
Pagi hari ini Senja ada kuliah pagi, ia melihat suaminya sudah tidak ada di sampingnya. Wanita yang sedang hamil muda itu segera membersihkan diri. Kini ia tengah mencari bajunya yang agak besar, dia tak ingin memakai baju yang pas di badan.
Setelah mendapatkannya Senja segera turun untuk mencari suaminya, tapi yang ada bik Sum dan bik Ida yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
“Bik Bby mana ya?” tanyanya .
“Pergi lari pagi tadi, Non,” jawab bik Ida.
Senja hanya mengangguk kini ia duduk di meja makan sambil memakan udang goreng kesukaannya, bik Sum melihat kebiasaan Nonanya hanya tersenyum. Ia tahu betul udang goreng tepung adalah kesukaan wanita yang tengah hamil muda itu.
“Assalamualaikum,“ ucap Satya sambil tersenyum saat melihat istrinya duduk di meja makan.
“Waalaikumsalam suamiku sayang,” jawabnya sambil mengedipkan matanya.
Kedua artnya hanya tersenyum melihat majikannya begitu bahagia, Senja menatap suaminya saat mengambil air hangat yang sudah di siapkan oleh buk Ida. Satya yang melihat istrinya bengong memperhatikannya hanya tersenyum.
“Dasar istri kecil yang nakal,” lirihnya.
“Bby lain kalau kalau olah raga di taman belakang saja,” ucapnya, Satya langsung berhenti saat akan menaiki tangga, ia menghampiri istrinya sambil menaikkan kedua alisnya.
“Kenapa Bby enggak boleh keliling kompleks?” tanyanya.
“Takut banyak wanita yang terpesona nantinya,” jawabnya sambil tersenyum.
Satya menjadi gemes kalau enggak ingat pesan dokter ia pastinya akan langsung membawa istrinya ke kamar. Seperti alarm di kepalanya sekarang ingat dua bulan usia yang rentan bagi ibu hamil di tri semester pertama.
Ia tidak ingin terlalu memaksakan ke egoisannya, demi anaknya dan istrinya ia rela melampiaskan di kamar mandi. Namun, yamg menjadi pertanyaannya apa setelah empat bulan lebih apa boleh? Satya segera masuk kamar mandi untuk menyegarkan otak mesumnya, tapi ia semakin menginginkannya.
Setelah satu tiga puluh menit ia di dalam kamar mandi, Satya segera memakai baju kerjanya yang telah di siapkan oleh istrinya. Ia akui pakaian yang di siapkan Senja begitu pas warnanya untuk ia pakai.
“Bby kenapa lama sekali, Mmy ada kuliah pagi Dosen killer lagi!” ucapnya yang kesal karena suaminya tidak turun-turun juga.
__ADS_1
“Maaf sayang tadi ada yang harus Bby lepaskan,” jawabnya.
Senja hanya tersenyum, ia tahu maksud suaminya. Namun, bik Sum dibuat bengong. Satya terkekeh melihat
wanita paruh baya yang menatapnya penuh dengan penasaran. Setelah itu keduanya segera mulai sarapan nasi goreng buat buk Sum yang begitu nikmat.
Kini keduanya segera berangkat, apa lagi Senja sudah cemberut dari tadi takut ia telat, Satya hanya menggelengkan kepalanya. Pada hal ia tahu Ibnu tidak akan marah kalau istrinya telat, jika orang lain selalu minta di istimewa kan. Namun,tidak untuk istrinya.
Sesampainya di kampus Senja dengan buru-buru berjalan menuju kelasnya, saat ia sampai bersamaan Ibnu yang datang, Ibnu hanya menggelengkan kepalanya melihat istri dari sahabatnya itu baru datang.
Kelas yang tadinya riuh kini langsung sepi saat Ibnu duduk di bangku depan, Ia mengedarkan pandangannya
ke depan. Setelah itu ia mengambil tumpukan kertas.
“Sari, tolong bagikan hasil ujiannya,” ucapnya datar.
Sari yang mendengar itu hanya mencibirkan bibirnya, ternyata walau dirinya kekasihnya lelaki di depan itu tetap profesional. Sari segera membagikan semua, setelah selesai ia duduk di kursinya lagi. Saat sari membuka kertas hasil nilainya matanya seketika melotot, ia langsung menatap Dosen killer yang juga sedang menatapnya.
