PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 50


__ADS_3

Sore ini cuaca di Jakarta begitu dingin, karena dari pagi hujan turun tiada berhenti.


Mentari yang tengah membuat kue di Dapur bersama Nenek Wati mereka bercanda dan saling bercerita tentang masa-masa muda Nenek wati dulu.


Mentari baru tahu kalau Neneknya dan Nenek Wati mereka bersahabat dari mereka masih kecil.


Setelah berkutat di dapur selama 1 jam, kue yang dibuat Mentari sudah selesai. Kemudian ia membuat teh manis untuk suaminya, dan membawanya ke ruang kerja Yoga.


Mentari berlahan memutar handle pintu, Yoga yang melihat istrinya masuk ke ruangannya tersenyum.


"Mas ini tehnya, dan kue yang baru Mentari bikin barusan," ucap Mentari sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang, jadi makin Cinta deh sama Istriku yang satu ini gemesin banget," ujar Yoga sambil memakan kue buatan Mentari.


"Iya sama-sama Mas, semoga tidak ada yang kedua nanti ya," ucap Mentari sambil cemberut.


"Astagfirullah Yang, enggak akan ada yang kedua." jawab Yoga langsung menarik Istrinya ke pangkuannya.


"Iya masa aku percaya, buktinya selama kita berpisah Mas tidak ada wanita lain'kan," ucap Mentari lalu memeluk suaminya.


“Tidak ada tapi menggoda banyak!" jawab Yoga sambil tersenyum.


"Tapi sayang suami aku bukan tipe pria yang mudah tergoda," kata Mentari.


Kemudian keduanya tertawa bersama, Rendy melihat handponenya berdering melihat nama Rendy di layar ponselnya.


"Rendy sayang kira-kira Ada apa ya?" tanya Yoga ke istrinya.


"Angkat aja Mas siapa tahu penting," jawab Mentari.


Yoga kemudian mengangkat telpon Rendy, Rendy mengatakan kalau Papa dirawat di rumah sakit sudah dua hari ini. Mama Marni mengharapkan Mentari dan dirinya untuk segera Pulang ke Surabaya untuk melihat kondisi Papa yang sekarang.


Yoga menatap istrinya yang sedang bermain handphone di depannya, Yoga merasa bingung bagaimana caranya menyampaikan ke Mentari kalau Papa sekarang sedang dirawat di rumah sakit.


"Sayang, apa yang dikatakan Rindy?" tanya Mentari.


Yoga menarik nafas pelan-pelan kemudian menghembuskannya lagi ditatapnya wajah istrinya yang terlihat sangat penasaran.


"Sayang kita cari tiket sore ini juga tujuanSurabaya," kata Yoga.


Mentari terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya, tiba-tiba pikiran Mentari menjadi kalut Ia sangat mengkhawatirkan keluarganya yang di Surabaya.

__ADS_1


"Ada apa mas katakan?" tanya Mentari.


"Mama menyuruh kita pulang ke Surabaya,Karena papa sudah dua hari ini dirawat di rumah sakit.


Mentari tak bisa menahan air matanya lagi, Ia menangis terduduk di sofa Memanggil nama Papanya yang begitu dirindukan.


Yoga melihat istrinya terburuk merasa kasihan, Dia segera menghubungi Adrian untuk mencari 2 tiket menuju ke Surabaya sore ini juga.


Yoga memberikan air hangat kepada Mentari supaya dirinya lebih tenang,


masuk pesan dari Adrian kalau tiket sudah ada di tangan.


Tak menunggu lama Yoga segera menghidupkan mobilnya, sedangkan Mentari masuk ke kamar untuk mengganti baju.


Setelah itu mereka berdua masuk ke mobil, Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke Bandara Sukarno Hatta.


Selama diperjalanan Mentari hanya diam Yoga merasa bingung Bagaimana cara membujuk Mentari supaya tidak bersedih lagi.


Yoga segera mengirim pesan ke Satya kalau sekarang dirinya sedang menuju ke arah Bandara untuk pergi ke Surabaya menjenguk Papa mertuanya.


Tak lama ada balasan dari Satya, nanti akan menjemput Yoga dan Mentari di Bandara.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mobil yang dikemudikan oleh Yoga langsung masuk ke area parkir bandara.


