PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 163


__ADS_3

Senja sudah merasakan kalau perutnya semakin sakit, wanita itu terkejut saat merasakan air mengalir di kakinya. Perlahan diraihnya cairan itu, air matanya menetes kenapa saat ini tidak ada yang menjaganya. Hanum juga belum kembali.


Senja berjalan tertatih sambil memegang perut bagian bawahnya, saat dia membuka pintu melihat sepupu Diana lewat.


"Kak, tolong aku," ucap Senja lirih dengan keringat sudah membasahi wajahnya.


Leon yang melihat itu segera menghampirinya, "Kamu kenapa?" tanyanya panik.


"Aku mau melahirkan, Kak," jawab Senja sambil mencengkram lengan Leon membuat pria itu meringis.


"Suamimu mana?" tanya Leon yang ikut meringis saat Senja menahan sakit.


"Tolong bawa aku ke rumah sakit," kata Senja.


Tanpa menunggu lama Leon menggendong tubuh Senja, ia berjalan menuruni tangga, tanpa sengaja Harum melihat itu berlari mengejar pria yang membawa Senja. Afkar melihat itu segera mengejar istrinya.


Sampai di parkiran, Leon  dibantu Hanum membuka pintu mobil tapi Senja tak melepaskan cengkraman di lengan Leon. Afkar segera masuk dan menyuruh istrinya untuk mencari Satya. 


Mobil langsung meninggalkan area hotel, Sedangkan Mentari sudah dibawa Rendy ke rumah sakit yang terdekat dengan hotel. Hanum yang melihat Satya dan Yoga begitu marah, kedua pria itu saling bercanda tanpa memikirkan istrinya yang sudah mau lahiran.


Tamu sudah pulang tinggal keluarga besar saja, gadis itu berjalan ke arah panggung, dimana Satya dan Yoga sedang mengobrol dengan keluarga yang lainya.


Hanum mengambil mix dan mulai berbicara," Tuan Satya dan Yoga, Anda dimana, hah!" seru Hanum dengan wajah yang memerah.


Semua keluarga besar menatap ke arah panggung, membuat Arga dan Ranga serta yang lain terkejut, Satya dan Yoga saling tatap. Hanum berhitung dalam hati satu sampai tiga untuk melihat raut wajah kedua pria itu. Baginya yang penting sekarang kedua ibu hamil itu sudah mendapat pertolongan.


"Pak, Ibu Senja dan Ibu Mentari dibawa ke rumah sakit mau lahiran," kata Hanum sambil menangis.


Satya dan Yoga begitu terkejut, Ibnu dengan cepat menarik kedua pria itu keluar, yang lain juga ikut keluar sedangkan kedua pasang pengantin langsung turun dan dibawa ke kamar untuk mengganti baju.


"Sayang maafin aku," kata Satya di dalam mobil.


Yoga hanya diam, tapi wajahnya terlihat khawatir, Ibnu hanya menggeleng. Pria itu segera menghubungi Alan untuk membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Lima mobil beriring-iringan menuju keluar dari parkiran hotel menuju rumah sakit.

__ADS_1


Satya merasa mobil yang dikemudikan oleh Ibnu begitu lambat jalannya. Dari tadi pria itu sudah uring-uringan. Mobil sampai di rumah sakit, mobil belum sampai berhenti Satya langsung turun membuat Ibnu dan Yoga terkejut.


Satya lari menuju UGD, dari jauh dia melihat Afkar dan Popy, "Mana istriku," kata Satya.


Afkar langsung mengajak Satya dan Yoga menuju ke ruang bersalin, sedangkan Popy menunggu keluarga yang lain.


"Pak jangan masuk," kata suster,


"Sus mereka suaminya," kata Afkar.


Tak lama keduanya masuk, tanpa bertanya mana ruang bersalin istrinya masing-masing, setelah keduanya masuk, tak lama keluar lagi karena salah masuk ruangan, Satya masuk ruangan bersalin Mentari sedangkan Yoga masuk ke ruangan Senja.( di paragraf ini Aa ngetiknya sambil ngakak ngebayangin wajah Satya dan Yoga)


Senja yang sedang menahan sakit sambil menarik rambut Leon, kadang wanita itu mencakar tangan pria itu untuk menahan rasa sakitnya, baju Leon pun tak lepas dari tangan wanita yang mau melahirkan itu.


"Sayang, "kata Satya membuat dokter dan suster menjadi bingung mana suami dari pasien yang sedang mau melahirkan.


