
Hari ini adalah hari yang di nanti-nanti oleh Ferdinand dan Fifi untuk berjanji sehidup semati. Seperti yang diinginkan olehnya. Bunda Fifi jika pernikahannya akan dihadiri oleh rekan dekat dan keluarga besar saja.
Kebaya warna putih yang sudah dirancangnya sendiri sudah melekat di tubuhnya. Hijab warna senada sudah terpasang dengan rapi, dilengkapi hiasan bunga melati di samping kirinya.
Walaupun acaranya di hotel. Namun, pihak wo tetap mendekorasi sesuai keinginan Diana. Di mana impian pernikahan Bundanya dulu dengan ornamen serba putih.
Beberapa tamu sudah datang, Ayah Nugraha menjadi saksi. Ada juga dari pihak keluarga besar Ferdinand yang menjadi saksi.
Diana sama sekali tidak boleh turun dari kursi roda oleh Rangga dan itu tanpa bantahan.
Seruan kata-kata sah, terdengar dari para saksi di mana Ferdinand dan Fifi sudah sah menjadi suami dan istri.
Ranga dan Leon berjalan untuk mengantarkan Bunda Fifi untuk duduk di samping Papanya.
Ferdi yang melihat istrinya datang langsung berdiri dan menyambutnya. Hingga membuat Ayah Nugraha mengusilinya.
"Sabar," ucapnya.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa, sedangkan wajah Bunda Fifi sudah memerah karena malu.
Kini giliran para tamu untuk mengucapkan selamat, Ranga dengan sabar mendorong kursi roda milik istrinya untuk menuju ke pelaminan karena acara langsung resepsi.
"Bunda selamat ya," kata Diana yang langsung dipeluk oleh Bundanya.
"Terimakasih sayang, jangan capek ya, Nak." Fifi mengingatkan putrinya.
"Bunda selamat," kata Ranga memeluk mertuanya yang sudah seperti ibunya sendiri itu.
"Terimakasih sayang, jangan anak dan Cucu Bunda!" pinta Fifi.
"InshaAllah, tanpa Bunda pinta pasti akan Ranga lakukan," jawab Ranga.
Kini Ranga dan Diana beralih ke arah Papa Ferdinand. Seperti sebelumnya Dana di peluk oleh Papanya.
"Papa selamat ya, jagain Bunda," kata Diana.
"Pasti sayang," jawab Ferdinand dengan tersenyum.
"Papa selamat, jangan lupa buatkan kami adik," goda Ranga.
"Dasar anak nakal," ujar Bunda Fifi.
"Kalau itu tergantung Bunda kalian apa mau membuatkan adik untuk kalian," balas Ferdinand.
"Mas!" Seru Bunda Fifi mencubit pinggang suaminya.
"Cie, udah berani cubit-cubit," timbal Leon membuat yang lain yang sedang antrian untuk mengucapkan selamat tertawa.
"Leon, kamu sudah buat wajah Bunda merah," sahut Ferdinand.
Kebersamaan yang penuh kehangatan mewarnai hari bahagia pengantin baru walau usia tidak muda lagi.
Ayah Nugraha dan sang istri diikuti Satya serta Senja turut mengucapkan selamat.
"Selamat, cinta sejati itu untuk diperjuangkan," kata Ayah Nugraha.
"Aku deg-degan lo, Mas," kata Bunda Kepada Ayah Nugraha.
"Bunda sakit?" tanya Satya menatap cemas wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Bukan, deg-degan untuk nanti malam," jawab Bunda mengedipkan matanya ke arah Fifi dan Ferdinand.
__ADS_1
Senja langsung tergelak membuat suaminya hanya menarik napas. Bunda Fifi hanya menggelengkan kepala melihat besannya itu.
"Sudah jangan godain istriku lagi," bela Ferdinand.
"Sabar ya masih tiga jam lagi," sahut Ayah Nugraha lalu turun diikuti anak dan istrinya.
Senja wajahnya sudah memerah sedari tadi karena tiap ia tertawa Satya selalu menatapnya datar.
"Mas aku hanya tertawa aja dilihatin kayak gitu," kata Senja.
"Kamu kalau tertawa lepas gitu ingin sekali aku membawa ke kamar." Satay berbisik tempat di telinga istrinya.
"Dasar mesum!" gerutu Senja kesal.
"Itu karena suamimu normal, Sayang," bela Satya.
Senja hanya memutar bola matanya malas karena ia akan selalu kalah saat berdebat dengan Satya.
Arga yang mendengar obrolan sepasang suami istri itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kalian kalau mau berdebat sewa kamar sana!" seru Arga.
