
Bunda melihat Suci tergeletak langsung berhenti tertawa, ia menjadi panik dihampirinya tubuh Suci.
"Astagfirullah kok jadi pingsan, ARGA......" teriak Bunda.
Semua yang didalam yang sudah duduk dimeja makan terkejut, mendengar teriakkan Bunda.
Arga yang merasa namanya disebut segera lari kebelakang, ia melihat kepala Suci dipangkuan Bundanya terkejut.
"Bunda .... Suci...kenapa?" tanya Arga yang terlihat begitulah khawatir.
"Ayo angkat dia, kita bawak masuk," ucap Bunda.
Tanpa menunggu lama Arga segera mengangkat tubuh kekasihnya, saat Arga melintasi meja makan semua terkejut melihat Suci di gendong Arga tak sadarkan diri.
"Ada apa ini, Ga?" tanya Arnold.
"Gue juga enggak tahu, tadi dia baik-baik saja," jawab Arga.
"Sudah jangan panik, biar diperiksa oleh Tante," jawab Om Angkasa.
Tak lama Melati memeriksa anaknya, kemudian ia tersenyum.
"Tidak apa-apa sebentar lagi juga sadar," kata Tante Mela.
"Sebaiknya yang lain lanjutkan makan siangnya, biar Bunda yang menunggu Suci," ucap Bunda karena merasa bersalah.
"Bunda ikut makan saja, biar Arga yang jaga Suci," kata Arga.
Akhirnya mereka segera keluar kamar, tinggallah Arga dan Suci yang belum sadar.
"Sayang, ayo dong...sadar, jangan bikin Kakak khawatir," kata Arga lirih.
Tak berapa lama kemudian Suci membuka matanya, Ia melihat sekeliling. Saat menoleh kesamping ada Arga.
"Kak," ucap Suci dengan pelan.
"Sayang kamu sudah sadar, apa ada yang sakit?" ucap Arga yang begitu khwatir.
"Enggak Kak, tapi Suci takut," jawabnya sambil perusaha duduk menghadap ke Arga.
"Takut apa sayang, tenanglah ada Kakak disini," kata Arga.
"Tadi waktu Kakak pergi, ada Jin taman memanggil nama Suci," Suci jawab.
Arga terkejut, kemudian ia tersenyum di usapnya Rambut Suci dengan lembut.
"Jangan takut, nanti Kakak kasih tahu Bunda," kata Arga biar Suci tidak ketakutan lagi.
"Ia," jawab Suci.
Arga segera berdiri hendak meninggalkan Suci, tapi tiba-tiba Suci berlari mengejarnya.
"Astagfirullah, ada apa?" ucap Arga yang terkejut karena Suci berjalan mendahuluinya.
"Ikut, Suci masih takut," jawabnya.
__ADS_1
Arga hanya tersenyum, melihat tingkah wanita yang begitu mengemaskan.
Sampai mereka di ruang keluarga, yang lain terlihat sudah selesai makan siang. Suci segera duduk disamping Papa Angkasa, Bunda hanya tersenyum melihat Suci.
"Kamu tadi kenapa kok tiba-tiba bisa pingsan?" tanya Arnold.
"Ditaman ada jin, tertawanya mengerikan," jawab Suci polos.
Ayah Nugraha yang mendengar itu terkejut, tidak mungkin ditaman belakang ada jin, batinnya.
Tiba-tiba Bunda yang sudah tidak tahan menahan tawanya langsung pecah.
Ayah Nugraha hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah bisa tebak ini ulah Istrinya.
" Bunda...," panggilnya.
"Ah... Astagfirullah, sakit perut Bunda," kata Bunda
Kemudian Bunda menceritakan kalau tadi ia kebelakang untuk memanggil Suci, tapi saat dia masih di balik pintu memanggilnya. Bunda menceritakan semua sampai Suci yang tiba-tiba pingsan.
Semua yang ada diruangan seketika tertawa, hanya Arga dan Suci yang diam menunduk menahan malu.
"Ternyata anak Mama masih polos," kata Melati.
"Kamu juga Ga, anak masih polos main cium aja," ujar Ayah Nugraha.
Arga hanya diam, tapi kemudian ia merasa ini waktu yang tepat untuk mengatakan keseriusannya menjalin hubungan dengan Suci.
"Om, Tante mungkin ini terlalu cepat, tapi Arga rasa ini momen yang tepat untuk mengatakan kalau Arga ingin menjadikan Suci Ibu dari anak-anak Arga nanti," kata Arga dengan serius.
Suci yang mendengar itu terkejut, ia menutup mulutnya dengan tangan. Tidak menyangka kalau Arga akan mengatakan kesungguhannya kepada kedua orang tuanya.
