
Tak lama Dokter keluar dari ruang UGD, Bunda segera menghampirinya.
"Bagaimana dengan suami saya, Dok?" tanya Bunda dengan wajah puasnya.
"Ibu enggak usah khawatir, suami Ibu hanya kelelahan saja. Satu lagi asam lambung Pak Nugraha naik." Jelasnya.
"Apa Ayah harus dirawat, Dok?" tanya Ranga ikut menimpali.
"Iya, setidaknya tiga hari ini beliau akan dirawat, " ujarnya.
"Mari pak ikut saya," kata Suster sambil tersenyum menatap wajah tampan Ranga.
Tanpa menjawab pria itu mengikuti suster ke bagian administrasi untuk mengurus pemindahan perawatan Ayah Nugraha ke ruang rawat.
Setelah selesai Ayah Nugraha sudah di istirahat di ruang rawat. Bunda dengan sabar mendampingi beliau, melihat itu Ranga merasa bersalah kepada Satya dan Arga.
Ranga begitu berat, menyembunyikan kesehatan Ayahnya, tapi ia juga harus mengikuti kemauan Ayah dan Bundanya.
"Ranga," panggil Ayah dengan lemah.
"Iya Yah, apa Ayah menginginkan sesuatu?" tanyanya.
Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya, ia menggelengkan kepalanya. "Tolong jangan kasih tahu Satya dan Arga," katanya Sambil tersenyum yang terlihat dipaksakan.
"Tapi yah, Ranga merasa bersalah dengan Satya dan Arga" ujarnya.
"Kamu tahu Senja sedang hamil tua, pasti Satya akan meninggalkan istrinya di Jakarta," ucapnya
Ranga yang paham maksud Ayahnya hanya mengangguk, tapi sejurus kemudian ia ingat sesuatu.
"Ayah, bukannya Minggu depan Arga sudah pulang," ucapnya.
"Iya Nak, tapi biarkan dia memilih ke Jakarta langsung atau ke Surabaya dulu," jawabnya.
"Ayah, apa salahnya kalau kita suruh kesini dulu?" tanya Ranga.
"Kapan lagi Ayah ngerepotin anak bungsu satu ini," katanya sambil terkekeh.
"Maksudnya!"
"Ayah hanya ingin kamu yang mengurusnya, Nak. Sahut Bunda sambil tersenyum.
Ranga terkejut mendengarnya, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat Ayah dan Bundanya mengerjai dirinya.
Akhirnya kini ia hanya duduk di sofa ruangan Ayahnya, entah mengapa ia merasa bersalah kepada dua saudaranya itu.
Bunda hanya tersenyum melihat putranya memejamkan matanya, "bagaimana mau jaga Ayah, baru baring saja sudah tertidur."
__ADS_1
"Kecapekan dia, Yah. Biarkan Saja dia istirahat," kata bunda.
Ayah Nugraha hanya tersenyum menatap istrinya yang begitu setai menemaninya, entah mengapa ada perasaan seakan hidupnya tak lama lagi. Secepatnya dia akan mengurus pernikahan Arga dan Ranga.
"Ayah istirahat ya, Bunda mau ke mushola," pamitnya sambil tersenyum menatap suaminya.
Ayah Nugraha hanya mengangguk, matanya memang sudah sangat berat, ia yakin ini karena efek obat yang diminumnya.
****
Ke Jakarta.
Satya yang masih di kantor baru selesai menandatangani hasil kerjasamanya dengan salah satu pengusaha di Jakarta, tanpa terasa selama ia begitu cocok dengan asisten Arga selama ini.
Hari ini selesai meeting Satya mengajak Afkar untuk meninjau langsung ke lapangan, hal itu membuat beberapa manager yang menangani proyeknya dibuat kelimpungan.
"Afkar, gue rasa ada yang janggal dari laporan ini!" kata Satya sambil memberikan salah satu dokumen kepada asistennya.
Pemuda tampan itu mengamati secara intens dan teliti, tangan yang memegang pena tak henti mencoret dan menandai laporan yang ada di pegangnya..
"Pak, nanti saya akan panggil manajer bagian pemasaran untuk menanyakan hal ini," katanya sambil memberikan salah satu dokumen yang butuh tanda tangan Satya.
"Oke, tolong kamu bereskan. Arga mungkin minggu depan sudah di Jakarta," ucapnya kepada Afkar yang dibalas hanya senyuman saja.
