnya.
“Mungkin, tapi sejak kapan?” tanya Deo balik.
“Sejak kita jarang mengajaknya nongki,” jawab Leo sambil tersenyum tipis.
Satya mengerutkan keningnya, setahunya sejak tunangannya meninggal Ibnu tidak pernah dekat dengan wanita lagi, apa mungkin ia selama ini tidak tahu kalau sahabatnya sekaligus orang kepercayaan itu menjalin hubung dengan mahasiswinya.
Semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing, tapi setelah itu mereka pamit untuk pulang. Sepulang teman-temannya Satya dan Senja segera bersiap akan melihat bundanya yang kini sakit.
Sementara di jalan Ibnu masih mengikuti mobil sari tanggah melaju kencang, Ibnu tahu wanita itu melajukan mobilnya tak tentu arah. Karen tidak ingin terjadi sesuatu Ibnu segera mengejar dengan kecepatan tinggi, tak lama dosen itu menyilangkan mobilnya, Sari melihat itu segera mengerem mendadak. Dengan raut wajah merah dan air mata yang mengalir di pipinya wanita yang terlihat berantakan itu menghampiri mobil sport yang sudah menghalanginya.
“Keluar lo!” teriaknya sambil mengetuk jendela mobil asing di depannya.
Sari mundur saat pintu mobil terbuka, seketika matanya melotot saat melihat siapa yang keluar dari mobilnya. Dengan cepat wanita itu membalikkan badannya, tapi dengan sigap ibnu menarik tubuh ramping
itu ke dalam pelukannya, Sari langsung memberontak hendak melepaskan diri dari pelukan Dosen nya. Namun, tenaganya tak sebanding dengan lelaki yang tengah memeluknya.
Bersambung.
__ADS_1