"Kalau saya sebagai Papanya terserah Suci, karena bagaimanapun juga nanti dia yang menjalankannya," jawab Papa Angkasa.
"Suci bagaimana, Nak?" tanya Mama Mela.
Suci jadi gugup, saat Mamanya menayakan kepadanya. Namun, ia merasa ini terlalu cepat.
"Apa ini tidka terlalu cepat," katanya dengan menundukkan kepalanya.
Ayah Nugraha tersenyum, ia merasa kalau gadis kecil didepannya kini masih ragu dengan Arga.
"Nak, anak Ayah Arga hanya ingin menyampaikan keseriusannya, untuk menikah itu nanti kita bicarakan lagi," ucap Ayah Nugraha.
"Alhamdulillah, Suci kira tadi ajak menikah," jawabnya dengan polos.
"Astagfirullah, lo ngarep banget diajak nikah," sahut Arnold.
"E...eh..bukan itu Kak, maksudnya...." tiba-tiba ucapan Suci dipotong oleh Nenek.
"Jadi bagaimana, kamu mau enggak?" tanya Nenek Wati sambil menatap Suci.
"I...i...ia mau," jawab Suci gugup.
"Alhamdulillah," ucap semuanya kompak.
__ADS_1
Arga merasa lega, setidaknya keluarganya sudah tahu hubungannya dengan Suci. Ayah Nugraha menepuk bahu anaknya ada rasa bangga atas keberanian Arga, ia berharap anaknya segera menikah.
"Jadi enggak sabar mau mantu lagi," kata Bunda.
"Tapi Suci masih kuliah," jawab gadis polos itu.
"Senja juga masih kuliah, Nak," jawab Bunda tersenyum.
"Sekarang sedang hamil lagi," ucap Mama Mela.
"Wah..kayaknya bisa kita percepat pernikahannya," jawab Ayah Nugraha.
"Kamu kapan akan perkenalkan calon istrimu, Arnold," kata Nenek Wati.
Arnold merasa terkejut, ia hanya tersenyum tipis menangapi ucapan Neneknya.
"Arnold cari kerja dulu Nek, mau Arnold kasih makan apa nanti kalau enggak Kerja," jawabnya sebagai alasan.
"Alasan, kemarin Yoga menawarkan untuk bergabung tidak mau," sahut Arga yang langsung dipelototi oleh Arnold.
"Ia ambil saja tawaran Yoga, Nak," ucap Ayah.
"Ia Yah, nanti Arnold pikir-pikir lagi," jawab Arnold kalau sudah Ayah Nugraha yang mengatakan bukan saran lagi, tapi itu perintah.
Arga tersenyum, ia yakin Arnold akan mengikuti apa kata Ayah Nugraha. Dari dulu Ayah dan Bunda tidak pernah membedakan antara Satya dan sahabatnya, mereka semuanya ia rangkul untuk menjadikan pribadi yang maju.
Seperti kesuksesan Yoga yang tidak lepas dari peran Ayah Nugraha, tanpa sepengetahuan Pak Robby sebagai mertuanya Yoga .
Ayah Nugraha akan membantu merka anak muda yang akan merintis usaha baru, di tangan dinginnya Arga, Yoga dan Satya mampu menyaingi pengusah lainnya.
Nama ketiganya juga sering muncul menjadi pengusaha sukses termuda di majalah bisnis online maupun offline.
Kemampuan mereka tidak dapat di ragukan lagi, hal itu yang membuat Ayah Nugraha selalu membuat Acara tahunan untuk mendukung para pengusaha muda untuk terus maju.
Setelah selesai berbincang, yang lain sebagian istirahat hanya tinggal Arga , dan Ayah Nugraha.
Dikediaman rumah Satya.
Satya terbangun saat Azan berkumandang, ia menggeliat badannya. dilihatnya sekeliling kamar tidak ada Istrinya, ia segera kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah lima belas menit Satya selesai, kemudian segera turun kebawah mencari istrinya.
"Mmy," panggil Satya
Bik Ida yang mendengar majikannya memanggil istrinya segera menghampir.
"Aden cari Nona," tanya Bik Ida.
"Eh...ia Bik," kata Satya yang terkejut.
"Tadi Nona pergi dengan Bik Sum, katanya kerumah Kakeknya," jawab Bik Ida.
"Hah... serius Bik, kenapa enggak bangunkan Saya sih Bik," kata Satya merasa khwatir.
"Tadi sudah saya suruh, tapi katanya kasihan Aden terlihat kelelahan," jawab Bik Ida.
__ADS_1
"Ia Bik, terimakasih," kata Satya kemudian segera naik kelantai dua untuk sholat Maghrib.
Bersambung.... Jangan lupa tinggalkan jejak