
Semua keluarga Nugraha saat hari libur sedang berkumpul di ruang keluarga, wanita itu menatap Bik Sum untuk panggilkan Senja dan suaminya.
"Den ada tamu," kata bik Sum.
Senja dan Satya saling pandang, dan bertanya," siapa Bik?
"Ada Bu Fifi, Non," jawab Sum.
Senja dan Satya saling pandang keduanya berjalan menemui mertua dari Ranga itu. Sesampainya di ruang tamu sepasang suami istri itu begitu terkejut melihat keadaan dari sahabat Sasa itu Diah dan Yeni terlihat banyak luka dan kurus.
"Kalian kenapa?" tanya Senja merasa iba.
"Kami harus memberikan ini padamu, di situ banyak bukti yang bisa kalian dapatkan," ujar Diah.
"Bukti apa maksud kalian?' tanya Fifi yang tidak mengerti apa-apa.
Yeni menarik napas, tidak lama bik Sum membawakan jus jeruk untuk tamu Nonanya itu. Melihat bagaimana cara kedua gadis itu menghabiskan minum itu langsung tandas bik sum menelan salvianya begitu juga yang lainnya.
"Sejak kapan kalian tidak makan?" tanya Fifi.
"Kami hampir seminggu di kurung, Bunda sebaiknya di sini saja. Aku yakin jika Leon tahu Bunda yang mengeluarkan kami akan benar-benar untuk membunuh Bunda." Diah berkata dengan santai.
"Kamu itu lancang sekali jika bicara!"kata Fifi sambil bergidik tidak mungkin putranya melakukan hal sekeji itu pada dirinya.
Melihat wanita itu tidak percaya kepada Diah dan Yeni Satya membawa benda pipih din tangannya menuju ruang keluarga.
Pria itu duduk di samping istrinya, sedangkan Fifi, Diah dan Yeni duduk tidak jauh dari keduanya. Tidak lama datang Bunda dan Ayah Nugraha beserta Ranga karena Satya meminta kepada bik Sum untuk memanggil.
"Ada apa ini ?" tanya Bunda karena melihat dua orang gadis banyak sekali lukanya .
"Kita tunggu Faisal dan lainnya," ujar Satya.
"Fifi ada apa ini?' tanya Bunda yang begitu penasaran.
Sebelum Fifi menceritakan Senja mengangkat tangan dan berjalan mendekati Bunda Fifi dan kedua wanita yang dulu sering membullynya.
__ADS_1
Senja tangannya dengan lincah memeriksa alat penyadap dan ponsel Fifi, ia juga melakukan hal sama kepada kedua wanita di depannya itu. Setelah selesai Senja meminta maaf karena ini demi keluarganya.
Fifi kini mulai paham akan apa yang dilakukan Senja, kini ketiganya sedang duduk berhadapan segan Ayah Nugraha. Ayah dari Satya itu terlihat begitu tenang, tapi ia bisa mengintimidasi siapa saja yang hendak melukai keluarganya.
Selama tiga puluh menit datang Faisal yang langsung di minta Satya untuk mengobati luka Diah Dan Yeni. Setelah selesai datang Ibnu dan tiga mahasiswanya yang tidak lain Leo, dan Alan.
Satya segera memutar video yang diterima dari Diah tidak lama terlihat Leon dan Diana sedang duduk di kafe hanya berdua.
"Kak, apa yakin kali ini kita berhasil?" tanya Diana.
"Iya kamu harus jaga anak kita, dan selama kamu hamil jangan berhubungan dengan Ranga!"perintah Leon.
Bunda Fifi mendengar percakapan itu terlihat begitu Shock, wanita itu tidak mampu lagi membendung air matanya. Bunda dan Senja langsung menenangkan wanita itu kembali.
"Kak Leon kenapa begitu membenci Bunda, bukankah selama ini Bunda begitu baik?" tanya Diana.
"Karena bunda angkatmu itu yang membuat memaku sampai meninggal, Papa tidak pernah menganggap kalau ada mama yang mencintainya. pria itu sibuk mabuk dam melihat foto Fifi," ujar Leon.
