
Sore harinya Satya sudah diperiksa oleh Dokter Diki, Dokter Diki bilang besok pagi Satya sudah bisa pulang. Senja mendengar kabar itu sangat senang.
Setelah Dokter Dicky pergi, Senja kemudian memeluk suaminya dengan erat. Satya tersenyum melihat tingkah laku Senja, Satya mengusap benda kenyal berwarna merah muda itu dengan lembut.
"Bby, jangan menggodaku," kata Senja sambil mengedipkan matanya.
Satya hanya mengulum senyumnya sambil memeluk tubuh istrinya, ada rasa bahagia di dada Satya saat melihat senyum manis Senja.
"Mmy, panggil Satya
"Ia Bby sayang," jawab Senja kemudian Senja memeluk lengan Satria dengan manja.
Satya membelai rambut Senja dengan lembut sesekali mencium kening istrinya.
"Mmy, apa Mmy tahu kenapa Om Rendi kesini?" tanya Satya.
"Tidak tahu Bby, nantilah Mmy tanya ke Ayah," jawab Senja.
Satya merasa curiga kalau ini suruhan dari Kakek Robby. Senja yang melihat suaminya khawatir merasa curiga juga dengan Kakeknya.
Senja menatap langit-langit ruang rawat Satya, karena sampai sekarang Senja tidak habis pikir dengan kakeknya.
Satya melihat istrinya malamun langsung menyentil kening Senja, Senja yang terkejut langsung memukul tangan suaminya.
"Apa yang Mmy fikirkan? tanya Satya
"Mmy bingung dengan Kakek, apa yang sesungguhnya Kakek inginkan," ucap Senja.
"Kalau menurut Bby, Kakek ingin menguasai grup Nugraha dan usaha Ayah Yoga," jawab Satya.
Senja langsung duduk menatap suaminya, ada rasa tidak suka karena Satya bilang Kakeknya ingin menguasai dua perusahaan besar itu.
"Bby jangan aneh-aneh," ucap Senja tidak suka.
"Apa Mmy tidak tau, Bby di suruh memilih, antara Mmy atau hotel Nugraha yang ada di Bandung," jelas Satya.
Senja yang terkejut menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Kakeknya tega melakukan hal bodoh seperti itu. Satya memegang bahu Senja dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan khawatir Bby dan Ayah Yoga akan mengurusnya," ujar Satya sambil memeluk Senja.
Senja menangis terisak, kenapa suaminya tidak memberi tahu dirinya tentang masalah ini. Senja merasa dirinya seperti barang yang mudah di tukar.
"Mmy, kita harus bisa membuat Kakek jangan sampai memisahkan Ayah dan Ibu, sekarang itu yang kami fikirkan. bagaimana caranya supaya Kakek menyadari kesalahannya.," jelas Satya kemudian menarik tubuh kecil Senja ke dalam pelukannya, Senja menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya terasa sangat nyaman.
"Bby, Mmy malu sama Bby," jawab Senja dengan tatapan yang susah diartikan oleh Satya.
"Hey... dengar sayang, bagi Bby yang penting Mmy tetap di samping Bby sudah cukup," kata Satya.
Satya tahu bagaimana perasaan Senja saat ini, tapi Satya harus tau kenapa tiba-tiba Rendy datang ke Jakarta, apa ada yang tidak beres.
Satya memijat kepalanya yang begitu pusing dengan masalah keluarganya, Saat sedang akan membaringkan tubuhnya, Satya melihat pesan di handponenya Senja.
Kita lihat, siapa yang sesungguhnya jalang di sini!
Satya menatap istrinya dengan tatapan nanar, selama ini nomer ini terus mengusik Istrinya, tapi kenapa Senja tidak memberi taunya, ada rasa kecewa dihatinya.
Satya segera mengirim nomer telepon tersebut ke Rangga, Satya yang kesal karena sudah ada yang mengusik ketenangan Istrinya, tapi Satya penasaran kenapa tidak ada satu pesanpun yang di balas oleh Senja.
Di kediaman Yoga.
Mentari mengajak Adiknya untuk mengobrol di taman belakang rumahnya, Rendy menceritakan semua kepada Kakaknya, tidak ada lagi yang Rendy tutup-tutupi dari Kakaknya
Mentari menunduk ada rasa malu kepada suaminya, Rendy yang tahu bagaimana perasaan Mentari kemudian memeluknya untuk memberikan ketenangan.
