
Hari yang dinantipun tiba, hari dimana Rendy akan pergi ke Bandung untuk menemui kedua orang tua Popy.
Semua sudah berkumpul, tinggal menunggu Rendy berganti pakaian. Mentari sangat antusias menyiapkan seserahan untuk keluarga Popy yang dibelinya kemarin bersama besannya Bunda Satya.
Satya menatap wajah istrinya datar, karena Senja tidak mau memakai kaos yang dibelinya. Tak berselang lama Rendy menuruni tangga.
"Maaf lama," ucap Rendy.
"Udah kayak cewek lo, pakai asedo," gerutu Satya.
Rendy hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu, yang paling boring kalau disuruh menunggu.
Mereka akhirnya berangkat, yang tadinya hanya berlima kini tambah Ranga ikut atas permintaan Rendy.
Mobil yang dikemudikan oleh pak Yanto, meluncur dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam mereka sampai Bandara Juanda Surabaya.
Setelah itu mereka langsung cekin, mereka jalan beriringan menuju ruang tunggu.
"Kenapa kita enggak langsung ke Bandung saja," kata Ranga.
"Ada berkas yang harus gue tanda tangani," jawab Yoga.
Tak lama informasi untuk penumpang tujuan Jakarta diharapkan segera naik pesawat, mereka berjalan kearah pintu yang sudah ditunjuk oleh petugas.
Saat sampai di pesawat Ranga tersenyum menatap Rendy, membuat Rendy mendengus kasar. Karena Rendy yang satu kursi dengan pasangan bucin.
Ranga segera duduk di samping Yoga, Mentari merasa heran melihat Ranga senyum-senyum dari tadi.
"Ga, kamu salah minum obat," kata Mentari penuh slidik.
"Enggak Kak," jawab Ranga.
"Terus ngapain senyum-senyum," sangah Mentari.
Ranga hanya bisa mengaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak mungkin ia bilang ke Mentari.
Rendy terkekeh yang duduk di samping Satya, Satya hanya melirik sebentar setelah itu ia kembali menghadap ke Senja.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam 30 menit, mereka sampai segera mengambil bagasi.
Di luar sudah ada Adrian yang menunggu, setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya muncul rombongan.
"Siang pak," sapa Adrian tetap profesional.
"Siang," jawab Yoga.
"Maaf kita mau langsung ke kantor atau kekantor polisi dulu," kata Adrian.
Yoga menarik nafas panjang, diliriknya Satya yang duduk di belakang. Namun, Satya hanya menaikkan bahunya acuh.
"Kita kekantor polisi dulu," jawab Yoga.
__ADS_1
"Baik Pak," ucap Adrian.
Rendy dan Ranga hanya diam, karena keduanya lelah. Apalagi setelah urusan Yoga selesai mereka akan langsung menuju Bandung.
"Kita mau ngapain kekantor polisi?" tanya Senja.
"Kita harus menjamin Arnold," jawab Satya.
"Memangnya Om Arnold salah apa?" tanya Senja lagi.
Satya segera menceritakan kepada istrinya, mendengar apa yang terjadi Senja hanya bisa menghela nafas panjang.
Senja teringat dengan Nenek Wati, bagaimana kalau ia mendengar kabar kalau Cucu dan Anaknya masuk penjara.
Mentari yang menyadari anaknya gelisah segera memeluknya, "jangan khawatir kita nanti jenguk Nenek," ucap Mentari.
"Terimakasih, Bu," jawab Senja.
"Ia sama-sama sayang," ujar Mentari.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Tak lama mereka sampai ke tujuan. Satya dan Yoga segera turun untuk membebaskan Arnold.
Dikantor polisi sudah ada pengacara yang dikirimkan oleh Argan untuk mengurus Arnold, setelah semua urusan selesai merka segera mencari tempat untuk makan siang.
Restauran kali ini yang di pilih, restauran yang menyediakan seafood. Adrian sengaja memilih tempat yang bisa untuk duduk lesehan.
Saat sedang menunggu pesanannya datang, Yoga melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Ia Mas, tumbenan mereka akur," kata Mentari.
"Mas juga enggak tahu," jawab Yoga.
Tanpa sengaja tatapan Shinta dan Mentari bertemu, wajah Shinta terlihat berbinar melihat sahabatnya akhirnya sudah kembali lagi ke Jakarta.
