
Pagi ini, sesuai Satya katakan kalau ia akan kekampus terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan Senja dan suaminya bergegas berangkat, tapi sebelumnya ia lebih dulu mengambil sesuatu di kamarnya.
"Apa itu sayang?" tanya Satya sambil memperhatikan sesuatu yang di sembunyikan istrinya di belakang punggungnya.
"Ayo tebak apa ini, Bby?"tanyanya sambil tersenyum.
Satya hanya tersenyum menanggapi istrinya yang masih pagi mengajak tebak-tebakan.
Keduanya kemudian masuk mobil, tak lama mobil yang di kemudikan oleh Satya meluncur meninggalkan kediamannya.
Selama di perjalanan keduanya asik sendiri-sendiri, tak lama Senja mengeluarkan benda kecil yang ia bungkus rapi.
"Kado buat siapa?" tanya Satya.
"Buat Sari," jawanya sambil tersenyum.
"Pasti dia juga dapat kado dari Dosennya," kata Satya.
Senaja menghentikan gerakan tangannya sebentar, di tatapnya wajah suaminya dengan intens.
"Apa dia tidak cerita kalau hubungannya dengan Sari sedang ada masalah," kata Senja.
Satya hanya tersenyum, ia tahu betul kalau sahabatnya itu sangat tertutup dengan hal pribadinya.
"Memang kenapa dengan mereka?" tanya Satya.
Senja akhirnya menceritakan kepada suaminya, dengan apa yang diucapkan oleh Diana, Satya hanya mengangguk menanggapi cerita dari istrinya.
"Sari seminggu ini enggak kuliah, kata Diana ia menagis terus," katanya sambil merasa sedih bagaimana saat Diana menceritakan tentang sahabatnya.
"Apa ia menangisi Ibnu?" tanya Satya.
"Kalau kata Diana , orang tuanya sibuk di luar negeri mengurus usahanya sedangkan Killernya marah," katanya.
Senja juga mengatakan Sari itu kadang berbulan-bulan tidak bertemu dengan kedua orang tuanya, saat dia jadian dengan killer dan di perkenalkan dengan orang tuanya.
Sari sangat senang karena rasa sanyang yang tidak ia dapatkan dari kedua orang tuanya kini ia rasakan dari kedua orang tuanya Ibnu.
Satya tertegun mendengarnya, padahal Sari begitu cuek ternyata dibalik rasa cueknya itu ia rapuh.
Tak lama mobil sampai di depan kampus, Senja segera turun dan langsung pamit kepada suaminya. Satya memperhatikan istrinya yang kini berjalan bertiga dengan dua sahabatnya.
Satya menghela nafas panjang saat matanya menangkap sosok Ibnu yang baru keluar dari mobil, tak lama Satya menghampirinya.
"Apa kabar?" tanya Satya.
"Alhamdulillah baik, lo bawak kado buat gue?" kata Ibnu.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibnu, kini ia masuk ruangan Dosen killer istrinya itu.
__ADS_1
"Bukan ini kado buat calon bini lo," jawab Satya.
Ibnu langsung menatap Satya sambil menaikkan alisnya.
"Dalam rangka apa?" tanyanya.
"Lo.... kekasihnya, tapi tak tahu kalau hari ini dia ulang tahun," kata Satya sambil mencibirkan bibirnya.
Deg....Ibnu terdiam, tapi kemudian ia tersenyum karena dia sudah jauh-jauh hari menyiapkannya. Namun, setelah kejadian waktu itu apa ia akan memberikan kadonya.
"Gue pamit ke ruangan gue," kata Satya.
Setelah ke pergian Satya Ibnu duduk sambil melamun, tak lama terdengar ketukan pintu.
"Masuk," katanya dengan datar.
Pintu terbuka tak lama Sari masuk sebagai perwakilan dari kelas untuk mengambil tugas dari Dosen killernya.
Ibnu masih sibuk dengan lektopnya, sedangkan Sari hanya diam.
"Jika tidak ada keperluan silakan keluar!" katanya dingin
Sari tercengang mendengar ucapan Dosennya, bukannya tadi ia di suruh mengambil tugas.
Sari yang tak mau mengambil pusing, segera membalikkan badannya. Namun, baru saja ia akan membuka pintu terdengar suara menghentikannya.
