
Satya Mendengar apa yang dikatakan istrinya tersenyum, ada rasa yang menghangat di hatinya, pria itu mengecup kening Senja lalu berjalan menuju mobilnya, Yoga pamit kepada semuanya dan ia memeluk istri dan anaknya
Mobil yang dikemudikan Satya langsung meninggalkan kediaman Ayah Nugraha. Wajah Yoga terlihat sedih karena haru pisah dengan anak dan istrinya. Sekaan apa yang dulu ia alami akan terulang lagi, Satya yang melihat Ayah mertuanya begitu gelisah hanya menggeleng saja.
Satya melihat benda kecil yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul tujuh lewat. Padahal pesawat jam delapan.
"Apa ada kecelakaan?" tanya Yoga.
"Sepertinya ia Yah," jawab Satya.
Yoga hanya menatap jengah Satya, karena kalau sedang berdua ia merasa tua dipanggil Ayah oleh menantunya itu, Walau ia tahu itu sah-sah saja.
"Apa gue naik ojek saja," tanya Yoga.
"Kenapa takut ketinggalan pesawat lo!" cibir Satya.
Yoga hanya diam, ia bercuma saja bertengkar dengan menantunya itu. Waktu menunjukan pukul delapan lewat Yoga hanya biasa menarik napas kasar. Ia tidak menyukai akan hal ini. Tepat pukul delapan tiga puluh menit mobil masih terjebak.
Handphone Satya berdering ada panggilan dari mertuanya, Satya menatap Yoga, yang kini sedang bersandar sambil memejamkan matanya.
"Apa yang tertinggal?" tanya Satya.
"Tidak, kenapa?" tanya Yoga.
Satya mengangguk tak lama mengangkat telepon dari mertuanya itu." Hallo."
Satya menatap Yoga karena hanya mendengar tangisan, membuat wajahnya langsung panik dan bertanya." Ada apa?"
"Nak, kamu di mana sekarang?" tanya Ayah Nugraha
"Di jalan, ada apa Yah?" tanya Satya merasa ada sesuatu terjadi di rumahnya.
"Balik sekarang!" perintah Ayah Nugraha.
Sambungan telepon terputus, Satya mencari celah untuk bisa mundur, sedangkan Yoga sudah pasrah. Saat Satya ada celah langsung membelikan mobilnya ke arah gang untuk kembali lagi pulang.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Yoga membuka matanya. Pria itu merasa heran ia masih ingat jalan yang kini ia lalu bersama Satya.
"Kita mau kemana?" tanya Yoga karena ini bukan jalan arah ke Bandara.
__ADS_1
Satya tidak menjawab pria itu kini fokus untuk mengemudikan mobilnya supaya cepat sampai ke rumahnya, Yoga yang mulai menghafal jalan yang kini sudah ia tahu kemana tujuannya langsung menatap tak percaya kepada Satya.
"Kenapa kita pulang?" tanya Yoga kesal menatap Satya.
Lagi-lagi Satya tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Yoga. Mobil memasuki kediaman Ayah Nugraha tanpa menunggu Yoga Satya masuk. Pria itu tertegun saat melihat istri dan mertuanya menangis dipeluk ayah Nugraha dan Bundanya.
"Ada apa ini?" tanya Satya.
"Pesawat yang dinaiki Ayah hilang kontak, Mas!" kata Senja sambil mengusap ingusnya.
Satya tertegun mendengarnya, apa ini takdir kenapa ia tadi terjebak macet. Kalau saja tidak terjebak pasti Yoga akan menjadi salah satu korban hilangnya kontak pesawat jurusan Jakarta pagi ini.
Semua melihat ke arah televisi yang tengah menayangkan berita hilangnya kontak pesawat hari ini. Yoga yang baru masuk membawa tas kecilnya terperangah melihat apa yang ditayangkan barusan. tas di tangannya terjatuh.
Mendengar suara terjatuh semua mata menoleh ke arah suara, Semua terkejut melihat Yoga menatap ke televisi. Mentari langsung lari berhambur memeluk suaminya yang diikuti oleh Senja.
"Ini kamu Mas?" tanya Mentari rasanya tidak percaya.