Tanpa menunggu di suruh Shinta segera menghampiri Mentari keduanya berpelukan melepaskan rindu, semuanya itu tak lepas dari perhatian Mery.
Mery akhirnya ikut menghampir keluarga Yoga, Satya hanya cuek saat melihat kedatangan mantan istrinya yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Rendy yang akan berdiri segera dicegah oleh Ranga, ia memperhatikan wanita yang mengobrol dengan mentari seperti tak asing baginya.
Shinta dan Mery akhirnya bergabung dengan keluarganya Yoga, Senja dan suaminya terlihat sangat santai.
Sedangkan Mery tak berhenti mencari perhatian Satya, tapi sayang semua itu sia-sia karena Satya tidak ada melihat sedikitpun kepadanya.
Tak lama datang Arga dengan wanita berbalutkan pakaian muslim yang modis, Suci yang kini menjadi sekertaris Arga sudah tidak terkejut saat diajak ke restoran mewah.
Senja sangat senang saat melihat Suci ikut, begitu juga dengan Suci keduanya langsung berpelukan, walau mereka jarang bertemu komunikasi keduanya tetap terjalin.
Arga terkejut saat melihat ada wanita yang sangat dibencinya ada diantara mereka, mata Arga menatap tajam ke arah adiknya.
Rangga hanya menaikkan bahunya saat matanya menangkap tatapan tajam dari saudara kembarnya.
__ADS_1
Mentari dan Shinta asik bercerita sendiri, sedangkan Mery terlihat sangat kesal karena niatnya menggoda mantan suaminya tidak berhasil.
"Suci bagaimana kabar Nenek?" tanya Mentari.
"Alhamdulillah, Nenek sehat Tante," jawab Suci sambil tersenyum.
Arga semakin kagum dengan wanita yang kini sudah dekat dengannya, ingin rasanya Arga mengungkapkan isi hatinya. Namun, ada rasa takut saat Suci nanti menolaknya.
Satya membisikan sesuatu ke Arga, membuat Ranga merasa curiga.
Arga tersenyum melihat adiknya, apa benar setelah ia menikah adiknya akan segera menikah juga.
Arga menarik nafas panjang, secepatnya ia akan mengungkap perasaannya kepada Suci. Suci yang merasa diperhatikan segera melirik Arga sambil tersenyum.
"Lo sudah jadian sama Suci?" tanya Satya.
"Gue belum berani, ada rasa takut kalau ditolak," jawab Arga.
"Masak mantan play boy takut ditolak," ledak Satya sambil terkekeh.
"Terserah lo mau ngomong apa," jawab Arga sambil mengusap wajahnya.
"Jiwa play boy Lo pindah kemana!" goda Satya lagi sambil mengulum senyum.
"Diam lo, bikin mood gue jelak aja," balas Arga.
Yoga melihat kedua sahabatnya saling ledak hanya menggelengkan kepalanya, setiap bertemu selalu seperti itu. Pantas Ayah Nugraha menyuruh Arga yang mengurus bisnisnya yang di Jakarta.
Yoga melihat jam ditangannya sudah mau jam 1 siang, ia segera berdiri untuk membayar makanannya.
"Rendy kita jam berapa berangkat?" tanya Yoga saat selesai membayar di kasir.
"Jam dua saja ya, jadi sebelum Maghrib kita sampai." jawab Rendy.
"Mau kemana?" tanya Mery yang tiba-tiba kepo.
"Bukan urusan lo," jawab Rendy dengan ketus.
Mery hanya menatap datar kearah Rendy, sambil komat-kamit mengumpati Rendy.
"Baca mantra lo," ujar Ranga.
"Ia buat nyantet lo," jawab Mery kesal.
"Santet lo ke gue mental," ejek Ranga.
"Wah....apa perlu bukti," gertak Mery sambil menyeringai.
"Ih....takut!" ledek Ranga sambil bergidik ngeri.
Semua yang ada disitu hanya bisa menghela nafas berat, karena keduanya kalau tidak dipisahkan akan menjadi perang dunia ketiga.
__ADS_1
Bersambung ya... jangan lupa dukungannya, jangan lupa kritik dan sarannya 🙏