Ibnu menatap punggung wanita yang begitu ia rindukan selama seminggu ini, tapi ia bukan tak ingin menghubunginya. Namun, ia ingin memberikan waktu untuk Sari berfikir dan menenangkan diri.
"Selamat hari lahir ya..," ucapnya sambil tersenyum menatap wajah wanita yang berhasil membuatnya gundah gulana.
"Terimakasih," jawabnya lirih.
Ibnu memapah Sari untuk duduk di sofa, wanita itu hanya menurut saja, tapi melihat kekasihnya hanya diam saja Ibnu jadi gemes.
"Jangan menunduk terus," ucapnya sambil mengangkat dagu Sari supaya menatapnya.
Kini keduanya saling pandang, ada rasa rindu terlihat dari mata keduanya, Ibnu berlahan mendekatkan wajahnya.
Cup...
Mata Sari langsung melotot, karena tiba-tiba killernya mengecupnya dengan lama. Namun, kini keduanya seperti meluapkan rasa rindu yang keduanya tahan hampir seminggu ini.
Sari entah kapan ia membalas sentuhan kekasihnya itu, bibir keduanya terlepas saat pasokan oksigen keduanya menipis.
Ibnu menyentuh bibir Sari yang sudah basah karena ulahnya, kemudian ditariknya tubuh ramping Sari ke dalam dekapannya.
"Aku sangat merindukanmu," ucapnya.
Sari tak menjawab, tapi ia membalas pelukan hangat Ibnu. Pria itu tersenyum saat wanita yang dipeluknya membalas pelukannya.
__ADS_1
Lama keduanya saling berpelukan, air mata Sari mengalir begitu saja di kedua pipinya. Ibnu yang merasakan tubuh ke kasihnya bergetar berlahan dia melepaskan pelukannya.
"Jangan menagis," ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi halusnya Sari.
"Maaf," kata Sari disela-sela tangisnya.
Ibnu tersenyum, ia tahu ini bukan hanya salahnya Sari. Namun, ia juga ikut ambil dalam masalah ini.
"Aku juga minta maaf ya," katanya sambil mengusap rambut Sari dengan lembut.
Sari menganguk, kemudian Ibnu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan memberikan kepada Kekasihnya.
"Pakai kado segala seperti anak kecil!" ucapnya sambil cemberut.
Ibnu hanya tersenyum saat Sari membuka kado dari Killernya.
Mata Sari langsung membulat, melihat apa yang ia terima.
"Yang...ini pasti mahal banget" kata Sari.
"Untukmu tak ada yang mahal sayang, sekarang buka kalau kalau kamu mau meneruskan hubungan kita silahkan pakai. Namun, jika kamu tak menginginkannya silahkan masukkan ke keranjang sampah itu," ujarnya sambil menunjuk keranjang sampah tak jauh dari Sari.
Sari tertegun, baru saja ia bahagia karena Ibnu tidak lupa dengan hari ulang tahunnya. Namun, sekarang ia harus memberikan keputusan sekarang juga.
Ibnu menatap wanita itu lekat, tapi kemudian Sari mengambil cincin itu dan memasukkan ke dalam tempatnya.
Ibnu memlihat itu memejamkan matanya, ada rasa sesak di dadanya saat melihat Sari memasukkan cincinnua ke dalam tempatnya lagi.
Tak lama terdengar Sari menerima telepon dari seseorang.
"Halo Mam," ucapnya.
"Iya sayang, selamat ulang tahun ya, Nak," kata Mama dari seberang sana.
"Terimakasih Mama masih mengingatnya," jawab Sari sambil mengusap air matanya.
"Maafkan Mama dan Papa belum bisa pulang," katanya dengan suara yang terdengar berat.
"Selamat ulang tahun anak Papa,sayang," kata Papa Sari.
"Terimakasih Papa," ucapnya.
"Sama-sama Nak, kamu mau kado apa sayang," kata papanya seperti biasa.
Sari terdiam sebentar, di lihatnya Ibnu bersandar di sofa sambil menutup matanya.
"Papa.....Sari enggak minta kado seperti biasanya, tapi tolong Sari ingin menikah muda," katanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Deg....
__ADS_1
Ibnu tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Sari barusan, di tatapnya wajah cantik di sampingnya.