Popy yang memperhatikan dari kejauhan tersenyum melihat lelaki yang sudah membuat hatinya kembali lagi terbuka semenjak di tolak oleh Satya.
Popy sebenarnya gadis baik-baik, tapi hatinya dingin saat lelaki yang sangat di cintainya menolaknya, dengan alasan karena akan di jodohkan oleh orang tuanya, Satya dulu sangat baik dan dekat dengan Popy akhirnya tumbuh rasa cinta di hati Popy, tapi sayangnya Satya lebih memilih mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan Mery.
Pupus sudah harapan Popy untuk memiliki Satya, semenjak itulah Popy berubah menjadi wanita yang dingin, apa lagi dengan laki-laki.
Bunda yang melihat Popy memperhatikan Mentari dan Rendy tersenyum, di sentuhnya pungung Popy dengan lembut, tapi masih bisa membuat Popy terkejut.
"Biarkan Mereka menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu," ucap Bunda.
"Ia Bunda," jawab Popy tersenyum kepada wanita yang dari dulu sudah dianggap seperti Ibunya sendiri.
__ADS_1
Popy dan Bunda menuju kedapur untuk membuat cemilan, karena besok Satya akan pulang, dengan semangat Popy membantu Bunda Satya. Mentari yang baru datang segera bergabung. Suasana dapur semakin ramai, saat Nenek Wati datang ikut bergabung.
Di depan salah satu kampus di Jakarta, terlihat pria tampan menjadi pusat perhatian untuk mahasiswi, bagaimana tidak pesona seorang Arga yang tampan dengan pakaian santainya bersandar di mobilnya yang mewah.
Dari jauh Arga bisa melihat Suci berjalan beriringan dengan dua orang sahabatnya, tapi saat Suci hendak melangkah lagi tangannya di cekal oleh seorang wanita yang sepertinya sedang memarahi Suci, karena Suci hanya diam menunduk.
Mata Arga seketika melebar, saat salah satu teman wanita yang sedang marah-marah dengan suci menyiramkan minuman berwarna ke tubuh Suci, melihat itu Arga geram segera melangkah mendekati Suci yang masih menunduk.
Arga membuka jaketnya dan segera memakaikan di tubuh Suci, Suci yang terkejut mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memakaikan jaket di tubuhnya.
"Kak Arga," ucap Suci sambil mengusap air matanya.
Arga merasa sedih melihat wanita yang di cintainya menangis, Arga menarik tubuh kecil Suci kedalam dekapannya.
"Jangan menangis lagi, ada Kakak di sini," ucap Arga menenangkan Suci.
Suci merasa terharu, karena baru pertama kali ada yang menolongnya, saat dirinya menjadi bahan bulian geng kampus yang paling ditakuti di kampusnya.
Arga membawa Suci untuk masuk ke mobilnya. Banyak pertanyaan yang ingin di utarakan ke Suci, tapi sepertinya Suci sedang tidak baik-baik saja.
"Apa mereka sering melakukan ini padamu?" tanya Arga
"Ia Kak," jawab Suci.
"Apa Arnold tahu, masalah yang menimpamu!" kata Arga yang mulai kesal dengan Suci, "kenapa saat di buli tidak melawan? malah hanya menundukkan kepala pasrah!" gerutu Arga
Suci menatap lurus ke depan, berharap keluarganya jangan ada yang tahu kalau dirinya sering di buli di kampus, sebenarnya Suci tidak tau kenpaa hanya dirinya yang menjadi sasaran mereka.
Arga membawa Suci, kerumah Yoga untuk mempertemukan Suci dengan Nenek Wati, Saat Arga Sampai depan pintu, tidak sengaja' matanya beradu dengan wanita yang dulu pernah menamparnya.
Arga segera membawa Suci ke kamar Nenek Wati, Suci membuka pintu pelan dilihatnya wanita paruh baya sedang istirahat.
Suci yang tidak mau membangunkan Neneknya segera menutup pintu kembali.
Arga tersenyum, "jangan menangis lagi," ucap Arga sambil mengusap kepala Suci, Suci tersipu malu dengan perhatian Arga kepadanya.
Bersambung ya
__ADS_1