Senja melebarkan matanya karena ide dari arga itu pasti akan diterima oleh suaminya.
"Benar, lo adik terbaik," puji Satya
"Suci, jagain Jingga ya!" pinta Satya.
"Mas!" seru Senja memukul lengan suaminya.
Suci hanya senyum menanggapi permintaan Satya, sedangkan Arga langsung melotot dan berkata." Emang kamu aja mau itu, ayo Yang."
Satya dan Senja menatap Arga yang lebih dulu pergi sambil memperlihatkan card kalau ia sudah pesan kamar.
Senja menatap tajam suaminya itu, dipijatnya keningnya kenapa para pria begitu mesum saat ini.
Bunda yang melihat menantunya memijat keningnya langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu sakit," kata Bunda langsung mengambil alih Jingga dari pangkuan Senja.
"Bun," kata Senja yang terkejut karena putrinya sudah berpindah tangan.
"Bunda bisa jagain Jingga!" pinta Satya.
"Mas!" seru Senja.
"Enggak apa-apa biar Bunda yang jaga," ucap Bunda.
"Ya sudah ya Bun, Satya bawa Senja istirahat di kamar utama," ucap Satya dengan senyum-senyum.
Senja ingin sekali teriak dan marah kepada suami mesumnya itu. Akhirnya ia dan suaminya pergi menuju kamar khusus di hotel milik keluarga Nugraha.
Ranga yang baru datang dan Ibnu bergabung dengan Ayah Nugraha. Sari sedari tadi yang mencari Senja akhirnya bertanya." Bun, Senja mana?"
"Pusing kayaknya diajak Satya istirahat," jawab Bunda.
"Sakit Bun?" tanya Diana.
"Yang sakit adik kecilnya Satya," sahut Ranga.
"Mas!" seru Diana karena suaminya kalau bicara tidak disaring.
__ADS_1
Ibnu tergelak mendengar apa jawaban Ranga, sedangkan Ayah Nugraha hanya tersenyum.
"Kayak nggak ada lagi yang dibahas selain itu," sahut Leon yang bari datang.
"Makanya buru nikah, biar tahu rasanya," ucap Ranga.
"Kak jangan didengar," ucap Diana.
"Lo to ya , Ga. Ada Ayah dan Bunda nggak malu," kata Leon.
"Bunda dan Ayah juga dulu pernah muda, Bro." Ranga memeluk lengan Bunda.
"Kenapa Papa yang nikah? Gue yang panas dingin," kata Leon mengusap wajahnya.
"Mau gue cariin," tawar Ibnu.
"Siapa Mas?" tanya Sari.
"Ibu kantin udah satu tahun menjanda," jawab Ibnu santai tanpa beban.
"Mak Imah," kata Sari dan Diana kompak.
Sari dan Diana langsung tertawa, keduanya membayangkan Leon yang seperti bule harus bersanding dengan Mak Imah.
"Sudah yang," kata Ibnu karena istrinya tidak berhenti tertawa.
Tiba-tiba Sari terdiam, ia merasakan perutnya mulus. Dicengkeramnya tangan Ibnu kuat.
"Yang, kenapa?" tanya Ibnu.
"Hanya kontraksi palsu, Mas." Sari sengaja tidak bilang karena suaminya pasti akan panik.
Sari menggigit bibir bawahnya ke dalam.
"Mas, aku mau melahirkan," kata Sari.
"Jangan buat aku panik, Yang," jawab Ibnu.
Ibnu berdiri dan berjalan menuju stand makanan, ia tahu jika sang istri sedari tadi tidak mau makan.
Sari mencengkeram lengan Leon kuat membuat pria itu panik.
"Lo mau lahirnya?" tanya Leon membuat yang lain menatap ke arah pria itu.
"Kak, tolong." Sari semakin kuat mencengkeram lengan Ibnu.
Leon berdiri dan langsung mengangkat tubuh Sari. Namun, ia terkejut.
"Basah,"' kata Leon.
"ketuban!" seru Bunda.
Ibnu yang baru sampai berdiri mematung sampai piring yang dipegangnya jatuh membuat semua orang melihat ke arah Ibnu.
Ayah Nugraha langsung berdiri dan berkata." Kita bawa ke rumah sakit."
Leon tanpa menunggu lama berjalan lebih dulu sambil mengendong Sari, sedangkan Ayah Nugraha dengan langkah cepat mendahului Leon untuk menyiapkan mobil.
Bunda yang melihat Ibnu masih bengong jadi gemas.
"Ibnu sana ikut, istrimu mau melahirkan, Astagfirullah kok malah jadi patung." Bunda memukul bahu Ibnu.
__ADS_1
"Di bawa ke mana?
Bersambung ya