“Dasar bunglon,” lirihnya yang membuat Diana dan Senja tersenyum karena keduanya tahu apa yang di maksud Sari. Setelah dua jam berlalu kelas usai, lagi- lagi banyak mahasiswa yang mengeluh kalau Dosen kilernya selalu memberinya tugas dan akan di kumpulkan untuk pertemuan selanjutnya.
“Sari lo bilang, sama ayang bebmu itu jangan kasih tugas melulu!” gerutu senja kesal.
Sari hanya tersenyum, tak lama datang Alan dan dua orang sahabatnya. Sari tahu pasti ketiganya akan menanyakan tentang hal kemarin, Sari segera menuju ke ruang Dosen kilernya karena ia mengirimkan pesan agar dirinya segera datang ke ruangannya.
“Sari…lo…hutang penjelasan!” teriak Leo yang membuat mahasiswa lain menatap ke arahnya.
Sari tak menjawab tapi ia memberikan tanda love pakai tangannya, hal itu membuat Deo dan Leo saling pandang, kini ketiganya menatap Diana dan Senja bergantian. Senja hanya menaikkan bahunya begitu juga dengan Diana.
Alan yang melihat itu mendengus kesal, setelah itu mereka jalan ke kantin bersamaan, Diana melihat Sasa dan geng nya menatapnya dengan sinis. Namun, Senja hanya tersenyum ia menarik tangan Diana.
***
__ADS_1
Di ruang Ibnu.
Sari mengetuk pintunya, setelah mendengar kata masuk dari dalam ia segera membuka pintu ruangan lelaki yang menjadi idaman para wanita di kampusnya.
Ibnu tersenyum ia segera menarik tangan Sari dan mendudukkan di pangkuannya, hal itu membuat Sari terkejut. Tanpa mereka sadari Sasa menguping pembicaran Sari yang tiba-tiba masuk keruangan Dosen idaman mahasiswi itu.
Ibnu yang menyadari ada suara dan langkah kaki di balik pintu ruangannya hanya menatap Sari, sari yang tak mengerti arah arti pandangan kekasihnya itu hanya menaikkan bahunya.
“Siapa yang di balik pintu,” ucapnya lirih di telinga Sari,
Sari yang terkejut segera lompat dari pangkuan Dosen kilernya itu, wajahnya terlihat pias ia takut ada mahasiswa yang lain mengikutinya saat akan ke ruang Ibnu.
Ibnu terkekeh melihat wanita yang begitu menjadi prioritasnya saat ini, ia kemudian berdiri setelah melihat Sari sudah duduk di sofa ruangannya sambil mengecek tugasnya tadi. Ibnu segera melangkah menuju pintu, saat ia membuka pintu bersamaan dengan Sasa dan dua orang temannya tersungkur ke lantai, hal itu membuat Sari melotot dan setelah itu ia tertawa lepas melihat ondel-ondel itu tersungkur.
Ibnu hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada, ia menatap tajam ke arah ke tiga mahasiswi-nya yang berani menguping di ruangannya.
Sasa terlihat salah tingkah hanya menunduk, tapi matanya menatap ke arah Sari dengan sinis, Sari hanya cuek saja. Sambil kembali mengerjakan tugasnya.
“Maaf pak,” ucapnya dengan suara manjanya.
“keluar!” bentaknya ke arah ketiga mahasiswi-nya itu.
Tanpa menjawab ketiganya segera keluar ruangan Ibnu, setelah itu Ibnu segera menutupnya kembali dengan kasar, ia memijit keningnya melihat tingkah mahasiswinya yang ke genitan kepadanya.
Sedangkan di luar ruangan Sasa dan ketiganya mengusap dadanya karena kaget saat Ibnu menutup pintunya dengan keras tadi,
“Lo….sih, Sa hampir saja kita kena masalah,” ucapnya sambil mengusap keringatnya yang keluar saat dirinya ketakutan,
“Kenapa lo pada salahin gue sih!” teriknya kesal kepada dua sahabatnya itu.
Sasa yang masih terlihat kesal segera menuju ke mobilnya, kedua sahabatnya ia tinggalkan begitu saja.
__ADS_1