"Iya," yoga menatap Satya.
Kini semuanya duduk di ruang keluarga, Arga dan Suci merasa lega. Satya menceritakan apa yang tadi terjadi hingga Yoga tidak bisa ikut naik pesawat nahas itu.
Satya merasa lega karena kejadian hari ini membuatnya banyak belajar, begitu juga Yoga ada rasa syukur yang begitu dalam ia dapatkan. Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk dirinya untuk bertobat.
"Istirahatlah Nak!" titah Ayah Nugraha, melihat itu merasa bersyukur.
"Tadi macet karena apa?" tanya Ayah Nugraha kepada putranya itu.
"Satya kurang tahu juga ,Yah," jawab Satya sambil mengusap kepala Jingga. Bayi mungil itu menatap wajah Papanya dan terkadang matanya terpejam karena mengantuk.
Bunda yang melihat cucunya yang mau tidur, tetapi diganggu oleh putranya itu akhirnya diambilnya Jingga.
Satya hanya cemberut, menatap Bunda nya yang tidak ingin anaknya ia ganggu, entah mengapa ia seperti punya mainan baru saat ini.
"Mas, terimakasih sudah membawa Ayah pulang," ujar Senja setelah sudah mulai tenang.
Satya hanya tersenyum sambil mengambil air yang diambilkan istrinya itu, Ayah Nugraha entah mengapa merasa bangga. Satya yang dulu begitu dingin kini berubah menjadi hangat.
***
__ADS_1
Di rumah sakit.
Leon kini sudah bisa duduk, ia begitu senang karena Papanya sekarang menjadi pria yang hangat kepada Bunda dan Diana. seperti hari ini Bunda Fifi lagi-lagi datang membawa makanan untuk Ferdinand, tetapi sayang pria itu sudah kembali ke kantor.
Fifi keluar sebentar untuk menelpon, walau ada keraguan dalam hatinya. Namun, wanita itu memberanikan diri untuk menghubungi kakak Iparnya itu.
"Halo, ada apa, Fi?" tanya Ferdinan yang langsung mengangkat telepon dari wanita yang dari dulu ia benci itu.
"Mas, sudah sampai kantor?" tanya Bunda Fifi dengan lirih.
Ferdinand merasa hatinya menghangat saat ada yang memperhatikan dirinya sekarang ada di mana.
"Belum Fi, ini baru sekitar 100 meter dari rumah sakit," jawabnya.
"MAs bisa balik aku bawakan makan siang," ujar Bunda Fifi.
"Bisa kamu tunggu di lobby ya," jawab Ferdinand yang langsung mematikan teleponnya dan kini senyum mengembang dari bibirnya.
Wanita itu masuk ruangan Leon, pria itu tengah mengobrol bersama adiknya Diana, bunda Fifi merasa salah tingkah saat kedua anaknya menatapnya.
"Bund kenapa?" tanya Diana merasa ada yang aneh.
"Bunda ambil nini saja, makanannya kebanyakan biar dikasih yang lain," jelas Bunda dengan senyum yang mengembang ada rasa malu dan entah apa yang kini dirasakan.
Setelah keluar dari ruang rawat Leon , wanita itu berjalan menuju lift dan saat akan masuk bersamaan dengan beberapa orang.
Lift sampai di lantai bawah, Bunda Fifi berjalan menuju lobby, senyum mengembang saat melihat pria yang turun dari mobil menatapnya.
"Sudah lama?' tanya Ferdinand kepada wanita yang berdiri sambil memegang rantang di tangannya itu.
"Belum, eh ini makan siangnya. Semoga suka ya," ujar Fifi sambil tersenyum begitu tulus.
"Ini semua buat aku?" tanya Ferdinand merasa kalau makanannya kebanyakan.
"Kalau enggak habis buang saja," kata Fifi dengan lirih.
Ferdinand terkekeh, wanita di depan ini begitu menggemaskan, lalu ia berkata." Kita makan bersama, Ya."
Fifi terkejut di tatapnya wajah pria yang agak mirip dengan suaminya itu, dan bertanya." MAs yakin?"
__ADS_1
bersambung ya….