Bagi Afkar mau Satya atau Arga yang menjadi atasan semua sama, yang penting dia bekerja dengan baik. Untuk sampai di jenjang ini baginya tidak mudah.
Satya yang melihat Afkar hanya diam dan melamun, membuatnya tersenyum. Laki yang biasa terlihat datar dan dingin itu sepertinya sedang memiliki masalah.
"Tidak Tuan, saya permisi mau ke ruangan saya," pamitnya.
Satya melihat itu hanya berdecak, asisten Arga itu begitu tertutup dengannya. Dilihatnya benda kecil yang melingkar di tangan. Pria itu hanya mendesah entah kenapa perasaanya tidak enak, tidak biasanya seperti ini, apa ada yang terjadi dengan istrinya di rumah, tapi kalau ia seharusnya Ibu mertuanya dan Bik sum akan menghubunginya.
Diraihnya benda pipih di atas mejanya, Satya mencoba menghubungi Ayah Nugraha tapi tak diangkatnya, tak lama ia juga mencoba menghubungi Ranga. Namun, sayang hasilnya sama.
Ada apa ini? Ya Allah semoga keluargaku baik-baik saja.
Satya berjalan keluar dari ruanganya, di lihatnya Afkar. Lelaki itu sedang serius menghadap laptopnya.
Satya langsung masuk dan duduk di depan Afkar, Yang empunya ruangan hanya melirik sebentar tanpa menghentikan pekerjaanya.
"Af, lo serius amat!" katanya sambil terkekeh.
Afkar hanya menarik napas kasar, ia menghentikan kerjanya dan menatap Satya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau kopi," tawarnya.
"Boleh."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Afkar medial nomor pantry untuk meminta dibuatkan kopi dua di antar ke ruanganya.
"Ada apa sih? lo kalau ada masalah jangan dibawa ke kantor, kerjaan gue banyak, Bro!"
"Cih ... itu untuk meeting lusa kerjain besok saja, lo hari ini sudah bekerja keras jangan."
Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar, setelah terdengar suara masuk dari dalam muncul wanita berseragam Ob membawa dua cangkir kopi.
Afkar menatap ob yang sedang meletakan kopi di depan mejanya, semua itu tak lepas dari perhatian Satya.
"Silahkan Tuan," ucapnya ramah sambil tersenyum ramah memamerkan lesung pipinya.
"Iya terimakasih, sekarang silahkan keluar!" ucapnya datar.
Mendengar itu ob itu hanya menganggukan kepalanya sambil cemberut menatap Afkar yang juga sedang menatapnya dengan tatapan dinginya.
"Lo kenal itu cewek?" tanya Satya sambil tersenyum.
"Enggak."
Satya yang tahu kalau asistenya tadi memperhatikan wanita yang mengantarkan kopi tadi hanya tersenyum.
"Kalau tertarik bilang jangan seperti itu," godanya.
"Bos, kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan gue mau kerja lagi," katanya hendak berdiri menuju meja kerjanya.
"Tunggu, jangan marah. Dari semalam perasaan gue enggak enak." ucapnya sambil menarik napas dalam.
"Sudah hubungi orang tua lo?" tanyanya sambil menatap wajah Satya.
"Sudah, tapi enggak diangkat." Jawabnya.
"Kalau ada apa-apa sama mereka sudah pastinya Ranga kasih kabar ke lo."
Satya hanya menganggukan kepalanya, tapi nomor Ranga juga tidak bisa di hubungi. Satya berdiri lalu keluar dari ruangan Afkar tanpa permisi.
Afkar hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya itu, tapi lebih baik dia keluar dari ruanganya . Pria itu kembali berkutat dengan laptopnya.
Satya yang sudah kembali ke ruangannya langsung mengambil kunci mobil dan keluar buru-buru menuju lift. ia harus segera pulang, hanya istrinya yang bisa menenangkan dirinya saat ini.
Mobil melaju menerobos kemacetan ibu kota, setelah menempuh empat puluh lima menit, Satya sampai di rumah mertuanya.
Bik sum yang sedang duduk di samping rumahnya langsung berdiri dan mendekati Satya dengan wajah sendu.
"Ada apa, Bik?" tanya Satya.
"Kata Ida Tuan sakit," ujarnya.
__ADS_1
Satya menarik nafas dalam, kemudian ia segera masuk rumah saat sampai ruang tamu ia tidak mendapatkan istri ataupun mertuanya.
" Kemana mereka? kenapa rumah begitu sepi? batinya.