PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Kedatangan Leon


__ADS_3

Senja membuka pintu di belakangnya wanita itu ada Faisal, Satya memicingkan matanya menatap  dokter keluarganya itu yang datang bersama istrinya.


"Yang, kok bisa bareng Faisal?" tanya Satya dengan raut wajah datar.


"Lo kalau mau cemburu lihat sikon!" kata Yoga kesal langsung beranjak melihat Ranga yang sedang diperiksa.


Satya menatap mertuanya itu tidak suka karena ia tidak rela ada pria lain yang dekat dengan istrinya.


Senja duduk di samping Satya, wanita itu memperhatikan Faisal yang sedang serius. Setelah selesai dokter muda itu menghela napas kasar. 


"Bagaimana, Nak?" tanya Bunda


Ranga terlalu banyak pikiran, Bun. Ini saya kasih obat tidur biar banyak istirahat," ujar Faisal.


Wanita paruh baya itu menatap sendu putranya, ia harus terjebak cinta yang memainkan hatinya. Ayah Nugraha mengajak istrinya untuk duduk di tepi ranjang. 


"Sebaiknya kita ajak bicaranya nanti saja. Arga, Ayah harap kamu jangan terlalu memaksakan Ranga untuk pisah dengan istrinya." Ayah Nugraha menatap putra keduanya itu intens.


"Iya YAh," jawab Arga walau ia ingin adiknya berpisah dengan Diana.


Arga merasa sakit hati karena tujuan dari Diana untuk masuk  hanya karena keegoisannya saja, walau ia ada rasa sedih karena kehilangan keponakannya.


Satya mengusap bahu Arga, setiap manusia itu akan diberi cobaan hanya pasti akan beda-beda. Pria itu mengajak sang istri untuk kembali ke kamarnya. Keduanya begitu lelah. Senja membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Setelah menyelesaikan ritualnya ibu satu anak itu meminta suaminya untuk segera membersihkan diri. Satya hanya menurut saja. Senja mengganti bajunya dan tidak lupa menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Senja memejamkan matanya, ia tidak habis pikir apa yang membuat Yona begitu membencinya. Wanita itu mengambil ponselnya dan mengirimkan kabar Ilham karena semenjak dua hari lalu ia tidak bertemu.


Pintu kamar mandi terbuka, sosok Satya tersenyum menatap istrinya yang masih begitu takjub melihat tubuh suaminya yang masih begitu seksi.


"Yang, bantu keringkan rambutku ya!" pinta Satya sambil memberikan handuk kecil kepada Senja.


Senja hanya mengambil alih handuk dari suaminya, Sedangkan Satya yang masih memakai handuk di pinggangnya kini duduk di karpet berbulu yang begitu nyaman. Wanita itu mulai mengeringkan rambut suaminya dan bertanya."Mas, apa Diana anak dituntut juga?"


Satya hanya menarik napas dalam, pria itu juga tidak tahu karena pasti Leon akan mencari cara untuk membela adiknya itu. Sedangkan Ranga, pria itu sampai sekarang belum mau menemui istrinya.


"Sayang, kita jangan ikut campur urusan mereka lagi. Ayah  hanya ingin Bunda Fifi datang dan menjelaskan apa wanita itu tahu tujuan Diana menikah dengan Ranga hanya ingin membalas dendam karena rekaman itu akan menjadi bukti untuk memberatkan hukumannya." Satya mendongak menatap wajah istrinya.


Senja yang gemas melihat wajah suaminya, langsung mengecup bibir suaminya. Satya langsung menyeringai dan akan memeluk istrinya. Namun, tangis Jingga membuat pria itu langsung beranjak dan memakai bajunya.

__ADS_1


Senja terkekeh, wanita itu langsung mengambil putrinya yang sudah haus. Satya setelah memakai pakaiannya langsung keluar kamar karena kalau masih bersama istrinya takut khilaf.


Sesampainya di ruang keluarga sudah ada Yoga dan Leon, Kedua pria itu menatap Satya yang sudah terlihat segar.


"Apa kabar?" tanya Satya kepada Leon.


"Baik, apa Senja tidak apa-apa?" tanya Leon.


"Hanya luka sedikit di pelipis." Satya menatap Yoga yang sedari tadi diam.


Leon menatap Satya, tujuannya datang karena ingin bertemu dengan Ranga berharap kebesaran hati dari suaminya Diana itu untuk melihat istrinya di rumah sakit karena pasca keguguran wanita itu sering histeris dan takut jika Ranga meninggalkannya.


Walau ia tahu kesalahan adiknya begitu fatal, tidak lama Arga bersama Ayah Nugraha menemui Leon. 


Arga menatap dingin ke arah Leon yang kini sedang menatapnya, semua yang berada di ruangan itu hanya diam begitu juga dengan Satya dan Arga.