"Kakak tahu kenapa aku mau menikah dengan ranga karena dengan aku masuk keluarga itu akan dengan mudah membuat Satu dan orang tuanya saling bertengkar kalau perlu bunda itu mati biar mereka merasakan bagaimana kehilangan orang yang dicintai.
Video langsung mati, karena sudah habis. Sema saling pandang, melihat itu Satya menarik napas dalam karena bukan hanya bunda Fifi targetnya melainkan wanita cinta pertamanya yang diincar Diana dan Leon.
Fifi menangis terisak dan menatap kedua gadis itu dan bertanya." karena ini kalian di sekap?"
"Iya," jawab Diah.
"Untuk sementara Dian, Yeni dan Bunda Fifi kita sembunyikan dan mobil bunda akan kami jatuhkan ke jurang," ujar Leo.
Fifi hanya mengangguk melihat Satya dan Senja, tidak lama Leo dan dua rekan kerjanya langsung bergerak. Satya juga meminta untuk menghilangkan jejak kamera ke arah rumahnya kepada Leo.
Kini tinggal Keluarga Nugraha yang tinggal, Senja menatap tidak percaya jika Leon memiliki dendam dan begitu juga Diana.
"Kita harus cepat bertindak, Ayah tidak ingin mengambil resiko."Ayah Nugraha tidak ingin ada apa-apa kepada keluarganya.
"Bagaimana dengan Om Ferdi?" tanya Satya.
__ADS_1
"Leon tidak akan berani mencelakai Papanya , jika itu terjadi ...." Ayah Nugraha menghentikan ucapnya dan berkata," anak durhaka."
Satya hanya mengangguk, kini tinggal ,menunggu strategi dari Leo apa yang akan dilakukannya nantinya.
Senja beranjak dari duduknya, entah mengapa ia menjadi begitu haus karena memikirkan Diana dan Leon. Seharus pria itu tidak menyalahkan Bunda Fifi atas apa yang terjadi kepada Mamanya.
Satay yang melihat istrinya berjalan menuju ke kamarnya langsung mengikutinya karena ia tidak ingin istri terlalu memikirkannya.
"Sayang," kata Satya saat melihat istrinya berdiri menghadap jendela.
"Mas, aku begitu takut jika terjadi sesuatu pada keluarga kita," ujar Senja.
Satya langsung memeluk istrinya entah mengapa apa yang dirasakan Senja ia juga dapat merasakan rasa yang membuatnya begitu juga khawatir.
Pria itu ada rasa akan kehilangan, tapi mencoba untuk menepisnya. Ia berharap keluarga kecilnya akan baik-baik saja, Satya memeluk pinggang istrinya semakin erat.
"Mas, "panggil Senja.
"Apa pun yang terjadi jangan tinggalkan aku ya," kata Senja menatap wajah tampan suaminya.
Satya mengecup kening istrinya dan berkata, "Jangan terlalu banyak berpikir kita akan menjaga Jingga sama-sama."
Senja mengangguk lalu tersenyum, ia percaya akan ucapan suaminya. Jika keduanya akan baik-baik saja begitu juga Bundanya nanti.
Harapannya jika Leon dan Diana segera ditangkap karena bukti sudah lengkap. Namun, apa yang akan dilakukan Fredy nantinya akankah ia membebaskan putranya itu karena kesalahan yang dilakukannya di masa lalu membuat Leon ingin Papanya merasa kehilangan juga.
Satya tersenyum saat Senja sedang bermain dengan Jingga, Satya menghampiri keduanya dan berkata. "anak Papa cantik lebih cantik Mamanya."
Senja hanya tersenyum, entah mengapa ia sedang tidak ingin bercanda. Satya menatap istrinya lekat dan bertanya."Sayang jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Mas coba lihat Bunda, aku khawatir," kata Senja.
"Sayang Bunda di jaga Ayah, kamu bawa santai saja. Ingat ada kami yang akan menjaga dirimu sayang." Satya mencoba menghibur istrinya.
Walau ia tahu itu tidak berefek untuk istrinya, hingga ponsel Satya berdering jika mobil Bunda Fifi sudah diledakkan di jurang. dipastikan tidak akan ada korban selamat.
__ADS_1
bersambung.