"Dia suaminya, Dok!"kata Leon sudah lemah.


Yoga langsung menggantikan peran Rendy, Rendy keluar dari ruangan bersamaan dengan Leon. Semua yang menunggu di luar ruangan terkejut melihat kedua pria itu, Ranga dan Arga yang baru datang tertawa lepas melihat Rendy dan Leon, hingga terdengar suara bayi menangis semuanya diam.


Bunda yang tidak sabar langsung menerobos masuk ke ruangan Senja, air matanya menetes saat melihat bayi berjenis kelamin perempuan terlihat begitu cantik yang kini sedang dibersihkan oleh perawat sedangkan dokter membantu Senja.


Satya tanpa terasa air matanya berlinang, dipeluknya wanita yang sudah melahirkannya itu, "Bun, maafkan Satya!" serunya sambil menangis.


Bunda yang paham apa yang dirasakan putranya ikut menangis, kemudian ia mendekati menantunya, "Selamat sayang , kamu sudah menjadi Mama, dan Satya sudah menjadi Papa." 


"Bunda sudah menjadi Oma, kata Senja lirih.


"Maaf, Pak, Ibu . Silahkan keluar dulu, karena sebentar lagi ibu dan anaknya akan dipindahkan ke ruang rawat," ujar perawat itu.


Satya keluar dengan mata sembab, pria itu langsung memeluk Ayah Nugraha, dan yang lain juga memeluk Satya, begitu juga saat Yoga keluar dengan mata yang memerah. Semua memberikan selamat kepada Satya dan Yoga.


Tak lama Senja dan Mentari sudah pindah ke ruang rawat yang sudah dipesan Ayah Nugraha, ibu dan anak itu menempati kamar yang sama, tentunya dengan merogoh kantong lumayan dalam, karena ruang Vip biasa hanya ditempati satu pasien, tapi dengan campur tangan Ayah Nugraha semua mudah.

__ADS_1


Satya dan Yoga mengambil putri dan putranya untuk diadzani, setelah itu perawat masuk untuk mengecek apa asi dari kedua ibu itu sudah keluar.


Tante Mela akhirnya begitu senang karena keduanya melahirkan secara normal, penuh dengan pengorbanan. Anak Satya berjenis kelamin perempuan sedangkan anak Yoga berjenis kelamin laki-laki.


Baik anak Yoga dan Anak Satya menjadi rebutan untuk bisa menggendongnya hingga Dokter Melati mengatakan jangan digendong nanti bau tangan, barulah kedua bayi itu diletakkan di bok.


Sesuai permintaan Satya kalau anak dan adiknya tidak dipisahkan dari Ibunya. Raut bahagia begitu terlihat dari pasangan Ayah Nuraga  saat melihat kedua cucunya sudah lahir dengan selamat.


"Yoga selamat ya. Lo jadi ayah dan sekaligus menjadi Kakek," kata Angkasa sambil mengusap bahu Yoga.


"Siapa namanya, Nak?" tanya Ayah Nugraha.


"Siapa yang?" tanya yoga ke Mentari yang masih lemah. Wanita itu hanya tersenyum.


Satya saat melihat Rendy terkejut, "Lo kenapa?" 


Rendy dan Leon hanya mendengus, kedua pria itu jika mengingat bagaimana wanita melahirkan anaknya sampai seperti itu menahan sakitnya.


"Yang, nanti cesar saja ya," kata Rendy ke Popy.


Popy hanya tersenyum, ia juga kasihan saat melihat suaminya habis sama kakak iparnya sedangkan dia harus mengemudikan mobil menuju rumah sakit.


Satya menghampiri istrinya, dikecupnya wajah Senja dari kening, Pipi dan bibinya, rasanya pengorbanan  istrinya begitu luar biasa untuk membuat anaknya hadir di dunia ini.


"Sayang aku cinta dan semakin sayang, terimakasih sudah berjuang membuat anak kita bisa selamat," kata Satya menatap sang istri penuh cinta.


"Iya, terima kasihlah ke kak Leon , kalau saja telat sedikit anak kita akan lahir di jalan tadi," kata Senja sambil terkekeh jika ingat kata Leon minta suster dan dokter suruh mengoperasi saja tadi.


"Mas cari nama untuk anak kita ya," katanya sambil menggenggam tangan suaminya.


"Iya, kamu istirahat dulu!" perintah Satya karena melihat istrinya sudah mulai mengantuk karena lelah.


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2