"Arga, gue datang ke sini karena meminta Ranga supaya menemui Diana," ujar Leon menatap Arga yang sekarang memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ayah Nugraha menatap putranya itu dan berkata." Ranga masih begitu Shock atas kejadian ini, nanti saya akan bujuk untuk menemui istrinya."


"Terimakasih Yah, karena Diana juga selalu histeris saat mengingat anaknya sudah tidak ada," ujar Leon.


Satya sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, ia begitu terkejut karena wanita yang sudah melahirkannya diancam juga oleh Diana saat berada di rumah sakit.


"Gue minta maaf, Bunda juga menerima apa pun keputusan Ranga nantinya untuk putrinya. Namun, gue hanya minta tolong bujuk Ranga untuk melihat kondisi Diana," kata Leon karena ia tidak tega melihat adiknya yang begitu sudah menyesali perbuatannya itu.


"Untuk memaafkan aku sudah memaafkan Diana, tapi untuk seperti dulu lagi maaf itu tidak mungkin," sahut Senja yang baru keluar kamar menggendong Jingga.


Satya memeluk bahu istrinya saat Senja duduk di sampingnya, Jingga yang kini di pangku Satya terlihat begitu menggemaskan.


Leon mengangguk karena ia paham akan apa yang dikatakan Satya dan Senja karena tujuan utama adalah Keluarga Nugraha yang Diana pikir terlibat atas meninggalnya Ayahnya. Namun, setelah Leon selidiki sendiri Ayah Diana terkena serangan jantung akibat ulah putrinya sendiri.


"Gue paham ini begitu mengecewakan keluarga lo, tapi kalau bisa Ranga melihat istrinya karena mereka masih-," ucapan Leon terpotong oleh seseorang.


"Aku akan melihatnya, tapi tidak sekarang," sahut Ranga yang kini menuju ke dapur.


Semua menatap Ranga yang kini memilih duduk di ruang meja makan, Senja beranjak dari duduknya untuk menemui Ranga.


"Kak," panggil Senja sambil duduk di depan pria itu.

__ADS_1


Ranga tidak menjawab, pria itu menatap wanita yang tak lain adalah sahabat dari istrinya yang juga merasakan dikhianati oleh Diana.


"Kamu udah enakan?" tanya Ranga menatap netra pekat milik ibu anak satu yang kini sedang menatapnya juga.


Saat akan berbicara melihat ada bik Jum, Senja meminta tolong untuk membawa Jingga lebih dulu bermain. Wanita itu menggenggam tangan Ranga yang berada di atas meja makan dan berkata."Aku tahu, di sini Kakak yang paling terluka akan apa yang dilakukannya kalau untuk kandungannya itu takdir yang Allah berikan."


Ranga mengangguk, tetapi sama sekali tidak menjawab apa kata Senja. Pria itu diam sesekali terdengar tarikan napas berat dari Ranga. 


"Aku belum bisa memutuskan apa-apa, aku-," kata-kata Ranga terhenti karena Senja menyelanya.


"Kak, jangan pernah merasa sendiri. Aku akan selalu ada kita bisa berbagi," kata Senja sambil beranjak dari duduknya.


Ranga tersenyum, ia percaya jika Senja tulus dan akan selalu mendukung yang benar dan berkata."Boleh aku peluk."


Senja tersenyum dan langsung merentangkan kedua tangannya karena ia sudah menganggap Ranga Saudaranya, tanpa keduanya tahu jika ada seseorang yang mendengar percakapannya.


Satya hanya mendengus karena merasa penasaran istrinya tidak kembali ia mendengar obrolan dari adik dan istrinya itu. Namun, saat tiba-tiba Ranga ingin memeluknya istrinya Satya langsung maju dan berdiri depan Senja


"Lo!"seru Ranga langsung melepaskan pelukannya.


"Ya, gue. dasar adik nakal!"seru Satya yang kini sudah berdiri di depan istrinya.


"Mas," kata Senja langsung duduk kembali di kursi yang berada di meja makan.


Satya ikut bergabung, kini Ranga duduk di samping Satya sedangkan Senja di depan kedua pria itu.


"Gue tahu lo akan mengambil keputusan yang tepat, tetapi alangkah baiknya lo temui Bunda Fifi dulu sebelum memutuskan apa yang terbaik buat rumah tangga kalian nantinya." Satya mencoba mengingatkan adiknya.


Ranga hanya diam, pria itu masih kesal karena bukan memeluk Senja melainkan ia memeluk Satya.


"Atau mau aku temani, Kak?" tanya Senja.


"Kamu itu!" seru Satya.


Senja langsung cemberut karena suaminya terlalu posesif karena ia hanya ingin membantu Ranga supaya tidak salah langkah dan akan menyesal dikemudian hari.


Bersambung ya


Bersambung ya....

__ADS_1


__ADS_2