Kini keduanya sudah berada di ruang tunggu menunggu 15 menit lagi untuk pesawat take off.


Tak Berapa lama ada informasi kalau penumpang jurusan ke Surabaya di persilahkan untuk segera naik ke pesawat.


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit pesawat yang ditumpangi oleh Yoga dan Mentari sampai ke Bandara Juanda Surabaya.


Karena hanya membawa tas kecil Yoga dan Mentari langsung keluar mencari di mana Satya dan Senja menunggu.


"Ibu....," teriak Senja saat melihat Ibu dan Ayah


Satya hanya tersenyum melihat istrinya berlari menuju ke arah Mentari dan Yoga. Keduanya saling berpelukan melepas rasa rindu.


Satya dan Yoga saling berpelukan ala lelaki, mereka menuju mobil Satya yang ada di dekat parkiran.


Mereka kemudian masuk ke mobil, Satya mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Mobil langsung melaju menuju ke rumah sakit di mana tempat Kakek Robby dirawat.


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, mobil yang dikemudikan Satya sampai ke rumah sakit. Mereka segera turun dan menuju ke ruang rawat Kakek Roby.

__ADS_1


Sesampainya didepan ruangan Kakek Robi Mentari perlahan mendorong pintu ruang rawat. Mentari berjalan mendekati ranjang di mana Kakek Robi terbaring dengan kondisi sangat lemah.


Mama Marni yang baru keluar dari kamar mandi terkejut, saat melihat ada Mentari di samping ranjang suaminya.


"Sayang kamu pulang, Nak." kata Mama Marni menghampir anak yang sangat dirindukan.


Keduanya saling berpelukan, menangis meluapkan rasa rindu yang selama ini mereka tahan. Senja yang melihat itu merasa tidak tahan segera berhambur memeluk dua orang wanita yang sangat disayanginya.


Rendy yang baru dari kantin terkejut melihat ada Mentari, Yoga, Senja dan Satya sudah ada di dalam ruang rawat Papanya.


Rendy menghampiri ketga wanita yang begitu sangat dicintainya sedang berkumpul.


"Mama apa kabar? Maafkan Mentari Mah, Mentari sudah mengecewakan Mama," ucap Mentari.


"Alhamdulillah Mama baik, tidak ada mengecewakan Mama, Mama senang kamu mau datang menjenguk Papamu. Papa sangat terpukul atas kepergian mu," jawab Mama Marni.


Yoga yang melihat mertuanya sudah mulai tenang segera menghampirinya, Yoga menyalami dan mencium tangan Mama Marni.


Mama Marni begitu terharu langsung memeluk Yoga menumpahkan segala kerinduannya kepada menantunya yang sudah lama tidak bertemu.


“Terima kasih Nak, terima kasih masih mau menerima Mentari tak berada disisimu.” kata Mama Marni sambil mengusap pipi Yoga.


Yoga merasa terharu mendengar ucapan dari mertuanya, tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipinya.


Menteri melihat itu memeluk suaminya sambil mengusap air mata yang di pipi Yoga.


Yoga langsung bersujud kaki Mama Marni.


"Mama tolong restui kami, hanya itu yang Yoga dan mentari harapkan dari Mama dan Papa." ucap Yoga sambil memeluk kaki Mama Marni.


"Berdirilah Nak, mama dari dulu sudah merestui kalian berdua, kita berdoa semoga Papa segera sadar dan bisa memberikan restu pada kalian." ujar Mama Marni.


Semua yang ada disitu merasa terharu, mereka hanya berharap semoga papa Robby segera sadar dan merestui Yoga dan mentari begitu juga membiarkan Satya dan Senja untuk hidup bahagia.


Rendy tersenyum, kemudian ia mendekati ranjang tempat Papanya belum sadarkan diri.


"Papa, apa Papa tidak ingin melihat Kak Mentari? ayo bangun Pa, Kak Mentari sudah pulang," kata Rendy sambil mengusap air matanya.


Rendy terkejut karena tiba-tiba badan Papa Roby, kejang, Rendy segera menekan tombol tak lama Dokter Intan dan suster datang, semuanya di suruh tunggu diluar ruangan.


Bersambung ya....

__ADS_1


jangan tinggalkan Jejak


__ADS_2